
Alga sedang berusaha memperbaiki kartu SIM yang dipatahkan David. Alga melakukannya dengan begitu hati-hati.
"Huh!" Alga menghembuskan nafas kasar begitu usahanya berhasil dan sesuai dengan yang dia harapkan.
Alga menatap lega karu SIM yang sudah tersambung dengan sempurna itu.
Alga kemudian mengambil ponselnya dan dengan hati-hati dia memasukkan kartu itu ke SIM 2 ponselnya.
Alga tersenyum begitu melihat SIM itu masih bisa digunakan, bahkan pulsa juga masih ada.
Ada kemudian mengecek kotak pesannya.
Alga lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar sebelum dia membaca isi pesan itu.
Untuk sejenak Alga menahan nafasnya dan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, begitu dia membaca pesan pertama.
[Mayu ini Daddy. Maafkan Daddy yang baru menghubungi kamu sekarang. Daddy pikir kamu akan datang bersama Alga ke pesta Vivi, tapi nyatanya kamu tidak datang bersamanya. Padahal Daddy sangat berharap sebelumnya. Daddy ingin bertemu kamu, Daddy rindu.]
Alga sampai menelan ludahnya. Terbukti sudah semua rasa curiganya. Ternyata David adalah papa kandungnya Mayu. Alga mulai mengerti kini kenapa dia begitu berhati-hati dan tidak mau meninggalkan jejak sedikit pun. Pasti David tidak mau, ada yang tahu kalau Mayu adalah anak kandungnya.
Alga kembali membaca pesan selanjutnya. Alga sampai tersenyum haru. Dilihat dari isi pesan mereka terlihat sekali kalau mereka saling sayang, tapi apalah daya kalau mereka harus menyembunyikan hubungan mereka selayaknya selingkuhan yang tidak mau ketahuan.
Setelah membaca semua pesan David dan Mayu. Alga kembali mengeluarkan kartu simnya dan kembali mematahkanya. Alga tidak hanya mematahkannya jadi 2 tapi jadi 4. Alga juga membuang patahannya terpisah. Ada yang dia bungkus pakai kertas, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Ada juga yang dia masukkan ke dalam tasnya, supaya besok bisa dibuang ke tempat sampah yang berbeda.
Jika David sangat berhati-hati, Alga tentu lebih berhati-hati lagi.
Walah fakta ini sangat mengejutkan untuknya, tapi Alga ingin menyimpannya sendiri saja. Sampai pada akhirnya nanti Mayu sendiri yang akan mengatakannya padanya, atau David juga tidak masalah. Alga akan menunggu dengan sabar.
Alga menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan.
Alga benar-benar penasaran bagaimana reaksi maminya juga Sindi dan Naura begitu mereka tahu kalau Mayu adalah anaknya David?
Alga tiba-tiba menegapkan tubuhnyanya begitu teringat sesuatu.
"Jarak umur Mayu dan Naura hanya berbeda beberapa bulan. Itu berarti om David memang berhubungan dengan 2 wanita sekaligus. Aku jadi penasaran siapa kira-kira yang jadi selingkuhan, tante Sindi atau mendiang mamanya Mayu?" monolog Alga.
"Jika dilihat dari kesetian om David dan dia yang tidak pernah lagi main perempuan, kemungkinan besar yang jadi selingkuhan itu adalah mamanya Mayu. Mungkin itu juga alasannya kenapa om David benar-banar tidak mau kalau Mayu sampai ketahuan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya tante Sindi, begitu tahu kalau Mayu anak selingkuhan suaminya. Tapi bukankah Mayu yang lebih tua, itu berarti kemungkinan bukan mamanya Mayu dong yang jadi selingkuhan, tapi tante Sindilah yang jadi selingkuhan. Hanya saja karena tante Sindi yang lebih kaya dan berkuasa, jadi dialah yang jadi pemenangnya. Enggak tahu ah, pusing aku memikirkan kisah cinta mereka." ujar Alga diakhiri dengan menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal.
Alga pikir kisah cintanya jalannya cukup berliku tapi ternyata kisah cinta papanya Mayu lebih berliku lagi, bahkan karena berlikunya sampai ada cabangnya.
Alga menghentikan menggaruk kepalanya begitu dia kembali teringat sesuatu dan tanpa sadar dia tersenyum tipis. Pantas saja daddynya Mayu sudah memberi restu, ternyata daddynya mayu sudah kenal padanya dan sangat tahu seperti apa dia.
Alga juga harus mengakui, di satu dia memang khawatir dengan fakta yang yang baru saja dia ketahui, tapi di sisi yang lain, Alga yakin kalau fakta itu bisa mempermudah jalannya untuk bisa bersatu dengan Mayu, dan itu tentu saja karena dukungan David pada mereka.
Dukungan dari David tentu sangat berarti untuk dia dan Mayu. Setidaknya ada satu orang yang mau berjuang bersama mereka.
***
Mayu buru-buru keluar dari kelasnya. Ini sudah jam sebelas dan dia harus bertemu dengan daddynya jam 12 nanti.
Sembari melangkah, Mayu menyempatkan mengirim pesan pada Alga.
[Assalamualaikum Kak. Kak, Mayu pulang duluan ya, Mayu mau bertemu dengan Daddy. Nanti Mayu hubungi lagi jika Mayu sudah selesai. Semangat belajarnya Kak Alga!]
Alga yang baru saja selesai jam kuliahnya langsung mengecek pesan Mayu.
Alga tersenyum tipis mempaca pesan kekasihnya. Dia sudah bisa menebak itu karena dia sudah tahu dari pesan yang kemarin dibacanya.
[Waalaikumsalam Ay. Iya Ay, kamu hati-hati ya Ay. Sampaikan salamku pada daddy kamu.] balas Alga.
__ADS_1
[Iya Kak.]
Mayu kembali menyimpan ponselnya. Mayu kemudian mengeluarkan kunci motornya dan tidak lama setelah itu Mayu pergi meninggalkan kampus. Padahal hari ini Mayu ada 2 mata kuliah tapi tidak apalah dia membolos sekali ini saja, demi daddynya.
Mayu rindu pada Daddynya dan Mayu juga ingin mengatakan masalah rumah itu. Waktu Mayu tinggal sehari lagi, dan Mayu harus secepatnya mengambil keputusan.
Mayu kemudian membawa motornya ke salah satu mall, Mayu melakukannya persis dengan beberapa waktu lalu. Mayu memang sangaja melakukannya di mall karena hanya di mall cara paling mudah untuk mengelabui orang suruhan Dira.
Mayu tersenyum lega begitu dia berhasil keluar dari mall tanpa diketahui orang suruhan Dira. Mayu kemudian memanggil ojek karena tempat pertemuan mereka kali ini ada di restoran yang tempatnya cukup jauh dari Mall, dan Mayu kembali sengaja melakukannya untuk menghilangkan jejak.
"Stop Bang, saya turun di sini saja." ujar Mayu begitu mereka sudah sampai dekat restoran yang dituju.
"Iya Mbak." ujar abang ojeknya kemudian menghentikan motornya.
"Ini ya Bang, ongkosnya." ujar Mayu sambil memberikan uang 20 ribu.
"Iya Mbak, terima kasih."
"Sama-sama Bang," ujar Mayu.
"Mayu kembali memakai maskernya seperti biasa dan Mayu sengaja menggerai rambut panjangnya. Mayu juga tidak lupa merapikan penampilannya. Ini restoran mahal, tentu Mayu juga tidak mau masuk dengan penampilan acak-acakan. Mayu tidak ingin menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang berbeda dengan yang lainnya.
Setelah memastikan semuanya aman, Mayu kembali melangkahkan kakinya ke arah restoran tersebut.
Begitu masuk restoran tatapan mata Mayu langsung mencari mobil daddynya. Mayu kembali merasa lega begitu melihat supir dan bodyguard daddynya sedang asik mengobrol sambil mer*kok.
'Aman,' batin Mayu senang. Mayu kembali melangkah dengan santainya masuk ke dalam restoran.
Mayu langsung menemui pelayan dan menanyakan private room.
"Terima kasih Mbak," ujar Mayu begitu dia sampai.
"Sama-sama, mari." ujarnya.
Mayu seketika tersenyum begitu melihat daddynya dan David juga tersenyum padanya.
Mayu menutup cepat pintunya dan langsung melangkah cepat pada daddynya. David juga bangun dari duduknya dan pangsung merentangkan tangannya.
Mayu memeluk erat daddy.
"Mayu sangat rindu Dad," ujar Mayu.
"Daddy juga Mayu, maafkan Daddy yang jarang sekali ada waktu bertemu dengan kamu. Daddy bukan tidak mau, tapi Daddy harus memberi jarak, supaya tidak ada yang curiga pada kata." ujar David.
"Iya Dad Mayu sangat mengerti, yang penting bagi Mayu, Daddy tidak melupakan Mayu dan Daddy juga tetap dalam keadaan sehat, itu saja sudah cukup bagi Mayu."
David tersenyum mendengarnya. Dia kemudia melepas pelukannya dan menatap Mayu.
"Daddy tidak akan pernah melupakan kamu Mayu dan Daddy juga pasti akan selalu menjaga kesehatan Daddy demi kamu, karena Daddy ingin melihat kamu sampai kamu mendapatkan kebahagiaan kamu yang sesungguhnya. Bila perlu sampai kamu punya anak nantinya." ujar David mantap.
Mayu tersenyum haru mendengarnya.
"Iya Dad, terima kasih Dad."
"Sama-sama. Sini peluk lagi!"
Mayu menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk daddynya.
Seyelah beberapa menit berpelukan Mayu melepas pelukannya dan kembali menatap daddynya. Rasa rindu Mayu benar-benar sudah terobati selah menatap dan memeluk daddynya.
__ADS_1
Mereka kemudian sama-sama tersenyum.
"Mayu sayang Daddy." ujar Mayu pelan mengungkapkan apa yang dirasakannya.
David tersenyum haru mendengarnya.
"Daddy juga sangat sayang pada kamu Mayu."
"Terima kasih Dad," ujar Mayu dan ikut tersenyum haru. Mayu sangat senang mendengar kata sayang dari daddynya.
"Tidak perlu berterima kasih pada Daddy, Mayu. Sudah sepantas Daddy menyayangi kamu karena kamu adalah anak Daddy, darah daging Daddy." ujar David kemudian mengusap sayang rambut Mayu.
"Iya Dad," ujar Mayu.
David kembali tersenyum.
"Ah iya kamu pasti belum makan kan? Kita sebaiknya ngobrol sambil makan saja." ujar David.
"Iya Dad." nurut Mayu.
Mereka kemudian duduk dan makan dengan perlahan makanan yang sudah dipesan Mayu.
"Jadi gimana soal rumah yang ingin kamu beli itu, apa kamu sudah yakin dengan rumah itu?" tanya David memulai pembicaraan mereka.
"Soal rumahnya sih sudah yakin Dad. Dari pertama kali melihat, Mayu sudah suka meski rumahnya baru setengah jadi." ujar Mayu sambil memakan makanannya.
"Setengah jadi gimana maksudnya? Apa rumah itu dibiarkan terbengkalai sebelumnya?" tanya David dan mengikuti apa yang dilakukan Mayu.
"Enggak Dad, rumah itu sudah ditempati, hanya saja, yang sudah selesai baru lantai satunya saja, tapi itu juga sudah luas dan nyaman Dad. Bahkan kalau Mayu ada modal, bisa buka 2 usaha sekaligus." jelas Mayu.
David mengangguk mengerti.
"Lalu bagimana dengan status rumahnya? Apa sertifikatnya jelas dan rumah itu bukan rumah sengketa?"
"Soal itu semuanya sudah jelas Dad, karena sebelumnya juga rumah itu mau dibeli sama teman kak Alga yang memiliki bisnis properti. Mayu rasa kalau orang properti enggak mungkin mau membeli rumah kalau statusnya tidak jelas." ujar Mayu.
"Kamu benar, itu berarti soal rumahnya sudah aman."
"Iya Dad masalah rumahnya memang sudah aman, tapi soal uangnya yang belum aman." ujar Mayu apa adanya.
"Kamu tenang saja kalau masalah itu, Daddy sudah menyiapkan uangnya, dan Daddy rasa uangnya cukup untuk merenovasi rumah itu. Dan kalaupun nanti tidak cukup kamu beri kpde lagi saja ke email Daddy." ujar Davin.
Mayu tersenyum lega mendengarnya, akhirnya masalah rumah itu bisa selesai juga.
"Terima kasih Dad, dan maafkan Mayu yang selalu merepotkan Daddy."
"Kamu tidak merepotkan Mayu, Daddy senang melakukan ini semua untuk kamu. Daddy bahkan me- sebentar Mayu ada telepon." ujar David segera menghentikan aktivitas makannya begitu mendengar ponselnya berbunyi.
Mayu menganggukkan kepalanya.
Mata David tampak membesar begitu melihat nama peneleponnya.
"Sindi yang menelepon Mayu. Kamu jangan bersuara dulu!" suruh David.
Mayu kembali menganggukkan kepalanya dan menelan cepat makanan dalam mulutnya. Mayu mengacungkan jempolnya setelah dia merasa nyaman.
David menganggum kemudian mengangkat telepon dari Sindi.
"Hallo," jawab David singkat seperti biasanya.
__ADS_1
"Hallo Dad, daddy ada di meja nomor berapa? Aku sudah sampai di restoran tempat Daddy makan." ujar Sindi mumbuat mata David seketika melotot keluar karena terkejutnya.
Sindi datang, ini benar-benar gawat.