
Nenek Iroh menatap perhiasan yang dipakainya. Tanpa sadar dia kembali tersenyum, dan apa yang dilakukan nenek Iroh tidak lepas dari pengawasan Mayu.
"Nenek suka sama perhiasannya?" tanya Mayu.
"Suka sekali Nak, perhiasannya sangat cantik. Sekali lagi terima kasih ya Nak dan sampaikan rasa terima kasih Nenek pada daddy kamu juga."
"Iya Nenek, Mayu pasti akan menyampaikannya pada daddy juga." ujar Mayu mantap.
"Iya Nak," ujar nenek Iroh dan kembali menatap tersenyum pada cucunya. Mayu balas menatap neneknya dan melakukan hal yang sama.
Alga yang menatap mereka dari kaca spion mobilnya juga ikut tersenyum. Dia senang melihat kekompakan cucu dan nenek itu.
"Ah iya Ay, ini kita jadi singgah ke butiknya?" tanya Alga.
Mayu ingin membeli gaun, dan itu mau dia pakai untuk pernikahan Vivi yang tinggal menghitung hari. Itu juga kenapa David minta bertemu dengan Mayu. David mau anaknya tampil semaksimal mungkin dan itu dari uang pemberiannya dan bukan pemberian Alga. Walaupun David tahu Alga tidak juga akan keberatan melakukannya. Hanya saja David ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya karena dia juga sudah melakukan hal yang sama pada Naura.
"Jadi dong Kak, mumpung waktunya juga belum terlalu mepet." ujar Mayu.
"Ok Ay," ujar laki-laki berparas tampan itu.
"Nak nenek tidak ikut masuk ya, Nenek tunggu di mobil saja. Nenek sudah lelah." ujar Nenek apa adanya. Walau dia kebanyakan duduk di kursi roda selama mereka belanja tapi tatap saja tenaganya cukup terkuras.
"Iya Nenek tidak apa-apa. Kami juga tidak akan lama, hanya beli satu gaun ini saja." ujar Mayu.
"Iya Nak." ujar Nenek Iroh.
Begitu mereka sampai di butik, Alga dan Mayu turun bersama dari dalam mabil. Tangan mereka saling bergenggaman dan sesekali mereka saling menatap tersenyum.
Kedatangan mereka langsung disambut ramah oleh pemilik butik dan itu sudah pasti karena dia sudah mengenal Alga.
Pemilik butiknya juga dengan senang hati memilihkan gaun yang cocok untuk Mayu dan Mayu benar-benar merasa terbantu karenanya dan berkat dia juga mereka tidak perlu berlama-lama di dalam butik.
Setelah selesai membeli gaun mereka memutuskan untuk pulang.
***
"Nenek beneran tidak mau ikut dengan kami?" tanya Mayu untuk yang kesekian kalinya.
"Beneran Nak, Nenek masih capek dan Nenek ingin istirahat saja di rumah." ujar nenek Iroh. Selain dia memang merasa capek, dia juga tidak ingin mengganggu kencan cucunya. Apalagi dia sangat tahu Alga dan Mayu jarang sekali ada waktu menghabiskan waktu jalan berdua.
"Ya sudah kalau Nenek mau isirahat. Nenek mau istirahat di luar atau di kamar?"
"Di luar saja Nak, Nenek mau menonton televisi."
"Baiklah. Kalau begitu Mayu sekalian potong buah untuk Nenek ya!"
"Iya Nak," ujar Nenek Iroh kemudian jalan ke arah sofa malasnya. Sofa yang Mayu belikan khusus untuknya.
Alga yang sedari tadi diam juga memilih menyalakan televisi kemudian memberikan remotenya untuk nenek Iroh.
"Nenek mau dibelikan cemilan buat menemani nenek menonton?" tanya Alga perhatian.
"Tidak usah Nak, Nenek masih kenyang, buahnya saja sudah cukup." ujar Nenek Iroh.
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi kalau misalkan nanti Nenek ingin sesuatu, Nenek hubungi kami saja. Biar kami pesan makanan online untuk Nenek!" ujar Alga lagi.
"Iya Nak," ujar Nenek Iroh.
"Nek ini ya potongan buahnya dan ini juga minuman untuk Nenek." ujar Mayu sambil meletakkan potongan buahnya di atas meja.
"Iya Nak,"
"Kalau begitu kami pergi ya Nek."
"Iya Nak, kalian hati-hati!"
"Ok Nenek," ujar Mayu.
Baik Alga atau Mayu bergantian salim dengan nenek Iroh sebelum mereka pergi.
"Dadah Nenek!" ujar Mayu sambil melangkahkan kakinya.
"Iya Nak,"
Mayu refleks menoleh saat Alga merangkul pundaknya.
Alga hanya tersenyum saja. Dia merasa senang akhirnya bisa pergi kencan juga dengan Mayu.
"Silahkan pujaan hati!" ujar Alga sambil membukakan pintu untuk Mayu.
"Apaan sih Kak," ujar mayu kembali ternyum.
Alga juga ikut tersenyum, dan sebelum menutup pintu mobilnya dia menyempatkan mengecup pipi Mayu membuat Mayu melotot, tapi beberapa detik kemudian Mayu kembali tersenyum sambil menyentuh pipinya.
__ADS_1
Kebiasaan banget memang itu ayangnya, suka sekali memanfaatkan keadaan.
"Kak Alga pergi berkudanya hanya sendiri saja?" tanya Mayu begitu Alga menjalankan mobilnya.
"Enggak dong Ay, kan ada kamu." ujar Alga melirik sebentar pada kekasihnya dan kembali menatap fokus ke depan.
"Maksudnya bukan itu Kak. Kak Rangga dan kak Yudha enggak diajak berkuda?"
"Diajak Ay, tapi aku kurang tahu mereka akan datang atau tidak, aku belum menghubungi mereka lagi."
"Kenapa belum menghubungi mereka? Kak Alga mau aku yang menghubungi mereka?" tanya Mayu menawarkan diri.
"Enggak usahlah Ay, takut ganggu."
"Ganggu kenapa? Hanya sebentar ini."
"Mau sebentar atau lama tetap saja ganggu Ay, karena aku juga paling enggak suka kalau ada yang menghubungiku saat aku bersama kamu." ujar Alga kembali melirik pada kekasihnya.
"Dasar," ujar Mayu dan menatap tersenyum pada Alga.
Alga juga kembali menatap Mayu kemudian mengedipkan matanya.
"Apaan sih Kak?" ujar Mayu memukul pelan lengan Alga.
"Bukan apa-apa Sayang, sini tangannya!" ujar Alga sambil mengulurkan tangan kirinya sedangkan tangan kanan fokus pada setirannya.
Mayu kembali tersenyum dan tanpa menunggu lebih lama lagi Mayu menyatukan tangan mereka.
Alga dan Mayu kembali sama-sama tersenyum.
"Rindunya aku menghabiskan waktu berdua dengan kamu Ay." ujar Alga sambil mengusap-usap tangan Mayu dengan induk jarinya.
"Mayu juga Kak,"
"Benarkah?" tanya Alga dan kembali melirik ke kekasihnya.
"Tentu saja," jawab Mayu mantap membuat Alga kembali tersenyum.
Alga membawa tangan Mayu ke bibirnya begitu dia menghentikan mobilnya di lampu merah dan Mayu lagi-lagi tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
Alga juga menempelkan tangan Mayu ke pipinya dan menatap mesra pada Mayu membuat Mayu seketika salah tingkah.
"Apa sih Kak?" ujar Mayu tidak berani menatap mata Alga membuat Alga lagi-lagi tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
"Masih suka salah tingkah saja kamu Ay. Gemes deh aku." ujar Alga kemudian nyolek pipi Mayu.
Baru juga tangan Alga menyentuh pipi Mayu terdengar, terdengar suara klakson dari belakang mobil mereka.
"Ganggu saja deh." ujar Alga dan buru-buru menjalankan mobilnya kembali.
Mayu hanya tersenyum melihat kekasihnya.
"Jangan senyum-senyum saja itu bibir kamu Ay, nanti aku khilaf lagi." goda Alga.
"Itu yang aku tunggu Kak, silahkan saja kalau berani!" balas Mayu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ay, awas Kamu ya!" seru Alga dan mereka kemudian tertawa ngakak bersama.
***
"Hebat ya, janjian jam 2, jam 3 baru sampai. Benar-benar jam karet." sindir Rangga begitu mereka sampai di tempat bermain kuda.
"Kayak lo enggak pernah telat saja. Udah Ah ayo kita masuk! Kalian sudah bayar belum?" ujar Alga tanpa dosa dan tetap menggenggam tangan Mayu.
"Ya belum lah, kan yang jadi bendahara itu lo." ujar Yudha cepat.
"Dasar enggak modal. Padahal lo juga bawa cawek ya!" balas Alga.
"Enggak apa-apa, cewek gue juga lebih suka dibayari lo katanya. Iya enggak Sayang?" ujar Yudha minta dukungan.
"Benar sekali." ujar Lora mantap.
"Dasar pasangan enggak modal." ujar Mayu.
"Ya, itulah kami." kompak mereka tanpa ada rasa gengsi.
Alga dan Mayu hanya menggelengkan kepalanya.
Mayu memperhatikan Alga yang sedang melakukan pembayaran. Mayu refleks menatap Alga begitu petugas menyebutkan nominalnya, dan itu sebesar 2.400.000 untuk 6 orang.
"Kak Per orang bayar 400.000?" tanya Mayu begitu mereka selesai melakukan transaksi.
"Iya Sayang," jawab Alga.
__ADS_1
"Untuk berapa jam Kak?"
"Satu jam Ay?"
"Mahal juga ya?"
"Harga standar Sayang, kan sudah sama pelatihnya juga."
"Benar juga ya Kak,"
"Iya Sayang, ya sudah kamu latihannya sama Lora dan Shinta ya, kami mau bemain kuda di lapangan sebelah sebentar."
"Ok Kak, selamat bersenang-senang Kak!"
"Kamu juga Ay!" ujar Alga.
Mayu, Lora dan Shinta kemudian mengikuti pelatih mereka masing-masing. Setelah memakai perlengkapan, mereka kemudian dibawa ke kuda masing-masing.
Semula mereka masih terlihat takut-takut, tapi begitu diajari sama pelatih mereka mulai berani. Lora dan Shinta bahkan langsung narsis dan minta difoto dengan kudanya.
"May, lo mau foto juga enggak May?" tanya Shinta.
"Mau, tapi nanti saja saat gue sudah naik kuda ya!"
"Ok May."
Setelah melakukan pendekatan dengan kudanya, Mayu kemudian naik ke atas kuda dan dibantu oleh pelatihnya. Begitu dia sudah naik, Mayu kembali mendengarkan pelatihnya dengan serius.
Selanjutnya Mayu disuruh menjalankan kudanya. Semula Mayu masih ragu-ragu tapi akhirnya dia mau teriak rasanya begitu kudanya mulai berlari. Ternyata naik kuda seru, pantas saja banyak orang suka berkuda.
"Mbak jangan lupa bokongnya diangkat juga supaya tidak sakit!" suruh pelatihnya.
"Siap Mas!" ujar Mayu semangat.
Mayu makin lama makin betah saja main kudanya hingga tidak terasa sudah mau satu jam dia bermain kuda.
"Kak Alga," ujar Mayu sambil melambaikan tangannya begitu melihat Alga mendekat padanya.
"Hai Ay, mau naik kuda bareng enggak?" tanya Alga.
"Mau sih Kak, tapi apa kudanya kuat?" ujar Mayu balas bertanya.
"Pasti kuat doang Ay, hanya berdua ini."
"Boleh deh Kak,"
"Ya sudah suruh kudanya berhenti!"
"Iya Kak," nurut Mayu.
Alga mengacungkan jempolnya begitu Mayu berhasil menyuruh kudanya berhenti tanpa perlawanan.
"Cepat pintar kamu Ay, hebat!" ujar Alga.
"Iya dong Mayu gitu," ujar Mayu malah narsis.
"Dasar," ujar Alga kemudian naik kuda dan duduk di belakang kekasinnya. Alga juga minta pada pelatihnya supaya meninggalkan mereka berdua.
"Ini gimana Kak Alga yang menjalankannya atau Mayu?" tanya Mayu.
"Aku dulu saja Ay, nanti kalau sudah pindah ke lapangan sebelah gantian kamu ya. Di sana lapangannya lebih luas." ujar Alga.
"Ok Kak." nurut Mayu.
Alga memeluk Mayu dari belakang kemudian menjalankan kudanya dan yabg semula pelan jadi lebih cepat lagi.
Mayu lagi lagi tersenyum lebar dia sangat suka naik kuda dengan Alga dan Mayi benar-benar merasa nyaman ada Alga di belakangnya.
"Ini Ay, gantian kamu yang pegang talinya!" suruh Alga begitu mereka selesai satu kali putaran.
"Iya Kak," nurut Mayu kemudian memegang talinya dengan erat.
"Pelan saja Ay, enggak usah terlalu cepat, biar bisa sekalian pacaran." ujar Alga sambil menyenderkan dagunya di bahu Mayu.
"Dasar, cari kesempatan terus." ujar Mayu.
"Tak apa-apa dong Ay sama pacar sendiri ini. Memangnya kami mau, aku cari kesempatan sama cewek lain?"
"Berani Kak Alga melalukannya, Mayu minta dinikahi sekarang juga!" goda Mayu.
"Ide bagus itu Ay. Mau banget aku Ay, supaya kita bisa tidak hanya sekadar bermain kuda tapi bisa main kuda-kudaan." balas Alga membuat Mayu seketika teriak dan tanpa sadar menarik kuat tali kudanya.
Kudanya refleks berlari cepat. Alga dan Mayu yang tidak ada persiapan langsung jatuh dari kuda.
__ADS_1
Bruk!
"Mayu! Alga!"