Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Akui Saja Kalau Suka


__ADS_3

"Kamu belum sepenuhnya sembuh dan kalau kamu tidur di sini kamu akan tetap merasa hangat dan tidurnya juga akan lebih nyaman." ujar Alga lagi seakan mengerti arti tatapan Mayu.


"Tapi Kak saya tidak berani tidur sendirian di sini. Saya lebih baik tidur di kamar saja." ujar Mayu meski dia tidak bisa memungkiri kalau dia sedang dalam posisi nyaman.


"Saya juga akan tidur di sini." jawab Alga santai.


Mayu melotot mendengarnya.


"Kamu tenang saja Mayu, saya tidak akan menyentuh kamu atau melakukan sesuatu yang tidak baik pada kamu. Saya sangat tahu batasannya. Saya hanya ingin memastikan kamu tetap dalam keadaan baik, itu saja." ujar Alga lagi.


Mayu tanpa sadar tersenyum tipis mendengar kata-kata terakhir Alga. Mayu suka mendengarnya, rasanya ada manis-manisnya gitu.


"Baiklah kalau begitu Mayu, tidur di sini saja." putus Mayu kemudian menarik selimutnya.


"Bagus." ujar Alga kemudian beralih pada Rangga.


"Rangga, tambahkan kayu bakarnya, supaya panasnya awet sampai pagi!"


"Ini sudah pagi kali Al." ujar Rangga, meski begitu dia tetap melakukan apa yang disuruh tuan mudanya.


"Tapi belum terang," ujar Alga tidak mau kalah.


"Udah jangan ribut! Mayu tidur dulan ya semua, bye bye." ujar Mayu kemudian memejamkan matanya.


"Iya Mayu, selamat tidur Mayu, somoga mimpi indah Mayu." ujar Rangga.


Mayu tidak lagi menjawabnya dia sudah ngatuk berat. Aplagi perutnya juga sudah mulai baikan, Mayu benar-benar butuh tidur.


"Dasar p*lor!" ujar Alga begitu mendengar suara nafas Mayu yang sudah teratur.


"P*lor tapi cantik kan Al?" goda Yudha.


"Cantik dari mananya?" ujar Alga tidak terima.


"Tapi menurut gue Mayu cantik loh Al. Apalagi kalau rambutnya digerai, cantiknya makin kelihatan. Dan cantiknya itu alami loh bukan karena make up dan sebagainya. Ya emang sih wajahnya sedikit kusam, tapi lihatlah, bekas jerawat saja dia hampir tidak punya, alis dan bulu matanya juga lumayan tebal. Hidungnya juga mancung." ujar Yudha lagi sengaja memancing Alga.


Alga seketika menatap Yudha, dia benar-benar terpancing, dan dia tidak suka mendengar pujian Yudha tentang Mayu.


"Kenapa lo menatap gue seperti itu? Benar kan apa kata gue. Udahlah Al akui saja! Akui juga kalau lo memang suka pada Mayu." ujar Yudha lagi terus memancing Alga supaya ngaku akan perasaannya.


"Gue enggak suka Mayu!" jawab Alga cepat dan tidak terima dengan apa yang dikatakan Yudha.

__ADS_1


"Yakin lo?" tanya Yudha tidak menyerah.


"Tentu saja sangat yakin, dan tidak ada alasan bagi gue bisa suka pada Mayu." tegas Alga.


"Alga dengarkan gue baik-baik, gue yakin lo juga pasti tahu kalau cinta itu tidak butuh alasan, dan tumbuhnya juga alami dari dalam hati. Cinta juga tidak bisa dipaksan. Ok gue tahu cinta memang butuh logika dan logikanya seorang tuan muda sepeti lo enggak mungkin jatuh cinta pada Mayu yang notabenya berasal dari kalangan bawah yang hidupnya serba pas-pasan. Namun logika lainnya yang harus lo ingat, Mayu ini cantik, dia juga mahasiswi berprestasi, dia pekerja keras, selalu jadi dirinya sendiri, sholatnya rajin, dia juga sangat baik dan satu lagi yang terpenting, dia juga sangat sayang pada keluarganya. Jujur saja gue pribadi, Mayu adalah tipekal cewek idaman gue." jelas Yudha tidak menyerah supaya Alga mau ngaku.


"Ya sudah kalau dia tipekal cewek idaman lo, ambil saja!" ujar Alga yang semakin tidak suka suka saja Yudha memuji Mayu. Apalagi saat mendengar kata-kata terakhir Yudha, ada sisi lain di hatinya merasa panas.


Yudha menarik nafas pelan, terkadang kesalnya dia sama Alga ya begini, gengsinya terlalu tinggi. Apa susahnya mengakui perasaan, Yudha juga pasti dengan senang hati mendukung, dan dia juga sangat bersedia menjaga rahasia Alga.


"Yakin lo gue bisa ambil Mayu dari lo? Berarti kalau gue minta lo akhiri kerja sama lo dengan dia, apa lo juga bersedia?" tantang Yudha.


"Ya tentu saja tidak, saat ini hanya Mayu yang bisa menjauhkan gue dari Naura dan yang lainnya. Gue juga enggak mungkin tiba-tiba bilang putus dengan Mayu." ujar Alga cepat.


Yuda kembali menarik nafas pelan.


"Alasan saja lo, bilang saja kalau lo memang takut kehilangan Mayu, Al. Sudahlah ngaku saja lo!" ujar Yudha bersikukuh.


"Gue enggak takut kehilangan Mayu!" ujar Alga lagi tidak terima.


"Alga, Yudha stop, kalian jangan sampai bertengkar karena Mayu." ujar Rangga yang sedari tadi menjadi pendengar.


"Ok Alga gue mengerti. Gue sangat paham dengan apa yang lo pikirkan, dan gue juga sangat paham dengan apa yang dipikirkan oleh Yudha. Ok buatlah lo enggak suka sama Mayu, itu tidak masalah sama sekali, dan gue yakin Mayu juga biasa saja. Hanya saja nih ya Al, kalau lo memang enggak suka sama Mayu, lo harus tahu batasannya! Ingat, Mayu itu hanya sekedar kekasih bayaran lo, bukan kekasih beneran, lo." jelas Rangga.


"Maksud lo apa?" tanya Alga tidak mengerti.


"Begini Alga, lo harusnya memberi perhatian pada Mayu itu sewajarnya saja, jangan terlalu berlebihan seperti ini." ujar Rangga mengingatkan.


"Mayu sedang sakit, wajar kalau gue memberi perhatian padanya. Bagaimana kalau sakitnya tambah parah? Orang pertama yang disalahkan itu tentu adalah gue. Selain gue ketua, orang-orang tahunya Mayu adalah pacar gue." ujar Alga lagi tidak terima.


Rangga ikutan menarik nafas pelan.


"Ok Alga gue sangat paham tapi nih ya Alga perhatian lo itu benar-benar berlebihan. Mayu yang mau disuapi lah, bahkan lo juga rela melakukan skin to skin dengan Mayu. Apa lo tidak pernah berpikir kalau Mayu ini adalah seorang perempuan yang mana bisa dengan mudah kebawa perasaan? Bagaimana kalau perhatian lo disalah artikan oleh Mayu. Mayu jadi baper dan jatuh cinta sama lo?" jelas Rangga lagi.


"Ya itu urusan dia. Lagian tidak hanya Mayu yang bisa jatuh cinta pada gue, banyak perempuan di luar sana bahkan sudah jatuh cinta pada gue. Apa perlu gue sebutkan nanya satu persatu?" ujar laki-laki berparas tampan itu dengan percaya dirinya.


"Tidak perlu Alga itu sama sekali tidak penting buat gue, yang penting buat gue itu hanya Mayu. Ini bakan karena gue cinta pada Mayu, tapi gue kasihan pada Mayu. Apa lo tidak pernah berpikir kalau penderitaan yang Mayu alami saat ini ada hubungannya dengan lo? Gue sangat yakin Alga, pelaku yang sudah mendorong Mayu ke kolam itu pasti ulah salah satu pecinta lo. Secara tidak langsung, Mayu menderita karena lo, dan apa lo mau tambah penderitaan Mayu lagi?"


Alga terdiam dan kali ini dialah yang menarik nafas pelan.


"Tentu saja gue tidak ingin menambah penderitaannya, karena gue juga sebenarnya kasihan padanya." jujur Alga. Dia sudah tahu bagaimana perjuangan hidup Mayu yang tidak mudah.

__ADS_1


"Nah itu dia, makanya gue bilang pada lo bersikaplah sewajarnya pada Mayu. Lagian semua orang juga sudah tahu kalau kalian itu pacaran, jadi tidak perlulah membuat pembuktian lagi, kecuali kalau lo memang sudah mulai ada rasa pada Mayu, ya tidak masalah kalau lo memberi perhatian pada Mayu. Ingat Alga, baik itu gue atau Yudha, akan selalu ada di belakang lo dan mendukung apapun keputusan lo. Lo juga tidak perlu menyembunyikan apa pun dari kami, karena lo sangat tahu bagaimana kami. Kami pasti bisa menjaga rahasia lo. Jadi gue minta pada lo pikirkan baik-baik apa yang gue katakan dan tidak perlu terburu-buru juga. Santai saja dan lo juga bisa menikmati setiap prosesnya, ok. Selamat pagi, kami tidur dulu. Ayo Yud!" ujar Rangga diakhiri dengan menepuk pelan punggung Alga.


Rangga benar-benar perduli pada Alga dan dia juga ingin Alga bisa hidup bahagia, karena Rangga sangat tahu, bagaimana dalamnya hidup Alga, dan itu tidak sesempurna kelihatannya.


***


Alga menatap wajah tidur Mayu. Wajah tidur yang terlihat begitu tenang dan damai.


Alga menatap Mayu mulai kening, alis, mata, hidung, pipi juga bibir. Garis wajah Mayu terbilang kecil dan imut, dan Alga baru sadar semakin diperhatikan wajah Mayu terlihat semakin cantik.


Alga tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Apa yang sudah dipikirkannya?


'Sebaiknya aku tidur saja!' batin Alga.


Alga kemudian merebahkan tubuhnya di samping Mayu dan siap menjemput Mayu ke alam mimpi.


Alga tampak terkejut saat Mayu tiba-tiba memeluknya layaknya guling, hanya saja karena rasa ngatuk mulai menyerangnya. Alga membiarkannya saja. Dia terlalu malas menggeser tubuh Mayu.


Jam demi jam berlalu, hari sudah mulai terang. Naura dan teman satu kamarnya memilih bangun lebih cepat. Mereka ingin mencari tahu bagaimana keadaan Mayu.


"Sepertinya Mayu dan teman-temannya belum bangun deh Nau, tidak terdengar suara apa-apa dari dalam kamar mereka." ujar Ira begitu dia menempelkan wajahnya di pintu kamar Mayu, dan tidak terdengar suara apapun dari dalam sana..


"Bisa jadi, tapi gue sangat penasaran dengan nasibnya, apakah dia masih menggigil seperti orang kesetanan?" ujar Naura.


"Bukan kesetanan Nau, tapi kesurupan." ujar Yuli.


"Sama saja Yuli." ujar Naura. Mereka bertiga kemudian tetawa bersama.


"Udah ah, sembari menunggu Mayu bangun, bagaimana kalau kita nyalakan perapian? Dingin banget ini dan gue butuh kehangatan." ujar Naura.


"Boleh banget itu Nau, gue juga butuh yang hangat-hangat ini." ujar Ira.


"Ok, ayo kita cus!" ujar Naura semangat.


Mereka bertiga kemudian melangkah dengan riangnya.


"Eh Naura, sebentar deh, kayaknya ada yang tidur dekat perapian." ujar Yuli begitu melihat ada kasur dekat perapian.


"Benar, siapa ya kira-kira yang tidur di sana? Ayo kita lihat!" ujar Ira.


Mata Naura, Ira dan Yuli seketika melotot begitu melihat siapa yang tidur di sana, terlebih lagi begitu melihat posisi tidurnya, mata mereka seakan mau keluar.

__ADS_1


__ADS_2