Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Kabar Bahagia Untuk Lisa


__ADS_3

"Yayah!" panggil Lisa.


Alga yang sedang asik nonton di ponselnya bersama Mayu, menghentikan kegiatannya dan menoleh pada anaknya begitu juga dengan Mayu. Mayu bahkan langsung mengambil ponsel suaminya dan menyembunyikannya. Dia tidak mau Lisa minta ponselnya. Mereka enggak ingin anaknya ketergantungan pada ponsel.


"Kenapa Cantik?" tanya Alga sambil mengode anaknya supaya mendekat padanya.


"Akak Lio, kakal Yayah." ujar Lisa mengadu.


"Kak Rionya nakal kenapa, dia marah pada Lisa?" tanya Alga dan membawa Lisa duduk dipangkuannya. Alga juga tidak lupa merapikan rambut panjang anaknya yang diikat ekor kuda.


"Akak Lio nono Lica main dedek. Lica angan ekat-ekat dedek, ninih dedek akak Lio, tutu Yayah." cerita Lisa dan bibirnya sampai manyun. Dia benar-benar sedih gara-gara diusir Rio dan tidak diperbolehkan dekat dengan bayi mungil itu.


"Enggak apa-apa cantik, nanti kak Rio pasti ngebolehin Lisa main lagi sama dedek. Makanya Lisa juga jangan ribut dekat dedek, Lisa juga jangan gangu dedek kalau lagi bobok." ujar Alga beralih mengusap pipi anaknya biar enggak cemberut lagi.


"Lica nono anggu Yayah. Lica au dedek." ujar Lisa dan mau menangis.


Alga menoleh pada istrinya, dia benar-benar tidak tega setiap kali Lisa merengek minta adik.


Mayu juga merasakan hal yang sama dan dia bingung bagaimana cara menghibur anaknya.


Alga kembali menatap anaknya.


"Lisa yakin mau dedek?" tanya Alga.


"Akin, Yayah." ujar Lisa mantap.


"Sebesar apa yakinnya?" tanya Alga lagi.


"Becal cekali Yayah. Becal otel." ujar Lisa lagi membuat Alga dan Mayu tersenyum karena begi Lisa paling besar adalah hotel.


Mayu pernah bilang padanya gunung lebih besar tapi dia tidak percaya. Entah dia tidak percaya atau tidak mengerti, Mayu juga tidak begitu paham.


"Besar sekali dong ya?" ujar Alga lagi.


"Yaya Yayah."


"Ok berhubung keinginan Lisa besar sekali ingin punya adik, Lisa usap perut bunda!" suruh Alga membuat Lisa seketika menatap bingung padanya.


Alga tersenyum melihat wajah bingung anaknya dan dia memberikan kecupan di pipi Lisa.


"Lisa dengarkan Ayah. Lisa pernah lihat perut aunty Vivi besar?" tanya Alga.


"Yaya Yayah, pelut anti Pipi becal telus ecil agi." ujar masih ingat jelas beberapa minggu lalu perut Vivi sangat besar lalu sekarang sudah mengecil. Dan Lisa yakin itu bukan karena auntynya malas makan. Lisa bisa melihat kalau auntynya malah semakin banyak makan akhir-akhir ini. Lisa juga sering sekali dibagi makanan enaknya.


"Lisa tahu enggak kenapa perut aunty Vivi bisa begitu?" tanya Alga lagi.


"Nono Yayah,"


"Itu karena dedek bayi yang tadinya ada di perut aunty Vivi sudah lahir dan itu adalah dedek bayi atau dedek Davina." jelas Alga membuat Lisa seketika menatap perut buncitnya.


"Yayah pelut Lica becal, pelut Lica ada dedek bayi Yayah?" tanya Lisa dengan polosnya dan menunjuk perutnya.


Alga dan Mayu mau ngakak mendengarnya. Ada-ada saja ini pemikiran anaknya.

__ADS_1


"Kalau di perut Lisa, enggak bisa ada dedek bayi Cantik. Lisa kan masih kecil, yang bisa ada dedek bayinya ya di perut bunda." ujar Alga lagi sebisa mungkin menjelaskannya pada Lisa.


"Pelut Yayah?" tanya Lisa lagi menunjuk perut Alga.


Alga dan Mayu lagi-lagi tersenyum mendengarnya. Ini anaknya rasa ingin tahunya besar sekali.


"Perut Ayah juga enggak ada dedek bayinya sayang. Lisa tahu enggak kenapa?" tanya Alga lagi.


"Nono Yayah."


"Itu karena Ayah enggak punya mimik besar seperti bunda dan aunty Vivi." ujar Alga dan langsung mendapat pukulan gemas dari istri tercintanya. Ini Alga mengajari anaknya enggak benar sekali, walau itu memang faktanya.


Lisa menatap daada Alga, juga dadanya sendiri dan beralih pada bundanya. Dia juga menatap ke arah Vivi yang tengah menyusu anaknya.


"Yaya Yayah, Lica, Yayah nono mimik becal." jawab Lisa dengan polosnya.


"Itu dia, makanya dalam perut Lisa dan ayah enggak ada dedek bayinya. Dedek bayinya bisa tumbuh dalam perut bunda saja. Itu juga kalau Lisa doa sama Allah. Lisa mau doa sama Allah biar di perut bunda ada dedek bayinya?"


"Au Yayah," ujar Lisa dan itu terlihat sangat tulus. Keinginannya ingin punya dedek seperti dedeknya Rio memang besar sekali.


"Bagus, ya sudah sini Ayah ajari Lisa!" ujar Alga sambil menarik pelan tangan anaknya dan membawanya ke perut Mayu.


"Lisa bisa usap perut Bunda, terus bilang depan perut Bunda. Ya Allah, Lisa mau dedek bayi, berikan dedek bayi dalam perut bunda ya Allah!" ujar Alga mengajari anaknya.


Lisa menurut dan mengusap pelan perut bundanya.


"Ya Allah, Lica au dedek bayi, belikan dedek bayi alam pelut Bubun, Allah." ujar Lisa sangat serius.


Lisa juga refleks mengecup perut bundanya membuat Alga dan Mayu semakin haru dan mengusap sayang kepala Lisa.


'Semoga saja keinginan kita dikabulkan Allah ya Cantik, Bunda." batin Alga.


Alga kemudian mengecup rambut anaknya dan beralih mengecup kening isterinya.


***


Mayu menggosok-gosok matanya berharap apa yang dilihatnya tidak salah.


Garis merahnya benar-benar dua dan itu berarti Mayu tidak salah melihat.


Mayu menutup mulutnya dan matanya seketika berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa terharu juga bahagia. Akhirnya apa yang menjadi keinginannya juga keluarga kecilnya akhirnya kesampaian juga.


'Terima kasih ya Allah.' batin Mayu.


Mayu mengusap air matanya yang sudah jatuh tanpa bisa dia cegah. Ini adalah air mata bahagia Mayu untuk kesekian kalinya.


"Bun! Bunda! Bunda baik-baik saja di dalam kan? Keluar dong Bun! Walau hasilnya belum sesuai dengan harapan kita, tidak apa-apa kok Bun. Ayah tidak masalah. Bagi Ayah yang terpenting Bunda tetap sehat dan tetap bahagia tentunya." ujar Alga sambil mengetuk pintu kamar mandi. Dia khawatir karena Mayu belum keluar juga dari tadi.


Alga sangat tahu apa yang dilakukan istrinya di dalam sana. Mayu memang sudah beberapa kali melakukan itu dan hasilnya selalu tidak seperti yang mereka harapkan. Walau begitu mereka tidak pernah menyerah dan selalu berusaha tentunya.


"Bun! Bunda!" panggil Alga lagi saat Mayu belum keluar juga.


Cklek pintu kamar mandi terbuka dan tampak Mayu sedang menangis dan berlinang air mata.

__ADS_1


Alga yang belum tahu arti tangis istrinya tampak menghela nafas dan membawa Mayu ke dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa Bun, kamu tidak perlu menangis. Ayah juga tidak akan marah atau pun kecewa. Mungkin Allah memang ingin kita berusaha lebih keras lagi Sayang dan dia masih menguji kesabaran kita." ujar Alga berusaha menenangkan istrinya. Dia juga mengusap sayang rambut panjang Mayu.


Mayu menggelengkan kepalanya.


"Enggak Yah, kali ini kita tidak perlu berusaha lagi." lirih Mayu dan air matanya terus mengalir membasahi wajah cantiknya.


Alga tampak terkejut mendengarnya dan melepas pelukan istrinya. Alga menatap istrinya dan mengusap air mata Mayu. Alga tentu tidak setuju dengan kata-kata istrinya karena menurut Alga mereka tidak pantas menyerah. Usaha yang mereka lakukan untuk Mayu bisa hamil lagi juga baru satu tahun. Masih terbilang singkat.


"Loh kenapa begitu Bun? Ingat Allah itu tidak suka kalau kita gampang menyerah. Ayah enggak suka deh kalau Bunda mudah menyerah begini. Dimana Mayunya Ayah yang dulu, yang selalu bersemangat dan tidak kenal kata menyerah." ujar Alga menasehati istrinya. Alga jelas tidak suka pada Mayu yang gampang menyerah, karena dari dulu sampai sekarang Alga suka semangat Mayu.


Mayu menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu Yah, tapi ini." ujar Mayu kemudian menunjukkan hasil tespeknya pada Alga.


Alga beralih menatap tespek yang ditunjukkan istrinya. Dia kemudian mengambil perlahan tespek itu.


"Bun! Ini serius Bun?" tanya Alga antusias dan menatap tidak percaya pada garis 2 itu.


Mayu mengangguk mantap dan kembali meneteskan air matanya.


"Ya Allah terima kasih ya Allah. Terima kasih juga Bunda." ujar Alga yang juga ikut terharu dan kembali membawa Mayu ke dalam pelukannya.


"Ayah sangat bahagia Bun. Ini benar-benar kejutan untuk Ayah, Lisa juga pasti akan sangat bahagia. I love you much Bunda." ujar Alga kemuduan mengecup dalam rambut istrinya.


Alga benar-benar tidak menyangka kalau pagi ini adalah pagi yang membahagiakan untyknya dan keluarga kecilnya. Keinginan terbesar mereka satu keluarga akan segera terwujud.


"Alga kemudian berlutut di depan istrinya dan menyamakan tingginya dengan perut Mayu. Alga mengecup dalam perut istrinya.


"Terima kasih Sayang sudah hadir dalam perut Bunda. Ayah, bunda dan kak Lisa sangat mencintai dedek." uhar Alga depan perut istrinya.


Mayu tersenyum haru mendengarnya.


***


"Lisa sini deh Cantik," ujar Alga begitu dia dan Mayu turun ke lantai satu rumahnya dan mendapati Lisa sedang bercanda dengan opanya.


Sejak Lisa diberitahu kalau dia juga bisa punya dedek dari bundanya, Lisa tidak begitu menangisi Devina. Dia hanya akan mengusap perut bundanya dan bicara depan perut Mayu. Hanya sesekali saja dia minta main ke rumah sepupunya itu.


"Napa Yayah?" tanya Lisa menghampiri ayan dan bundanya.


"Sini dekat sama bunda dan pegang perut Bunda!" suruh Alga lagi dan Lisa menurut saja karena dia sudah biasa melakukannya.


"Sekarang dalam perut bunda sudah ada dedek Lisa. Say hallo pada dedek Sayang!" ujar Alga dan tampak bahagua di wajahnya.


"Dedek Lica, Yayah? Allo Dedek hihi ...." ujar Lisa girang dan mengusap semangat perut Mayu. Lisa juga mengecup dalam perut bundanya.


"Al, Mayu benaran lagi hamil anak kedua kalian?" tanya Pratama. Dia mendengar semua yang dikatakan anaknya.


"Benar Pi," jawab Alga mantap.


"Mayu, selamat Sayang." bukan Pratama yang bersorak tapi Dira. Dira bahkan langsung berlari pada Mayu dan keluarga kecilnya dan memeluk mereka. Dia sangat bahagia akan nambah cucu lagi. Rumahnya pasti akan semakin ramai lagi. Walau dia suka direpotkan sama para cucunya tapi Dira sangat bahagia. Sama halnya dengan Pratama dia juga tidak kalah bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2