
"Lisa tunggu Oma Lisa!" seru Dira sambil mengejar cucu kesayangannya. Lisa yang kini usianya sudah 2 tahun sudah jago lari dan sudah pintar bicara walau masih cadel.
"Dedek Moma Dedek!" seru Lisa sambil menunjuk rumah Naura. Lisa senang sekali main sama Alina, anak Naura dan Alex yang kini usianya sudah 1 tahun.
"Iya dedek Lisa, tapi Lisanya jangan lari, takutnya ada mobil Lisa. Nanti Lisa ditabrak." seru Dira lagi.
"Nono," oceh Lisa dan terus berlari ke rumah di depannya.
Dira sampai mempercepat langkahnya karena takut ada mobil yang lewat.
Dira meraih tangan cucunya dan seperti biasanya Lisa memperlihatkan senyum moneynya. Senyum Lisa tidak pernah berubah walau anaknya semakin bertingkah.
Dira sampai kewalahan menjaganya, walau begitu dia tetap bersikukuh tidak mau memperkerjakan baby sitter. Dira mau menghabiskan hari tuanya untuk merawat cucunya. Lagian Lisa juga bukan cucu yang rewel, dia hanya enggak bisa diam saja. Diamnya kalau lagi tidur saja.
"Acemelekum," ujar Lisa begitu mereka sampai pintu.
Sindi yang kebetulan sedang menemani Lina main langsung tersenyum begitu mendengar suara cucu pertamanya.
"Waalsikumsalam Lisa. Masuk Lisa!" ujar Sindi dan Lina sudah bangun dari duduknya begitu mendengar suara sepupu alis bestinya itu. Lina juga sangat senang main dengan Lisa.
"Maacih Enma." ujar Lisa kembali berlari.
"Dedek!" seru Lisa dengan bahagianya dan Lina juga sudah merentangkan tangannya menyambut Lisa.
"Cacaca hihi ...." ocehnya dengan girangnya.
Lisa berlari pada Lina dan langsung memeluk erat Lina. Kelakukan mereka benar-benar memang seperti besti pada umumnya.
Dira dan Sindi hanya tersenyum saja melihat tingkah cucunya mereka.
"Dedek angen." ujar Lisa lagi begitu melepas pelukannya.
"Yayaya ...." oceh Lina asal iya saja. Kosa kata Lina belum terlalu banyak. Baru bisa bilang iya, no, mama, papa, makan, minum dan beberapa kata lainnya. Hanya saja kalau Lisa yang bicara dengannya dia seakan tahu saja apa maksud Lisa.
"Dedek main," ujar Lisa lagi.
"Yayaya," ujar Lina menunjukkan mainannya yang banyak dan berantakan.
"Oce main mama Lica ya!" ujar Lisa lagi dan mengambil mainan Lina.
Mereka asik main berduaan, kadang main bola, mobil-mobilan, masak-masakan dan lain sebagainya.
Melihat cucu mereka asik main, para nenek malah asik rumpi. Mereka tidak mau mengganggu kedua bayi itu.
"Sin kok kayak sepi ya?" ujar Dira tiba-tiba begitu tidak lagi mendengar suara berisik Lisa dan Lina.
"Benar Mbak, Lisa dan Lina tidak pernah tenang kalau lagi main. Sebentar Mbak, aku lihat dulu!" ujar Sindi kemudian bangun dari duduknya.
"Loh mereka enggak ada Mbak!" kaget Sindi begitu tidak lagi menemukan kedua cucunya di tempatnya mainnya.
"Kok bisa, kemana mereka? Cepat cari Sin!" ujar Dira dan ikut bangun dari duduknya.
Kemana perginya itu kedua cucunya.
"Lisa! Lin!" panggil Sindi dan Dira bergantian.
__ADS_1
Tidak ada suara dari kedua bayi itu.
"Bibi ada melihat Lisa dan Lina?" tanya Sindi pada pembantunya.
"Tidak ada Nyonya," jawabnya.
"Kemana ya mereka, tolong bantu cari mereka Bi, takutnya jatuh atau kejatuhan benda berat!" pinta Sindi.
"Baik Nyonya," jawabnya dan langsung meninggalkan pekerjaannya.
"Lisa! Lina!" panggil Dira dan Sindi lagi sambil mencari kedua cucunya.
Lisa dan Lina belum juga bersuara membuat kedua wanita itu semakin bingung juga khawatir.
"Mbak coba lihat ke halamanan depan Sin, talutnya mereka keluar tanpa sepengetahuan kita." ujar Dira.
"Iya, Mbak, aku biar cari di playground Lina saja." ujar Sindi dan mereka kemudian pergi ke arah yang berbeda.
"Lisa! Lina!" panggil Dira lagi begitu dia sampai di pintu. Dira mencari sekeliling teras juga halaman tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Lisa dan Lina. Dira mulai khawatir.
Dira jalan cepat ke arah gerbang dan mencari ke jalan raya. Dira menatap kiri dan kanannya dan hasilnya tetap nihil. Itu berarti Lisa dan Lina tidak ada keluar.
Dira kembali masuk rumah kembali.
"Gimana Sin apa sudah menemukan Lisa dan Lina?" tanya Dira lagi.
"Belum Mbak. Mereka tidak ada di playground dan di ruang tengah juga tidak ada. Aku mau priksa CCTV saja Mbak." ujar Sindi akhirnya.
"Ide bagus Sin." ujar Dira. Dira juga nyerah mencari Lisa dan Lina dan ini bukan pertama kalinya Dira kehilangan cucu kesayangannya itu. Di rumahnya juga sudah sering dia kehilangan Lisa. Apalagi rumahnya lebih besar dari rumah Sindi dan perabotanya juga lebih banyak. Lisa bisa dengan mudah bersembunyi.
Dira dan Sindi saling menatap dan mereka sama-sama tersenyum. Lagi-lagi mereka dikerjai oleh kedua cucu mereka.
Dira dan Sindi kemudian pergi ke kamar Lina dan membuka perlahan pintu kamar Lina.
Dira dan Sindi kembali saling menatap begitu melihat Lina dan Lisa asik makan pisang. Parahnya lagi itu pisang sampai ke kulit-kulitnya mereka makan. Muka mereka juga sudah belepotan. Kasihan sekali cucu mereka karena sukanya makan pisang sampai sembunyi-sembunyi begitu makannya.
Lisa tidak pernah dilarang makan pisang, tapi Mayu sudah mengingatkannya kalau dia tidak boleh makan pisang terlalu banyak. Apalagi kalau sampai berbagi dengan Lina. Mayu bukan sayang sama pisangnya. Mayu hanya enggak mau saja gara-gara pisang mereka sakit perut karena itu sering sekali terjadi. Lisa yang enggak mau makan lagi gara-gara kebanyakan makan pisang, begitu juga dengan Lina yang daya tahan tubuhnya belum sekuat Lisa.
Hanya saja Lisa sudah pintar. Dia sudah tahu bersembunyi demi bisa makan pisang. Mana dia anaknya lincah sekali. Dira meleng dikit saja, udah hilang saja itu Lisa.
"Ehem! Lisa!" ujar Dira sengaja berdehem dan memanggil cucunya untuk menyadarkan kedua bocah itu.
Lisa dan Lina menoleh.
Seperti maling yang takut ketahuan. Lisa buru-buru menari kulit pisang yang digigit Lina dan menyembunyikannya dibalik punggungnya. Lisa juga menundukkan kepalanya seolah takut ketahuan. Padahal dia jelas-jelas sudah ketahuan.
Dira dan Sindi sampai mau ngakak rasanya. Cucu mereka yang satu ini kenapa akalnya banyak sekali?
"Lisa menyembunyikan apa itu di tangannya cantik?" tanya Dira.
Lisa mengangkat tangannya yang kosong.
"Nono Moma. Lica nono mamam picang." ujar Lisa berbohong sekaligus buat pengakuan kalau dia habis makan pisang.
"Beneran Lisa tidak makan pisang, tapi kok Oma ada nyium wangi pisang." ujar Dira lagi dan menahan senyumnya.
__ADS_1
"Dedek Moma,"
"Apa dedek?"
"Dedek mamam picang." ujar Lisa malah menuduh Lina.
"Hanya dedek yang makan pisang, Lisa enggak?" tanya Dira lagi menatap cucunya.
"Ee ee mamam Moma," ujar Lisa pelan dan akhirnya mengaku juga.
Dira mau ngakak rasanya tapi berusaha dia tahan.
"Siapa yang nyuruh Lisa makan pisang?" tanya Dira lagi.
"Muyut Lica, Moma." ujarnya lagi membuat Dira seketika tertawa begitu juga dengan Sindi.
"Apa kata mulut Lisa?" Dira lagi-lagi bertanya.
"Picang enyak. Enyak cekali." jawab Lisa lagi membuat Dira kehabisan kata. Ini cucunya pintar sekali bicara.
"Ok Lisa, pisangnya memang enak, tapi Lisa enggak boleh main ambil saja. Lisa harus meminta izin pada Oma atau grandma!" ujar Dira mengingatkan cucunya.
"Moma nono, enma nono." ujar Lisa lagi.
"Oma bukan tidak boleh Lisa, kalau Lisa mintanya hanya 1 pasti boleh. Lain kali Lisa harus minta ya, Lisa enggak boleh asal ambil saja!" ujar Dira mengajari cucunya.
"Yaya Moma," ujar Lisa menurut. Entah itu asal iya saja, hanya Lisa yang paham itu.
"Pintar. Lisa juga jangan lagi makan di kamar. Makannya di sofa saja!"
"Yaya Moma,"
"Jangan iya-iya saja Lisa, tapi lakukan!"
"Yaya Moma,"
"Janji Lisa!"
"Yaya Momo,"
"Serius?"
"Ciyus," ujar Lisa lagi membuat Dira dan Sindi kembali tertawa. Sok serius sekali ini Lisa. Padahal besok dia lakukan lagi.
"Bagus. Sekarang Lisa minta maaf pada Oma. Lisa sudah buat salah sama Oma. Lisa Ambil pisang dan enggak memintanya pada Oma!" ujar Dira yang selalu berusaha mengajari cucunya bilang maaf dan terima kasih.
"Maap Moma," nurut Lisa dan itu kembali membuat Dira tetsenyum.
"Bagus. Sini peluk Oma!" ujar Dira merentangkan tangannya.
Lisa bangun dari duduknya kemudian memeluk erat omanya.
"Moma!" panggil Lisa dan melepas pelukannya.
"Kenapa Sayang?" tanya Dira.
__ADS_1
"Mau picang Moma!" ujar Lisa dengan wajah polosnya dan Dira langsung menepuk keningnya. Baru juga diingatkan, sudah minta lagi ini cucunya. Padahal menurut Dira buah pisang tidaklah semenarik itu, tapi entah kenapa Lisa bisa sesuka itu pada pisang.