Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mencari Keberadaan Mayu


__ADS_3

Dira tampak menelan ludahnya begitu membaca kata demi kata pesan yang dikirim oleh orang suruhannya.


"Sin!"


Dira beralih menatap Sindi dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa katanya Mbak?" tanya Sindi tidak sabaran.


Dira lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar.


"Nama ibu kandung Mayu adalah Marisa, Sin. Benar dugaan kita kalau Mayu itu adalah anaknya David dan mantan pacarnya. Marisa sudah meninggal beberapa tahun lalu dan dia juga tidak pernah menikah. Jadi sudah bisa dipastikan kalau Mayu itu adalah anaknya bersama David. Selama ini bahkan David sudah banyak sekali membantu Mayu dan dia sengaja menggunakan inisal nama MM yang berarti Mayu dan Marisa. Hanya saja kita tidak pernah menyadari itu." jelas Dira.


Tangan Sindi seketika terkepal mendengarnnya. Dia sampai memukul meja di depannya. Apa yang ditakutkannya benar-benar sudah terbukti. Dan benar apa yang dikatakan Dira kalau selama ini ada banyak sekali inisal nama MM di sekitar Mayu. Mulai dari kiriman bunga, makanan, dan masih banyak yang lainnya. Makanya dia dan Dira juga fokus mencari sosok seseorang yang memiliki inisal nama MM dan tidak tahunya, MM itu adalah suami sendiri. David benar-benar pintar mengelabuinya selama ini. Hingga Sindi tidak pernah sedikit pun ada rasa curiga padanya. Dan sekarang David dengan sengaja memberi petunjuk itu sendiri, Sindi yakin suaminya pasti sudah ada rencana besar untuk itu.


"Mbak jangan-jangan David ingin mengumumkan soal Mayu ke publik." ujar Sindi sambil menundukkan kepalanya.


"Itu juga yang aku pikirkan kan Sin, tapi aku yakin sih dia enggak mungkin segegabah itu, karena biar bagaimana pun ini termasuk sekandal besar. Jika sekandal ini muncul ke permukaan, maka pesaing bisnis kita pun tak akan tinggal diam, dan saham Pratama group bisa turun karena sekandal itu." ujar Dira.


"Tapi kalau mengungkapkannya depan kita bisa saja kan Mbak. Apalagi hari ini adalah hari ulang tahunnya dan nanti malam kita akan merayakannya bersamaan dengan syukuran pernikahan Vivi. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau dia benar-benar nekad melakukannya Mbak." ujar Sindi.


"Benar juga ya Sin, kalau begitu kita tambah penjagaan di sekitar rumahku saja, kita tidak boleh mengizinkan siapa pun masuk selain keluarga saja." usul Dira.


"Soal tamunya aku yakin Mbak, enggak akan ada yang berani masuk sembarangan ke rumah Mbak Dira, tapi kan ada Alga, Mbak. Alga bisa saja membawa kekasihnya ke rumah Mbak Dira dan tidak akan ada yang bisa melarangnya." ujar Sindi.


"Kalau soal itu kamu tenang saja, aku pastikan Alga tidak akan bisa membawa Mayu datang ke rumah. Selain itu kita juga akan menambah orang suruhan supaya mencari keberadaan Mayu. Kita akan memberi ancaman yang tak tanggung-tanggung pada Mayu, supaya dia sadar dia itu siapa. Dulu kita bisa melakukannya pada Marisa dan aku yakin kita juga pasti bisa melakukannya pada Mayu." usul Dira.


"Benar juga ya Mbak, misalkan kita ancam dia akan memecat David atau melukai neneknya saja, aku yakin dia tidak akan berani berbuat macam-macam."


"Itu dia, aku sangat yakin titik terlemah Mayu itu ada pada neneknya dan David dan begitu juga dengan David, titik lemahnya itu ada pada Mayu. Dan berhubung saat ini Mayu lebih lemah dari David, kita sebaiknya mengincar Mayu terlebih dulu. Setelah beres dengan Mayu barulah kita akan akan incar David. Pokoknya yang terpenting sekarang, soal Mayu anak kandungnya David hanya kita yang boleh tahu, keluarga kita enggak boleh tahu, apa lagi orang lain, terutama Pratama. Aku takut saja Pratama akan semakin mendukung Mayu begitu dia tahu kalau Mayu itu adalah anak kandungnya David." jelas Dira.


"Iya Mbak. Berarti sekarang sebaiknya kita langsung gerak cepat Mbak. Mbak hubungi anak buahnya dan suruh cari Mayu. Aku juga akan menyuruh orang suruhanku untuk mencari Mayu, selain itu aku juga akan menyuruh bodyguard David supaya lebih mengawasi David! Pokoknya Kita harus menemukan Mayu hari ini juga Mbak."


"Iya Sin. Aku juga mau pulang dulu, aku harus menahan Alga, dia tidak boleh pergi menemui Mayu!"


"Eh Mbak tunggu, jangan lakukan itu! Sebaiknya biarkan saja Alga keluar. Hanya saja suruh seseorang mengikutinya. Bukankah itu akan mempermudah kita untuk menemukan keberadaan Mayu." ujar Sindi.


"Benar juga. Kalau begitu aku akan menghubungi orang suruhanku." ujar Dira kemudian mengambil ponselnya dan Sindi juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Hallo Toni. Suruh anak buah kamu mengikuti Alga, dan tambah juga anak buah kamu untuk mencari keberadaan Mayu dan Neneknya. Periksa semua hotel yang ada di Jakarta, serta keluarga Mayu dan teman-teman Mayu juga. Pokoknya Mayu harus ditemukan hari ini juga!" printah Dira.


"Baik Nyonya." jawabnya.


"Udah Mbak." ujar Sindi.


"Iya sudah Sin, dan semoga saja Mayu bisa ketemu secepatnya. Aku benar-benar tidak sabar ingin memberi pelajaran pada anak itu." seru Dira.


"Sama Mbak, apa lagi aku. Aku malah ingin melenyapkannya dari muka bumi ini. Dia benar-benar sudah mengganggu ketenangan hidupku. Eh Mbak aku malah jadi kepikiran satu hal, jangan-jangan dia tadinya sengaja mau pacaran dengan Alga karena ingin bertemu dengan David."


"Benar itu, dan aku juga tidak pernah sedikit pun kepikiran kearah sana. Aku pikir dia ingin mengincar harta Alga, ternyata dia mengincar harta papanya sendiri, luar biasa. Dia ternyata jauh lebih licik dari kita. Ah iya Sin, kamu sebaiknya cepat-cepat bereskan barang-barang berharga David sama buku rekeningnya juga. Selain itu kalau ada aset dan saham yang masih atas namanya David cepat kamu bereskan semua. Supaya David juga tidak bisa lagi berkutik setelah ini." seru Rika.


"Benar juga Mbak, banyak banget itu barang berharga David, dan itu semua tidak akan bisa aku ganggu gugat karena itu memang haknya dan hasil kerja kerasnya."


"Itu Dia. Cepat kamu ambil semua itu, sebelum dia nekad memberikannya pada Mayu."


"Iya Mbak. Sebentar ya Mbak." ujar Sindi dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


Sindi masuk cepat ke dalam kamarnya dan langkahnya langsung tertuju pada tempat barang-barang berharga David.


Sindi beralih membuka brankas tempat dia meletakkan surat-surat berharga mereka.


Nafas Sindi sketika cepat begitu melihat isi brankas itu juga berkurang. Sindi buru-buru memeriksa isinya.


Buku rekening David, saham-saham atas nama David semuanya sudah tidak ada. Begitu juga dengan surat kendaraan yang dibeli atas namanya. Semuanya tidak ada. Bahkan ada 2 sertifikat juga yang tidak ada dan itu sertifikat villa mereka yang ada di Bali dan apartemen milik David yang dibelinya waktu belum menikah.


Sindi sampai mengepalkan kuat tangannya. David ternyata sudah merencanakan semuanya sematang mungkin dan dia benar-benar sudah kecolongan kali ini.


Sindi menggaruk kasar kepalanya dan dia kembali keluar dari kamarnya.


"Mbak gawat Mbak!" seru Sindi dan berlari ke arah Dira.


"Gawat kenapa Sin?" tanya Dira cepat.


"Ternyata David sudah mengamankan semua barang-barang berharganya Mbak. Bahkan ada 2 sertifikat berharga juga yang dia ambil. Jangan-jangan dia sudah memberikannya pada Mayu, Mbak." seru Sindi.


Dira sangat terkejut mendengarnya dan ternyata David juga tidak kalah liciknya dari mereka. Dia terlihat sangat tenang tapi ternyata, dia dibalik sikap tenangnya dia begitu menghanyutkan. Licik dibalas licik dan licik siapakah yang akan menang?

__ADS_1


"Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan ini Sin. Pokoknya kita harus mengambil itu semuanya dari Mayu." seru Dira.


"Itu pasti Mbak. Mbak suruh orang suruhan Mbak supaya menambah pasukannya. Pokoknya hari ini juga, Mayu harus ketemu. Kita harus mengamankan semua barang berharga itu sebelum Mayu mengamannya." pinta Sindi sambil mengambil poselnya, dia juga ingin menghubungi bodyguard David.


"Iya Sin." ujar Dira.


"Hallo Roni, kamu dimana?" tanya Sindi cepat begitu bodyguard David mengangkat teleponnya.


"Ada di rumah tuan Pratama, Nyonya. Ada apa?"


"Dari jam berapa kamu di situ. Sebelumnya kalian pergi kemana saja?"


"Dari jam 10 Nyonya. Setelah pulang dari hotel tuan David ke rumah tuan Pratama dan sampai sekarang dia masih di sini. Tuan David tidak pergi kemana-mana Nyonya."


"Dia ngapain saja di sana?"


"Dia hanya ngobrol santai dengan tuan Pratama, tuan Jiho dan yang lainnya. Mereka juga sambil minum(minuman beralkohol), itu saja." jawabnya.


Sindi menghembuskan nafasnya kasar. Suaminya itu benar-benar bersikap santai soalah tidak terjadi apa-apa. Padahal dia sudah melakukan banyak hal dibalik sikap tenangnya itu. Memanglah kemampuan dari seorang CEO itu tidak bisa dianggap enteng. Terlihat santai saja, tapi otaknya bekerja dengan begitu cepat.


"Ya sudah kamu terus awasi dia, dan segera beritahu saya kalau dia melakukan hal mencurigakan!" perintah Sindi.


"Baik Nyonya."


Sindi menatap sambungan teleponnya dan kembali menatap Dira.


"Apa sudah ada kabar baik Mbak?"


"Belum Sin, sudah ada beberapa hotel yang mereka periksa tapi tidak ada nama Mayu di sana. Kata satpam dan resepsionisnya juga mereka tidak ada melihat Mayu. Sepertinya kita masih harus bersabar Sin, aku yakin sih Mayu pasti bisa ditemukan, dan dia juga pastinya masih disekitar Jakarta."


"Sebenarnya aku sudah tidak bisa bersabar Mbak, tapi tidak mau gimana lagiz aku juga tidak mungkin marah-marah karena tidak ada Mayu di sini. Ah iya Mbak, suruh itu orang suruhan Mbak untuk memeriksa CCTV di sekitar rumah Mayu, dengan begitu ketahuan kan plat mobil yang membawa mereka."


"Anak buah Boy sudah melakukan itu Sin, tapi lagi-lagi Mayu itu sepertinya memang sudah mempersiapkan ini semua sematang mungkin. Di tengah jalan mereka turun, dan mereka naik mobil yang platnya sengaja ditutup. Jika platnya ditutup, sudah pasti semakin sulit melacak keberadaan mereka melalui CCTV. Terlebih lagi mobil yang mereka pakai adalah mobil pribadi, bukan kenderaan umum. Ngomong-ngomong soal CCTV, bagaimana kalau kita periksa David dari CCTV. Bagaimana cara dia membawa barang-barang itu? Siapa tahu saja barang-barangnya masih dia simpan di dalam rumah ini. David kan belum ada berpergian jauh hari ini." jelas Dira.


"Benar Mbak. Ayo kira priksa CCTVnya!" ujar Sindi dan langsung bangun dari duduknya.


Lagi-lagi Sindi dan Dira harus menahan rasa kesal karena CCTVnya ternyata mati, dan siapa lagi yang mematikannya kalau bukan David.

__ADS_1


__ADS_2