
"Begini Mayu, mami saya ingin bertemu dengan kamu. Dia mengundang kamu datang ke rumah saya." ujar Alga.
Mayu kembali menatap Alga.
'Serius aku mau diajak ke rumah kak Alga?' batin Mayu antusias.
Mayu antusias bukan kerena ingin bertemu dengan mami Alga dan menginjakkan kaki di rumah mewah Alga, tapi karena jalan Mayu untuk bisa bertemu kembali dengan ayah kandungnya sudah terbuka. Mayu berharap jika dia datang ke rumah Alga, dia bisa tahu rumah ayah kandungnya yang katanya tidak jauh dari rumah Alga.
"Saya mau Kak." ujar Mayu mantap.
Alga sampai menatap Mayu. Begitu juga dengan Rangga sampai melirik Mayu dari kaca spion.
"Kenapa kamu langsung jawab mau Mayu? Kamu tidak berpikir jauh kan, kenapa mami saya ingin bertemu dengan kamu." ujar Alga lagi.
"Berpikir jauh apa maksudnya Kak?" bingung Mayu.
"Ya berpikir kalau mami saya, mendukung kalau kita pacaran." jawab Alga.
Mayu kembali menatap Alga.
'Kenapa kak Alga berpikir seperti itu, apa ekspresiku terlalu berlebihan ya? Aku harusnya santai saja, biar kak Alga tidak curiga.' batin Mayu.
"Ah e-enggak kok Kak, saya tidak mungkin berpikir seperti itu. Saya terlihat antusias itu karena saya akan dibawa ke rumah kak Alga yang sangat megah itu. Pasti rumah kak Alga keren banget deh. Mimpi apa ya saya bisa menginjakkan kaki di rumah semewah itu." ujar Mayu berusaha memberikan alasan yang masuk akal dan yang tidak membuat Alga curiga.
Alga menganggukkan kepalanya mengerti, membuat Mayu merasa lega.
"Sebenarnya itu dia yang jadi masalah utamanya Mayu. Saya benar-benar tidak mau kamu bersikap norak atau kampungan begitu masuk rumah saya. Saya mau sikap kamu itu biasa saja." jelas Alga.
"Kenapa begitu Kak?" tanya Mayu biar Alga tidak curiga.
"Ya karena saya tidak mau karena itu mami saya akan merendahkan kamu."
"Merendahkan Saya? Kenapa mami Kak Alga merendahkan saya?" tanya Mayu kembali bingung.
"Ya karena mami saya tidak suka pada orang norak juga kampungan. Itu juga alasannya kenapa saya bilang pada kamu kalau tugas kamu kali ini berat. Mami saya itu paling tidak suka pada orang miskin, dan dia bisa terang-terangan menghina atau menjelekkan kamu tanpa memikirkan perasaan kamu." jelas Alga.
"Separah itu Kak?"
"Iya. Makanya saya memilih berterus terang saja dari sekarang supaya kamu tidak terkejut, dan kamu juga bisa membuat alasan supaya mami saya tidak meminta kita putus. Selain itu saya dan Rangga juga akan membatu kamu, supaya terlihat pantas jadi pacar saya. Kamu tenang saja, semua biayanya akan saya tanggung, begitu juga dengan waktu kamu. Saya akan bayar kamu, sebagai ganti rugi, kamu yang tidak bisa dangang." jelas Alga lagi.
"Memang seharusnya begitu Kak. Enak saja Mayu yang harus menanggung semuanya. Mayu ini hanya calon orang sukses kak, belum jadi orang sukses. Nantilah kalau Mayu sudah jadi orang sukses, baru lah Mayu berikan diskon." ujar Mayu mantap.
"Iya Mayu saya mengerti, kamu ini enggak mau rugi banget kalau masalah uang."
"Iya dong, Mayu ini orang dagang, gue jual ya lo beli dong." ujar Mayu lebay.
__ADS_1
"Iya Mayu iya. Berarti ini sudah deal kan kalau kamu mau bertemu dengan mami saya?" tanya Alga memastikan.
"Iya Kak Alga."
"Bagus, berarti mulai dari sekarang kamu harus persiapkan diri juga jawaban. Pokoknya saya enggak mau ya kalau kita sampai putus begitu kamu bertemu dengan mami saya"
"Iya kak Alga, Kak Alga tenang saja. Kak Alga takut banget ya kehilangan Mayu, makanya enggak mau putus dengan Mayu? Kenapa Kak, apa karena Mayu sangat cantik jelita?" ujar Mayu menggoda Alga sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya enggaklah Mayu, jangan ngaco kamu!" ujar Alga tidak terima, tapi diam-diam dalam hatinya tersenyum senang. Sungguh dia sangat merindukan bercanda dengan Mayu.
"Mayu enggak ngaco Kak Alga. Kak Alga saja yang malu-malu. Cie mau tapi gengsi nie." goda Mayu lagi. Tidak bisa dipungkiri, Mayu juga rindu bercanda dengan Alga.
"Enggak Mayu, diam kamu!" kesal Alga.
"Cie marah haha ...." Mayu tertawa ngakak. Sedangkan Alga memperlihatkan wajah jutek tapi dalam hati tersenyum. Sementara itu Rangga senyum-senyum saja melihat sepasang anak manusia itu.
***
"Mayu ini uang sepuluh juta untuk biaya kamu perawatan hari ini! Jika uangnya tidak cukup, telepon saya saja, saya akan transfer kekurangannya." ujar Rangga sambil memberikan uang sebesar 10 juta.
Mayu sampai melotot melihat uangnya.
"I-ini seriusan untuk biaya perawatan saja Kak?" tanya Mayu seakan tidak percaya.
"Tentu saja serius. Kamu perawatan di salon yang terbaik saja dan jangan yang abal-abal. Supaya hasilnya bisa maksimal. Ingat perawatannya harus dari ujung kepala sampai telapak kaki. Bila perlu sampai ke dalam-dalamnya." jelas Rangga.
"Bagus. Untuk gaun dan yang lainnya, kamu yang akan membelinya bersama Alga. Alga yang tahu selera maminya."
"Siap Kak, kalau begitu saya ambil uangnya ya Kak."
"Iya Mayu, saya pergi."
"Iya Kak."
Mayu menatap uang sepuluh juta di tangannya. Andai saja uang 10 jutanya Mayu gunakan utuk modal, maka hasil penjualan Mayu akan lebih banyak lagi.
'Suatu saat nanti, Mayu akan dapat tambahan modal sebanyak ini, amin.' batin Mayu.
Mayu kemudian memasukkan uangnya ke dalam tas dan siap pergi ke salon. Untuk hari ini Mayu mau jadi perempuan yang sesungguhnya.
Lebih kurang 15 menit sampai juga Mayu di salon kecantikkan yang dimaksud. Salonnya sangat besar dan parkirannya juga luas. Jika bukan karena Alga Mayu tidak akan pernah menginjakkan kaki di salon sebagus ini. Lagi-lagi Alga memberikan warna lain dalam hidup Mayu, dan Mayu tidak bisa memungkirinya kalau dia merasa senang.
"Mbak mau ngapain datang ke sini?" tanya salah satu karyawan salon jutek dan menatap Mayu dari atas sampai bawah.
Mayu ikut memperhatikan penampilanya. Perasaan dia pakai baju yang sopan, tapi kenapa ditatap sejutek itu sama karyawannya? Apa ada yang salah dengan penampilan Mayu?
__ADS_1
"Saya mau melakukan perawatan Mbak." ujar Mayu biasa saja." walau ditatap sejutek itu Mayu tidak gentar. Mayu sudah biasa berhadapan dengan orang-orang yang karakternya beragam.
"Perawatan?" tanya karyawan itu lagi menatap tidak percaya pada Mayu. Menurut karyawan itu, Mayu jauh lebih membutuhkan perawatan penampilan dari pada perawatan tubuh. Penampilan orang susah begitu kok mau perwatan si salon mahal. Uang dari mana dia? Di salon ini tidak ada yang murah.
"Iya Mbak perawatan. Tenang saja Mbak, walau penampilan saya sangat sederhana, saya mampu bayar kok." ujar Mayu dan langsung membuka isi tasnya. Mayu sangat mengerti arti tatapan itu. Mayu juga tidak senekad itu masuk salon mahal kalau tidak ada uang.
"Ini uang saya Mbak, dan ini jumblahnya 10 juta. Jika uang ini tidak cukup, nanti pacar saya yang akan transfer kekurangannya. Apa perlu saya telepon pacar saya sekarang juga supaya Mbak memberikan pelayanan terbaik pada saya? Mbak itu hanya karyawan di sini Mbak, sikapnya jangan begitulah! Mbak harusnya bisa bersikap ramah pada semua calon pelanggan di sini, entah itu penampilannya gelamor atau sederhana. Jangan sampai karena Mbak, nama salon ini jadi jelek Mbak. Ingat Mbak, Mbak mencari makan dari salon ini, jadi bekerja maksimal untuk salon ini!" tegur Mayu sambil menunjukkan uangnya.
Mayu tidak pernah mau menganggap rendah orang lain, jadi jangan coba-coba menganggap rendah Mayu. Terlebih lagi yang status sosialnya terbilang sama dengan Mayu. Kita tidak pernah tahu bagaimana nasib orang itu ke depannya, bukan tidak mungkin juga, suatu saat nanti kita akan meminta pertolongan padanya. Jadi tetaplah bersikap baik pada sesama.
"I-iya Mbak, maaf." ujar karyawan itu menatap tidak enak pada Mayu. Dia salah sasaran kali ini. Ternyata Mayu punya uang dan dia juga pemberani. Bisa gawat kalau Mayu sampai mengadu pada bosnya, bisa dipecat dia.
"Saya akan maafkan jika Mbak memberikan semua pelayanan yang terbaik untuk saya. Saya mau melakukan perawatan semuanya, mulai dari ujung kepala sampai telapak kaki." ujar Mayu.
Mayu tidak ada niatan ini melapor pada bosnya. Mayu bukanlah sosok yang mau mematikan rejeki orang lain.
"Baik, Mbak. Kami akan melakukan perawatan yang terbaik untuk Mbak."
"Ok, saya tunggu." ujar Mayu mengancungkan jempolnya dan ada senyum di wajahnya.
Karyawan itu juga akhirnya tersenyum pada Mayu. Ternyata Mayu gadis yang ramah juga baik.
***
Selana 3 jam Mayu melakukan perawatan. Mayu sampai pegal, tapi hasilnya juga sesuai dengan harga yang harus Mayu keluarkan.
Mayu menatap kukunya, kukunya jadi terlihat lebih cantik setelah di meni pedi. Mayu menyentuh rambut panjangnya yang terurai. Rambutnya jadi terasa sangat halus. Tanpa sadar Mayu tersenyum, Mayu jadi berasa cantik jelita beneran.
"Mbak ini kami ada Merchandise untuk Mbak. Kami tunggu kehadirannya kembali Mbak." ujar karyawan salon.
"Ini beneran untuk saya Mbak?" tanya Mayu menatap berbinar merchandisenya.
"Iya Mbak beneran." jawabnya Mantap.
"Terima kasih Mbak." ujar Mayu. Mayu benar-benar untung banyak ini. Mayu tidak hanya dibuat cantik, tapi Mayu juga dapat barang tambahan.
"Iya Mbak, sama-sama."
"Mari Mbak." ujar Mayu.
"Iya Mbak."
Mayu keluar dari salon dengan langkah ringan dan senangnya. Sesekali dia juga memainkan rambut panjangnya. Mayu ketagihan mamainkan rambutnya yang begitu lembut.
"Eh!" kaget Mayu begitu melihat ada Alga di parkiran dan sedang bersandar di mobilnya.
__ADS_1
Tidak hanya Mayu yang terkejut tapi Alga juga. Alga sampai menegapkan tubuhnya dan menatap dalam pada Mayu.