
Air mata Mayu seketika berhenti mengalir. Mayu menelan ludahnya dan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
"Pa-papa!" ujar Mayu tercekat.
Mayu hampir tidak percaya ini, bagaimana mungkin David Antonius berdiri di depannya dan menatap dalam padanya.
"Iya ini Daddy." jawabnya pelan dan terus menatap pada Mayu.
"Papa! Huwa ...." Mayu tanpa sadar teriak dan tangisnya seketika pecah. Mayu juga langsung memuk erat Davin.
Mayu tidak bisa berkata-kata lagi hanya tangis yang keluar dari bibirnya. Ini benar-benar mimpi Mayu yang menjadi nyata. Akhirnya dia bisa memeluk papa kandungnya setelah 19 tahun.
"Hikss ... Hikss ...."
Air mata David juga sampai terjatuh tapi dengan cepat dia mengusapnya kemudian memeluk Mayu.
Tidak hanya mimpi Mayu yang menjadi nyata tapi David juga. Akhirnya dia bisa memeluk anaknya. Anak yang terlahir dari wanita yang sangat dicintainya dan itu sampai sekarang.
"Maafkan Daddy, Mayu. Maafkan Daddy." lirih David dan semakin mengeratkan pelukannya.
Mayu tidak menjawab apa-apa, dia hanya terus menangis dalam pelukan David.
Setelah 5 menit mereka berpelukan dan Mayu hanya menangis dalam pelukannya, David terpaksa melepas pelukan anaknya. Waktu mereka tidak banyak dan David tidak mau kalau mereka sampai ketahuan. Nyawa Mayu bisa terancam.
"Pa-pa hikss ...." lirih Mayu menatap David dan tangis belum bisa dia hentikan. Mayu terlalu bahagia sampai tidak bisa lagi berkata-kata.
Mayu juga tidak menyangka kalau David tahu kalau dia adalah anaknya. Entah bagaimana David mengetahuinya dan kapan dia mengetahuinya, itu tidak lagi penting bagi Mayu, yang terpenting David sudah tahu kalau Mayu adalah anaknya.
"Iya Ini Daddy. Maafkan Daddy Mayu." ujar David lagi. Maaf dari Mayu sangatlah penting bagi David karena dia sadar kalau dia yang salah, dia yang egois.
"Papa tidak perlu minta maaf Pa. Mayu yakin, pasti Papa punya alasan kenapa Papa melakukan ini semua huu huu ...." ujar Mayu tersendu-sendu.
"Kamu benar Mayu, Daddy punya alasan kenapa Daddy sampai setega itu pada kamu dan mendiang ibu kamu. Daddy yang egois Mayu dan Daddy sangat menyesalinya. Daddy ingin menceritakan semuanya pada kamu." ujar David sambil menghapus sisa air mata Mayu dan Mayu tidak bisa memungkiri kalau dia merasa sangat nyaman dan sentuhan papanya.
"Iya Pa, Papa harus menceritakan semuanya pada Mayu."
"Tentu Mayu, tapi tidak sekarang." ujarnya kemudian menjauhkan tangannya dari wajah Mayu membuat Mayu merasa kehilangan kenyamanannya.
David Antonius merogoh sakunya dan mengambil amplop tebal dari dalamnya. Dia kemudian memberikan amplop itu pada pada Mayu.
"Ini, ambil dan kamu jangan berpikir macam-macam dulu pada Daddy. Untuk saat ini hanya ini yang bisa Daddy berikan pada kamu. Hidup Daddy juga tidak seperti yang kamu pikirkan Mayu." ujarnya sambil memberikan amplopnya.
Dia memang sudah menyiapkan amplop itu untuk Mayu karena dia yakin Mayu pasti akan datang malam ini.
Isi amplop itu juga dia kumpulkan sedikit demi sedikit dan tentu saja tanpa sepengetahuan Sindi isterinya.
__ADS_1
"Apa ini Pa?" tanya Mayu.
"Itu adalah uang dan di dalamnya juga ada nomor telepon Daddy. Hanya saja kamu jangan sampai hubungi Daddy duluan. Biar Daddy saja yang akan hubungi kamu duluan. Terlalu bahaya kalau sampai kamu ketahuan anak Daddy. Mereka semua itu licik, jadi kita harus bermain cantik. Sampai di sini kamu paham kan apa maksud Daddy?" jelas David.
"Iya Pa, Mayu paham. Terima kasih ya Pa."
"Sama-sama, kamu memang anak yang pengertian Mayu. Daddy sangat bangga pada kamu. Terima kasih kamu sudah tumbuh jadi gadis yang kuat." ujar David dan kembali membawa Mayu ke dalam pelukannya.
"Mayu pasti kuat Pa, dan setelah ini Mayu pasti akan lebih kuat lagi." ujar Mayu mantap.
"Iya Mayu, dan kamu sebaiknya panggil Daddy saja. Kamu dan Naura itu sama-sama anak Daddy dan Daddy tidak ingin membedakan kalian." pinta David.
"Iya Dad Daddy." ujar Mayu melepaskan pelukannya dan menatap tersenyum pada Davin.
David juga balas tersenyum pada Mayu. Sungguh perasaan David sangat lega. Pertemuannya dengan Mayu jauh dari apa yang dibayangkannya. Semula dia berpikir kalau Mayu akan marah padanya tapi kenyataannya Mayu justru memeluknya.
Anak yang tidak pernah ditemuinya dari lahir, benar-benar bisa bersikap dewasa dalam menghadapi masalah mereka, dan inilah yang David inginkan. Dengan sikap dewasa Mayu tentu akan mempermudah dia menyelesaikan semua masalah ini, karena sebenarnya dia juga tidak sepenuhnya bersalah. Dulu dia diancam dari berbagai sisi hingga akhirnya terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kata hatinya.
Tok tok tok
"Ay, apa kamu di dalam?" terdengar suara Alga mengetuk pintu.
Mayu seketika melotot dan David juga tampak tegang di wajahnya.
"Ada kak Alga Dad, bagaimana ini?" tanya Mayu panik tanpa suara.
"Dad, sebaiknya Daddy sembunyi dalam bilik kamar mandi saja!" ujar Mayu pelan dan dan langsung disetujui oleh Mayu.
Kelakuan mereka seperti orang takut ketahuan selingkuh saja, padahal mereka adalah ayah dan anak.
Setelah memastikan pintu bilik kamar mandi tertutup rapat, Mayu langsung berlari ke arah pintu. Takutnya Alga curiga kalau pintunya dibuka terlalu lama.
Mayu mengusap sisa air matanya dan merapikan penampilannya kembali. Mayu juga tidak lupa menyimpan amplopnya ke dalam tasnya. Setelah memastikan semuanya aman barulah Mayu membuka pintunya.
"Kak," ujar Mayu berusaha memperlihatkan senyumnya.
Grep
Mayu tampak terkejut saat Alga langsung menariknya kepelukannya dan memeluk Mayu erat.
"Maafkan aku Ay baru menghampiri kamu sekarang. Aku harus menemani mami potong kue. Mami dan yang lainnya tidak berkata macam-macam pada kamu kan Ay? Aku mohon Ay apa pun yang mereka katakan jangan pernah kamu masukin ke dalam hati Ay. Aku tidak mau Ay, kamu jadi berubah pikiran kerena mereka Ay. Aku tidak mau kehilangan kamu Ay." ujar Alga di pelukan kekasihnya.
Mayu melepas pelukannya dan menatap tersenyum pada Alga. Sebelumnya Mayu memang merasakan sakit atas apa yang dikatakan keluarga Alga, tapi sekarang semua rasa sakit itu sudah hilang dan digantikan dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Gimana dia tidak bahagia, dia akhirnya bisa memeluk papanya dan papa tertanya tahu akan keberadaannya. Justru Mayu ingin berterima kasih pada keluarga Alga, kalau bukan karena mereka, Mayu tidak akan mungkin bisa bertemu dengan papa kandungnya.
"Mayu enggak apa-apa Kak. Mayu baik-baik saja dan Mayu tidak masalah sama sekali atas apa yang mereka katakan. Kak Alga lupa, Mayu ini kan gadis yang kuat. Mayu sudah terbiasa mendengar omongan tidak baik yang ditujukan pada Mayu. Jadi Mayu biasa saja menanggapinya. Apalagi apa yang mereka katakan tidaklah benar." ujar Mayu terlihat begitu tenang dan ini tentu saja karena pengaruh papanya.
__ADS_1
Alga tersenyum lega mendengarnya. Apa yang dikhawatirkannya ternyata tidak terjadi. Mayunya tetap kuat dan ceria seperti biasanya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja Ay. Aku sangat lega mendengarnya dan teruslah seperti ini ya Ay. Aku percaya tidak akan selamanya kita di posisi terbawah, akan ada saatnya kita akan ada si posisi atas dan semakin atas, yang penting kita harus selalu bersama dan selalu saling percaya." ujar Alga meraih tangan Mayu dan menggenggamnya erat.
"Iya Kak. Kalau begitu, ayo kita let's go!" semangat Mayu dan sengaja. Ini supaya papanya bisa dengar kalau mereka sudah mau pergi.
Alga tersenyum.
"Semangat banget kamu Ay?" ujar Alga mencubit gemas wajah kekasihnya dan membawa Mayu keluar dari kamar mandi.
"Lapar Kak, mau makan." ujar Mayu tidak sepenuhnya bohong. Gara-gara Dira dan yang lainnya dia belum sempat makan dan sekarang Mayu sudah lapar.
"Tadi bukannya kamu sudah makan, kok masih lapar saja?"
"Aku belum sempat makan Kak, mereka sudah terlanjur datang."
"Ya sudah tidak apa-apa, kalau begitu kita akan pesan makanan lebih baik lagi. Mumpung gratis sayang kalau dilewatkan."
"Benar sekali Kak hehe ...." ujar Mayu tersenyum.
Alga juga ikut tersenyum kemudian menarik kepala Mayu dan mengecup rambut Mayu. Sungguh Alga benar-benar sudah jatuh hati pada kekasihnya. Apa pun akan Alga lakukan agar Mayu tetap di sampingnya.
David Antonius buru-buru keluar dari kamar mandi. Dia bernafas lega begitu melihat sekitarnya aman. Tanpa sadar dia tersenyum tipis. Dia sangat senang akhirnya dia bisa mengatakan pada Mayu kalau Mayu adalah anaknya.
Setelah ini dia dia harus pikirkan cara untuk membantu Mayu. Dia benar-benar tidak ingin melihat anaknya hidup dalam kekurangan, apalagi harga dirinya sampai diinjak-injak.
***
"Ak lagi Sayang!" ujar Alga dengan senang hati menyuapi Mayu.
Mayu juga dengan senang hati menerima suapan kekasihnya.
"Enak Kak, rasanya maknyos." ujar Mayu mengacungkan jempolnya.
Mereka berdua kemudian sama-sama tersenyum, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Alga dan Mayu juga tidak perduli pada Dira dan yang lainnya yang menatap kesal pada mereka berdua, dan apa yang terjadi di meja Alga benar-benar di luar dari prediksi mereka.
Padahal mereka pikir Mayu dan Alga akan berantam karena apa yang mereka katakan, tapi tidak tahunya Alga dan Mayu malah semakin mesra.
Mereka jadi penasaran, apa sebenarnya yang dipikirkan Mayu, kenapa dia tidak terusik sama sekali dengan apa yang mereka katakan? Apakah dia sudah sekebal itu?
Sementara itu David diam-diam tersenyum melihat apa yang terjadi di meja Mayu.
'Teruslah tersenyum Mayu, Daddy suka melihat senyum kamu dan itu mirip sekali dengan mendiang mama kamu.' batin David.
__ADS_1
David jadi merindukan mantan kekasihnya. David ingin sekali mengunjungi makamnya, tapi dia sulit melakukan itu, karena jika berpergian dia pasti dikawal bodyguardnya yang tak lain adalah orang kepercayaan Sindi.