
"May, tumben lo belum pulang?" ujar Shinta begitu melihat Mayu masih duduk santai dalam kelas sambil merapikan buku-bukunya.
Biasanya kalau jam terakhir, begitu dosen keluar, mahasiswa pertama yang keluar adalah Mayu.
"Iya Shin belum, dan mulai hari ini juga seterusnya, gue tidak akan buru-buru pulang lagi. Gue sudah ada karyawan, jadi kerjaan gue akan sedikit lebih ringan." ujar Mayu apa adanya.
Mayu sudah membuat rencana kalau dia juga akan menceritakan tentang daddynya pada teman-temannya. Mayu tidak ingin mereka jadi salah paham, karena selama ini mereka adalah teman terbaik Mayu yang sudah begitu banyak membantu Mayu. Selain itu Mayu juga ingin meneraktir teman-temannya sebagai ucapan terima kasih.
"Seriusan lo May, kok bisa? Maksud gue bukan merendahkan nih May, tapi kan tempat lo jualan saja tidak jelas dan suka berpindah-pindah. Apa jangan-jangan lo sudah ada kios?" tanya Shinta seakan tidak percaya.
Mayu menganggukkan mantap kepalanya.
"Iya Gue sudah ada kios dan penjualannya juga lumayan lah. Cukup buat makan, bayar kios dan bayar karyawan." ujar Mayu apa adanya.
"Alhamdulillah, selamat ya May. Gue ikut senang mendengarnya. Kok lo baru bilang sih lo punya kios, tahu gitu kita bisa sering main-main ke kios lo. Sekalian beli kolor lah, satu." ujar Lora yang sedari tadi menjadi pendengar setia.
"Terima kasih Lora. Gue punya kiosnya juga baru-baru ini kok. Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo dan Shinta. Kalian ada waktu enggak? Kita bisa sekalian makan dan gue yang teraktir."
"Wih, sepertinya ada yang banyak duit nih. Mau banget lah kalau diteraktir. Enggak akan nolak kita. Benar enggak Shin?" semangat Lora.
Shinta mengangguk mantap setuju dengan Lora.
"Tentu saja. Gue juga kalau gratisan pantang nolak gue. Takut dosa." ujar Shinta tidak kalah semangatnya.
Mayu sampai tersenyum.
"Dasar lo berdua. Ya sudah gue panggil Irpan dulu ya, enggak apa-apa kan dia ikut bareng kita?" tanya Mayu.
Irpan juga sudah begitu banyak membantunya selama ini, tentu Mayu tidak akan melupakan temannya yang satu itu, meski akhir-akhir ini, dia dan Irpan jarang mengobrol.
"Tentu saja kami tidak akan keberatan May, justru yang kami takutkan itu pacarnya Irpan yang keberatan." ujar Shinta apa adanya.
__ADS_1
Mayu refleks menatap Shinta, dia tidak salah dengar bukan kalau Irpan sudah punya pacar? Mayu tidak cemburu hanya saja ini benar-benar kejutan untuk Mayu. Mayu ingat Irpan pernah cerita kalau dia menyukai seseorang. Apa Irpan pacaran dengan gadis yang disukainya itu? Mayi jadi penasaran. Ini gara-gara Mayu terlalu sibuk dengan jualannya juga Alga. Mayu jadi tidak ada waktu lagi mengobrol dengan Irpan.
"Lo serius Irpan sudah punya pacar, siapa pacarnya?" tanya Mayu penasaran.
"Riana, May. Riana benar-benar tidak ada kata menyerah untuk mendapatkan cintanya Irpan, dan akhirnya dia berhasil. Gue pribadi sih cukup salut melihat perjuangan Riana dan dia memang pantas mendapatkan cinta Irpan karena cintanya juga sangat tulus pada Irpan." jawab Shinta lagi.
Alis Mayu seketika terangkat. Seingat Mayu, Irpan waktu itu bilang padanya kalau dia jatuh cinta pada cewek lain dan itu bukan Riana. Mayu jadi semakin penasaran kenapa Irpan akhirnya melabuhkan hatinya pada Riana? Apa karena ketulusan Riana? Seperti halnya Alga, Mayu yang tadinya tidak ingin pacaran selama kuliah, tapi akhirnya luluh juga pada Alga. Bahkan makin ke sini, Mayu semakin cinta pada pacar gantengnya itu.
"Gue juga setuju, kalau Irpan pacaran dengan Riana. Riana itu gadis yang baik dan cocok juga dengan Irpan. Ya sudah gue tanya Irpan sebentar ya, kalau memang nanti dia tidak boleh dan pacarnya keberatan, tidak apa-apa ya? Gue juga tidak ingin gara-gara kita, mereka jadi berantem. Seenggaknya gue juga sudah berusaha." ujar Mayu.
"Ok May, kami tunggu di sini saja ya May!" ujar Lora.
"Ok."
***
"Pan!" panggil Mayu mendekati bangku Irpan. Irpan yang sedang fokus dengan ponselnya seketika menoleh begitu bendengar suara yang tidak asing baginya.
"Eh May, kenapa?" ujar Irpan dan langsung menggenggam ponselnya. Irpan tidak boleh goyah lagi begitu melihat Mayu, saat ini dia sudah punya pacar, dia harus fokus pada pacarnya saja. Terlebih lagi Mayu juga sudah punya pacar dan terlihat bahagia sekali akhir-akhir ini.
"Bukan gitu May, kamu juga sangat sibuk akhir-akhir ini. Padahal aku sempat beberapa kali ke kontrakan kamu, dan kamu tidak pernah ada di rumah. Hanya nenek Iroh saja yang di rumah. Gimana jualan kamu, lancar?" ujar Irpan merasa tidak enak dan sengaja mengalihkan pembicaraan.
Irpan sadar dia memang sedikit menjauh dari Mayu akhir-akhir ini, dan itu karena dia sudah memutuskan ingin melupakan Mayu. Dia tidak mau jadi orang ketiga dalam hubungan Mayu dengan Alga. Ditambah lagi Alga juga terlihat jelas kalau dia sangat mencintai Mayu, dan Irpan tidak mungkin bersaing dengan Alga.
Sementara di sisi yang lain, Riana selalu memperhatikannya dan mengerti akan dia. Irpan yang tidak ingin menyesal di kemudian hari, akhirnya mencoba membuka hatinya untuk Riana. Usahanya perlahan mulai berhasil, dia semakin nyaman berada dekat Riana dan dia juga merasa bahagia. Meski terkadang masih suka teringat dengan Mayu. Sesusah itu memang melupakan cinta pertama.
"Alhamdulillah lancar Pan. Ah iya Pan, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Shinta dan Lora. Kamu bisa enggak Pan, tapi kalau enggak bisa juga enggak apa-apa, aku mengerti. Aku juga tidak mau pacar kamu jadi cemburu karena kami." ujar Mayu.
"Bisa kok, Riana itu mengerti kalau ceweknya itu kamu, Shinta dan Lora. Dia sudah kenal kalian, dan dia tahu gue tidak mungkin macam-macam sama kalian. Apa lagi kamu yang jelas-jelas punya pacar pangeran kamus." ujar Irpan apa adanya. Irpan juga tidak enak menolak pergi bersama ketiga temannya itu.
"Bisa saja kamu. Ya sudah ayo kita pergi. Aku rindu menghabiskan waktu bersama kalian." ujar Mayu semangat.
__ADS_1
"Ok." ujar Irpan mantap.
***
"May ini lo yakin mau mengajak kita makan di Milan? Kalau kakan di sini gue enggak cukup makan pizza saja loh May, tapi gue juga ingin es krim." ujar Lora begitu mereka sampai di Milan Pizzeria cafe.
"Sangat yakin, ayo masuk! Kalian juga bebas pesan apa saja, yang penting habis." ujar Mayu mantap.
"Kalau soal habis mah sudah pasti habis May, tapi kok gue masih ragu ya May. Lo enggak akan kabur kan May? Kasihan Irpan kalah harus bayar makanan kita. Uang jajan Irpan tidak sebanyak itu May. Pacarnya juga bisa ngamuk nanti." ujar Shinta tidak yakin.
Shinta sangat tahu Mayu dan bagaimana perhitungannya Mayu soal uang. Beli nasi padang saja dia merasa rugi, apalagi ini pizza loh, sudah pasti harganya di atas 50 ribu. Padahal diteraktir makan bakso pinggir jalan yang harganya 15 ribu, Shinta sudah senang.
Irpan juga ikut menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa keberatan kalau harus bayar makanan teman-temanya. Bukan karena dia pelit tapi isi dompetnya juga tidak sebanyak itu, dan sudah pasti Riana juga akan protes kalau ketahuan Irpan yang bayar makanan teman-temannya. Kalaulah sebelumnya Irpan yang mengajak mereka tidak masalah, ini Mayu loh yang mengajak.
Mayu tersenyum tipis melihat ekspresi teman-temannya. Beginilah kalau manusia yang terkenal kere dan perhitungan tiba-tiba ingin traktir. Orang-orang sekitarnya tidak semudah itu untuk percaya.
"Tenang saja teman-teman, gue tidak akan kabur, gue tidak sejahat itu. Gue memang sudah meniatkan kalau gue ingin meneraktir kalian makan. Begini saja, biar lo semua pada tenang dan tidak mikir macam-macam pada gue. Ini uangnya ada 500 ribu. Gue berikan pada Irpan ya, biar Irpan saja yang bayar. Udah aman kan?" ujar Mayu sambil memberikan uangnya.
"Aman sih aman May, tapi ini gue lagi enggak mimpi kan, takutnya lagi enak-anak makan pizza tiba-tiba terbangun lagi." ujar Shinta lagi dan Mayu langsung menarik kuat hidungnya.
"Aduh May, sakit!" protes Shinta sambil mengusap hidungnya.
"Itu berarti lo enggak mimpi. Ayo masuk!" ujar Mayu dan kembali melangkahkan kakinya.
"Hehe ... ok May. Sebenarnya gue masih penasaran ini, kenapa lo tiba-tiba punya banyak uang? Kalau dikasih Kak Alga juga tidak mungkin, dia saja lagi kere. Lo enggak habis menang ju*i kan? Kalau iya, gue juga mau ikutanlah, siapa tahu gue dapat banyak. Rindu shoping gue, May. " ujar Shinta dan langsung menggandeng tangan Mayu.
Walau Shinta penasaran tapi dia juga senang melihat temannya banyak uang, karena kalau temannya banyak uang, otomatis dia juga akan kebagian rejeki. Seperti sekarang ini contohnya. Dia bisa makan pizza gratis.
"Isi otak lo, Shin enggak pernah jauh-jauh dari yang namanya shoping." ujar Mayu.
"Namanya juga cewek May. Kira-kira kapan lo akan traktir gue shoping?" ujar Shinta malah ngelunjak, padahal sebelumnya dia enggak percaya Mayu mau traktir.
__ADS_1
"Heh lo, makin tidak tahu diri saja ya!" protes Mayu.
"Hehe ...."