
"Maksud Mama apa?" ujar Frans balas bertanya.
"Ini, kamu lihat sendiri!" ujar Mawar memberikan ponselnya.
Frans juga ikut melotot begitu dia melihat video. Video dimana Alex dan Frans berantem dan begitu juga dengan Alex yang dihajar habis-habisan hingga jatuh tidak berdaya. Bahkan video Alex yang sudah tidak berdaya dan diangkat ke mobil, semuanya ditampilkan dalam video itu. Foto Alex dengan semua luka-lukanya juga ada.
Frans sampai menelan ludahnya. Baru sadar dia kalau keadaan Alex separah itu. Ingin rasanya dia berkata rasain lo, tapi itu jelas tidak mungkin dia lakukan dan itu karena dialah pelakunya.
Frans menoleh perlahan ke arah mamanya.
"Jadi ini semua gara-gara kamu Frans? Kenapa kamu segehabah ini sih? Bagaimana kalau Alex sampai mati, kamu tidak hanya masuk penjara, tapi kamu juga akan dibenci oleh semua keluarga kita. Mama tidak pernah melarang kamu berantem dengan Alex tapi tidak sampai seperti ini juga Frans." seru Mawar dan kali ini dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh anaknya. Kelakuan Frans kali ini sangat kelewatan.
"Habisnya aku sangat kesal padanya Ma. Dia juga tidak mau tanda tangan penyerahan jabatan itu, makanya aku putuskan memberi pelajaran sedikit padanya. Tadinya aku juga tidak ingin menghajarnya sampai babak belur dan hanya ingin sekedar menggertak saja, tapi karena dia memberi perlawanan ya aku semakin kesal dan semakin nekad." jelas Frans.
"Mama tahu Frans, tapi kamu tidak seharusnya menghajar Alex sampai separah ini! Jika sudah begini, siapa rugi? Kamulah yang paling rugi Frans. Jika kejadian ini ketahuan keluarga besar kita, maka kamu akan semakin dibenci dan bisa jadi kamu di keluarkan dari perusahaan." ujar Mawar lagi.
"Ya jangan sampai keluarga besar tahu dong Ma."
"Gimana caranya biar mereka tidak tahu, sementara video ini ada pada Alex dan teman-temannya dan kapan saja bisa dia bagikan pada keluarga besar kita. Pokoknya Mama tidak mau tahu setelah ini kamu harus minta maaf pada Alex, bila perlu bersujud di kakinya, sampai dia mau memaafkan kamu dan mau menghapus video itu!" suruh Mawar.
Mawar tidak hanya takut anaknya akan dikeluarkan dari perusahaan, tapi dia juga pasti akan kena imbasnya. Dia akan dikatai ibu yang tidak becus dan sebagainya. Bahkan suaminya sendiri juga bisa marah besar padanya karena dia sangat tahu karekter suaminya yang tidak akan membela anaknya kalau anaknya memang salah.
Frans mengepalkan tangannya. Dia sudah mulai mengerti alasan kenapa Mayu dan teman-temannya melepaskannya begitu saja dan ternyata ini adalah rencana mereka. Frans jadi semakin membenci mereka.
"Frans jangan diam saja! Kamu mau minta maaf pada Alex kan Frans? Pokoknya Mama tidak mau mendengar penolakan dari kamu. Kali ini Mama tidak akan membela kamu lagi." ujar Mawar lagi membuat Frabs seketika menatap tidak terima pada mamanya.
"Ya enggak bisa begitu dong Ma. Selama ini Mama yang selalu memaksaku supaya aku secepatnya mengambil alih kursi kepeminpinan itu. Aku juga sampai berbuat nekad karana Mama. Dan sekarang saat aku dapat masalah, Mama malah mau angkat tangan. Ini enggak adil buatku Ma." protes Frans.
Mawar menghembuskan nafasnya kasar. Ada benarnya apa kata Frans, walau dia tidak setuju dengan tindakan gegabah Frans, tapi dia juga tidak mungkin meninggakkan anaknya begitu saja. Dia harus membantu Frans menyelesaikan masalahnya.
"Baiklah kita akan temui Alex bersama, Mama akan menemani kamu minta maaf padanya. Bila perlu mama akan paksa dia supaya mau memaafkan kamu dan mau menghapus vidio itu." putus Mawar.
Frans merasa lega mendengarnya. Inilah yang selalu dia harapkan dari mamanya. Mamanya yang akan selalu pasang badan untuknya.
***
Keadaan Alex sudah semakin membaik. Apalagi setelah dirawat oleh keluarganya dan mereka semua saling bergantian menjenguk Alex membuat Alex merasa senang. Meski begitu tidak jarang juga yang memberi nasihat supaya Alex lebih berhati-hati lagi karena mereka tidak ingin Alex kembali mendapat musibah dan rencana pernikahannya batal.
Selain keluarga Alex, orang tua Naura juga ikut menjenguk calon menantunya dan itu tentu saja menambah penyemangat untuk Alex. Dia senang banyak yang perhatian padanya, walau dalam hati kecilnya bertanya-tanya tentang keberadaan Mawar. Mawar yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Alex yakin Mawar pasti sudah tahu kalau dia sedang sakit dan pelaku yang membuatnya sakit adalah anak Mawar sendiri, tapi kenapa Mawar memilih menghilang. Apa dia terlalu malu menunjukkan batang hidungnya karena atau gimana?
"Mawar kenapa belum datang juga? Dia sudah tahukan kalau Alex sedang sakit?" tanya tante tua Alex . Ternyata tidak hanya Alex yang penasaran soal tantenya tapi keluarganya juga.
__ADS_1
"Sudah tahu kok Mbak, aku sendiri yang meneleponnya kemarin. Aku juga bingung kenapa dia belum datang, tidak biasanya dia seperti ini. Walau kedatangannya suka buat ribut, tapi sepi juga kalau tidak ada dia." ujar tante bontot Alex.
"Itu dia, makanya aku juga mempertanyakan kehadirannya. Aku tahu dia tidak begitu suka pada Alex, tapi saat Alex sedang sakit tidak seharusnya dia menghilang. Minimal datanglah menjenguk Alex walau hanya sekali. Aku malah khawatir dia juga ikutan sakit." ujar Tante tua Alex lagi dan itu mewakili perasaan Alex.
Alex juga kesal pada tantenya itu, tapi dia juga ada sangat mempertanyakan soal Mawar yang menghilang tiba-tiba.
"Kalau sakit kayaknya enggak mungkin deh Mbak, Mas Agus pasti sudah mengabari kita kalau mbak Mawar sakit. Sebentar deh, sebaiknya aku hubungi dia saja." balas tante bontot Alex lagi. Saat ini yang menemani Alex memang hanya Tere, Naura dan kedua tantenya.
"Iya,"
Disaat tante Alex menghubungi saudara iparnya, Naura memilih mendekati Alex dan duduk di samping kasur Alex. Naura juga tersenyum pada kekasihnya dan tidak lupa menggenggam tangan Alex.
Alex balas tersenyum pada kekasihnya dan balas menggenggam tangan Naura. Senyum Naura semakin mengembang melihat genggaman tangan mereka, dia merasa senang melihat Alex yang sudah bisa membalas genggaman tangannya.
Naura mengalihkan pandangannya begitu tante Alex selesai menelepon Mawar. Dia juga sama penasarannya kenapa Mawar tidak mau menunjukkan batang hidungnya. Padahal dari informasi yang dia dengar, Frans sudah masuk kantor kembali dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Mereka tidak perduli sama sekali soal kejadian itu atau gimana? Jangan-jangan mereka sedang merencanakan kejahatan yang lain? Naura benar-benar tidak bisa berpikir positif kalau menyangkut sepupu Alex yang satu itu.
"Gimana katanya?" tanya tante tua Alex.
"Dia akan datang katanya Mbak. Dia juga bertanya kita mau dibawakan makanan apa, begitu juga dengan Alex juga Tere." ujarnya membuat tante tua Alex menatap tidak percaya pada adik bungsunya. Tumbenan sekali itu adik iparnya perduli pada mereka.
Begitu juga dengan Tere dia juga hampir tidak percaya itu.
"Aku juga terserah saja Mbak, seikhlasnya saja." ujar Tere.
"Saya juga Tante," ujar Alex.
"Ok," jawabnya.
Satu jam setelah itu, Mawar beneran datang sambil membawa banyak makanan. Ada parsel buah, roti dan cemilan.
Tere hampir tidak percaya melihatnya. Apa lagi sikap Mawar juga terlihat baik, tidak hanya padanya tapi pada Alex juga.
"Ya ampun Alex, kok kamu bisa terluka sih. Harusnya kamu lawan saja mereka dan balas mereka. Kasihan sekali kamu, padahal sudah mau menikah tapi wajahnya malah bonyok begini." ujarnya menatap kasihan pada Alex dan itu membuat Alex dan Naura bertanya-tanya. Sedangkan Tere dan kedua saudara iparnya manatap tidak percaya padanya. Ini tumbenan sekali Mawar perduli biasanya hanya nyinyirannya saja yang keluar.
"Apa kata dokter Alex, apa ada luka yang serius?" tanya Mawar kembali membuat Alex seketika tersadar.
"Alhamdulillah tidak ada Tante," jawab Alex apa adanya sambil memperhatikan raut wajah Mawar.
"Baguslah kalau begitu." ujar Mawar dan tampak lega di wajahnya. Alex bisa melihat wajah lega itu, hanya saja dia kembali bingung apa maksudnya wajah lega itu? Lega karena Alex akan segera sembuh atau lega karena menganggap masalahnya akan segera selesai? Enggak, bagi Alex masalah tidak akan selesai begitu saja kalau pun dia sudah sembuh. Setelah dia keluar dari rumah sakit nanti dia harus bicara dengan Mawar dan Frans. Alex mau membuat perjanjian dengan mereka, karena biar bagaimana pun perbuatan Frans kali ini sudah kelewatan.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya Alex dan secepatnya kamu bisa beraktivitas kembali." ujar Mawar lagi membuat Tere dan saudara iparnya lagi-lagi heran.
Begitu juga saat Mawar ikut ngobrol dengan mereka, tidak sekali pun kata-kata julit keluar dari mulut Mawar. Mawar tiba-tiba jadi baik dan ini seperti sebuah keajaiban. Ada apa dengan Mawar? Tapi walaupun begitu mereka merasa senang melihat perubahan Mawar dan berharap untuk seterusnya dia tetap baik.
***
Setelah dirawat selama seminggu lamanya, Alex akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Naura dan yang lainnya menyambut senang. Orang tua Alex bahkan membuat syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan anaknya. Tere tidak hanya mengundang keluarganya tapi teman-teman Alex serta orang tua Naura juga ikut serte. Mereka juga sekalian ingin membicarakan soal rencana lamaran Alex dan Naura yang sebelumnya sempat tertunda karena Alex sakit.
Di rumah Alex sudah dipenuhi oleh keluarga dan teman-temannya. Mayu, Rangga dan yang lainnya juga ikut serta. Tampak bahagia di wajah mereka semua karena mereka juga turut meradakan kebahagiaan Alex yang sudah sembuh dari penyakitnya.
Mayu dan Naura refleks saling menatap begitu melihat Frans dan keluarganya datang. Wajah Frans terlihat biasa, hanya saja dia tidak mau menatap pada Mayu dan yang lainnya terutama Alex.
"Enggak nyangka gue kalau Mas Frans mau datang. Menurut lo, dia bakalan minta maaf tidak?" ujar Mayu.
"Semoga saja sih May, tapi gue berharapnya sih bukan hanya permintaan maaf sekedar formalitas saja tapi permintaan maaf yang benar-benar tulus dari dalam hati." ujar Naura.
"Gue juga berharap hal yang sama sih Nau, hanya saja menurut gue itu cukup sulit mengingat karakter mas Frans yang sangat egois. Untuk saat ini, dengan dia tidak lagi berbuat jahat pada mas Alex menurut gue itu sudah lebih dari cukup. Seenggaknya tidak ada lagi yang berusaha mengusik kebahagiaan kalian." ujar Mayu dan Naura menganggukkan kepalanya.
"Lo benar May. Untuk saat itu, itulah yang tepenting dan gue juga berharap sih, semoga mas Frans dipertemukan dengan cowek yang baik yang tentunya bisa membawa dia ke arah yang lebih baik lagi. Jadi dia juga bisa benar-benar berubah dan sadar kalau selama ini dia memang salah." ujar Naura.
"Harapan gue juga sama Nau, dan satu lagi sih yang terpenting semoga cewek itu cewek kuat dan kaya raya, karena kalau dia tidak kuat dan kaya raya, ya enggak yakan gue kalau dia akan bertahan dapat calon mertua seperti tante Mawar." ujar Mayu. Melihat Mawar dia jadi teringat dengan Dira.
"Benar juga ya May dan ceweknya minimal seperti lo lah ya." ujar Naura.
"Bukan seperti gue tapi seperti lo." balas Mayu.
"Enggak lah May, seperti lo. Lo kan bisa masak bisa ngurus rumah juga. Nah gue, boro-boro bisa masak, masak mie instan saja kelembekan. Untungnya calon mertua gue baik dan tidak mempermasalahkan itu, kalau tante Mawar enggak yakin gue dia akan diam saja. Soalnya dari yang gue tahu, dia itu pintar masak." ujar Naura lagi.
"Benar juga ya. Eh kok ini kita malah repot ngurusin jodoh mas Frans. Orangnya saja enggak perduli." ujar Mayu begitu sadar dengan omongan tidak jelas mereka.
"Benar juga. Kurang kerjaan memang kita." ujar Naura dan mereka akhirnya sama-sama tersenyum.
"Kalian senyum-semyum ada apa By?" tanya Alex.
"Eh bukan apa-apa kok Mas. Mas butuh apa, mau minum atau makan?"
"Bawa aku ke kamar saja By. Badanku masih lemas dan aku ingin tiduran saja." pinta Alex. Dia sudah cukup lama duduk bersama keluarganya dan dia ingin istirahat.
"Baiklah aku izin pada tante Tere dulu ya!"
Alex menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari Tere, Naura langsung membawa Alex ke kamarnya.
Mawar yang melihat itu pun langsung memberi kode pada anaknya. Mereka harus bicara dengan Alex.