
"Terima kasih untuk hari ini Kak, Mayu senang. Kak Alga sering-sering ya ajak Mayu ke pesta kerabat Kak Alga." ujar Mayu begitu mereka sudah sampai di rumah Mayu.
"Itu sudah pasti Ay, aku pasti akan lebih sering lagi mengajak kamu ke pesta jika aku dapat undangan. Biar kamu juga makin percaya diri lagi, supaya saat pesta pernikahan kita nanti kamu tidak kaget lagi dan sudah terbiasa." ujar Alga dan langsung dapat pukulan gemas dari Mayu.
"Kak Alga jangan mulai deh, masih lama juga."
"Harusnya kamu aminkan saja Sayang, jangan terlalu gengsi lah! Ya sudah, kamu lebih baik masuk, ini sudah tengah malam. Aku juga masih harus balik ke hotel lagi." ujar Alga.
"Iya Kak. Kak Alga hati-hati ya pulangnya dan kabari Mayu kalau sudah sampai di hotel!" ujar Mayu sambil mengulurkan tangannya, mau salim.
"Iya Sayang. Kamu juga langsung tidur saja dan jangan begadang!" ujar Alga menyambut uluran tangan Mayu, dan tak lupa juga memberi kecupan di kening Mayu.
Mayu tersenyum tipis sebelum dia keluar dari mobil Alga.
"Dah Kak Alga, jangan lupa kabari Mayu!" ujar Mayu sambil melambaikan tangannya.
"Ok." balas Alga kemudian menjalankan mobilnya.
Mayu masih menatap mobil Alga setelah hilang dari pandangannya. Setelahnya dia masuk rumah dan kembali mengunci pintunya.
Mayu memilih mengganti gaunnya terlebih dulu. Dia juga tidak lupa mencuci muka dan gosok gigi.
Mayu kembali masuk kamarnya dan memeriksa keadaan neneknya.
Mayu tersenyum tipis melihat nenek Iroh yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Mayu juga tidak lupa merapikan selimut neneknya.
'Semoga mimpi indah nenek,' batin Mayu kemudian mengecup pelan kening neneknya.
Mayu beralih mengambil ponselnya dan dia keluar dari kamarnya.
Mayu memilih duduk di sofa santai neneknya sambil memainkan ponselnya. Tujuan Mayu main ponsel bukan karena menunggu pesan dari Alga saja tapi Mayu sengaja menunggu telepon dari daddynya.
David memang sempat memberi kode padanya kalau dia akan menelepon Mayu, karena itu selama di pesta, Mayu juga lebih memilih fokus pada Alga saja.
Mayu menghembuskan nafas pelan. Belum ada juga tanda-tanda David akan meneleponnya.
"Sebenarnya apa maksud Daddy melakukan itu semua? Dia juga melakukannya dengan sangat tiba-tiba. Apa dia tidak takut kalau tante Sindi akan marah besar padanya?" monolog Mayu.
Mayu masih ingat jelas bagimana tatapan marah Sindi padanya, begitu juga saat Sindi ingin bicara dengannya. Untungnya Alga selalu bersama Mayu, karena kalau tidak Mayu yakin Sindi pasti sudah memaksa bicara dengan Mayu.
Mayu tampak terkejut begitu mendengar ponselnya berbunyi. Mayu buru-buru memeriksanya berharap David yang menghubunginya. Nyatanya Alga lah yang menghubunginya bukan David. Walau begitu Mayu tidak kecewa karena dia juga menunggu kabar dari Alga.
[Assalamualaikum Ay. Ay aku sudah sampai di hotel dengan selamat. Aku juga sudah masuk kamar dan mau tidur. Selamat tidur ya Ay, dan semoga kita bertemu lagi dalam mimpi dan status kita sudah resmi suami istri. Biar tidurku enggak kesepian lagi Ay. I love you Ay. Enggak usah dibalas Ay, balasnya dalam mimpi saja. Sampai bertemu besok Ay.]
__ADS_1
Mayu tanpa sadar tersenyum tipis begitu membaca pesan Alga, memang paling bisa ini kekasihnya.
"I love you too Kak." gumam Mayu.
Mayu kembali memainkan ponselnya dan sampai sepuluh memenit Mayu menunggu belum ada juga telepon dari David.
Mayu yang semula masih bisa bersikap santai jadi gelisah. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada daddynya? Biasanya kalau pun David tidak jadi menghubunginya, dia pasti akan memberi kode, entah itu di email atau mengirim pesan Mayu.
Mayu yang tidak ingin perasaan gelisah terus menyerangnya, memilih membuka galeri ponselnya sembari menunggu telepon David.
Mayu menatap foto-fotonya bersama Alga saat mereka pergi jalan-jalan. Mayu lagi tanpa sadar tersenyum begitu melihat foto romantis mereka dan Mayu harus mengakui dilihat dari sisi manapun, Alga selalu terlihat ganteng. Bahkan saat Alga sengaja memperlihatkan ekspresi jeleknya pun tetap ganteng di mata Mayu. Beginilah kalau sedang jatuh cinta, pasangan kita akan terlalu terlihat cantik/ganteng di mata kita.
Sementara itu Alga yang sudah membuat Mayu tersenyum, sedang menatap langit-langit kamar hotelnya. Alga belum bisa tertidur karena masih memikirkan soal David. Alga juga harus mengakui kalau dia tidak bisa sepenuhnya tenang. Apalagi saat mengingat tatapan tajam Sindi juga maminya yang mereka tujukan pada Mayu. Tatapan tajam itu juga terlihat berbeda dari biasanya. Alga saja sampai seram melihatnya.
"Apa Om David tidak memikirkan keselamatan Mayu, makanya dia sampai senekad itu?" gumam Alga.
Alga tampak terkejut karena suara ketukan di pintunya. Alga terlalu asik dengan pikirannya.
"Iya sebentar." ujar Alga dan terlihat kesal di wajahnya. Siapa yang sudah mengganggunya? Tidak tahukah orang itu kalau ini sudah mau pagi? Ganggu orang mau istirahat saja.
Alga membuka pintunya dengan malas.
"A-"
Alga tidak jadi meneruskan kata-katanya begitu melihat kalau maminya lah pelakunya. Ada apa maminya datang tengah malam ke kamarnya? Apa dia tidak lelah?
Alga menarik nafas pelan. Harusnya Alga sudah bisa menebak ini. Dira mana bisa menahan dirinya jika menyangkut Mayu. Tahu begini Alga pilih tidur di rumah saja. Senggaknya untuk malam ini dia bisa bebas dari maminya.
"Mami mau bicara apa?" tanya Alga biasa saja dan bersikap seakan tidak tahu apa-apa.
"Ini soal Mayu, Alga, siapa lagi?" ujar Dira menatap kesap anaknya.
Alga pura-pura menatap bingung maminya.
"Kenapa lagi dengan Mayu, Mi? Perasaan Mayu tidak buat masalah apa-apa hari ini. Penampilanya juga sangat wow menurut Alga dan tidak kalah dengan para tamu Mami. Bahkan banyak juga loh Mi yang memujinya." ujar Alga.
"Bukan itu Alga. Ini menyangkut orang yang kamu bilang sangat menyayangi Mayu dan yang selama ini sudah membantu Mayu. Orang itu ayah kandungnya Mayu kan? Ngaku kamu!" seru Dira menatap kesal padanya.
"Oh yang itu. Perasaan kalau soal itu sudah selesai deh Mi dan menurut Alga tidak perlu diungkit-ungkit lagi." ujar Alga berusaha bersikap sesantai mungkin biar maminya tidak curiga padanya.
"Kata siapa sudah selesai? Selama orangnya belum ketahuan itu tidak akan pernah selesai bagi Mami, dan kamu sangat tahu kan siapa ayah kandung Mayu itu. Beri tahu pada Mami Alga, siapa sebenarnya ayah kandung Mayu itu!" seru Dira.
"Alga tidak tahu Mi. Mayu tidak pernah mengatakannya pada Alga. Alga tahunya kalau Mayu memang dibantu oleh ayah kandungnya itu saja. Kalau Mami tidak percaya tanya saja pada Mayu. Lagian Alga sendiri juga tidak kepo soal ayah kandung Mayu. Bagi Alga yang terpenting ayahnya bukan penjahat, itu sudah saja cukup." jelas Alga.
__ADS_1
"Mami enggak percaya, kamu pasti tahu siapa orangnya. Ayo cepat katakan pada Mami Alga, jangan sampai Mami semakin marah pada kamu!" seru Dira lagi.
"Silahkan saja kalau Mami semakin marah pada Alga, Alga memang tidak tahu siapa orangnya, dan Alga juga tidak mungkin asal menyebutkan nama saja, takutnya malah fitnah Mi." ujar Alga bersikukuh.
Dira menghembuskan nafasnya kasar dan menatap kesal pada anaknya.
"Yakin kamu kalau kamu tidak tahu soal ayah kandung Mayu?" tanya Dira lagi.
"Sangat yakin Mi," ujar Alga mantap.
Dira kembali menatap anaknya, dari ekspresi Alga, sepertinya Alga memang tidak tahu siapa ayah kandung Mayu, tapi waktu itu Alga pernah bilang padanya kalau dia sangat tahu siapa sosok orang yang sudah membantu Mayu selama ini. Apa Alga tahunya hanya sekedar ayah kandung Mayu saja dan dia tidak perduli siapa orangnya?
Dira mencoba mengingat ke belakang. Dari sikap Alga pada David juga sangat biasa dan begitu juga sebaliknya karena dari dulu hubungan Alga dan David memang cukup dekat, karena selain mereka bertetangga, David juga sangat sering datang ke rumah mereka. Ditambah lagi David itu termasuk sosok ayahable, makanya tidak heran kalau Alga juga dekat dengannya.
"Baiklah kalau kamu memang tidak tahu siapa ayah kandung Mayu, tapi awas saja kalau kamu bohong!" ujar Dira akhirnya memilih menyerah mengintrogasi anaknya.
"Iya Mi. Sekarang Mami bisa keluar, Alga mau tidur Mi. Alga ngantuk."
"Iya ini juga mau keluar." ujar Dira kemudian keluar dari kamar anaknya.
Dira kembali menghembuskan nafasnya kasar begitu dia keluar dari kamar Alga. Sungguh membayangkan Mayu adalah anak kandung dari seorang David sudah membuat Dira pusing tujuh keliling, dan satu yang pasti Dira tidak mungkin mengancam Mayu terang-terangan melalui ayah kandungnya dan begitu juga sebaliknya.
Dira memang bisa saja mengancam Mayu diam-diam, tapi itu cukup beresiko mengingat ada banyak orang di sekitar Mayu. Ditambah lagi Mayu juga cukup pemberani, takutnya dia malah mengadu pada Alga atau David sendiri.
Dira menggaruk kasar kepalanya. Harusnya dia sudah bisa tidur nyenyak malam ini karena pesta pernikahan anaknya sudah selesai, tapi Mayu dia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya.
"Gimana Mbak, apa Alga sudah mau mengaku?" ujar Sindi yang muncul tiba-tiba di depan Dira.
Dira tidak terkejut karena sebelumnya mereka memang bersama ke kamar Alga.
Dira menggelengkan kepalanya.
"Dia bilang dia tidak tahu sama sekali siapa ayah kandung Mayu, Sin. Dan aku juga tidak mungkin memaksanya sampai dia mau mengaku, karena dari raut wajah Alga 50 banding 50 aku melihatnya." ujar Sindi.
"Tidak ada harapan kalau begitu Mbak."
"Iya, kamu sendiri, sudah ada menanyakannya pada David belum?"
"Enggak Mbak, aku belum bertanya apa-apa soal Mayu padanya. Malah aku berubah pikiran. Selama David diam saja soal Mayu, aku juga akan diam saja. Tapi dibalik diamku, aku akan menghancurkan Mayu, bila perlu aku mengancam Mayu seperti apa yang aku lakukan pada ibu kandungnya dulu." ujar Sindi.
"Ide bagus juga itu Sin. Sebenarnya aku juga mau mengancam Mayu diam-diam tapi sebelumnya kita harus memastikan dulu kalau Mayu itu beneran anaknya David atau bukan, karena sampai saat ini aku masih berharap Mayu itu bukan anak David." ujar Dira.
"Apalagi aku Mbak. Ini benar-benar mimpi buruk buatku."
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya Sin, kita pasti menemukan jalan keluar dari masalah ini, dan memberi pelajaran pada si Mayu itu."
"Iya Mbak,"