
"Mayu tunggu!" seru Irpan.
Mayu yang hendak menjalankan motornya seketika menoleh.
"Kenapa Pan?"
"Aku ingin bicara sebentar May. Kita bicaranya di warung depan kampus saja!"
"Aku buru-buru Pan, bicaranya nanti di rumah saja ya."
"Hanya sebentar May," ujar Irpan menatap Mayu penuh harap.
"Baiklah." ngalah Mayu.
"Terima kasih May. Aku ambil motor dulu."
Mayu mengangguk.
Tidak butuh waktu lama, Mayu dan Irpan sudah sampai si warung depan kampus.
"Ini May, minum dulu." ujar Irpan sambil memberikan sebotol minuman pada Mayu.
"Terima kasih Pan. Kamu mau bicara apa Pan?" tanya Mayu langaung to the poin. Bukan Mayu tidak ingin berlama-lama dengan Irpan, tapi dia memang harus segera pergi ke tanah abang. Kalau masih siang jalanan biasanya lancar dan tanah abang juga tidak terlalu padat pembelinya.
Irpan menatap Mayu dan menarik nafas pelan.
"Ini tentang kamu dan kak Alga, May. Sekarang aku mau tanya, apa kamu serius pacaran dengan kak Alga atau sekedar main-main saja?"
Mayu refleks mengalihkan pandangannya dan pura-pura minum.
'Kenapa Irpan bertanya seperti itu?' batin Mayu.
__ADS_1
Mayu menelan cepat minumanya. Haruskah dia berkata jujur pada Irpan?
Mayu tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Dia tida boleh jujur, Alga bisa marah besar kalau sampai perjanjian kerja sama mereka diketahui oleh orang lain. Sakalipun Mayu tahu kalau Irpan bisa dipercaya menyimpan rahasia.
"Kenapa kamu menggeleng May, apa itu berarti kamu tidak serius pacaran dengan kak Alga? Sudah kuduga." ujar Irpan lagi.
"Eh maksudnya bukan begitu Pan. Aku dan kak Alga pacarannya memang belum masuk ketahap serius dan kita masih ditahap pengenalan. Walau begitu bukan berarti kami hanya sekedar pacaran main-main. Kami sama-sama serius dan kami juga sudah janji akan saling setia satu sama lain." ujar Mayu sambil menggenggam erat botol minumannya. Semoga saja Irpan tidak sadar kalau dia sedang berbohong.
Irpan ikut menggenggam kuat botol minumannya. Dia tidak suka mendengar jawaban Mayu. Hatinya merasa tidak nyaman.
"Ok aku mengerti, sekarang apa kamu sudah mencintainya, dan aku harap kamu jawab jujur May!" ujar Irpan lagi. Genggaman tangan Irpan pada botolnya semakin menguat. Sungguh dia takut jawaban Mayu akan semakin menyakiti hatinya.
Mayu kembali menatap Irpan dan menarik nafas pelan.
"Kalau itu jujur saja aku belum mencintainya Pan, tapi aku akan berusaha mencintainya, dan begitu juga dengan kak Alga." ujar Mayu tidak sepenuhnya bohong. Tentang perasaannya itu jujur, tapi berusaha mencintai itu bohong besar.
Irpan diam-diam tersenyum lega mendengarnya. Hatinya merasa senang mendengar jawaban Aimee dan itu berarti kesempatan untuk dia masih terbuka lebar.
"Maksud Irpan apa?"
"Begini May. Sekarang coba kamu berpikir secara realistis. Aku tidak ada maksud merendahkan kamu, tapi lihatlah siapa kak Alga yang sebenarnya! Antara kamu dan dia itu bagaikan bumi dan langit May. Kak Alga itu sangat kaya, dia berasal dari keluarga terpandang juga terhormat. Keluarganya itu tidak akan semudah itu menerima kamu May. Kecuali kalau kak Alga sangat mencintai kamu dan akan melakukan apa saja untuk kamu, kalau itu oklah masih bisa diterima. Sedangkan ini dia saja belum mencintai kamu dan sikapnya itu juga sangat dingin pada kamu. Hanya penderitaan yang akan kamu dapat May. Sebagai seorang teman, jujur saja aku tidak ingin melihat kamu menderita lebih banyak lagi dan aku yakin nenek Iroh juga pasti akan sama, dia juga pasti akan sangat sedih kalau kamu menderita May." jelas Irpan.
Mayu hanya terdiam dan semakin mengenggengam erat botol minumannya.
'Aku juga tahu itu Pan, dan aku juga sangat sadar akan hal itu, karena itu aku juga tidak ada niatan ingin mencintai kak Alga. Hubungan kami tidak seperti yang kamu bayangkan Pan, tapi maaf aku benar-benar tidak bisa cerita pada kamu tentang kekasih bayaran itu.' batin Mayu.
"Satu lagi May yang harus kamu pikirkan. Diantara begitu banyaknya mahasiswi di kampus kita, aku yakin hampir semuanya tidak setuju melihat kamu jadian dengan kak Alga. Kalau pun ada yang setuju itu paling cuma teman kita atau mahasiswi yang tidak perduli pada kalian. Diantara begitu banyak yang tidak suka, ada banyak juga yang ingin menjatuhkan kamu May dan aku yakin kamu pasti sudah mendengar gosip-gosip itu, bagaimana mereka yang dengan seenak jidatnya mengatai kamu, bahkan keadaan keluarga kamu serta mendiang ibu kamu juga sampai digosipkan yang tidak-tidak sama mereka. Apa kamu tidak takut May kalau gosip itu semakin menjadi hingga sampai ke telinga dosen juga rektor dan yang lebih parahnya sampai ke telinga perusahaan yang memberi kamu beasiswa? Bagaimana kalau beasiswa kamu bisa dicabut May? Ingat May perjuangan kamu tidak mudah untuk bisa masuk kampus ini. Jangan sampai perjuangan kamu berakhir sia-sia dan hubungan kamu juga kak Alga akan kandas di tengah jalan." jelas Irpan lagi mengungkapkan semua kegelisahannya.
Dia sangat sayang pada Mayu dan dia tidak mayu menyesal di kemudian hari.
Mayu lagi-lagi menarik nafas pelan.
__ADS_1
'Seandainya saja bisa Pan, aku juga ingin mengakhiri semuanya. Aku juga sangat lelah Pan, dan aku tersiksa dengan keadaan ini, tapi aku juga tidak mungkin mengakhirinya karena kalau sampai aku mengakhirinya justru beasiswanya akan dicabut Pan.' batin Mayu.
Mayu ingin sekali mengungkapkan semuanya pada Ipan tapi dia terlalu takut menanggung resiko. Mayu hanya bisa menyimpan semua itu sendirian.
"Pan terima kasih sudah khawatir padaku dan terima kasih juga sudah mengingatkanku. Aku sangat tahu resiko dari apa yang aku jalani saat ini Pan, tapi aku tidak mungkin mengakhiri hubungaku dengan kak Alga. Aku juga tidak bisa menjelaskan pada kamu kenapa aku tidak bisa mengakhiri hubungan kami, aku harap kamu mengerti Pan. Satu lagi, beasiswa itu tidak akan dicabut asal aku bisa mempartahankan nilai IPKku, jadi kamu tenang saja ya Pan. Aku juga akan berjuang sekuat tenagaku agar tetap berada di kampus ini sampai akhir, sampai aku mendapatkan gelar sarjana nanti." jelas Mayu.
"Kenapa tidak mungkin mengakhirinya May, apa sebelumnya ada terjadi sesuatu antara kalian? Apa kak Alga mengancam kamu?" tanya Irpan.
Mayu menggelengkan cepat kepalanya.
"Tidak Pan, kak Alga itu tidak mengancamku, dan dia tidak sejahat yang kamu pikirkan Pan. Justru aku bisa dapat makan gratis dan aku juga bisa meminjam buku yang aku inginkan dengan mudah karena dia. Jadi kamu jangan khawatir padaku. Ingat Pan, aku ini Mayu, Mayu si gadis tangguh dan kuat juga bisa jaga diri. Apa yang aku alami saat ini tidak ada apa-apanya bila dengan saat aku pertama kali dagang di pasar dulu Pan. Aku yakin, aku juga pasti bisa melewati ini semua, dan kamu cukup bantu aku dalam doa saja." ujar Mayu mantap.
Gantian Irpan yang menarik nafas dalam.
"Baiklah May aku percaya pada kamu tapi ingat jika terjadi sesuatu langsung beritahu aku. Aku benar-benar tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kamu May. Aku sayang pada kamu May, ah maksudnya sayang sebagai teman May." ujar Irpan buru-buru meralat kata-katanya.
Irpan tidak mau Mayu sampai tahu perasaannya karena ini bukan saat yang tepat. Irpan tidak mau Mayu sampai menjauhinya. Irpan lebih baik melihat Mayu dengan yang lain daripada Mayu membencinya karena perasaannya.
Mayu menatap haru pada Irpan, temannya yang satu ini memang sangat tulus juga perduli padanya. Beruntungnya dia memiliki teman seperti Irpan.
"Iya Pan aku pasti akan memberitahu kamu. Terima kasih ya Pan sudah jadi teman terbaik untuk Mayu." ujar Mayu tulus.
"Iya May sama-sama."
'Dan aku berharap suatu saat nanti aku tidak hanya jadi teman terbaik untuk kamu, tapi teman hidup terbaik.' lanjut Irpan dalam hatinya.
Mayu dan Irpan sama-sama tersenyum tipis. Walau hati Irpan tidak sepenuhnya lega, tapi dia sudah merasa lebih baik, bisa mengungkapkan semua kegelisahaannya pada Mayu.
***
"Loh ban motorku kenapa bisa kempes?" gumam Mayu. Mayu melirik kiri dan kanan, perasaan tadi saat dia pergi belanja ban motornya baik-baik saja, lalu ini kenapa bisa kempes? Kempes dua-duanya lagi.
__ADS_1
Mayu yakin ini pasti ulah seseorang, tapi siapa yang sudah melakukannya?