
"Mmm ini pizza terenak yang pernah gue makan." ujar Lora sambil menggigit pizza di tangannya.
"Iya tahu gue, karena gratis kan?" ujar Shinta sambil makan es krimnya.
Lora tersenyum lebar.
"Tahu saja lo. May, sering-sering teraktir kita makan enak ya May, gue enggak akan nolak kok May. Tenang saja! Gue juga doain semoga dagangan lo semakin laris manis." ujar Lora lagi.
Mayu tersenyum mendengarnya.
"Iya, doakan saja ya jualan gue laris. Misalkan nanti gue sudah buka cabang lagi, gue pasti teraktir lo lagi." ujar Mayu santai tapi itu beneran bukan asal jawab saja.
"Buka cabang lagi May, memangnya kamu sudah punya toko sekarang?" tanya Irpan yang diam saja dari tadi.
"Alhamdulillah sudah Pan."
"Wow, hebat kamu May, bisa punya toko juga akhirnya. Apa itu juga alasannya kenapa nenek Iroh enggak jualan lagi di rumah?" tanya Irpan.
"Iya. Nenek bantu aku jualan di kios saja."
"Berarti sekarang yang jaga kios kamu, nenek Iroh?"
"Iya, nenek yang jaga bersama karyawanku juga. Teh Irma namanya." jawab Mayu apa adanya.
"Wow, kamu sudah punya karyawan juga May. Benar-benar hebat kamu May hanya dalam hitungan bulan, kamu bisa punya toko dan karyawan, padahal sebelumnya kamu sempat dapat masalah yang cukup besar menurutku." ujar Irpan teringat dengan kejadian tempo hari yang dialami Mayu, yang mengakibatkan tidak seorang pun tetangga mereka mau belanja lagi pada Mayu dan neneknya.
Mayu menatap Irpan, Shinta dan Lora bergantian. Mayu kemudian menghembuskan nafasnya cepat. Ini saatnya dia cerita pada teman-temannya.
"Sebenarnya bukan aku yang hebat Pan, aku bisa punya kios dan bisa teraktir kalian juga itu berkat bantuan seseorang. Kalau tidak ada seseorang itu, aku yakin hidupku yang sedang sulit pasti akan semakin sulit." jujur Mayu.
Irpan, Shinta dan Lora seketika menatap Mayu.
"Seseorang itu, Kak Alga atau teman-temannya maksud lo kan May?" tebak Lora cepat.
Mayu menggelengkan kepalanya.
"Bukan kak Alga atau teman-temannya. Kak Alga saja sedang sulit dan dia tidak mungkin membantu gue. Gue akan ceritakan siapa orangnya, tapi dengan satu syarat, masalah ini tidak boleh kalian beritahukan pada siapa pun, ini adalah rahasia kita. Gimana apa kalian sanggup?" ujar Mayu.
"Kalau soal itu lo tenang saja May, rahasia lo aman di tangan kami. Kami bukan tukang gosip dan kami sangat bisa dipercaya." ujar Shinta mantap.
Lora dan Irpan juga mengangangguk setuju.
"Baguslah kalau begitu dan gue harap, kalian bertiga tidak merusak kepercayaan gue."
"Beres May." kompak mereka.
"Jadi begini teman-teman, sebenarnya papa gue itu masih hidup dan gue sudah bertemu dengannya. Dia termasuk orang berada, dan karena itulah dia memberikan uang pada gue sebagai bentuk pertanggungjawabannya selaku seorang ayah. Hanya saja karena dia sudah punya keluarga, gue tidak boleh memberitahukan identitasnya pada siapa pun, selain karena dia tidak ingin terjadi keributan, alasan lainnya adalah demi keselamatan gue." cerita Mayu.
Irpan, Shinta dan Lora tampak terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Ini seriusan May? Ya ampun, gue benar-benar ikut bahagia untuk lo. Akhirnya penantian panjang lo, membuahkan hasil sesuai dengan yang lo harapkan, ya May?" ujar Shinta dan tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
Shinta masih ingat jelas bagaimana Mayu yang diam-diam sering menangis karena tidak tahu sama sekali tentang ayah kandungnya. Shinta kasihan padanya, tapi Sinta juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Iya Shinta, terima kasih." ujar Mayu.
"Sana-sama May,"
"May, selamat ya. Gue juga senang mendengarnya. Pantas saja akhir-akhir ini lo terlihat begitu bersemangat. Gue pikir karena kak Alga tapi ternyata kerena babeh lo. Cie yang sudah punya babeh." ujar Lora.
Mayu seketika tersenyum.
"Iya Lora terima kasih."
"Aku juga mengucapkan selamat May. Aku mulai mengerti kenapa kamu terlihat lebih bahagia akhir-akhir ini. Kamu harus bahagia terus ya May, karena kamu sangat pantas bahagia." ujar Irpan tulus.
Irpan juga ikut senang mendengar cerita Mayu, dan ada kelegaan tersendiri juga di hatinya. Seenggaknya bertambah lagi orang yang menjaga Mayu. Irpan jadi semakin mantap untuk move on, karena dia tidak perlu mengkhawatirkan Mayu lagi. Mayu sudah banyak yang sayang.
"Iya Pan terima kasih ya."
"Sama-sama May."
"Berarti sekarang sudah jelas semuanya kan teman-teman? Gue enggak punya utang lagi pada kalian. Jadi kalau misalkan nanti gue tiba-tiba pakai laptop ke kampus atau pakai barang bermerek, kalian jangan berpikir macam-macam ya, karena itu uangnya sudah pasti dari daddy gue, bukan orang lain." ujar Mayu.
"Iya Mayu, kami mengerti, dan lo tenang saja jika ada nantinya mahasiswa yang berkata julit tentang lo. Kami pasti akan pasang badan untuk lo." ujar Lora mantap.
Mayu kembali tersenyum, ini juga alasan lainnya kenapa Mayu memilih berterus-terang pada teman-temannya. Mayu sangat tahu kalau mereka benar-benar perduli pada Mayu, karena itu Mayu tidak ingin membuat mereka kecewa atau salah paham.
"Tentu saja." kompak mereka membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.
"Ah iya May, gue jadi penasaran deh, lo diberikan duit berapa sama bokap lo? Pasti banyak ya, apa sampai puluhan juta atau ratusan juta?" tanya Shinta mulai kepo.
"Kasih tahu, enggak ya?" ujar Mayu sengaja menggoda temannya dan kembali memakan pizzanya.
"Kasih tahu dong May, gue juga kepo ini." ujar Lora tidak mau ketinggalan. Sedangkan Irpan, dia memilih diam dan fokus pada pizza. Dia tidak terlalu kepo kalau masalah itu.
"Lumayanlah, cukup buat makan gue selama bertahun-tahun sama nenek. Hanya saja daddy inginnya gue gunakan uangnya buat beli rumah sekaligus buat buka usah juga. Daddy mau gue jadi pedagang yang sukses ke depannya." jawab Mayu.
"Wah, beli rumah! Jangan-jangan uangnya sampai milyaran lagi. OMG gue ternyata berteman dengan seorang gadis miliarder. Wow!" seru Lora bersemangat dan lebay.
Hap
Mayu menyuapkan potongan pizza yang besar ke mulut Lora membuat Shinta dan Irpan tertawa.
"Enggak usah lebay Lora!" seru Mayu tapi ada senyum di wajahnya. Temannya yang satu ini memang suka berlebihan.
Lora mengunyah cepat pizzanya.
"Gue enggak berlebihan ya May. Kalau lo punya uang miliyaran kan memang pantas lo disebut miliarder. Tukar posisi yuk May, gue juga ingin jadi miliarder! Sehari saja!" ujar Lora lagi.
__ADS_1
"Boleh, nanti ya dalam mimpi." ujar Mayu mantap.
"Yah kok dalam mimpi si May? Tapi enggak apa-apa lah itu juga sudah lumayan. Sekali lagi selamat ya May, tapi ingat kalau lo sudah jadi orang sukses jangan lupakan kami!" ujar Lora mengingatkan.
"Tidak akan gue lupakan, justru kalau misalkan rumahnya sudah ada, gue malah ingin mengajak kalian buka usaha bersama. Kita kembangkan deh itu usah gue, gimana kalian mau tidak?" ujar Mayu.
Mayu sudah tahu seperti apa teman-temannya tentu akan lebih menyenangkan bisa kerja bersama. Apa lagi kalau sampai sukses bersama, itu pasti akan sangat membahagiakan.
"Mau banget gue May, dan gue siap bekerja keras. Enggak sabar pingin shoping gue May." semangat Shinta.
"Dasar lo, isi otaknya hanya shoping saja!"
"Hehe ... namanya juga cewek."
"Eh teman-teman sebentar, Kak Alga telepon. Gue angkat dulu ya!" ujar Mayu begitu melihat nama Alga memanggil.
"Cie cie!" goda Lora dan Shinta.
Mayu hanya tersenyum dan fokus pada ponselnya.
"Assalamualaikum Kak."
"Waalaikumsalam. Aku sudah selesai kuliahnya Ay, kamu dimana?"
"Di kafe dekat kampus Kak. Tunggu Kak, aku jemput, aku enggak lama." jawab Mayu.
"Ok, aku tunggu depan gerbang."
"Ok Kak. Aku tutup ya Kak."
"Iya,"
Mayu kembali menatap teman-temannya begitu mematikan sambungan teleponnya.
"Maaf ya teman-teman gue harus pergi, gue ada perlu dengan Kak Alga. Engak apa-apa kan gue pulang duluan?" ujar Mayu merasa tidak enak. Padahal dia yang mengajak tapi dia juga yang pulang duluan.
"Iya May tidak apa-apa, santai saja. Titip salam ya sama kak Alga." ujar Shinta mengerti.
"Ok Shin." ujarnya dan beralih menatap Irpan.
"Pan, kamu yang bayar ya, nanti kalau uangnya kurang, bilang saja padaku." ujar Mayu.
"Ini uangnya masih lebih May. Kita pesannya juga enggak begitu banyak." ujar Irpan.
"Kalau lebih kalian pesan lagi saja, atau suruh aja cewek kamu datang bersama teman-temannya. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat dariku buat kamu dan Riana, juga sebagai ucapan terima kasih juga pada Riana karena sudah pernah menolongku." ujar Mayu. Mayu tidak akan pernah melupakan orang-orang yang pernah berbuat baik padanya. Termasuk Riana dan teman-temannya yang pernah menolong Mayu waktu tenggelam di puncak.
"Baiklah May, terima kasihya May. Sukses selalu buat kamu May!" ujar Irpan.
"Iya Pan. Gue pergi ya semua."
__ADS_1
"Iya May hati-hati!" kompak mereka.
"ok."