Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Semoga Selalu Bersama


__ADS_3

"Silahkan Dad. Maaf ya Dad di rumah ini adanya hanya teh biasa." ujar Mayu sambil meletakkan segelas minuman untuk David, kemudian duduk di samping David.


"Tidak masalah Mayu, tapi setelah ini kamu harus menyediakan teh atau kopi yang biasa Daddy minum, karena Daddy akan semakin sering berkunjung ke sini." ujar David membuat Mayu tersenyum.


"Siap Dad, Mayu pasti akan menyiapkan teh dan kopi kesukaan Daddy." ujar Mayu mantap.


"Bagus,"


"Iya. Ah iya Daddy sudah makan?" tanya Mayu perhatian.


"Sudah. Daddy enggak boleh telat makan, dan kamu juga biasakan tepat waktu makannya, walau kamu sangat sibuk sekali pun. Jangan sampai udah penyakitan dulu baru makan tepat waktu." ujar David mengingatkan.


"Siap Daddy, kalau Mayu sih hobby makan jadi sebisa mungkin Mayu pasti akan tepat waktu makannya. Lagian nih ya Dad kita kerja kan tujuan utamanya untuk makan, jadi untuk apa kita kerja bagai kuda kalau makannya saja suka malas-malasan, mending jadi kaum rebahan saja sekalian." ujar Mayu dan gantian David yang tersenyum.


"Bagus, pemikiran cerdas itu, tapi Daddy enggak yakin kamu hobby makan, badan kamu sangat kurus. Naura saja yang suka diet badannya tidak sekurus kamu."


"Oh ini karena Mayu terlalu bekerja keras Dad. Mengerjakan produk Maga Wear tidak hanya menguras uang Mayu, tapi pikiran dan tenaga Mayu juga benar-benar terkuras habis. Belum lagi Mayu juga suka banyak pikiran belakangan ini, tapi setelah ini Mayu yakin, Mayu pasti bisa gemukan lagi. Apalagi kalau pesanan untuk Pratama Group sudah selesai, kami akan sedikit lebih santai Dad. Jadi Mayu juga punya banyak waktu untuk istirahat." jelas Mayu.


David menatap tidak tega pada anak sulungnya, tapi dia juga tidak mungkin menghalangi Mayu karena ini demi masa depan Mayu.


"Dad, Daddy enggak usah khawatir. Walaupun Mayu kurus, tapi Mayu sangat sehat kok Dad. Bertenaga lagi. Mayu juga sudah biasa bekerja keras Dad, dan ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan keaadan Mayu beberapa tahun lalu. Hidup Mayu sekarang jauh lebih baik Dad." ujar Mayu yang tidak ingin daddynya khawatir.


"Iya Mayu, Daddy mengerti, tapi kalau bisa tenaga kamu jangan terlalu diforsir. Tambah pekerja kamu saja kalau misalkan kerjaannya terlalu banyak. Misal untuk mengerjakan pekerjaan rumah, lebih baik kamu pekerjaan pembantu saja. Jadi waktu kamu juga cukup untuk kuliah dan usaha kamu saja."


"Sudah kok Dad, Mayu sudah memperkerjakan satu orang bagian bersih-bersih juga cuci dan gosok baju. Kadang dia juga suka menggantikan Mayu masak. Hanya saja dia enggak tinggal bersama kami karena dia sudah berkeluarga."


"Bagus lah kalau begitu. Memang sebaiknya kamu jangan terlalu sayang mengeluarkan uang untuk pekerja karena para pekerja itu juga ada rejekinya masing-masing, tapi ingat jangan asal memperkerjakan orang. Jangan karena kamu merasa kasihan, kamu dengan mudahnya memberi dia pekerjaan. Seenggaknya kalau pun dia tidak punya skill, minimal dia harus jujur serta ada kemauan kuat untuk bekerja. Pekerja yang kerjanya malas-malasan atau setengah hati, lebih baik dipecat saja karena itu bisa merusak kinerja pekerja yang lain. Apalagi zaman sekarang ini banyak sekali orang modus, kamu harus berhati-hati untuk itu. Jadi bos itu, bukan suatu yang mudah, kamu harus tegas, berani tapi tak masalah juga kalau kamu mau jadi bos yang baik, karena pada dasarnya banyak pekerja itu lebih segan pada bos yang baik." jelas David dan Mayu tersenyum haru mendengarnya. Akhirnya dia bisa merasakan dinasehati seorang ayah. Ini benar-benar impian Mayu yang jadi nyata.


"Iya Dad, Mayu pasti akan mengingat nasihat Daddy. Makasih ya Dad."


"Iya sama-sama, kamu juga kalau misalkan ada masalah terutama masalah pekerjaan, bicarakan saja dengan Daddy. Misal kamu juga butuh usul untuk sesuatu, tanyakan saja pada Daddy. Asal jangan kamu tanya masalah percintaan saja, Daddy cukup payah kalau soal yang satu itu. Apalagi kalau soal melupakan mantan, sampai sekarang pun Daddy belum berhasil melakukannya." ujar David membuat Mayu lagi-lagi tersenyum lebar.


"Kalau soal melupakan mantan, jangan sampai deh Dad karena Mayu juga enggak mau punya mantan."


"Kenapa enggak mau punya mantan?"


"Ya karena Mayu enggak mau putus dengan kak Alga, amit-amit deh Dad." ujar Mayu dan gantian David yang tersenyum lebar.


"Dasar pasangan bucin."


"Hehe ... habisnya Kak Alga ganteng banget Dad, sayang kalau jadi mantan. Eh tapi Daddy lebih ganteng sih auranya itu aur-auran."


"Ngaco saja kamu. Naura kamu bilang aura gelap, Daddy aura aur-auran, aneh-aneh saja." ujar David kemudian mengacak gemas rambut Mayu.


"Ah iya Dad, semalam itu Naura enggak marah-marah kan karena Mayu bilang aura gelap?"


"Ya pasti marahlah lah, hanya saja marahnya enggak lama. Dia itu enggak akan bisa marah lama-lama kalau sama Daddy. Ah iya Naura juga bersedia katanya kalau Daddy ajak jalan-jalan bersama kamu. Mayu gimana, apa mau jalan-jalan bersama kami?"


"Pasti maulah Dad, apalagi kalau jalan-jalan gratis enggak akan nolak Mayu." ujar Mayu mantap.

__ADS_1


"Dasar perempuan, paling suka sama yang namanya diskonan dan gratisan."


"Hehe ... itu memang sudah setelan dari sononya Dad."


David tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.


Nenek Iroh yang mendengarkan pembicaraan mereka dari kamar juga ikut tersenyum. Senang dia melihat kekompakan anak dan ayah itu. Itu juga alasannya kenapa dia memilih masuk kamar duluan, dia takut suasana jadi canggung. Terlebih lagi, David juga baru kali ini datang ke berkunjung ke rumah anaknya.


***


"Kak," panggil Mayu.


"Kenapa Ay?" tanya Alga sambil menikmati singkong goreng buatan Mayu.


"Hari minggu nanti, Mayu izin pergi jalan-jalan sama Naura dan Daddy ya Kak." ujar Mayu.


Alga yang hendak makan singkong jadi tertahan di depan mulut.


"Serius kamu mau jalan-jalan sama Naura juga Ay?" tanya Alga seakan tidak percaya.


Alga tahu David memang tipekal laki-laki yang cukup suka jalan-jalan. Makanya enggak heran kalau Naura sudah dibawa jalan-jalan ke berbagai negara. Sangat berbeda dengan papinya, kalau pergi keluar negeri ya hanya sekedar perjalan bisnis saja. Kadang Alga sampai berpikir untuk apa memiliki uang banyak tapi tidak dinikmati hasilnya?


"Iya serius Kak, Daddy sendiri yang bilang kalau Naura mau jalan-jalan sama aku dan daddy." ujar Mayu apa adanya.


"Baguslah. Ingin ikut sebenarnya tapi aku juga tidak ingin mengganggu waktu kalian. Om David pasti ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan kedua anaknya."


"Iya Ay, tidak apa-apa, kamu juga tidak perlu minta maaf, tapi kalau bisa, manfaatkan waktu kamu untuk berdamai dengan Naura. Siapa tahu sikap positif kamu bisa menular pada Naura, karena sebenarnya Naura itu masih gampang terpengaruh. Mengingat umurnya juga baru 19 tahun. Ya walaupun kalian hampir seumuran tapi kehidupan kalian itu sangat berbeda. Kamu yang hidupnya serba keras sedangkan Naura hidupnya serba ada. Otomatis kamu akan lebih cepat berpikir dewasa bila dibandingkan dengan dia." usul Alga.


"Iya Kak, aku juga inginnya begitu. Aku juga ingin sekali hubungan kami bisa seperti hubungan kakak adik pada umumnya. Pasti akan menyenangkan sekali rasanya punya saudara yang bisa diajak cerita atau main. Apalagi kami juga kuliah di jurusan yang sama. Aku ingin suatu saat nanti kami bisa berbisnis bersama Kak."


"Nah iya bagus itu, apa lagi Naura itu hobby lo ke pantai dan suka pakai bikini, mungkin kalian nanti bisa membuat bikini Maga Wear." ujar Alga lagi dan langsung dapat tatapan menyelidik dari Mayu.


"Kak Alga kok tahu Naura suka pakai bikini. Kak Alga suka ya meligat Naura pakai bikini?"


Alga tersenyum lebar dan menarik gemas hidung kekasihnya.


"Tatapannya biasa saja dong Ay dan enggak perlu cemburu juga. Ya aku bisa tahu Naura suka pakai bikini karena kamu tahu lah keluarga kami beberapa kali liburan bersama, dan kami juga punya villa bersebelahan di Bali. Jika liburan di sana Naura, mbak Vivi dan sepupuku yang lain pasti berlomba pakai bikini. Jangankan mereka yang masih muda, mami, tente Sindi, dan tanteku yang lain juga kadang enggak mau ketinggalan." jelas Alga.


"Benar juga ya Kak, apalagi kalau di pantai Bali itu, pakai bikini sudah biasa saja bagi mereka."


"Kok kamu bisa tahu, udah sering pergi ke Bali ya? Sama siapa? Ngapain saja?" balas Alga dan langsung dapat pukulan gemas dari Mayu.


"Mayu melihatnya dari ponsel Kak. Mayu belum pernah ke Bali ya, tapi kalau Kak Alga ngajak Mayu ke Bali ya Mayu ayo saja."


"Beneran ya? Kita pergi ke Bali berdua saja."


"No!" ujar Mayu cepat.


"Kenapa no, tadi katanya mau? Plin plan kamu Ay." ujar Alga membuat Mayu tersenyum.

__ADS_1


"Mayu bukan plin plan Kak, tapi Mayu enggak akan mau pergi ke Bali kalau berdua saja dengan Kak Alga. Ini bukan karena Mayu enggak percaya sama Kak Alga, tapi Mayu enggak mau saja kalau Kak Alga sampai khilaf, karena kalau misalkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sudah pasti Mayu yang akan rugi. Mayu enggak mau rugi Kak. Mayu juga enggak ingin hidup dalam penyesalan. Hidup Mayu sudah terlalu berat, Mayu tentu tidak ingin menambah beban pikiran Mayu lagi." jelas Mayu.


"Iya Ay, aku mengerti. Aku juga hanya bercanda. Lagian aku juga enggak akan berani macam-macam sama kamu. Om David itu terlalu baik, dan aku pribadi enggak ingin menyakitinya atau membuat kecewa. Begitu juga dengan nenek Iroh, aku tentu enggak mau mengorek luka lamanya." ujar Alga mantap membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.


"Itu dia Kak, eh tapi kalau misalkan ke Balinya ramai-ramai aku mau banget sih Kak. Apalagi nenek juga ingin sekali pergi ke Bali."


"Nenek atau kamu yang ingin pergi ke Bali?"


"Nenek Kak."


"Kamu atau nenek yang ingin pergi ke Bali?" tanya Alga lagi.


"Ya aku juga hehe ...." ujar Mayu tersenyum malu.


"Dasar," ujar Alga dan ikut tersenyum bersama kekasihnya.


"Jadi gimana Kak, apa Kak Alga ada niatan ingin mengajak kami pergi ke Bali?"


"Boleh saja Ay, nanti kita cari tanggal yang hari jumatnya merah, jadi kita bisa lebih lama di Bali, atau pas liburan semester saja." putus Alga.


"Siap Kak!" seru Mayu semangat.


"Semangat banget kamu Ay. Eh tapi ingat kalau kita ke Bali no pakai bikini dan pakaian seksi lainnya. Aku tidak suka, kami itu hanya milikku dan aku tidak suka milikku, dilihat oleh orang lain." tegas Alga.


"Dasar posesif."


"Enggak apa-apa dong. Posesif itu tanda cinta dan kamu harusnya bangga Ay, dicintai begitu besar sama calon CEO." ujar Alga tidak mau kalah.


"Kenapa aku harus bangga, kalau aku sendiri adalah ownernya? CEO itu masih di bawah owner ya Kak. CEO itu hanya anak buah, beda halnya dengan owner yang benar-benar bos." balas Mayu lagi.


"Benar juga. Eh tapi kenapa ini pacarku jadi sombong ya? Ini masih pacarku bukan sih? Jangan jangan sudah dirasuki lagi?" ujar Alga sambil memegang pipi Mayu dan menatap Mayu.


"Haha ...." Mayu hanya tertawa.


Alga juga ikut tertawa kemudian mengecup gemas pipi Mayu. Dia paling suka bercanda dengan Mayu, dan candaan mereka selaku nyambung, meski ujung-ujungnya Alga suka curi kesempatan.


"Modus saja ini Kak Alga," ujar Mayu begitu Alga mejauhkan tangannya dari pipi Mayu.


"Modus tapi suka Kan?" goda Alga membuat Mayu lagi-lagi tersenyum karena Alga memang benar adanya. Mayu tidak bisa memungkiri kalau dia suka dikiss Alga.


Alga juga ikut tersenyum kemudian menyatukan kepalanya dengan kepala Mayu.


"Semoga kita selalu bersama ya Ay."


"Amin."


"I love you Ay."


"I love you too Kak."

__ADS_1


__ADS_2