
Mayu menatap pemadangan hijau di depannya. Mayu menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Mayu terus melakukannya sampai beberapa kali, sampai dia merasa lebih baik lagi.
Mayu tidak mau pulang dalam keadaan galau atau sedih. Mayu tidak mau neneknya jadi curiga karena itu Mayu harus pulang dalam keadaan ceria seperti biasanya.
'Mayu ayo Mayu, kamu pasti bisa Mayu. Kamu harusnya senang bisa melihat wajah papa kamu bukannya malah sedih.' batin Mayu berusaha menyemangati dirinya tapi ujung-ujungnya Mayu malah menangis lagi.
Terutama saat mengingat papanya Naura mengusap sayang rambut Naura dan mengecup pelipis Naura. Salahkan Mayu jika dia juga ingin diperlakukan seperti itu?
"Mayu jangan sedih dong Mayu, kamu pasti bisa Mayu!" gumam Mayu sambil menghapus air matanya.
Antara pikiran Mayu dan isi hati Mayu sangat bertolak belakang saat ini. Pikirannya ingin Mayu melupakan tentang papanya tapi hatinya terus memanggil nama papanya.
Mayu lagi-lagi menarik nafas pelan dan mebuangnya dengan perlahan. Kenapa dia jadi lemah begini jika menyangkut tentang papanya. Padahal papanya saja tidak perduli padanya. Harusnya Mayu membanci papanya saja!
Tidak jauh dari Mayu ada 2 pasang mata yang menatap penuh tanda tanya pada Mayu dan itu adalah mata Irpan dan Alga.
Irpan yang tadinya melihat Mayu menangis langsung mengikuti Mayu. Sedangkan Alga yang tidak bisa menahan dirinya, akhirnya memutuskan mencari keberadaan Mayu.
'Mayu kenapa?' batin kedua laki-laki berparas tampan itu.
'Apa kak Alga yang menyebabkan Mayu menangis, apa dia yang sudah menyakiti Mayu?' batin Irpan. Irpan sampai tidak sadar mengepakan kuat tangannya.
Jika benar Mayu menangis karena Alga maka Irpan akan membuat perhitungan dengan seniornya itu. Irpan tidak perduli Alga itu senior dan lebih segalanya dari dia. Irpan benar-benar tidak bisa terima melihat gadis yang dicintainya menangis karena laki-laki itu. Apa tidak cukup baginya melihat Mayu dapat banyak masalah karena dia? Sekarang Mayu juga menangis karena dia.
Sementara itu Alga sedang berpikir keras. Benaknya masih dipenuhi pertanyaan tentang Mayu. Kejadian Mayu menangis itu begitu tiba-tiba dan hanya selesih beberapa menit saja dari dia kembali bersama Mayu.
Perasaan setelah Alga menyampaikan semuanya pada Mayu, Mayu tetap seperti biasanya, dia juga ceria. Mereka bahkan ada foto beberapa kali, dan Mayu bahkan sempat tertawa ngakak karena berhasil mengerjai Alga. Lalu sekarang kenapa dia tiba-tiba menangis dan tangisnya itu terlihat menyakitkan? Itu berati Mayu sempat mengalami suatu kejadian yang membuat hatinya bersedih, tapi apa?
Gara-gara Mayu, Alga harus berpikir keras.
Haruskah Alga mendekatinya lalu bertanya ada apa dengannya, tapi Alga sudah janji kalau dia akan mengurangi perhatiannya pada Mayu. Apalagi Mayu keadaannya sedang menangis, jika Alga memberi perhatian, kemungkinan Mayu bisa terbawa perasaan itu lebih dari 50 persen.
Alga jadi galau. Hatinya ingin mendekat pada Mayu tapi pikirannya melarang.
'Enggak aku tidak bisa diam saja, saat ini Mayu sedang butuh seseorang. Aku harus membantunya.' batin Alga memutuskan menemui Mayu saja.
Baru juga langkah Alga mau melangkah tapi dia dikejutkan dengan langkah seseorang yang melewatinya begitu saja dan itu adalah Irpan. Irpan yang juga sudah tidak tahan akhirnya memutuskan menemui Mayu.
Alga tidak jadi meneruskan langkahnya dia hanya menatap pada Irpan dan Mayu.
__ADS_1
"Mayu!" panggil Irpan sambil menyentuh pelan pundak Mayu.
Mayu menoleh. Mayu yang tadinya sudah mulai tenang, kembali berkaca-kaca begitu melihat Irpan.
Irpan menarik Mayu ke dalam pelukannya. Mayu tidak menolak dan dia kembali menangis dalam pelukan Irpan.
Untuk benerapa menit Irpan hanya membiarkan Mayu menangis dalam pelukannya. Irpan juga mengusap perlahan punggung Mayu.
"Kenapa menangis, apa Kak Alga menyakiti kamu?' tanya Irpan setelah tangis Mayu mereda.
Alga yang mendengarnya namanya disebut sampai menajamkan pendengarannya. Meski dia yakin bukan dia penyebab Mayu menangis.
Mayu menggelengkan kepalanya.
"Bukan Pan," jawab Mayu pelan.
"Yakin?" tanya Irpan lagi tidak yakin dengan jawaban Mayu.
"Sangat yakin Pan,"
"Kalau bukan Kak Alga, apa orang-orang yang ada hubungannya dengan kak Alga?" tanya Irpan lagi.
"Kamu yakin May?" tanya Irpan yang kembali tidak yakin dengan jawaban Mayu.
Mayu melepas pelukannya dan menatap Irpan.
"Sangat yakin Pan. Aku menangis bukan karena kak Alga atau ada hubungannya dengan kak Alga, tapi karena seseorang yang sangat berarti untukku." jujur Mayu.
Kening Irpan berkerut.
"Apa terjadi pada sesuatu pada nenek Iroh?" tebak Irpan lagi. Setahu Irpan, orang yang sangat berarti untuk Mayu adalah nenek Iroh.
"Enggak Pan, nenek baik-baik saja. Seseorang yang sangat berarti untukku itu adalah orang lain selain nenek Iroh, dan maaf aku tidak bisa mengatakannya pada Irpan, karena ini hanya aku dan Allah saja yang tahu. Nenek memang kenal padanya tapi nenek tidak tahu apa yang aku rasakan padanya." jelas Mayu.
Irpan menatap bingung Mayu. Siapa kira-kira orangnya? Terlebih lagi nenek Iroh juga kenal padanya.
"Apa seseorang itu ada hubungan darahnya dengan kamu May, apa dia papa kandung kamu, atau saudara kandung kamu yang lain?" tebak Irpan dan itu tepat sasaran.
'Kamu selalu saja tahu aku Pan, tapi maaf Pan, aku benar-benar tidak bisa mengatakannya sekalipun tebakan kamu benar.' batin Mayu.
__ADS_1
"Maaf ya Pan, aku tidak bisa memberitahukan siapa dia. Ini belum saatnya Pan, jika sudah saatnya nanti, aku pasti akan memberitahukannya pada kamu." ujar Mayu.
"Janji ya May kamu harus memberitahunkannya padaku dan kalau bisa aku jadi orang pertama yang tahu." pinta Irpan.
"Tidak bisa Pan, orang pertama yang harus tahu itu adalah nenek Iroh dan yang nomor 2 itu barulah kamu."
"Serius aku nomor 2 May? tanya Irpan antusias. Hati Irpan langsung berbunga-bunga mendengarnya. Itu berarti Irpan posisinya masih di atas Alga yang notabennya adalah pacar Mayu sendiri.
"Iya serius Irpan, tapi kamu janji, tentang cewek yang kamu suka itu, aku juga yang berhak pertama tahu." tagih Mayu.
"Itu sudah pasti Mayu. Kamu memang yang terbaik Mayu." ujar Irpan senang dan kembali memeluk erat Mayu.
Alga yang sedari tadi memperhatikan Mayu dan Irpan tanpa sada mengepalkan kuat tangannya. Hatinya benar-benar panas dan tidak rela melihat Mayu dipeluk oleh orang cowok lain. Tapi Alga juga tidak mungkin marah pada Mayu, karena Mayu hanya kekasih bayarannya dan dia sendiri yang sudah mengijinkan Mayu dekat dengan cowok lain.
Alga juga tahu kalau sosok Irpanlah yang mungkin pantas dan sepadan dengan Mayu. Jadi dia harus bisa ikhlas dan merelakan Mayu. Ini semua demi kebaikan Mayu dan dia tidak boleh egois.
Riana yang berdiri tidak jauh dari mereka juga hanya menundukkan kepalanya dan menahan rasa sakit di hatinya.
Riana sangat tahu cinta Irpan hanya pada Mayu, begitu juga dengan tatapan Irpan yang selalu tertuju pada Mayu. Haruskan dia merelakan Irpan pada Mayu? Sesakit itu ternyata cinta bertepuk sebelah tangan.
***
"Nek, Mayu kuliah dulu ya Nek." ujar Mayu sambil salim. Setelah dari acara makrab. Mayu kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Mayu tidak mau lagi galau memikirkan ayahnya, meski kerinduannya semakin hari semakin besar. Hanya saja Mayu terpaksa menahan kerinduannya, karena dia tidak mungkin bisa bertemu lagi dengan papa kandungnya.
Mayu beberapa kali mencoba menemui ayah kandungnya tapi hasilnya nihil. Mayu sudah pernah ke kantornya tapi Mayu hanya bisa sampai di meja resepsionis saja. Begitu juga saat Mayu mau ke rumahnya, jangankan menatap rumahnya dari dekat, melewati gerbang utama perumahan elite itu saja Mayu tidak bisa.
Hanya saja Mayu terus berusaha terutama usaha dalam doa, karena Mayu sangat yakin, dengan kekuatan doa semua yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.
"Iya Nak, kamu hati-hati ya. Ah iya, pesanan Tuti jangan lupa dibeli!" ujar Nenek Iroh mengingatkan.
Sejak Tuti menginap di rumah Mayu, hubungan Tuti dan nenek Iroh jadi dekat. Tuti bahkan jadi langganan Mayu. Dia beli kolor, bh, baju tidur dan sebagainya semuanya pada Mayu. Bahkan teman kerjanya di rumah Alga juga ada yang ikutan jadi langganan Mayu.
Wajah nenek Iroh juga jadi lebih bahagia setelah bertemu Tuti, entah itu karena kedatangan Tuti menambah pemasukan Mayu, atau karena hal lain, hanya dia yang tahu.
Mayu juga tidak terlalu kepo, bagi Mayu yang penting neneknya senang, itu sudah lebih dari cukup.
"Siap Nenek, kalau yang menyangkut pundi-pundi uang itu, Mayu tidak akan lupa. Dadah Nenek." ujar Mayu dengan wajah cerianya. Apa lagi kali ini ibunya Rangga, pesan baju tidur cukup banyak, dan itu mau dikirim buat keluarganya di kampung. Lumayan banyak untung Mayu.
"Iya," ujar Nenek Iroh sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Nenek Iroh menatap kepergian cucunya, sebenarnya dia ingin sekali cerita pada Mayu karena ini menyakut ayah kandung Mayu. Saat Tuti nginap di rumahnya, Tuti ada banyak cerita padanya, dan salah satunya tentang David Antonius.