
"Gimana Kak, apa dia sudah mau makan makanannya?" tanya Mayu pada Rangga. Setelah Mayu gagal menyuruh Frans makan, siang dia menyuruh Rangga saja yang melakukannya. Selain karena Mayu malas, dia juga cukup sibuk hari ini. Dia tidak hanya mengerjakan pekerjaannya, tapi dia juga harus menemui sekretaris Alex dan meminta bantuannya supays bisa mengatur jadwal Alex dan merahasiakan soal sakitnya Alex.
Begitu juga dengan Naura, selain dia harus merawat Alex dia juga memilih membantu mengerjakan pekerjaan Alex, ini biar keluarganya tidak curiga. Mereka semua harus saling bekerja sama demi Alex.
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak mau makan May, bahkan makanan yang saya bawa untuknya dia lempar begitu saja. Saya bahkan hampir mengha*arnya. Emosi saya." ujar Rangga tidak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya. Padahal Frans sudah mulai lemas dan tenaganya juga sudah mau habis, karena belum ada minum dan makan dari kemarin. Entah apa maksudnya itu? Jelas-jelas dia yang salah tapi dia juga yang marah.
Mayu terdiam mendengarnya dan berpikir keras. Mayu bukan khawatir atau takut Frans sakit, yang Mayu takutkan Frans benaran sakit dan mereka terpaksa membawanya kerumah sakit. Mayu tidak mau Frans menggunakan kesempatan itu untuk kabur, selain itu Mayu juga tidak mau Frans memanfaatkan kesempatan itu menyerang balik mereka. Mayu takut saja mereka dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penculikan. Frans kan licik.
"Bagaimana kalau kita paksa dia saja Kak? Saya takut saja dia sakit Kak. Masalahnya bisa semakin besar kalau dia sampai sakit. Jika ketahuan ibunya, bisa-bisa kita semua yang kena." ujar Mayu.
Rangga tampak menghebuskan nafasnya kasar. Apa yang Mayu katakan memang benar adanya. Hanya saja dia ada pendapat lain.
"Kalau menurut saya, apa tidak sebaiknya kita lepaskan dia saja? Setelah saya perhatikan, menyekap dia juga percuma saja. Dia tidak akan menyadari kesalahannya, justru dia semakin marah sama kita. Lagian kita sudah punya bukti-bukti kelakuan tidak baiknya dan saya ada ide cemerlang untuk membalasnya." ujar Rangga.
"Ide apa itu Kak?" tanya Mayu penasaran.
"Begini. Frans itu kan katanya sangat dicintai keluarganya terutama ibunya. Nah kita serang dia dari ibunya saja." jawab Rangga membuat Mayu bingung.
"Caranya?"
"Kita teror ibunya dari foto dan video perbuatan tidak baik Frans. Biar ibunya itu tahu bagaimana jahatnya itu anaknya, yang dengan teganya menyiksa sepupunya sendiri sampai masuk rumah sakit. Sekalian kita kirimkan juga foto Alex yang sudah tidak berdaya. Nanti, begitu Alex sembuh, kita suruh juga dia menemui tantenya itu. Alex harus memperingatkan tantenya, bila perlu mengancam tantenya supaya bisa menjaga anaknya, agar tidak lagi seenaknya. Saya yakin sekali, ibunya Frans juga pasti tidak mau kelakuan tidak baik anaknya diketahui oleh keluarga besarnya, karena kalau sampai ketahuan, Frans pasti dapat ganjarannya. Bisa jadi dia dikeluarkan dari perusahaan." jelas Rangga.
"Benar juga ya Kak dan kalau dari mamanya tidak berhasil, kita coba dari papanya saja. Kata mas Alex papanya itu sikapnya masih netral dan tidak selalu membela Frans kalau Frans memang salah." tambah Mayu.
"Itu dia." ujar Rangga mantap.
"Ok Kak, tapi sebelumnya kita bicarakan dengan mas Alex dulu, takutnya dia keberatan atau kurang setuju dengan ide kita."
"Siap, itu tidak masalah." seru Rangga.
***
"Silahkan Mas Frans pergi!" ujar Mayu sambil membuka lebar-lebar pintu kamar tempat mereka menyekap Frans.
Berhubung Alex sudah setuju dengan ide mereka. Maka tidak ada lagi alasan untuk mereka menyekap Frans. Lagian mereka juga banyak kerjaan lain, sayang waktu mereka terbuang cuma-cuma hanya untuk mengurus Frans.
Frans menatap heran pada Mayu, ini Mayu serius menyuruhnya pergi? Jangan-jangan di luar sudah ada polisi yang menunggu? Frans langsung was-was. Dia tidak mau ditangkap oleh polisi. Mamanya memang pasti akan melakukan segala macam cara untuk membebaskannya, tapi nama baiknya akan hancur dan keluarga bersarnya juga pasti akan marah besar padanya.
"Kenapa masih diam saja? Bukanya dari kemarin Mas Frans minta pergi terus? Sekarang silahkan pergi, kami tidak akan menghalangi. Mas Frans juga tenang saja, kami tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum, jadi Mas Frans bebas sekarang. Hanya saja Mas Frans harus ingat, jangan sampai Mas Frans membuat fitnah terhadap Mas Alex! Jika sampai Mas Frans melakukannya, kami tidak akan segan-segan melaporkan Mas Frans ke polisi, kami sudah punya bukti-bukti itu." ujar Mayu lagi seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Frans.
__ADS_1
Frans tidak sepenuhnya lega mendengarnya. Walau Mayu dan yang lainnya tidak melaporkannya ke polisi tapi Frans sangat yakin, Mayu dan teman-temannya pasti sudah merencanakan sesuatu untuknya karena enggak mungkin saja rasanya dia dibebaskan begitu saja.
"Mas Frans, kenapa belum pergi juga? Cepat tinggalkan tempat ini! Kami malas berurusan dengan Mas Frans. Laki-laki sombong dan egois. Laki-laki yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mau memikirkan perasaan orang lain. Gimana Mas Frans hidupnya bisa bahagia, kalau yang ada dipikirannya hanya ada rasa iri saja." ujar Mayu lagi.
Frans menatap Mayu, ingan rasanya dia membalas kata-kata Mayu, hanya saja apa yang Mayu katakan memang benar adanya. Dia selalu iri pada ALex. Alex yang hidupnya penuh dengan keberuntungan. Dia tidak hanya jadi peminpin di perusahaan tapi dia juga memiliki calon istri yang hidupnya nyaris sempurna. Sementara Frans, dia tidak jadi peminpin dan dia juga tidak punya pacar seperti Naura. Perempuan yang mau sama dia memang banyak, tapi hampir semuanya hanya memanfaatkannya saja, tidak ada yang benar-benar tulus mencintainya.
"Baik, saya pergi." ujar Frans dan hanya kata itu saja yang akhirnya terucap dari bibirnya.
"Silahkan! Ah iya satu lagi Mas Frans, pintu maaf untuk Mas Frans pasti akan selalu terbuka dari mas Alex, tapi dengan catatan, Mas Frans harus benar-benar menyesali semuanya dan tidak lagi berbuat jahat pada Mas Alex. Semangat Mas Frans." ujar Mayu lagi dan masih sempat-sempatnya mengucapkan kata semangat.
Frans hanya menatap Mayu. Sampai saat ini, tidak terpikir sedikit pun olehnya untuk minta maaf. Dia kemudian membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Mayu.
Mayu hanya menghembuskan nafas kasar melihat kepergian Frans. Mayu sangat berharap Frans bisa berubah jadi lebih baik dan tidak lagi berusaha berbuat jahat pada Alex.
***
"Gimana May, apa Frans sudah pergi?" tanya Naura begitu Mayu sudah di ruangan Alex.
"Iya sudah," ujar Mayu.
"Apa dia ada berkata sesuatu?" tanya Naura lagi.
"Tidak ada, tapi sepertinya di curiga kalau kita sedang merencanakan sesuatu."
"Benar juga. Sekarang ini yang terpenting adalah mas Alex dan keluarganya." ujar Mayu.
"Itu dia. Ya sudah lo jaga Mas Alex dulu ya, gue mau menemui tante Tere dulu. Kasihan dia, dia pasti bertanya-tanya tentang keberadaan Mas Alex." ujar Naura.
Setelah berdiskusi, Naura dan yang lainnya memutuskan ingin memberitahu keluarga Alex mengenai keadaan Alex. Mereka tidak mungkin merahasiakan keberadaan Alex lebih lama lagi. Karena tidak hanya keluarganya yang membutuhkan kehadirannya tapi kantornya juga. Seenggaknya jika keluarga Alex tahu Alex sakit, maka keluarganya bisa membantunya soal pekerjaannya dan Alex bisa fokus pada kesehatannya saja.
Hanya saja Naura dan yang lainnya juga sudah membuat keputusan kalau mereka akan berbohong yang mana tujuannya demi kebaikan mereka bersama. Mereka mau berbohong kalau Alex bukan dihajar oleh Frans dan orang-orang suruhannya tapi oleh para pereman yang ingin merampoknya.
"Iya Nau, lo hati-hati ya!"
"Iya," ujar Naura. Sebelum pergi, Naura menyempatkan mengecup kening Alex yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Naura tidak ada niatan membangunkannya karena Alex butuh tidur yang banyak, supaya cepat sembuh.
"Eh Nau, tunggu!" ujar Mayu cepat begitu Naura membuka pintu ruangan Alex.
"Ini Kak Yudha sudah sampai parkiran katanya. Sebaiknya kita tunggu dia saja, dan kita akan pergi bersama ke rumah orang tua mas Alex." ujar Mayu. Mayu tidak setega itu membiarkan Naura pergi sendiri. Hanya saja karena tidak ada orang yang menjaga Alex mereka harus berbagi tugas.
"Baiklah," ujar Naura. Naura tentu saja merasa lebih tenang kalau Mayu juga ikut bersamanya. Seenggaknya dia ada teman menghadapi orang tua Alex nanti.
__ADS_1
***
"Alex!" seru Tere membuka cepat pintu rangan anaknya dan berlari ke arah Alex. Tere benar-benar khawatir pada anaknya. Terjawab sudah rasa gelisahnya. Pantas saja dari kemarin dia tidak bisa tenang dan memikirkan anaknya terus. Makanya begitu Naura dan Mayu datang dan menyampaikan kabar tentang Alex, dia langsung meminta diantar ke rumah sakit. Ibu mana yang tidak khawatir mendengar anaknya dikeroyok para preman dan sampai masuk rumah sakit.
Alex yang baru saja bangun menatap lirih pada bundanya. Ada perasaan bersalah di hatinya.
"Bun," lirih Alex.
"Alex," seru Tere lagi dan membawa anaknya ke dalam pelukannya. Tere menangis dalam pelukan anaknya, dia benar-benar tidak tega melihat anaknya, kasihan sekali anaknya.
"Maafkan Alex yang sempat menyembunyikan sakit Alex dari Bunda." lirih Alex.
"Enggak ada yang perlu dimaafkan Alex, Naura sudah menjelaskan semuanya. Bunda sangat mengerti kenapa kamu menyembunyikannya dari Bunda." ujar Tere.
"Iya Bun," ujar Alex. Ada kelegaan tersendiri di hatinya, bundanya percaya dengan cerita karangan mereka.
Sementara itu Naura dan Mayu hanya diam saja dan menatap pada ibu dan anak itu. Mereka juga merasa lega karena akhirnya bisa mempertemukan Alex dengan keluarganya. Keluarga yang tentunya sangat dibutuhkan Alex saat dia sedang sakit.
Setelah kedatangan Tere di rumah sakit, Naura dan teman-temannya langsung menjalankan rencana mereka selanjutnya. Mereka harus gerak cepat kerena mereka yakin Mawar pasti akan datang mengunjungi Alex ke rumah sakit.
Mereka khawatir Mawar akan berkata julit pada Alex dan sebelum dia berkata julit, Mayu dan teman-temannya harus membungkam mulutnya dengan fakta yang sebenarnya.
Mayu mengajak tos Naura dan Rangga begitu mereka sudah mengedit videonya dan siap memgirimkannya pada Mawar.
Sementara itu Mawar yang baru saja mendapat kabar kalau keponakannya masuk rumah sakit gara-gara diserang oleh preman tampak tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Rasain kamu Alex, makanya jadi orang itu jangan sombong dan bertingkah, masuk rumah sakit kan ujung-ujungnya, syukurin." gumannya. Dia jadi tidak sabar bertemu dengan Alex. Lihat saja dia pasti akan mengeluarkan kata-kata julitnya pada keponakannya itu.
"Syukurin apa Ma?" tanya Frans dan ikut duduk di sofa bersama mamanya.
Setelah Mayu menyuruhnya pergi, dia memang langsung pulang ke rumah. Untungnya dia memang cukup sering tidur di apartemennya jadi kalau pun dia tidak pulang ke rumah, mamanya tidak masalah, yang terpenting baginya Frans baik-baik saja.
"Ini Frans, Alex masuk rumah sakit gara-gara dikroyok pereman yang mau me*ampoknya. Katanya sih Alex sampai babak belur dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Akhirnya tahu rasa juga kan dia. Lagian suka merampok jabatan sih, sekarang dapat balasannya kan dia." cerita Mawar dengan wajah senangnya.
Untuk kali ini Frans tidak ikut senang mendengarnya dan itu tentu saja karena dia pelakunya. Selain itu dia juga tidak menyangka kalau Alex akan menggunakan alasan itu pada keluarganya dan bukan mengatakan yang sebenarnya saja. Kenapa Alex melindunginya? Bukankah ini kesempatan Alex untuk menjatuhkannya?
"Frans, kenapa kamu diam? Kamu juga pasti senang kan akhirnya si Alex itu kena batunya?" ujar Mawar lagi.
"Te-tentu saja dong Ma," ujar Frans sedikit gugup.
"Bagus. Sebentar ada kiriman video." ujar Mawar lagi dan kembali fokus pada ponselnya.
__ADS_1
Mata Mawar seketika membola begitu melihat isinya.
"Frans, ini maksudnya apa?" seru Mawar. Dia sangat terkejut begitu melihat isi video itu.