
Kedatangan Alga dan Lisa di kantor langsung menjadi pusat perhatian karyawan Pratama group. Mulai dari satpam, resepsionis, cleaning service, prsonalia dan yang lainnya menatap terang-terangan pada Alga dan Lisa.
Alga hanya menganggukkan kepalanya seperti biasa, sedangkan Lisa malah sibuk melambaikan tangan dan memamerkan senyum moneynya. Apalagi saat ada karyawan yang balas melambaikan tangan, Lisa semakin senang.
"Eh anak kecil yang baru saja dibawa Pak Alga, anaknya kan?" ujar salah satu karyawan Pratama.
"Tentu saja anaknya. Pak Alga kan sudah nikah dan katanya anak perempuan. Itu tadi perempuan, wajahnya juga mirip. Sudah pasti itu anaknya dan tidak mungkin salah lagi." balas karyawan lain.
"Benar juga. Anaknya cakep banget ya, pipinya gembul, rambutnya juga lurus dan panjang, Alisnya juga tebal, kulitnya juga bening banget, kayak boneka hidup." ujar karyawan itu lagi.
"Emak, bapaknya juga genteng dan cantik, jelas saja anaknya cantik. Jika anaknya jelek malah patut dipertanyakan." ujar karyawan lain.
"Benar juga, jadi ingin deh,"
"Ingin apa maksudnya?"
"Ingin dikawinin pak Alga biar dapat anak secantik itu. Pasti menyenangkan sekali punya anak secantik itu." ujarnya malah berhayal.
"Gila lo! Pak Alga ogahlah. Minimal tampang lo lebih cantik lah dari istrinya." seru karyawan itu lagi. Dia sangat tahu istri Alga. Selain cantik dia juga pebisnis, sangat cocok dengan Alga.
"Hei jangan salah ya, biasanya laki-laki yang memiliki Istri mendekati sempurna, pasti cari selingkuhan yang levelnya jauh di bawah istrinya." ujarnya lagi.
"Iya dan itu berlaku pada laki-laki bodoh dan tidak tahu bersyukur dan gue sangat yakin pak Alga bukan laki-laki bodoh. Malah dari yang gue dengar, dia tidak mau buru-buru duduk di kursi CEO karena tidak waktunya tersita banyak untuk bekerja. Dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk keluarga kecilnya." seru karyawan itu.
"Benar juga sih, ya gue juga hanya bercanda kali." ujarnya lagi.
Sementara itu Alga yang mereka bicarakan sudah sampai di depan ruangan direktur pemasaran atau lebih tepatnya ruangan Alga. Ruangan yang dia tempati satu tahun belakangan ini.
Melly sekretaris Alga langsung berdiri begitu melihat Alga datang.
"Selamat pagi Pak," ujarnya ramah dan tersenyum pada Alga.
"Pagi," jawab Alga biasa saja. Berbeda dengan Lisa yang menatap tidak suka padanya. Lisa tidak suka melihat perempuan lain senyum-senyum pada ayahnya, yang boleh senyum-senyum pada ayahnya hanya bundanya saja, itu juga kadang-kadang, karena Lisa juga terkadang suka posesif pada ayahnya.
"Melly!" panggil Alga.
"Iya kenapa Pak?"
"Sebelum kamu antar berkas dan bacakan jadwal saja. Kamu ke pantry dan minta ob bawakan air hangat ke ruangan saya!" suruh Alga.
Alga lupa bawa air minum Lisa, ini karena dia terburu-buru. Persiapan bekal Lisa jadi tidak lengkap.
"Untuk apa Pak?" tanya Melly yang belum menyadari kehadiran Lisa. Dia terlalu fokus pada Alga.
"Untuk anak saya," jawab Alga mantap.
"Anak Bapak?" beo Melly.
"Iya, ini anak saya, kamu tidak melihatnya." ujar Alga Lagi menatap ke arah bawah atau lebih tepatnya ke arah Lisa.
Melly mengikuti arah pandang Alga dan tampak terkejut di wajahnya begitu melihat Lisa.
"I-Ini anak Bapak?" tanya Melly begitu sadar dengan keterkejutannya.
__ADS_1
"Tentu saja, kamu enggak dengar dengan apa yang saya katakan. Kamu sebaiknya kerjakan apa yang saya minta." tegas Alga dan kembali menatap Lisa.
"Ayo cantik kita masuk ke ruangan Ayah." ujar Alga berkata lembut pada anaknya.
"Ciap Yayah," seru Lisa dan kembali mengikuti langkah ayahnya.
Melly masih diam di tempatnya dan menatap Alga dan Lisa yang perlahan tapi pasti hilang dari pandangannya.
'Tumben-tumbenan sekali pak Alga bawa anak, ada apa gerangan? Apa dia berantem dengan istrinya?' batin Melly.
Melly tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
'Mau Pak Alga berantem atau enggak dengan istrinya, itu tidak ada urusannya denganku, aku lebih baik fokus pada kerjaanku saja!' batin Melly lagi kemudian melakukan apa yang diperintahkan Alga.
Takutnya Alga marah kalau dia Lama. Alga tidak suka pada orang lelet.
"Selamat datang di ruangan kerja Ayah, Cantik." ujar Alga sambil meletakkan tasnya juga tas Lisa.
Lisa tidak menjawab, dia hanya menatap sekitarnya dan enggak ada yang menarik di ruang kerja ayahnya. Di sana hanya ada 1 set sofa dan meja kerja Alga. Tidak ada tempat bermain untuk Lisa.
"Lisa kenapa diam saja? Sini duduk!" ujar Alga lagi sambil menepuk sofanya.
"Lica mau puyang Yayah," ujar Lisa tiba-tiba membuat Alga menatap anaknya.
"Kenapa pulang, katanya Lisa mau main di kantor Ayah? Ini kantor Ayah, nanti akan jadi kantor Lisa kalau Lisa mau." ujar Alga lagi.
"Nono Yayah, nono main-main." seru Lisa lagi tidak setuju dengan ayahnya. Gimana Lisa mau main kalau mainannya saja tidak ada.
"Nono," ujar Lisa lagi. Lisa tidak terlalu suka nonton, hanya kadang-kadang saja dia mau. Dia lebih suka kalau diajak kerja. Apalagi diajak cuci baju atau cuci mobil, senang sekali dia.
Alga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia baru sampai, enggak mungkin dia pulang lagi. Walau tidak ada yang berani memarahinya, tapi Alga sangat paham tanggung jawabnya. Belum lagi kalau dia ada miting penting.
Tok tok tok
"Masuk!" suruh Alga.
"Permisi Pak, ini air hangat yang Bapak minta." ujar Melly.
"Letakkan di meja saya saja Melly!"
"Baik Pak," ujar Melly dan melakukan sesuai perintah Alga.
"Melly!" panggil Alga begitu Melly meletakkan airnya.
"Iya, ada apa Pak?"
"Tolong kamu temani anak saya main sebentar! Dia enggak suka di ruangan saya." suruh Alga dan beralih pada anaknya.
"Lisa main sama tante Melly dulu ya, Ayah mau kerja sebentar, nanti kalau kerjaan ayah selesai, Ayah antar Lisa pulang." ujar Alga.
"Nono Yayah," ujar Lisa tidak mau. Dia tidak suka melihat Melly.
Alga kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Kamu keluar saja Melly, anak saya tidak mau!" ujar Alga yang tidak mungkin memaksakan anaknya. Hasilnya hanya akan percuma saja.
"Baik Pak," ujar Melly.
Alga kembali menatap anaknya dan menarik nafas pelan. Gimana caranya biar anaknya tidak minta pulang?
Alga menganggukkan kepalanya begitu ada ide yang terlintas dalam benaknya.
"Lisa ikut Ayah sini!" ujar Alga mengulurkan tangannya. Alga ingat pesan papinya dan biarlah Alga merepotkan daddy mertuanya saja. Biasanya David cukup ahli dalam menangani Lisa.
"Puyang Yayah!" ujar Lisa menyambut uluran tangan ayahnya.
"Enggak, kita ke ruangan grandpa!"
"Enpa Apid?"
"Iya, biar dia marah sama Lisa. Lisa nakal." ujar Alga.
"Lica nono kakal Yayah, ante akal!" ujar Lisa tidak terima.
"Kenapa jadi tantenya yang nakal. Lisa yang nakal. Tahu gitu Lisa enggak usah ikut Ayah tadi." ujar Alga lagi sambil membuka pintu ruangannya.
"Yayah kakal!" seru Lisa lagi.
"Kenapa sekarang malah Ayah yang nakal? Jelas Lisa yang nakal. Gara-gara Lisa, Ayah enggak bisa kerja. Kalau Ayah enggak kerja nanti enggak ada uang buat beli susu untuk Lisa. Biar saja Lisa enggak usah minum susu sekalian." ujar Alga sambil jalan dan tidak perduli pada Melly yang sudah menatap heran padanya dan Lisa.
"Bubun kelja, Bubun beyik cucu Lica." balas Lisa dan ada saja jawabnya. Alga sampai tersenyum mendengarnya. Ini anaknya kalah debat susah dikalahkan. Ada saja jawabnya.
"Uang bunda enggak cukup buat beli susu untuk Lisa. Harus ditambah sama uang Ayah baru cukup." ujar Alga lagi. Padahal satu pabrik susu juga bisa istrinya beli.
Lida menatap ayahnya dan tampak berpikir.
"Lica minta popa, uang popa manyak." ujar Lisa teringat dengan opanya.
"Mana ada uang opa, opa saja enggak kerja." balas Alga lagi membuat Lisa kembali berpikir. Ada benarnya apa kata Alga, opanya seringnya di rumah saja dan jarang sekali pergi kerja, beda dengan ayah dan bundanya.
"Lica minta enpa. Enpa kelja telus." ujar Lisa lagi membuat Alga mau ngakak rasanya. Ini logika anaknya benar-benar jalan dan Alga sampai takjub dibuatnya.
"Minta saja kalau Lisa berani!" suruh Alga.
"Belani Lica." ujar Lisa mantap.
"Ok," ujar Alga kemudian menekan tombol lift. Ruang kerja David masih satu lantai lagi.
Alga kembali menutup lift begitu dia dan Lisa masuk.
"Lisa, sini Ayah gendong!" ujar Alga sambil merentangkan tangannya.
"No!" ujar Lisa tidak mau. Dia ngambek pada ayahnya.
Alga lagi-lagi mau ketawa melihatnya.
Niat hati Alga ingin membuat anaknya senang, ujung-ujungnya Lisa malah ngambek padanya.
__ADS_1