Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Uang Pemberian David Antoniu


__ADS_3

Mayu menelan ludahnya begitu melihat isi amplop yang diberikan oleh papanya. Isinya uang dolar semua dan itu 50 dolar serta 100 dolar, jika dirupiahkan Mayu yakin jumblahnya pasti lebih dari 100 juta.


Tangan Mayu sampai bergetar, seumur hidupnya baru kali ini Mayu memegang uang sebanyak ini.


'Terima kasih Dad untuk uangnya, tapi kenapa Daddy memberi Mayu uang dengan cara seperti ini?' batin Mayu. Mayu sangat tahu orang-orang seperti daddy pasti jarang menggunakan uang cash. Kebanyakan pasti hanya pakai kartu dan sistim transfer saja.


Mayu kembali teringat dengan pembicaraannya bersama papa kandungnya.


'Hidup Daddy tidak seperti yang kamu pikirkan.'


Kata itu kembali terngiang-ngiang dalam benak Mayu.


"Kenapa Daddy berkata seperti itu ya? Aku jadi makin penasaran saja." monolog Mayu.


Tatapan Mayu beralih pada pada kertas yang berisikan nomor ponsel David.


Mayu mengambil perlahan kertasnya dan menatapnya.


Mayu ingin sekali menghubungi Daddy, tapi Mayu tidak mungkin melakukannya karena ingat pesan daddynya.


Mayu tiba-tiba mengangkat kepalanya. Bagaimana daddynya bisa tahu nomor poselnya. Mayu belum ada memberitahukannya. Jika begini ceritanya gimana Mayu akan bertemu dengan daddynya lagi?


Mayu kemudian memainkan kertasnya. Mayu menyesal kenapa tadi dia tidak buru-buru memberikan nomer ponselnya pada daddynya.


Kening Mayu seketika berkerut begitu melihat ada tulisan dibalik nomor ponsel itu.


[Besok pagi, sekitar jam sembilan, kamu bisa kirim pesan pada nomor Daddy, dan isinya, Pak berkasnya sudah dikirim!]


Kening Mayu semakin berkerut dan berbagai pertanyaan kembali muncul dalam benaknya.


Dilihat dari cara daddynya, sepertinya dia begitu berhati-hati dan tidak ingin ada sampai curiga.


Mayu sampai menggaruk kuat kepalanya yang tidak gatal. Seribet itu ternyata berurusan dengan orang kaya.


Mayu kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak boleh mengeluh dan dia harusnya bersyukur. Bukankah hari ini dia sedang mendapat sebuah keajaiban, yang mana papa kandungnya sudah tahu kalau dia adalah anak kandungnya dan papanya juga memberi dia uang. Harusnya Mayu fokus pada hal itu saja.


Mayu kembali menatap uangnya. Dengan uang itu, sebenarnya Mayu tidak perlu jualan lagi sampai dia lulus kuliah, karena uang itu sudah lebih dari cukup untuk uang kuliah dan biaya hidupnya dengan neneknya. Hanya saja Mayu bukanlah orang seperti itu, yang ada di otaknya kini justru Mayu ingin menggunakan uang itu buat modal dagang.


"Bagaimana caranya aku memberitahu pada nenek soal uang ini dan juga tentang daddy? Kalau misalkan nenek marah, aku harus bilang apa? Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membela daddy. Takutnya nenek malah marah padaku dan berpikir kalau aku ini matre. Hanya karena daddy memberiku uang, aku langsung luluh padanya. Padahal aku bisa luluh pada daddy bukan karena uang ini, tapi kerena aku memang merindukannya dan aku juga tidak bisa membencinya, meski selama ini dia tidak pernah perduli padaku." gumam Mayu.


Mayu tidak ingin menyembunyikan apa pun dari neneknya, karena menurut Mayu neneknya adalah orang pertama yang berhak tahu masalah ini. Hanya saja Mayu terlalu takut mengatakannya dan yang paling membuat Mayu takut, neneknya melarangnya bertemu dengan papa kandungnya lagi.


'Apa yang harus aku lakukan ya Allah?' batin Mayu.


"Mayu ... Mayu! kamu belum tidur Nak?" ujar Nenek Iroh tiba-tiba dan berusaha bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Mayu sangat terkejut mendengarnya dan buru-buru mengumpulkan uangnya dan dengan cepat memasukkan ke dalam amplop. Sayangnya nenek Iroh sudah keburu bangun dan melihat apmplop yang dipegang Mayu.


Mayu menatap amplop dan neneknya bergantian.


Deg deg deg


Jantung Mayu tiba-tiba berdebar dengan cepatnya. Mayu juga memelan ludahnya gugup. Haruskah dia jujur tentang amplopnya atau berbohong saja? Tapi kalau Mayu berbohong, untuk seterusnya Mayu akan terus berbohong, dan yang namanya kebohongan itu suatu saat pasti akan ketahuan juga. Nenek pasti akan lebih kecewa lagi jika dia ketahuan berbohong.


"Amplop apa itu Nak?" tanya nenek Iroh menatap amplopnya dan Mayu bergantian.


Mayu tidak langsung menjawab. Tangannya semakin memegang kuat amplopnya seolah takut amplopnya diambil.


"Mayu! Nak!" panggil nenek Iroh lagi menyadarkan lamunan Mayu.


"I-ini amplop pemberian da-daddy David, Nek. Maafkan Mayu Nek, hari ini Mayu bertemu dengan daddy dan dia sudah tahu kalau Mayu adalah anaknya, tanpa Mayu yang memberitahukannya Nek. Sepertinya dia juga merasakan ikatan batin itu dan diam-diam menyelidiki tentang Mayu. Mayu benar-benar minta maaf Nek, Mayu tidak bisa membenci daddy, justru Mayu selalu merindukannya Nek. Mayu sayang Nenek juga daddy David." ujar Mayu apa adanya dan air matanya sudah jatuh tanpa disa dia cegah.


Mayu akhirnya melilih jujur saja, karena Mayu benar-benar tidak ingin neneknya marah dan kecewa padanya. Biar bagaimana pun bagi Mayu nenek Iroh adalah segalanya, dan apa pun akan dia lakukan, asal neneknya bahagia dan selalu ada disisinya.


Nenek Iroh tersenyum tipis kemudian mengusap air mata Mayu, membuat Mayu bingung, sekaligus ada perasaan lega karena senyum itu.


"Baguslah kalau kamu sudah bertemu dengan papa kandung kamu, tapi kenapa kamu malah menangis? Bukankah kamu harusnya tersenyum bahagia?" tanya nenek Iroh dengan raut wajahnya yang biasa saja dan tidak ada amarah di sana.


"Ne-nenek tidak marah Mayu bertemu dengan Papa?" tanya Mayu cepat.


Nenek Iroh tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


Nenek Iroh merasa lega akhirnya dia bisa mengatakannya pada Mayu tanpa perlu menyembunyikan lagi.


"Maksud Nenek, bagai burung hidup dalam sangkar emas apa Nek? Apa hidup Daddy selama ini terkekang?" tanya Mayu bingung.


"Dari cerita ibunya nak Rangga waktu itu, Nenek bisa menyimpulnya seperti itu. Hanya saja biar lebih jelasnya kamu bisa tanyakan sendiri padanya nanti. Apa kamu ada minta nomor teleponnya?"


"Daddy sendiri yang memberikannya Nek, dan itu ada dalam amplop ini. Tidak hanya nomor telepon, daddy juga ada memberikan Mayu uang Nek, dan itu jumblahnya tidak sedikit. Menurut Nenek apa Mayu salah menerima uang pemberian daddy?" tanya Mayu pelan dan menunjukkan amplopnya. Masih ada perasaan gugup di hati Mayu, takutnya neneknya tidak setuju Mayu menerima uangnya.


Nenek Iroh lagi-lagi tersenyum.


"Tentu saja tidak salah Nak, kamu adalah anak kandungnya dan sebagai anak kandung kamu tentu sangat berhak menerima uang dari papa kamu." ujar nenek Iroh mantap.


Mayu tersenyum haru mendengarnya. Ternyata neneknya mendukungnya dan sama sekali tidak marahnya padanya. Ternyata kejujuran Mayu membuahkan hasil yang begitu baik.


"Terima kasih Nek, terima kasih sudah mendukung Mayu." ujar Mayu kemudian memeluk neneknya.


Nenek Iroh balas memeluk erat cucunya.


"Nek hari ini Mayu sangat bahagia Nek." ujar Mayu.

__ADS_1


"Dan Nenek, ikut bahagia untuk kamu Nak. Semoga kebahagiaan ini akan selalu berpihak pada kamu ya Nak." ubar nenek Iroh tulus.


"Pada Nenek juga," ujar Mayu tidak mau kalah.


"Iya Nak,semoga kebahagiaan ini akan selalu berpihak pada kita ya Nak." ujar Nenek Iroh lagi.


"Amin." ujar Mayu mantap.


Mayu kemudian melepas pelukanya dan menatap tersenyum pada neneknya. Nenek Iroh juga melakukan hal yang sama.


Mayu kemudian mengecup sayang pipi neneknya yang sudah keriput, membuat senyum nenek Iroh mengembang.


"Mayu sayang Nenek." ujar Mayu begitu melepas kecupannya.


"Nenek lebih sayang kamu lagi Nak."


"Mayu lebih sayang Nek, lebih lebih pokoknya." ujar Mayu tidak mau kalah.


"Iya Nak iya," ujar nenek Iroh memilih mengalah dan mereka lagi-lagi tersenyum.


"Ah iya Nek, Nenek mau lihat uang pemberian daddy enggak Nek?" ujar Mayu teringat dengan amplopnya.


"Boleh Nak, dia memberikan kamu uang berapa?"


"Ini dia, Nek. Silahkan saja Nenek hitung sendiri!" ujar Mayu memberikan uangnya.


Nenek Iroh menatap bingung uangnya.


"Ini uang apaan, apa papa kamu itu memberikan kamu uang mainan?" ujar nenek Iroh dan terlihat tidak senang di wajahnya.


Mayu mau tertawa mendengar ucapan neneknya.


"Nenek, ini itu bukan uang mainan Nek, tapi ini adalah dolar, dan ini adalah uang 100 dolar dan jika dirupiahkan, satu lembar ini seharga 1 juta lima ratus ribu Nek." jawab Mayu.


"Serius kamu Nak? Berarti ini semua kalau dirupiahkan, banyak banget dong?" ujar Nenek Iroh tampak terkejut di wajahnya.


"Seharusnya sih seratus juta tidak boleh kurang ini Nek."


"Wah banyak sekali Nak. Terus uangnya mau kamu gunakan untuk apa Nak?"


"Sebagian buat ditabung, sebagian buat tambah modal. Mayu mau kontrak tempat buat jualan Nek, jadi Mayu juga tidak perlu pindah-pindah lagi. Dan sebagian lagi, Mayu mau traktir Nenek. Nanti kita nginap di hotel, terus kita makan di restoran Nek, kita jadi orang kaya untuk sehari Nek. Mau enggak Nek?" ujar Mayu yang tidak pernah lupa akan keinginan neneknya.


Selagi neneknya masih hidup Mayu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan membuat neneknya bahagia.


"Mau Nak, Nenek sangat mau." ujar nenek Iroh berkaca-kaca. Beruntungnya dia punya cucu seperti Mayu yang selalu memikirkan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Yes, kita akan jadi orang kaya Nek. Hotel bintang 5 kami datang!" seru mayu kemudian memeluk neneknya dan mereka kembali tersenyum.


__ADS_2