
"Mbak bh yang ini harganya berapa Mbak?" tanya pembeli Mayu.
"Coba lihat di kertasnya sudah ada harganya Mbak, dan yang ini berarti 20 ribu saja Mbak. Bahannya adem itu dan karetnya juga awet." jawab Mayu.
"Boleh kurang enggak Mbak?"
"Sudah harga pas Mbakku cantik, tapi kalau beli 3 nanti saya beri diskon 5 ribu." ujar Mayu lagi.
"Beli 3 campur sama kolornya, boleh kan Mbak?"
"Tentu saja boleh dong Mbak, bebas saja mau pilih yang mana saja."
"Masih dapat diskon juga kan?" tanya lagi.
"Oklah tidak apa-apa, tapi nanti kalau mau beli kolor, bh atau baju tidur datang lagi ya! Untuk pelanggan setia, setiap bulannya saya mau memberikan hadiah kenang-kenangan, untuk 3 orang setiap bulannya." ujar Mayu.
Mayu mendapat masukan dari Alga kalau dia bisa memberikan give away untuk menarik para pelanggan dan hitung-hitung untuk berbagi juga. Mayu tentu saja menerima masukan dari pacar tercintanya karena menurut Mayu itu adalah masukan yang positif.
"Siap Mbak." ujar pembeli itu mantap.
"Mbak kalau saya beli 5 saja tapi diskonnya 10 ribu boleh enggak Mbak?" tanya pembeli Mayu yang lain.
"Tanggung banget Mbak, tambah satu lagi dong biar 6, nanti saya berikan bonus beng-beng deh." rayu Mayu.
"Si mbaknya bisa saja, tapi saya uangnya sudah enggak cukup Mbak. Uangnya pas-pasan ini Mbak. Boleh ya Mbak ya beli 5 dapat diskon 10 ribu? Boleh lah." ujarnya lagi.
"Ya sudahlah tidak apa-apa, tapi jangan bilang orang-orang ya! Ini spesial untuk Mbak saja. Biar jadi langganan." ujar Mayu. Bagi Mayu yang penting di sudah dapat untung, udah bisa lah itu.
"Saya dengar loh Mbak Mayu, saya juga mau dapat diskon Mbak Mayu." ujar pembeli Mayu yang baru datang.
"Eh Teh Dian, pendengarannya tajam banget deh kalau menyangkut diskonan. Ya sudah Teh Dian juga boleh deh dapat diskon banyak-banyak. Buat Teh Dian apa sih yang enggak." ujar Mayu pada pelanggannya. Mayu sudah kenal dia karena sudah 2 kali belanja sama Mayu.
"Kamu ini memang paling bisa Mbak Mayu. Saya lihat banyak barang barunya ini, dan modelnya juga semakin banyak." ujarnya.
"Iya Teh Dian biar Teh Dian enggak bosan belanja sama Mayu. Sekarang ada celana d*lam buat cowok juga Teh. Boleh lah itu buat suami Teteh. Bahannya bagus-bagus Teh dan harganya dijamin murah. Menyenangkan hati suami itu, dijamin bisa memperlancar rejeki suami juga Teh, dan Tateh sudah pasti dapat bagian lebih dong. Mantap enggak tuh?" ujar Mayu merayu pembelinya.
Dian tersenyum mendengar.
__ADS_1
"Memang paling bisa kamu jualannya. Ya sudah nanti saya mau beli satu, tapi sebelumnya saya mau pilih kolor buat anak saya dulu."
"Silahkan Teteh cantik."
"Ok."
"Mbak saya sudah, semuanya jadi berapa Mbak?" tanya pembeli Mayu sebelumnya.
"Sebentar ya Mbak, saya hitung dulu. Kolornya yang 10 ribuan 3 jadi 30 ribu tambah bhnya 2 yang harga 25 jadi 50 ribu. Semuanya jadi 80 ribu dikurang diskon 10 ribu jadi totalnya 70 ribu saja Mbak." ujar Mayu sambil memasukkan belanjanya ke dalam pelastik.
"Ini ya Mbak uangnya, pas Mbak."
"Ok Mbak, terimak kasih banyak Mbak sudah belanja di Mayu shop. Sering-sering mampir ya Mbak dan semoga hari-harinya selalu menyenangkan." ujar Mayu tersenyum ramah.
"Iya Mbak. Mari Mbak."
"Iya Mbak." ujar Mayu. Walau Mayu merasa capek dan belum sempat istirahat dari tadi, tapi Mayu akan selalu maksimal dalam melayani pembelinya karena pembeli itu adalah raja, walau terkadang ada juga yang tingkahnya menyebalkan.
Saat pembelinya sedang kosong, Mayu memilih merapikan barang dagangannya kembali dan sambil mengecek barang mana yang jumblahnya tinggal sedikit. Mayu juga tidak lupa menulisnya di buku catatannya supaya saat belanja tidak ada yang ketinggakan nantinya.
"Mbak masuk saja Mbak, enggak usah sungkan-sungkan. Lihat-lihat dulu saja Mbak kalau enggak jadi juga enggak apa-apa Mbak." ujar Mayu dan langsung menyambut kedatangan pembeli barunya. Padahal beres-beresnya juga belum selesai, tapi itu bukan masalah bagi Mayu.
"Silahkan Mbak, mau bh, kolor ada semuanya Mbak. Harganya juga macam-macam, dan semua ukuran masih lengkap Mbak."
"Iya Mbak," ujarnya sambil memperhatikan barang yang dipajang oleh Mayu.
Mayu kembali melanjutkan pekerjaannya dan sesekali tersenyum ramah pada penjualnya. Saat Mayu melayani pembelinya, pembeli Mayu yang lain kembali berdatangan. Mayu benar-benar tidak ada waktu istirahat untuk hari ini, tapi tidak bisa dipungkuri kalau Mayu merasa sangat senang. Ditambah lagi setelah menghitung penjualannya dan itu 2 kali lipat dari biasanya.
Kebahagiaan Mayu tentu saja semakin lengkap rasanya. Di hari pertamanya dagang di kios, hasilnya sudah memuaskan, selain itu tempat jualannya juga nyaman dan yang terpenting lagi, dia tidak perlu bongkar pasang jualannya dan membawanya pulang. Itu semua benar-benar meringankan pekerjaan Mayu.
Keesokan harinya Mayu ditemani jualan oleh nenek Iroh. Nenek Iroh ingin membantu cucunya jualan, dan karena tempatnya memang sudah nyaman tentu saja Mayu juga dengan senang hati mau dibantu oleh neneknya.
Begitu sampai kios mereka langsung beberes dan dikarenakan dari pagi sampai siang pembelinya itu masih jarang, Mayu menyempatkan jualan di tiktok. Mayu benar-benar tidak mau melewatkan waktunya begitu saja tanpa menghasilkan pundi-pundi uang. Begitu getolnya dia dalam mencari uang dan, Mayu melakukan semua itu tentu saja tidak hanya untuk dia dan neneknya, tapi untuk daddy nya juga. Mayu mau menunjukkan pada daddynya kalau uang yang dia berikan pada Mayu, bisa Mayu manfaatkan dengan sebaik mungkin. Mayu ingin membuat daddynya bangga.
Saat hari sudah sore Mayu dan neneknya kembali sibuk melayani pembeli. Mayu sampai harus bolak balik melayani pembelinya. Ditambah lagi barang pesanan sisa ekspor Mayu juga sudah sampai. Kesibukan Mayu benar-benar semakin bertambah lagi. Bahkan saat Alga menghubunginya, Mayu tidak mengangkatnya karena tidak sempat mengecek ponselnya.
"Mbak katanya jualan di sekitar sini, dan aku yakin dia pasti belum pulang. Apalagi ini hari minggu." ujar Sindi sambil memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
"Iya Sindi, aku juga yakin itu. Ah iya Sindi bukankah itu Mayu shop. Jangan-jangan itu toko Mayu lagi." ujar Dira sambil menurunkan kaca mobilnya.
Sindi mentap ke arah toko yang dimaksud.
"Iya benar Mbak. Itu Mayu Mbak, dia sedang melayani pembeli." ujar Sindi menujuk Mayu.
Dira mengangguk mengerti dan memperhatikan kios Mayu mulai dari pamplet sampai ke isi-isinya. Kios Mayu terlihat bagus dan rapi ditambah lagi barang jualannya hampir penuh dan itu hampir 4 kali lipat dari barang dagangan Mayu saat dipinggir jalan waktu itu.
"Sin menurut kamu, itu semua milik Mayu atau dia hanya pekerja di sana?" tanya Dira.
"Kalau dilihat dari pampletnya sih kemungkinan dia pemiliknya Mbak. Mbak sebentar deh aku mau tanya tentang seluk beluk toko itu." ujar Sindi.
Dita mengangguk dan meminta supirnya membawa mobilnya ke tempat yang bisa buat parkir.
Sepuluh menit kemudian Sindi kembali masuk mobil dan menghampiri Dira.
"Gimana Sin?" tanya Dira.
"Katanya toko itu memang dikontrak oleh Mayu mbak dan harga kontraknya itu 25 juta setahun dan itu sudah dibayar cash sama Mayu." jawab Sindi.
Tangan Dira terkepal mendengarnya.
"Jadi dia beneran punya uang, tapi dari mana dia bisa mendapatkanya?" ujar Dira seakan berkata pada dirinya sendiri.
Dira sudah menyelidiki teman-teman Alga, tapi tidak ada yang meminjamkan uang pada Alga. Dia bahkan sampai mengancam Rangga dan Yudha supaya mau ngaku, tapi mereka juga tidak ada yang meminjamkan uang pada Alga, dan mereka juga sama sekali tidak tahu tentang uang yang dimaksud, karena setahu mereka Alga tidak pernah memberikan uang pada Mayu. Gimana Alga mau memberikan uang kalau uang di kantongnya juga tinggal ratusan ribu, sejuta saja tidak sampai.
"Aku juga tidak tahu Mbak. Padahal beberapa waktu lalu jualannya hanya di pinggir jalan dan itu juga tidak seberapa. Lalu sekarang tiba-tiba jualan di toko dan itu modalnya puluhan juta. Dia bahkan sempat bersenang-senang di hotel mewah bersama neneknya. Apa jangan-jangan dia menang lotra kali Mbak atau bisa jadi juga dari hasil menjual warisan." ujar Sindi.
"Kata orang suruhanku, dia tidak punya warisan dan dia juga tidak ada menang apa-apa. Gerak-geriknya juga tidak ada yang mencurigakan sama sekali dan aktivitas juga hanya kuliah dan jualan saja, selebihnya dia pergi belanja itu saja. Makanya aku berpikir kemungkin yang memberinya uang hanya Alga, tapi Alga juga tidak punya uang. Aku bahkan hampir tidak percaya ini. Bagaimana mungkin anak bau kencur itu membuatku harus bekerja sekeras ini." jelas Dira.
"Aku juga tidak mengerti Mbak." ujar Sindi ikutan bingung. Perasaan Mayu hidupnya biasa saja tapi kenapa dia seakan begitu misterius.
Sementara itu orang yang sudah memberi Mayu uang atau lebih tepatnya David tampak sedang memejamkan matanya di kursi kebesarannya.
Tanpa sadar dia menghela nafas dan itu karena kepikiran Mayu, anak sulungnya. Dia ingin sekali bertemu dengan Mayu tapi untuk sekarang ini sangatlah sulit, dan itu karena dia tahu kalau Mayu beberapa hari ini diikuti oleh orang suruhan Dira.
Akan sangat berbahaya tentunya kalau orang suruhan Dira tahu Mayu bertemu dengannya. Ini belum saat Dira tahu kalau Mayu adalah anak kandungnya.
__ADS_1
"Mayu, Daddy tahu ini sangat sulit buat kita, tapi Daddy janji Daddy pasti akan memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan kamu. Daddy janji Mayu." monolog David.