Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Kabar Baik Dari Alga


__ADS_3

"Asik asik! Kita udah punya donatur tetap dong sekarang. Mantap!" ujar Lora semangat sambil memakan ayamnya.


"Ralat Lora, bukan donatur tetap kita tapi donatur tetap Mayu dong." protes Shinta.


"Ya kan Mayu juga donatur kita, itu berarti baik Mayu atau Kak Alga sama saja donatur kita dong." ujar Lora tidak mau kalah.


"Benar juga sih. Eh tapi sebelumnya terima kasih banyak Kak Alga sudah dibawakan banyak makanan. Kalau bisa sering-sering ya Kak, 2 hari sekali juga boleh atau 2 kali seminggu juga tidak masalah. Shinta yakin kalau hanya untuk beli makanan tidak akan berarti apa-apa bagi Kak Alga, tapi itu sangat berarti bagi kami, para mahasiswa kere ini." ujar Shinta lagi.


"Enggak Sayang, aku enggak setuju kalau Alga sering-sering bawa makanan enak untuk kita. Itu pemborosan namanya dan tidak baik juga untuk kesehatan. Aku akan lebih setuju kalau Alga belikan rumah baru saja untuk kita." ujar Yudha membuat semua mata seketika menatapnya.


"Maksudnya rumah baru apa Kak Yudha?" tanya Mayu.


"Begini May, produk Maga Wear yang kita hasilkan kan niatnya tidak hanya sekedar pakaian dalam saja. Tapi kita juga mau membuat baju tidur dan lain sebagainya, dan kalau semuanya di produksi di rumah ini, sudah jelas tidak akan muat. Sekarang saja barang-barangnya sudah mau penuh, padahal ini untuk produksi pakaian dalamnya saja kita belum maksimal, dan masih ada beberapa model lain juga yang belum kita produksi. Jadi saya rasa kita butuh tambahan tempat lain. Enggak dalam waktu dekat ini juga tapi beberapa bulan ke depan saya rasa kita sangat membutuhkan itu." jelas Yudha.


"Setuju gue Yud, kasihan nenek juga gue kalau rumah ini terlalu dipenuhi banyak barang. Nenek juga pasti butuh tempat yang nyaman." tambah Alga.


"Nah itu dia. Kita saja yang muda-muda ini kadang merasa pengap, apalagi nenek. Lagian kalau beli rumah itu enggak rugi, dan bisa dibilang itu adalah investasi yang sangat menguntungkan, karena harganya akan tambah mahal setiap tahunnya. Gue juga karena enggak punya uang saja, kalau punya enggak akan mikir panjang gue, hari ini juga gue akan beli rumahnya." ujar Yudha lagi.


"Iya Yudha gue juga sangat tahu itu, gue juga enggak keberatan sama sekali membelikan rumah untuk kalian. Hanya saja kan kalian tahu bukan, bagaimana hubungan gue dan mami. Gue hanya enggak ingin dia kembali berulah hanya karena rumah itu. Untuk itu gue mau membicarakannya dengan papi dulu dan mau buat surat perjanjian juga supaya tidak ada masalah di kemudian hari." jelas Alga.


"Setuju Al, kita lebih baik berjaga-jaga dari awal, takutnya nanti kita sudah nyaman tinggal di rumah baru itu, eh malah disuruh pindah, kan sakit." ujar Rangga dan diakhiri dengan memperlihatkan wajah memelasnya.


"Lebay lo!" ujar Alga cepat dan yang lainnya hanya tersenyum saja.


"Berarti ini sudah deal ya Al masalah rumahnya?" tanya Yudha.


"Iya Yudha, beres kalau soal rumah. Eh tapi kalian mau rumah yang gimana dulu, mau rumah yang dipinggir jalan juga seperti rumah ini, atau mau yang gimana?" ujar Alga balas bertanya.


"Menurut kamu gimana May?" ujar Yudha.


"Kalau untuk rumah produksi sih menurut Mayu, tidak dipinggir jalan besar juga tidak masalah, yang terpenting bisa masuk mobil dan kalau bisa lokasinya tidak jauh dari rumah ini Kak. Supaya enggak makan waktu kalau harus bolak-balik, itu saja." ujar Mayu.


"Setuju. Sama satu lagi Al rumahnya sederhana juga tidak masalah yang penting ada halamannya. Biar kalau lagi bongkar muat barang tidak terlalu ribet dan tidak buat macet juga." saran Rangga.


"Ok saran diterma."


"Ah iya Ka Alga, mumpung waktunya juga masih cukup lama, gimana kalau beli tanah kosong saja dan bangun sendiri rumahnya. Tidak jauh dari sini ada dijual tanah seluas 500 meter. Menurut saya kalau tanah itu dibangun rumah, cukup bagus untuk dijadikan rumah produksi dan buat buka tempat usaha juga. Meski jalannya enggak lewat angkot tapi cukup banyak juga yang jualan di sekitar situ." ujar Irpan.


"Boleh juga itu, besok kalau kamu lewat dari situ lagi, tolong ambil foto dan videonya saja. Supaya bisa saya jadikan bahan pertimbangan nantinya!" suruh Alga.


"Gampang kalau soal itu Kak, setiap hari saya lewat situ. Rumah saya lebih dekat kalau lewat jalan itu."


"Bagus dong kalau begitu. Kalau kamu tidak keberatan sekalian tanya harganya saja dan kalau bisa tanya langsung pada pemiliknya, biar lebih mudah juga transaksinya." pinta Alga.

__ADS_1


"Siap Kak." jawab Irpan mantap.


"Masalah rumah baru berarti sudah deal ya, dan tinggal semangat lagi ini yang perlu ditambahkan. Jangan sampai nanti rumahnya sudah ada, peralatan dan bahan juga sudah ada, tapi malah gagal produksi karena sepinya orderan." ujar Rangga.


"Semangat kami selalu membara ya Kak. Di kampus saja, kami ada dapat beberapa pesanan loh. Bahkan sama dosen saja kami sudah promo dan ada satu dosen juga yang mau pesan. Begitu juga saat kami sampai di sini, kamu langsung buka live jualannya. Hanya Mayu saja yang enggak ikut karena harus belanja ke tanah abang dan harus antar barang juga ke toko yang satunya." ujar Lora.


"Baguslah kalau begitu, saya suka semangat kalian dan lanjutkan!" ujar Rangga lagi.


"Siap Kak!" ujar Lora mengacungkan jempolnya.


"Ah iya biar semangat kalian lebih membara lagi, saya mau memberitahukan kabar baik untuk kalian semua." ujar Alga.


"Apa itu Kak?" tanya Mayu dan teman-tamannya semangat.


"Sebentar." ujar Alga.


Alga kemudian mencuci tangannya dan mengelapnya pakai tisu. Selanjutnya dia mengambil tasnya kemudian mengeluarkan satu map dari dalam tasnya.


"Kak Alga mau melamar kerja di sini?" tanya Shinta cepat dan langsung dapat pukulan gemas dari kekasihnya. Ada-ada saja ini pertanyaan Shinta, Alga enggak mungkin lah melamar kerja, justru dia yang menyediakan lapangan kerja.


"Hehe ...." Shinta hanya tertawa.


"Untuk apa map itu Kak?" tanya Mayu penasaran.


"Apaan sih Kak Alga?" ujar Mayu tersenyum Malu, sedangkan Rangga langsung mengadu pada nenek Iroh.


"Nek lihat itu calon cucu menantunya, sudah semakin berani dia sekarang." seru Rangga.


"Tidak apa-apa kalau hanya kecupan di pipi nak Rangga, kalau lebih dari itu baru tidak boleh." ujar nenek Iroh dan langsung mendapat acungan jempol dari Alga.


"Nah itu dia Nek. Nenek memang paling best dan mengerti Alga. I love Nenek and i love you juga Ayang." ujar Alga semangat membuat yang lainnya memberi sorakan padanya.


"Bucinnya lagi kumat teman-teman!" seru Yudha.


Mayu dan yang lainnya hanya tertawa saja. Beginilah kalau sudah kumpul ada saja yang menjadi bahan candaan mereka.


"Tawanya sudah kan Ay, sekarang kamu bisa buka mapnya!" ujar Alga setelah tawa Mayu dan yang lainnya mereda.


"Iya Kak," ujar Mayu mantap. Dia juga sudah sangat penasaran akan isi map itu.


Mayu juga tidak mencuci tangannya dan menyingkirkan piringnya yang sudah kosong.


"Ini maksudnya apa Kak?" tanya Mayu bingung, tapi dia juga semakin penasaran begitu melihat ada nama David Antonius tertulis di bagian paling atas.

__ADS_1


Lora dan yang lainnya juga sama penasarannya. Lora bahkan langsung pindah duduk ke samping Mayu dan ikut mengintip apa isi map itu.


Lora malah lebih bingung dari Mayu, begitu membaca nama-nama yang sangat asing itu.


Alga menatap tersenyum pada kekasinya kemudian mengacak gemas rambut panjang Mayu. Dia sangat mengerti kebingungan kekasihnya.


"Ini adalah nama-nama semua karyawan kantor Pratama group dan yang di sampingnya ini adalah ukuran pakaian dalam mereka. Dan kenapa aku memberikan ini pada kamu, itu karena papi mau pesan pakaian dalam Maga Wear untuk mereka semua." jelas Alga membuat Mayu dan yang lainnya seketika melotot karena terkejutnya.


"I-ini benaran Kak?" ujar Mayu sampai gugup karena terkejutnya.


"Beneran dong Ay, kalau untuk urusan bisnis aku enggak mungkin main-main." ujar Alga mantap.


Tes


Air mata Mayu seketika terjatuh tanpa bisa dia cegah. Ini adalah kabar yang Alga sampaikan, penuh dengan kebahagiaan untuk Mayu.


Kabar bahagia pertama, Mayu akhirnya bisa memberikan pada daddnya produk Maga Wear. Kabar bahagia kedua, tentu saja karena pesanan itu berasal dari papi Alga alias calon mertua. Walau dia tidak bicara secara langsung pada Mayu, tapi Mayu anggap itu adalah bentuk dukungan dari Pratama, dan yang terakhir tentu saja karena pesanannya sangat banyak. Tentu saja itu adalah permulaan yang sangat bagus untuk Maga Wear.


Alga yang tahu apa yang dirasakan oleh kekasihnya membawa Mayu ke dalam pelukannya, dan mengusap sayang rambut Mayu.


"Terima kasih Kak Alga," lirih Mayu.


"Iya Sayang, sama-sama. Jangan nangis dong, ini kan kabar bagus!" ujar Alga.


"Ini tangis kebahagiaan Kak Alga," lirih Mayu lagi.


Shinta dan yang lainnya juga ikut menganggukkan kepalanya. Mereka juga sabgat bahagia, sama halnya dengan Mayu.


Lora bahkan sudah pindah duduk ke samping nenek Iroh dan memeluk nenek Iroh karena senangnya.


"Terima kasih juga ya Al, gue benar-benar tidak menyangka kalau Tuan Pratama, mau pesan Maga Wear untuk semua karyawannya." ujar Rangga.


"Iya sama-sama. Anggap saja itu dukungan dari papi untuk kalian semua. Biar kalian makin semangat lagi dan Maga Wear juga semakin maju lagi." ujar Alga.


"Itu sudah pasti Al, melihat pesanan segitu banyaknya, sudah pasti semangat kami akan lebih membara lagi. Hanya saja waktunya enggak mepet kan Al? Berhubung ini untuk karyawan Pratama, gue ingin kami memberikan yang terbaik Al, karena kami berharap mereka pesannya tidak hanya sekali ini saja, tapi untuk selanjutnya juga." ujar Rangga lagi.


"Tenang saja, gue minta waktu sebulan, karena gue tahu kalian juga tidak hanya mengerjakan pesanan itu saja."


"Benar sekali Al, dan gue rasa waktu sebulan itu sudah pas lah itu. Eh tapi kami minta uang muka sebagian boleh kan Al? Ini bukan karena kami tidak percaya pada lo, tapi lo tahulah bagaimana modalnya Mayu. Ditambah lagi kemungkinan besar Mayu harus beli mesin tambahan lagi, dan paling enggak harus tambah 1 atau 2 orang karyawan baru lagi." ujar Yudha.


"Beres kalau soal itu, gue juga rencananya mau bayar setengahnya dulu untuk kalian." ujar Alga yang tidak keberatan sama sekali. Dia juga cukup mengerti keadaan Mayu dan yang lainnya.


"Nah itu dia yang kami harapkan Al. Lo memang best banget deh Al. Terbaik pokoknya." ujar Yudha lagi dan mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Mayu juga menganggukkan kepalanya setuju dengan Rangga. Beruntung banget memang dia memiliki Alga dalam hidupnya. Alga tidak hanya mendekati sempurna, tapi dia juga sangat mendukung Mayu dan teman-temannya.


__ADS_2