
"Mi kami pergi dulu ya," ujar Alga sambil salim.
"Iya, kalian hati-hati!"
"Titip Lisa, Mi." ujar Mayu ikutan salim.
"Iya." ujar Dira lagi.
"Ayah dan Bunda kerja dulu ya cantik, dadah!" ujar Alga melambaikan tangan pada anaknya.
"Dadah Yayah, Bubun. Cemangat kelja!" ujar Lisa membuat orang tuanya tersenyum.
"Iya, Ayah dan bunda pasti semangat. Lisa jangan nakal ya!" ujar Alga lagi.
"Ciap Yayah, Lica baik Yayah."
"Good girl. Nanti Ayah beli pisang untuk Lisa."
"Hole," ujar Lisa langsung bersorak girang.
Lisa dan Dira masih menunggu Alga dan Mayu sampai mereka benar-benar pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Dira menatap cucunya begitu mobil Alga sudah hilang dari pandangan mereka. Lisa benar-benar anak yang pengertian, dia jarang sekali nangis kalau ditinggal ayah dan bundanya kerja.
"Lisa mau menemani Oma olahraga di taman atau di rumah?" tanya Dira.
"Aman!" semangat Lisa. Dia paling suka main ke taman. Selain banyak jajan, ada jual mainan anak-anak juga.
"Ya sudah, Lisa ambil sepatu olahraga Lisa!" suruh Dira.
"Ciap Moma." semangat Lisa dan langsung berlari ke arah rak sepatu miliknya.
Dira tersenyum. Memiliki cucu seperti Lisa benar-benar membuat hari tuanya penuh warna.
"Ini Moma," ujar Lisa sambil memberikan sepatu warna putih.
"Ok. Sebelum pakai sepatu Lusa pamitan dulu sama nenek! Bilang pada nenek, Lisa mau ke taman!" suruh Dira lagi.
"Ciap Moma," semangat Lisa dan kembali berlari masuk rumah.
"Enek!" panggil Lisa sambil berlari.
"Neneknya ada di kamar Lisa!" ujar budhe.
"Yaya," ujar Lisa dan terus berlari.
"Enek!" panggilnya lagi begitu sampai depan pintu kamar nenek Iroh.
"Iya Lisa," ujar nenek Iroh membuka pintu kamarnya.
"Enek," ujar Lisa lagi memperlihatkan senyum moneynya.
Nenek Iroh juga ikut tersenyum.
"Kenapa Lisa? Lisa mau main sama Nenek?" tanya nenek Iroh.
"Nono Enek ee ...." ujar Lisa seketika terdiam. Dia lupa dengan tujuannya mendatangi kamar nenek Iroh.
"Ee apa Lisa? Lisa mau makan?" tanya nenek Iroh lagi dan disambut dengan senyum money Lisa. Tawaran nenek iroh begitu menarik.
"Lisa kenapa tersenyum? Lisa mau apa sama Nenek? Atau Lisa mau menemani Nenek berjemur?" tanya nenek Iroh lagi.
"Mamam Nenek," ujar Lisa akhirnya membuat nenek Iroh tersenyum. Lisa benar-benar sudah lupa dengan tujuannya.
"Lisa mau makan apa, mau makan roti atau buah?" tanya nenek Iroh lagi. Spesial di kamar nenek Iroh memang selalu tersedia buah atau roti dan makanan ringan lainnya.
"Loti Enek. Loti picang." ujar Lisa. Lisa ingat nenek Iroh sering memberinya roti rasa pisang dan rasanya enak sekali. Lisa menyukainya.
"Sebentar ya," ujar nenek Iroh kemudian membuka kotak kotak tempat penyimpanan makanannya. Sejak Lisa pintar jalan dan hobby makan. Mereka tidak pernah lagi sembarangan meletakkan makanan. Takutnya Lisa mengambil makanannya. Mereka bukan sayang pada makananya tapi mereka sayang pada Lisa. Mereka tidak mau Lisa mengalami obesitas karena kebanyakan makan. Dokter sudah berulang kali mengingatkan mereka soal itu.
"Ciap Enek, manyak Enek!" ujar Lisa lagi.
"Ok Lisa, Lisa bisa ambil kursi Lisa!" suruh nenek Iroh lagi.
"Oce Nenek," ujar Lisa semangat kemudian manarik kursi kecil miliknya.
"Hihi ...." Lisa tertawa senang begitu nenek Iroh memberikan Dia roti rasa pisang. Rotinya sangat lembut dan rasa pisangnya benar-benar terasa. Roti yang memang dipesan khusus untuk nenek Iroh.
"Acih Enek," ujar Lisa menerima rotinya dengan senang hati.
"Sama-sama Lisa." ujar Nenek Iroh kemudian menarik kursinya dan duduk di samping Lisa. Jadilah nenek dan buyut itu asik makan roti.
"Ayah dan bunda Lisa sudah berangkat kerja?" tanya Nenek Iroh disela-sela makan rotinya.
"Dah Enek. Yayah, Bubun gogo aik obil. Lica nono." cerita Lisa.
"Enggak apa-apa Lisa di rumah saja sama Nenek, Oma, sama dedek Lina juga. Lebih enak di rumah, kerja capek." ujar nenek Iroh.
__ADS_1
"Iya Enek. Lica nono kelja."
"Iya, Nenek juga enggak kerja, sama dengan Lisa." ujar nenek Iroh lagi. Mereka malah asik mengobrol dan sangat berbeda dengan Dira yang sudah berkacak pinggang. Kemana perginya cucunya? Bukannya dia nyuruh Lisa pamitan saja.
Dira yang enggak ingin menunggu lebih lama lagi akhirnya memutuskan mencari Lisa saja.
"Lisa! Pantas enggak datang-datang, ternyata lagi asik makan roti sama Nenek." ujar Dira begitu melihat apa yang dilakukan cucunya.
Lisa dan nenek Iroh menoleh.
"Moma, mamam Loti!" pamer Lisa dan tidak sadar sama sekali dengan kesalahannya.
Dira hanya menghela nafas mendengarnya, kebiasaan sekali ini cucunya.
"Kamu nyuruh Lisa ngapain Dira?" tanya nenek Iroh penasaran.
"Saya nyuruh dia pamit sama Ibu, kami mau pergi olahraga. Enggak tahunya malah asik makan dia." ujar Dira mengadu dan nenek Iroh tersenyum mendengarnya. Udah enggak aneh dia dengan kelakuan Lisa. Daya ingat Lisa bertahan lama kalau menyangkut makanan saja.
"Lisa, Oma nyuruh Lisa ngapain sama nenek?" tanya Dira beralih pada cucunya.
"Mamam," jawab Lisa santai.
"Salah Lisa, bukanya Lisa mau olahraga ke taman sama Oma?" ujar Dira mengingatkan dan langsung disambut antusias Lisa. Lisa baru ingat dengan tujuannya.
"Ya Moma gogo aman." ujarnya langsung bangun dari duduknya dan beralih pada nenek Iroh.
"Enek, Lica gogo olahaga, cehat Enek." ujar Lisa lagi.
"Iya Lisa tidak apa-apa. Lisa hati-hati ya dan semangat olahraganya!" ujar nenek Iroh.
"Iya Enek, emoi Enek." ujarnya sambil menggoyangkan bokongnya membuat Dira dan Nenek Iroh tersenyum.
"Iya, Lisa harus rajin olahraga biar makin gemoy dan cantik." ujar Nenek Iroh lagi.
"Iya Enek."
"Bagus, tapi itu rotinya dihabiskan dulu! Lisa makannya harus duduk, biar makanannya ngumpul di perut." suruh Nenek Iroh.
"Ciap Enek."
***
"Lisa main-main di sini saja ya, jangan jauh-jauh. Oma mau olahraga dulu." ujar Dira.
"Oce Moma," ujar Lisa sambil memainkan balon yang dibeli omanya.
"Pintar," ujar Dira. Dia kemudian gabung bersama tetangganya yang lain yang tengah melakukan olahraga.
"Lisa, ngapain itu cantik?" sapa salah satu tetangga Lisa. Lisa cukup terkenal di kompleks dan itu karena Dira sering sekali membawanya ke taman atau ke acara tetangga mereka.
"Main bayon, Ude." jawab Lisa.
"Balonnya ada berapa itu?"
"Ua," jawab Lisa dan balonnya memang ada 2.
"Wah Pintar ya Lisa."
"Iya, Lica cemat el." jawabnya membuat tetangganya tersenyum.
"Mantap Lisa. Lisa udah makan belum?"
"Beyum?" jawab Lisa cepat membuat tetangganya kembali tersenyum. Tiap ditanya soal makan selalu jawabnya belum. Kadang Dira sampal mengomel, Lisa seperti jarang diberi makan saja. Padahal jam makannya selalu tepat waktu, belum lagi snacknya.
"Budhe ada kue, mau enggak?"
"Mau!" seru Lisa mantap dan langsung berlari menghampiri tetangganya.
Sementara itu Dira masih asik melakukan berbagai gerakan. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat siapa yang menyapa Lisa dan dia membiarkannya saja karena Dira kenal padanya. Para tetangganya memang baik pada Lisa. Itu bukan karena Lisa cucu Pratama tapi karena Lisa memang menggemaskan dan cetewetnya buat orang-orang senang bicara dengannya. Belum lagi kalau ditawarkan makanan, Lisa langsung semangat 45.
Setelah puas olahraga dan mengeluarkan banyak keringat, Dira kembali ke bangku tempat dia meletakkan tas Lisa.
"Loh Lisa dimana?" kaget Dira begitu sadar Lisa tidak ada.
Dira langsung mengedarkan pandangannya dan mencari kesekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Lisa. Bahkan balon yang Dira belikan untuknya, tergeletak begitu saja tanpa ada yang mengambilnya.
"Relin! Relin!" panggil Dira pada tetangganya yang sebelumnya bicara dengan Lisa.
"Iya Mbak," jawabnya.
"Kamu ada melihat Lisa? Kamu sempat bicara dengannya kan?" tanya Dira tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Iya ada Mbak, tapi setelah dia menerima kue yang saya berikan, dia langsung pergi." jawabnya apa adanya.
"Kemana ya dia?" ujar Dira dan lagi-lagi mengedarkan padangannya.
"Coba tanya penjual mainannya Mbak. Saya sempat melihat Lisa pergi kearah sana." ujarnya lagi dan ikut mencari keberadaan Lisa.
__ADS_1
"Iya," ujar Dira dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia berlari ke arah penjual mainan dan menanyakan keberadaan cucunya.
"Saya memang sempat melihatnya Bu, tapi dia tidak ada ke sini karena ada yang menyapanya." ujar penjual mainannya.
"Siapa yang menyapanya?" tanya Dira tidak sabaran.
"Kalau tidak salah, Ibunya Yoga yang rumahnya cat warna putih itu Bu." ujar penjual mainannya lagi menujuk rumah yang dimaksud dan tidak jauh dari taman.
"Terima kasih Mas. Kalau melihat cucu saya tolong beritahu saya ya!" pinta Dira.
"Iya Ibu,"
Dira lagi-lagi mengedarkan padangannya dan karena belum menemukan Lisa, Dira berlari ke arah rumah yang dimaksud. Dira juga kenal baik tetangganya itu dan Lisa pernah main di sana. Dia punya anak kecil yang umurnya tidak jauh dari Lisa. Dia juga ikut les renang di tempat yang sama dengan Lisa.
"Veby! Veby!" panggil Dira tidak sabaran sambil memencet bel rumah mewah itu.
Tidak lama setelah itu seorang perempuan paruh baya datang membukakan pintu gerbang untuk Dira.
"Vebynya ada?" tanya Dira cepat.
"Iya ada Ibu, dia baru saja pulang dari taman. Silahkan masuk Ibu!" ujarnya mempersilahkan Dira.
"Apa dia pulang bersama cucu saya Lisa?" tanya Dira lagi.
"Tidak Ibu, Nyonya pulangnya sendirian saja." jawabnya membuat Dira kembali dilanda rasa khawatir.
"Kamu yakin, dia pulangnya hanya sendirian?" tanya Dira memastikan.
"Sangat yakin Ibu dan saya juga tidak ada melihatnya bersama Lisa." ujarnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu saya lanjut cari cucu saya lagi."
"Iya Ibu dan semoga Lisa secepatnya bertemu."
"Iya," ujar Dira dan kembali berlalu ke arah taman.
Dira semakin khawatir pada cucunya. Dia bukan takut cucunya diculik karena kompleks mereka memang aman. Hanya saja yang paling Dira takutkan Lisa ditabrak mobil atau kendaraan yang melintas.
"Lisa!" panggil Dira begitu dia sampai di taman. Dira sampai minta bantuan pada semua pedagang yang ada di taman. Begitu juga dengan para tetangganya yang masih ada di tanan.
"Mbak! Sekalian minta bantuan pada satpam juga. Takutnya ada ada orang iseng masuk kompleks ini. Ngeri saja kalau Lisa sampai diculik, walau kemungkinannya kecil." ujar Salah satu tetangga Dira.
"Benar juga, tapi saya tidak bawa ponsel." ujar Dira.
"Pakai ponselku saja Mbak. Sebentar." ujarnya mengambil ponselnya dan mencari nama satpam yang bekerja di kompleks mereka.
Begitu Dira menghubungi satpamnya dan mengucapkan terima kasih pada tetangganya dia kembali mencari keberadaan cucunya.
"Lisa!" panggilnya lagi. Dira sudah mau menangis, dia semakin khawatir pada cucunya kesayangannya.
Ini pertama kalinya dia kehilangan Lisa. Lisa memang cukup sering dia tinggalkan saat olahraga di taman, tapi biasanya Lisa akan main dengan teman-temannya atau diajak bicara sama tetangga atau pedagang yang ada di taman.
"Didi, Kamu ada melihat Lisa?" tanya Dira begitu dia melihat anak tetangganya baru masuk taman dan hendak membeli sarapan.
"Tidak ada Budhe. Memangnya Lisa kemana Budhe?" ujar Didi balas bertanya.
"Saya tidak tahu, sebelumnya dia saya tinggalkan main di sini tapi tiba-tiba hilang entah kemana." ujar Dira.
"Mungkin ada tetangga lain yang mengajaknya Budhe. Budhe minta saja satpam periksa CCTV taman!" ujar Didi lagi.
"Ah iya saya baru ingat ada CCTV di taman. Terima kasih sudah mengingatkan Didi. Saya mau ke satpam dulu. Kamu kalau misalkan melihat ada Lisa. Tolong beritahu pada satpam ya!" pinta Dira. Karena terlalu khawatir Dira sampai tidak bisa berpikir dengan baik.
"Iya Budhe," ujarnya.
Dira kemudian pergi meninggalkan taman. Beruntung dia ada tetangganya yang lewat menggunakan mobil. Dira bisa menumpang sampai pos satpam.
"Terima kasih, Tony." ujar Dira.
"Sama-sama Mbak, semoga Lisa cepat ketemu."
"Amin." ujar Dira kemudian turun dari mobil mewah itu.
"Silahkan masuk Ibu!" ujar satpam begitu melihat Dira datang. Mereka sudah tahu dengan maksud kedatangan Dira dan mereka siap membantu.
"Terima kasih Pak, begini Pak, saya mau kalian periksa CCTV taman. Saya sayang khawatir pada cucu saya Pak." ujar Dira dan mendapat anggukan juga senyuman dari kedua satpam yang sedang berjaga.
"Sebenarnya begitu Ibu menghubungi kami, kami langsung memeriksa CCTV dan Lisa cucu Ibu baik-baik saja. Jadi Ibu tenang saja ya." ujar salah satu dari satpam itu dan tampak tenang di wajahnya.
"Serius cucu saya baik-baik saja, lalu dimana dia?" tanya Dira memastikan.
"Lisa lagi kerja Ibu." ujar satpam itu menahan senyumnya. Dia juga kenal baik pada Lisa dan sudah tidak aneh melihat tingkah Lisa.
"Kerja gimana maksudnya?" tanya Dira bingung.
"Sebentar Ibu, biar Ibu lihat dari CCTV saja!" ujarnya.
Dira mengangguk kemudian menatap layar monitor.
__ADS_1
Mata Dira seketika melotot begitu melihat cucunya yang tengah asik bercanda dengan tukang sapu di kompleks mereka. Lisa memang kenal dekat dengannya karena tiap kali lewat rumah Dira, Lisa sering bertemu dengannya, bahkan tidak jarang juga Lisa memberinya makanan dan minuman titipan dari Mayu.
"Ya ampun cucuku!" seru Dira.