
"Mami, Rahel, kalian ngapain datang ke kantor?" tanya Alga.
Alga sangat tahu maminya enggak ada urusan apa-apa ke kantor. Papinya saja selaku pemegang saham terbesar jarang datang ke kantor.
"Mami hanya mau menghantar Rahel, Alga. Ini gara-gara kamu perginya buru-buru, Rahel jadi tidak bisa ikut dengan kamu." ujar Dira membuat Alga semakin bingung.
"Untuk apa Mami menghantar Rahel ke kantor? Apa Rahel ada urusan penting di kantor?" tanya Alga lagi.
"Tentu saja ada, Rahel kan brand ambassador terbaru kita. Kamu pastinya enggak lupa kan kalau Rahel seorang model? Sekarang Rahel tidak hanya seorang model, dia bahkan sudah jadi bintang iklan juga pemain filem dan sejenisnya. Hebat kan Rahel dan dia sangat cocok untuk kamu." ujar Dira lagi membuat alis Alga terangkat.
Alga tahu Rahel seorang model dan itu dari dia duduk dibangku SMA, tapi soal Rahel sudah jadi bintang iklan dan sejenisnya Alga tidak tahu sama sekali. Selain karena dia jarang sekali menonton televisi dia juga enggak pernah mau tahu lagi, soal mantannya. Apalagi sejak pacaran dengan Mayu, ingat Rahel saja dia enggak pernah lagi, karena yang ada dipikirannya hanya Mayu dan masalah yang diperbuat oleh maminya.
Alga juga enggak perlu bertanya kenapa Rahel bisa jadi brand ambassador, sudah pasti itu karena maminya. Maminya juga punya saham yang cukup besar di pratama group, otomatis para karyawannya enggak akan berani menolak apa pun perintahnya.
Alga menarik nafas pelan dan tanpa bicara sepatah kata pun dia pergi meninggalkan Rahel dan maminya. Malas Alga bicara dengan mereka, selain itu Alga juga enggak mau kalau sampai terjadi keributan. Malu Alga pada karyawan Pratama group.
"Hei Alga kamu mau kemana, Mami belum selesai bicara Alga?" ujar Dira lagi.
Alga tetap diam dan terus melanjutkan langkahnya.
"Anak itu benar-benar deh kelakuannya, semakin hari semakin tidak ada rasa hormat saja pada maminya dan itu pasti karena pengaruh anak tahu diri itu. Menyebalkan sekali. Rahel kamu sebaiknya kejar Alga, Tante yakin dia pasti mau ke ruang miting itu!" ujar Dira mengomel.
"Baik Tante," ujar Rahel dan langsung mengejar Alga.
Dira menatap Alga dan Rahel yang semakin menjauh dari pandangannya. Dia kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Anak bungsunya itu jika menyangkut perempuan sangat berbeda dengan Pratama. Peratama masih gampang tergodanya, apalagi kalau melihat yang bening-bening. Sedangkan Alga susah sekali tergodanya. Entah apa yang ada dalam benak itu, apa jangan-jangan hormon laki-lakinya tidak bekerja dengan baik?
Sementara itu Alga sudah sampai di ruang miting. Ruang miting masih kosong karena jam miting juga masih 15 menit lagi.
Alga meletakkan berkas dan laptopnya malas. Semangat kerjanya langsung berkurang 50 persen gara-gara maminya. Tidak cukupkah maminya mengganggu kenyamanannya saat di rumah saja, kenapa di kantor juga harus diganggu?
__ADS_1
Alga refleks menoleh saat ada yang menarik bangku di sampingnya.
Lagi-lagi Alga menghembuskan nafasnya kasar begitu melihat Rahel lah pelakunya.
"Kamu duduk di kursi depan Rahel, kursi itu bukan untuk kamu." ujar Alga dan kembali fokus pada berkas-berkasnya.
"Aku tahu Alga, tapi kan mitingnya belum di mulai, jadi enggak ada masalah dong kalau aku duduk di sini?" ujar Rahel dengan santainya.
"Tentu saja ada masalah. Kamu tahu kan zaman sekarang ini rawan sekali sama yang namanya gosip. Apalagi kamu itu terjun di dunia entertain. Apa saja yang kamu lakukan bisa jadi gosip dan kamu harusnya berhati-hati untuk itu!" ujar Alga dan itu membuat senyum seketika terbit di wajah Rehal.
"Terima kasih Alga sudah mengingatkanku. Aku senang Alga kamu tidak pernah lupa mengingatkan apapun itu demi kebaikanku." ujar Rahel lagi membuat Alga kembali menatap padanya.
"Aku berkata seperti itu bukan demi kebaikan kamu Rahel, kamu jangan salah paham soal itu. Aku berkata seperti itu karena aku tidak mau digosipkan dengan kamu. Kamu tahu kan kalau aku sudah punya pacar. Dan hampir semua karyawan di perusahaan ini tahu dan kenal sama pacarku. Aku tentu tidak ingin gara-gara kamu, aku jadi digosipkan yang enggak-enggak. Statusku saat ini hanya sekedar karyawan magang dan sudah sepantasnya aku menjaga sikapku." tegas Alga membuat Rahel terdiam. Dia baru tahu kalau pacarnya Alga terkenal diantara karyawan Pratama. Dira tidak pernah cerita soal itu padanya. Apa ini hanya akal-akalan Alga saja supaya Rahel jaga jarak dengannya?
"Kita tidak akan digosipkan yang enggak-enggak Al. Lagian kita hanya ngobrol biasa saja. Ditambah lagi tidak ada wartawan juga di kantor ini. Jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan soal itu." ujar Rahel lagi.
Alga yang malas bicara dengan Rahel akhirnya memilih mengalah saja. Dia memilih pergi dari ruang miting. Dia malas berduaan dengan Rahel di dalam ruang miting.
"Alga kamu mau kemana?" tanya Rahel cepat dan reflek menahan tangan Alga.
Alga seketika menghentikan langkahnya dan menatap tajam Rahel.
"Lepaskan tangan kamu Rahel! Apa masih kurang jelas juga dengan apa yang saya katakan sebelumnya? Tolong jaga sikap kamu!" ujar Alga berusaha menahan amarahnya.
"Ah iya maaf Alga, aku tidak sengaja." ujarnya tapi tetap tidak melepaskan pegangannya di tangan Alga.
"Kamu sangat berubah Alga, aku seperti tidak mengenali kamu lagi. Aku tahu aku salah Alga, tapi tidak bisakah kamu memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Aku memang tidak seharusnya mengirim pesan seperti itu pada kamu, tapi aku terpaksa melakukannya Alga. Aku mendapat ancaman, dan aku tidak mau keluargaku jadi celaka karena aku." ujar Rahel lagi.
"Bukan aku yang berubah Rahel, tapi kamulah yang berubah. Rahel yang aku kenal bukan Rehel yang seperti ini, tapi Rahel yang penurut dan yang mau mengalah juga menerima keadaan. Ok aku terima semua alasan kamu, tapi itu semua sudah selesai Rahel dan itu semua hanya bagian dari masa lalu kita. Sekarang ini kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, dan kita sudah memiliki jalan masing-masing. Aku sudah punya pacar dan aku harap kamu juga segera memiliki pacar." jelas Alga.
__ADS_1
"Enggak Alga bagiku kita belum selesai karena aku belum bisa melupakan kamu. Dari dulu sampai sekarang nama kamu masih terukir indah di hati ini. Aku juga sudah mencoba melakukan berbagai macam cara untuk melupakan kamu tapi tetap saja tidak berhasil. Alu juga selalu dihantui rasa bersalah. Jadi aku mohon Alga berilah aku kesempatan untuk menebus rasa bersalahku. Aku tidak masalah walau harus jadi yang kedua." ujar Rahel lagi membuat Alga seketika melotot.
"Kamu sudah gila ya Rahel? Bisa-bisanya kamu berkata itu padaku! Dimana harga diri kamu Rahel?" marah Alga.
"Ya aku memang sudah gila dan itu karena aku tergila-gila pada kamu. Kamu tahu Alga aku juga sangat menderita setelah mengirim pesan terkutuk itu pada kamu. Aku sampai sakit karena harus menahan rindu. Aku juga bekerja dengan sangat keras supaya tada ada lagi waktu untuk mengingat kamu. Sayangnya segala usaha yang sudah aku lakukan tetap saja gagal. Hingga beberapa hari lalu aku bertemu dengan tante Dira. Aku benar-benar bahagia saat dia minta maaf padaku soal ancamannya di masa lalu dan dia juga meminta supaya aku kembali pada kamu. Sayangnya kebahagiaanku itu tidak bertahan lama begitu aku tahu kalau kamu sudah memiliki pacar. Hanya saja saat tante Dira menjelaskan kalau Mayu itu hanya sekedar pelarian kamu dan hanya bawa pengaruh buruk untuk kamu, aku percaya Alga karena aku juga bisa merasakan sendiri perubahan kamu. Kamu yang semakin tidak bisa diatur, kamu juga jadi suka melawan pada orang tua dan tidak punya rasa hormat lagi padanya. Itu jelas bukan perbuatan baik Alga, karena sebagai anak kamu harusnya hormat pada orang tua kamu dan mau menuruti perintahnya. Ingat Alga tante Dira itu adalah ibu yang sudah melahirkan kamu, dan dia sangat tahu apa yang terbaik buat kamu." jelas Rahel lagi membuat Alga ingin meledak rasanya.
Tidak salah memang seorang anak harus hormat pada orang tua, tapi dengan catatan orang tuanya itu juga benar-benar sayang dan perduli pada anaknya dan bukan orang tua yang egois dan hanya mementingkan diri mereka sendiri saja. Orang tua itu juga hanya manusia biasa dan mereka juga bisa saja berbuat salah. Begitu juga dengan anak, mereka tidak selamanya salah dan mereka juga berhak menentukan apa yang terbaik untuknya selama itu membuatnya bahagia dan nyaman. Ditambah lagi Alga juga bukan anak kecil lagi. Umurnya sudah mau 21 tahun dan dia tahu apa yang terbaik untuknya.
"Dengar baik-baik ya Rahel. Mayu itu bukan pelarianku. Aku benar-benar mencintainya. Bahkan bisa dibilang rasa cintaku padanya lebih besar dari rasa cintaku pada kamu dulu. Jadi aku minta pada kamu jangan sampai kamu berkata seperti itu lagi di depanku, apalagi di depan Mayu. Dan yang kedua, kami enggak perlu membela mamiku. Aku sangat tahu seperti apa dia, dan kamu juga pastinya sangat tahu seperti apa dia. Bahkan kamu sendiri yang bilang kalau dia yang dulunya pernah mengancam kamu? Lalu kenapa sekarang kamu malah ada di pihaknya?" seru Alga.
"Ya karena aku bisa melihat penyesalannya Alga dan bagaimana dia yang sedang berjuang mati-matian untuk bisa mengembalikan kamu jadi Alga yang dulu. Alga yang baik dan yang hormat pada orang tua." ujar Rahel bersikukuh.
Alga sampai mengepalkan tangan mendengarnya. Sepertinya Rehal benar-benar sudah berhasil dipengaruhi oleh maminya.
"Be-"
Tok tok tok
Alga dan Rahel refleks menoleh ke arah pintu begitu mendengar pintu diketuk.
Alga tampak tegang sekaligus merasa tidak enak begitu melihat manager pemasaran berdiri di sana bersama dengan 2 orang karyawan lainnya.
"Maaf Alga, apa kami bisa masuk?" tanya manager pemasaran.
"Ah i-iya silahkan Pak!" ujar Alga terlihat gugup. Ini gara-gara Rahel dia jadi berada di situasi tidak enak seperti ini dan Alga benar-benar berharap semoga saja mereka tidak berpikir macam-macam soal dia dan Rahel.
"Terima kasih Alga," ujarnya dan melirik ke arah tangan Alga yang masih di pegang oleh Rahel.
Alga mengikuti arah pandang sang manager. Alga buru-buru melepaskan pegangan tangan Rahel dan meruntuk dalam hatinya. Kenapa dia bisa tidak sadar akan hal itu? Jika seperti itu kejadiannya, Alga yakin baik itu manager pemasaran atau kedua karyawan yang datang bersamanya sudah pasti mereka akan berpikir jauh soal apa yang dilihatnya. Alga hanya bisa berdoa semoga saja mereka bukan orang yang bocor juga kompor.
__ADS_1