
Mayu menajamkan pendengarnya dan berusaha mendekati ke arah suara itu.
Mayu melangkah dengan sangat pelan, dia takut ketahuan.
"Uh uh ...."
Suara itu semakin jelas terdengar.
Mayu terus melangkah. Mayu yang terlalu serius sampai tidak sadar kalau suara itu juga seakan ikut melangkah bersama Mayu.
"Apa suaranya dari ruangan ini?" gumam Mayu sambil menempelkan telinganya ke arah pintu. Suaranya tidak lagi terdengar.
Kening Mayu berkerut. Suara aneh itu benar-benar tidak ada lagi.
'Mungkin aku hanya salah dengar saja.' gumam Mayu.
"Uh uh!"
Baru juga Mayu mau lengkahkan kakinya suaranya kembali terdengar dan itu dari arah yang berbeda atau lebih tepatnya arah pintu keluar bagian samping.
Mayu yang sudah terlanjur sangat penasaran kembali melangkahkan kakinya ke asal suara.
Mayu membuka pintu samping dengan perlahan. Hawa dingin langsung merasuk ke dalam tubuhnya tapi Mayu mengabaikannya karena sangat penasaran.
Mayu menatap sekitar halaman samping, tidak ada siap-siapa di sana. Semua kursi yang disediakan kosong termasuk kursi santai dan ayunan. Begitu juga dengan kolam renangnya yang terlihat begitu tenang.
"Apa jangan-jangan suara itu suara hantu kali ya?" gumam Mayu bertanya-tanya.
Mayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Suara hantu masa begitu? Suara itu bahkan lebih mirip sama suara ...."
Mayu seketika mengangkat bahu geli begitu kepikiran yang iya-iya. Mayu memang belum pernah pacaran, tapi karena gejolak jiwa mudanya, Mayu juga ingin tahulah bagaimana caranya proses reproduksi itu. Mayu ingat banget dia, Shinta dan Lora pernah nonton sekali dan itu juga Loralah si pelaku utamanya, entah dari mada dia dapat videonya.
"Terserahlah mau itu suara hantu atau suara orang melakukan itu. Itu enggak ada hubungannya juga denganku.' batin Mayu.
Plung!
Mayu yang hendak menutup pintu, menghentikan gerakannya begitu mendengar suara benda yang di lempar ke arah kolam renang.
"Apa ada orang di sana?" tanya Mayu.
Tidak ada jawaban.
Mayu menarik nafas pelan. Mungkin hanya kebetulan ada benda yang jatuh pikir Mayu. Mayu kembali menarik gagang pintu.
Plung! Plung! Plung!
Mayu lagi-lagi menghentikan gerakannya begitu mendengar suara benda yang di lempar ke kolam itu dan itu sebanyak 3 kali. Mayu sangat yakin itu pasti bukan kebetulan.
"Hei siapakan di sana? Keluar dong dan jangan mengotori kolam renang!" seru Mayu sembari melangkahkan kakinya ke arah kolam renang.
Mayu lagi-lagi menatap sekelilingnya.
"Eh!" kaget Mayu.
Byur!
Mayu sangat terkejut saat ada orang berjubah hitam tiba-tiba mendorongnya kuat hingga jatuh ke dalam kolam.
__ADS_1
"Ap ... ap ... ap," Mayu yang tidak bisa berenang langsung tenggelam.
Mayu berusaha mengangkat tangannya minta pertolongan. Mayu benar-benar takut. Dia belum mau mati, gimana nasib neneknya kalau sampai dia mati atau sakit?
"Ap ... ap!"
Mayu berusaha minta tolong tapi susah karena banyaknya air masuk ke dalam mulutnya.
Sementara itu tidak jauh dari kolam renang tampak Naura sudah bersorak girang dengan teman-temannya.
"Yes! Yes! Kita berhasil. Rasakan kamu Mayu, makanya jangan coba-coba melawan kita, rasakan sendiri akibatnya!" ujar Naura dengan senyum kemenangannya.
"Uuh dingin!" ujar Ira seakan mengejek Mayu.
"Uu enggak kuat!" ujar Yuli ikutan.
Mereka bertiga kembali saling tos dan tersenyum penuh kemenangan.
Naura kembali mengode temannya supaya menjalankan rencana mereka selanjutnya.
Naura dan Yuli pergi ke arah kamar mereka sedangkan Ira mengetuk salah satu kamar mahasiswa.
Tok tok tok
"Tolong! Tolong ada orang tenggelam!" ujar Ira menjalakan aksinya.
Dia dan temannya tidak mungkin membiarkan Mayu tenggelam terlalu lama. Takut juga mereka kalau mayu sampai meninggal, bisa panjang urusannya nanti.
Cklek pintu kamarnya dibuka cepat.
"Siapa yang tenggelam?" tanya Riana penghuni kamar itu.
"Ya ampun, gila kali ya itu orang. Udah tahu dingin, malah berenang. Ayo kita tolongin! Noni, panggil kakak Lia dan Rani! Mereka harus tahu ini." ujar Riana jadi kesal sendiri. Dia paling tidak suka sama mahasiswa yang tidak taat peraturan.
"Iya Ana." ujar Noni dan langsung berlari ke kamar seniornya, sedangkan Riana, Ira, dan teman satu kamar mereka yang lain berlari ke arah kolam renang.
"Mayu!" seru Riana dan tanpa pikir panjang panjang dia langsung melompat ke kolam renang.
Riana sangat tahu Mayu dan dia adalah teman terdekat dari laki-laki yang dicintainya.
Riana menarik tubuh Mayu ke pinggir. Kolamnya cukup dalam dan itu menghambat pergerakan Riana, meski dia termasuk pintar berenang.
Mayu tidak lagi sadar, siapa yang menolongnya. Dia sudah sangat lemas.
Melihat Riana kesusahan, Lely teman mereka yang lain juga ikut melompat ke kolam dan membatu Riana.
"Ira bantu tarik, Mayu!" pinta Riana.
Ira mengangguk dan membatu menarik tubuhn Mayu.
Ira diam-diam tersenyum senang melihat tubuh Mayu yang tidak berdaya.
Riana kembali naik dengan cepat dan membantu mengeluarkan air yang terminum oleh Mayu.
"Uhuk uhuk!" Mayu berusaha mengeluarkan air yang masuk kedalam perutnya. Hidungnya terasa sangat perih, tubuhnya juga masih sangat lemas. Mayu juga sangat kedinginan dan tubuhnya sampai menggigil.
"Gimana May, apa sudah lebih baik?" tanya Riana sambil membantu mengurut punggung Mayu.
Mayu menatap sayu Riana dan menganggukkan kepalanya perlahan. Dia sudah tidak ada lagi tenaga untuk berkata-kata.
__ADS_1
"Ya ampun siapa yang tenggelam? Lagian kenapa berenang malam-malam sih, kurang kerjaan banget! Buat repot saja!" ujar Lia yang baru datang sambil mengomel.
"Mayu yang tenggelam Kak," ujar Ira pelan.
"Mayu!" seru Lia lagi dan seketika menatap Mayu yang sudah tidak berdaya.
Ingin ngakak rasanya dia melihat keadaan Mayu yang begitu memperhatinkan. Puas dia melihat Mayu yang tidak berdaya. Rasa amarahnya pada Mayu seakan sudah terbalaskan.
"Heh Mayu, kamu ini gila atau gimana sih, kalau kamu itu gila, jangan saat bersama kita-kita juga dong. Lihatlah, gara-gara kamu waktu istirahat kami jadi terganggu." ujar Lia lagi. Dia bukannya buru-buru membantu Mayu tapi sempat-sempatnya mengomeli Mayu.
Ira lagi-lagi tersenyum puas dalam hatinya. Dia sudah bisa menebak akan hal ini, karena dia juga sangat tahu kalau seniornya juga tidak suka sama Mayu.
Mayu hanya diam, dia bahkan tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Lia. Tubuhnya benar-benar tidak lagi berdaya.
"Untuk semua yang di sini, ingat, kejadian ini tidak boleh ada yang tahu selain kita!" ujar Lia lagi. Lia benar-benar tidak mau Alga sampai tahu, biarkan saja Mayu menderita.
"Iya Kak," ujar Ira dan yang lainnya.
"Sekarang kita masuk. Mayu, kamu masih kuat jalan tidak, ayo masuk!" seru Lia lagi tidak berperasaan sama sekali. Dia juga tidak ada niatan membantu Mayu.
"Biarkan kami yang membantu Mayu Kak." ujar Riana. Riana sebenarnya heran pada seniornya, dia bukanya buru-buru menolong Maya, tapi masih sempat-sempatnya mengomeli Mayu. Padahal keadaan Mayu cukup memperhatinkan. Nyesal dia sudah mengadukan masalah ini pada seniornya yang tidak memiliki perasaan itu.
"Bawa Mayu ke kamar kita saja, Riana. Gue juga mau minta baju ganti Mayu dulu." ujar Noni. Noni juga cukup kesal atas apa yang dilakulan seniornya, bukannya buru-buru menolong Mayu, tapi sempat-sempatnya mengomel. Ok, Mayu memang salah, tapi dia sangat berhak mendapatkan pertolongan terlebih dulu, bukannya omelan.
Sementara itu Lora dan Shinta tampak tidak bisa tidur di kamar mereka. Mereka masih menunggu kedatangan Mayu yang tidak juga kelihatan batang hidungnya.
"Ternyata benar kata orang, ya Lor. Cinta itu bisa merubah semua orang, dan termasuk Mayu. Mayu yang biasanya paling tidak suka begadang kalau tidak ada cuannya, tapi ini karena kak Alga, dia sampai rela begadang. Padahalkan di luar sana pasti sangat dingin, di dalam kamar saja, masih terasa dinginnya." ujar Shinta.
"Gue juga kalau punya yayang seperti kak Alga, rela begadang tiap malam gue. Hanya saja yang gue khawatirkan nih, Mayu ngamar bersama kak Alga, mana ini suasananya sangat mendukung, pasti asoy banget lah untuk melakukan itu." ujar Lira malah membayangkan yang iya-iya.
"Itu enggak mungkin banget Lora, jangan ngaco lo. Mayu bukan perempuan seperti itu. Dia sangat menjaga dirinya." seru Shinta tidak tidak terima.
"Gue tahu, tapi kata teman-taman yang udah pengalaman nih ya, saat pacaran itu kita bisa dengan mudah terperdaya oleh setan. Kita awalnya memang tidak ingin melakukannya, tapi kalau si setan itu udah masuk, lama-lama jadi ingin dan akhirnya ketagihan. Ingat Shinta, gue bukan menuduh, tapi gue juga sangat tahu kalau Mayu itu hanya manusia biasa, dan dia bisa terperdaya sama yang namanya setan. Gue sih maklum-maklum saja kalau Mayu sampai melakukannya dengan kak Alga. Kak Alga mendekati sempuarna begitu, sangat wajar kalau Mayu bisa tergoda pada, itu berarti Mayu normal Shinta." jelas Lora.
"Tetap saja gue enggak yakin Mayu mau melakukan itu, kita memang mudah terperdaya sama setan, tapi kita masih punya iman serta akal yang sehat, dan untuk Mayu sendiri gue yakin dia punya iman yang kuat." ujar Shinta mantap.
"Benar juga sih. Apalagi Mayu itu sangat sayang sama neneknya, dia pasti tidak mau membuat neneknya kecewa."
"Nah itu lo tahu."
"Terus mereka ngapin dong? Kenapa belum balik kamar juga?"
"Mungkin kiss sedikit, itu boleh lah, tadi saja kak Alga sudah berani nyosor duluan." ujar Shinta jadi teringat kembali dengan kecupan di pipi itu.
"Iya ya, enak banget sih itu Mayu bisa merasakan bibir kak Alga. Gue kapan ya kira-kira?" ujar Lora mulai berhayal.
"Gue juga, kapan ya kira-kira bisa merasakan itu?" ujar Shinta ikut-ikutan berhayal.
Tok tok
Shinta dan Lora seketika tersadar dari lamunan.
"Pasti Mayu, akhirnya balik juga itu anak." ujar Shinta kemudian bangun dari ranjangnya.
Cklek
"Loh Noni. Ada apa Non?" tanya Shinta heran begitu melihat Noni yang datang dan bukan Mayu.
"Gue mau minta baju ganti Mayu dong. Dia tenggelam di kolam."
__ADS_1
"Apa?"