
"Mayu, ada yang mencari lo!" ujar Shinta.
"Siapa?" tanya Mayu tanpa menoleh, dia sedang sibuk mengecek laporan barang.
"Enggak tahu gue May, enggak kenal. Cowok ganteng May." ujar Shinta lagi membuat Mayu seketika menatapnya.
"Cowok ganteng?" beo Mayu.
"Iya Ganteng, 11 12 dengan Kak Alga. Hanya saja lebih dewasa sedikit dari Kak Alga. Lo enggak lagi selingkuh dari kak Alga kan May?" tanya Shita menatap menyelidik pada temannya.
"Ya enggak lah, ngapain juga gue selingkuh? Gue yang rugi kalau selingkuh. Lagian selingkuh juga buat apa?" ujar Mayu dan meninggalkan pekerjaannya.
"Ya siapa tahu lo khilaf karena cowoknya ganteng. Udah sana lo sebaiknya temui dia dulu!" ujar Shinta lagi.
"Iya Shinta," ujar Mayu. Dia sebenarnya malas, tapi dia juga penasaran, siapa kira-kira cowok yang datang berkunjung ke rumahnya.
"Eh!" kaget Mayu begitu melihat Alex lah yang datang.
Mayu tidak perlu merasa heran darimana Alex bisa tahu alamat rumahnya. Pasti mudah saja bagi dia menemukan alamat Mayu karena di Instagram Maga Wear juga tertulis jelas alamat Mayu, hanya saja yang membuat Mayu heran, Alex ngapain datang ke rumahnya.
"Hai Mayu, kita bertemu lagi. Saya kebetulan lewat sini, jadi sekalian saja saya mampir. Apa kedatangan saya mengganggu kamu?" ujar Alex.
Ingin rasanya Mayu berkata mengganggu karena dia memang sedang kerja, tapi takutnya Mayu dikira sombong dan lain sebagainya.
"Bisa Iya, bisa tidak Mas. Saya sebenarnya masih ada kerjaan dan harus diselesaikan hari ini juga." ujar Mayu berusaha mencari alasan yang paling masuk diakal.
"Begitu ya? Kira-kira berapa lama lagi pekerjaaan kamu selesai?" tanya Alex.
"Masih lama Mas, bisa sampai jam 8 atau jam 9 malam nanti. Kasihan Mas Alex kalau harus menunggu saya sampai selama itu." ujar Mayu apa adanya.
"Ada benarnya juga. Ini bahkan baru jam setengah 7. Sebenarnya saya hanya mau melihat usaha kamu saja, apa boleh saya masuk rumah kamu dan melihat proses produksi Maga Wear?" tanyanya lagi tidak menyerah.
"Tentu saja boleh. Silahkan saja kalau Mas Alex ingin melihatnya. Sebenarnya ada Naura juga di dalam, kalau Mas Alex mau, Naura bisa menemani Mas Alex?" tanya Mayu menawarkan Naura. Sebenarnya Naura juga cukup sibuk tapi Mayu sengaja melakukannya karena ini ide dari Alga.
Alex tampak berpikir dan terlihat tidak suka di wajahnya karena dia tidak suka bertemu dengan Naura.
"Tidak usah terlalu dipikirkan Mas, Naura itu gadis yang asik loh. Dari pada Mas Alex enggak ada teman ngobrol, lebih baik ditemani Naura bukan. Naura juga pasti dengan senang hati menjelaskan soal produk Maga Wear pada Mas Alex." ujar Mayu lagi.
"Tapi sa-"
"Tidak ada tapi-tapian Mas, sebentar ya saya panggil Naura dulu." ujar Mayu dan tanpa menunggu persetujuan dari Alex, Mayu langsung masuk ke rumahnya. Ini adalah kesempatan bagus untuk mendekatkan Naura dan Alex.
"Naura!" seru Mayu begitu dia menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Naura di lantai tiga May," ujar Rangga.
"Ok Kak," ujar Mayu. Sejak mereka pindahan ke tempat yang dibeli Alga, khusus lantai 3 mereka jadikan kantor. Sedangkaan untuk lantai 2 masih digunakan untuk produksi. Hanya saja, setokan barangnya tidak lagi banyak. Begitu juga untuk warung. Mayu sudah menutupnya karena Mayu dan teman-teman mau fokus pada Maga Wear saja. Selain itu mereka juga butuh tempat itu untuk parkiran mobil, makanya Mayu harus mengorbankan salah satu tempatnya.
"Naura!" panggil Mayu lagi begitu dia sudah sampai di lantai 3.
"Kenapa May?" tanya Naura menoleh pada Mayu.
"Di bawah ada mas Alex, Nau. Lo temani dia ngobrol." ujar Mayu dan Naura refleks mengangkat alisnya.
"Kenapa harus gue?" tanya Naura tidak setuju dengan Mayu.
"Terus siapa lagi kalau bukan lo? Di sini dia hanya kenal Lo dan gue saja. Gue enggak mungkin lah menemaninya. Gue masih ada kerjaan dan takutnya saat kak Alga telepon, kerjaan gue belum selesai. Kak Alga bisa curiga pada gue. Ujung-ujungnya dia bisa marah kalau tahu gue mengabaikan kerjaan demi mas Alex. Lo enggak mau kan kalau gue sampai marahan sama Kak Alga?" ujar Mayu sengaja mencari alasan.
"Tentu saja gue enggak mau, tapi gue juga enggak ingin bertemu dengan si Alex itu. Melihat mukanya saja gue malas. Lagian lo kenapa enggak menyuruhnya pulang saja sih?" ujar Naura yang benar-benar enggak ingin bertemu dengan Alex.
"Ya gue enggak enak lah Naura. Dia itu calon rekan bisnis Maga Wear, kita harus baik padanya. Ingat apa kata daddy, kita harus benar-benar menjaga hubungan baik dengan rekan kerja atau calon rekan bisnis, karena itu adalah salah satu kunci sukses." ujar Mayu lagi.
Naura menghembuskan nafasnya kasar. Apa yang Mayu katakan memang benar adanya, tapi dia juga benar-benar malas bertemu Alex.
"Nau, udah deh Nau. Lo itu jangan kebanyakan mikir! Sebaiknya kita turun sekarang. Kasihan itu mas Alex." ujar Mayu kemudian menarik tangan Naura.
Naura hanya memperlihatkan wajah malasnya dan ngikut saja dengan tarikan Mayu.
"Ini Nauranya sudah ada Mas. Mas Alex bisa tanya apa saja pada Naura. Mayu masuk dulu ya Mas." ujar Mayu lagi begitu mereka sampai depan Alex dan buru-buru meninggalkan Alex dan Naura.
"Selamat ... selamat." monolog Mayu.
"Jadi itu cowok temannya Naura, ganteng ya?" ujar Shinta lagi begitu Mayu sudah duduk di meja kerjanya.
"Sebenarnya dia calon rekan bisnis kita juga Shin. Dia itu anaknya dari om Ahmad, pengusaha teksti dan punya pabrik sepatu." jawab Mayu.
"Pantas saja kelihatan eksekutif mudanya, calon pengusaha ternyata."
"Itu dia. Menurut lo dia cocok enggak dengan Naura?"
"Ya kalau dilihat dari mata memandang, udah pasti cocoklah. Mereka ganteng dan cantik, masih muda, kaya, dan sama-sama dari kalangan pengusaha." ujar Shinta apanya.
"Baguslah kalau mereka cocok. Berarti kalau misalkan kita dekatkan mereka, lo mau bantu?" tanya Mayu lagi.
"Itu bukannya mereka sudah dekat?" ujar Shinta balas bertanya.
Mayu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Enggak dekat Shin. Sebenarnya dipertemuan pertama mereka kurang baik, dan mas Alex itu lumayan menyebalkan orangnya." jawab Mayu teringat pertemuan pertama mereka.
"Kalau menyebalkan kenapa lo jodohkan dengan Naura? Kasihan Naura dong. Naura itu cantik dan dia juga sudah berubah baik, dia pantas mendapat yang terbaik. Lagian kalau Naura mau pacaran juga banyak yang mau sama dia, noh anak juragan kos-kosan yang dekat toko ke 4, suka banget cari perhatian sama Naura. Hanya saja itu orang rada sombong dan suka membanggakan harta orang tuanya, makanya Naura juga ogah sama dia." cerita Shinta.
Shinta juga sayang dan perduli sama Naura, tentu dia juga inginnya Naura dapat jodoh yang baik, yang tulus mencintainya dan yang bisa membuatnya bahagia.
"Benar juga ya Shin, mana gue juga baru ketemu dua kali sama dia dan gue sama sekali tidak tahu seperti apa dia. Dari memandang memang sudah ok, tapi dalamnya belum tentu ok."
"Itu dia, makanya lo coba cari tahu dulu tentang dia, kalau memang baik, ya silahkan jodohkan dengan Naura dan gue juga siap membantu lo." saran Naura.
"Okelah gue akan coba cari tahu soal dia, tapi sebelumnya gue mau bicarakan dulu dengan kak Alga. Takutnya Kak Alga enggak setuju kan."
"Nah itu yang terpenting. Jangan sampai karana cowok itu hubungan lo dan Kak Alga malah dapat masalah. Lo harus jaga baik-baik itu Kak Alga, cowok seperti Kak Alga itu sangat langka. Lo bisa nyesal seumur hidup kalau misalkan enggak jadi sama kak Alga." ujar Shinta mengingatkan Mayu.
"Iya Shinta gue tahu itu. Ya sudah gue lanjut kerja dulu. Sebentar lagi Kak Alga sudah pulang kuliah, bisa ngambek dia kalau kerjaan gue belum selesai." ujar Mayu dan mendapat acungan jempol dari Shinta.
Sementara itu antara Naura dan Alex hanya saling diam saja dan Naura juga terang-terangan memperlihatkan wajah tidak sukanya. Naura tidak perduli dibilang tidak bisa profesional dan lain sebagainya. Dia memang tidak suka pada Alex. Menurut Naura si Alex hanyalah cowok modus. Malas banget Naura sama cowok modus.
"Jadi ini semua, kalian yang produksi?" tanya Alex begitu melihat barang-barang yang dipajang. Barang-barangnya tidak hanya pakaian dalam saja, baju, tas serta produk skincare Maga Beauty juga sudah tersedia.
"Tidak semua. Untuk baju dan tas kami memiliki rekan bisnis." jawab Naura apa adanya.
"Oh, tapi ini juga sudah hebat, dari kapan Mayu memulai bisnis ini?"
"Kurang lebih 2 tahun yang lalu."
"Hebat juga ya dia bisa produksi barang sebanyak ini, hanya dalam 2 tahun." ujar Alex dan itu pujian dari hati. Jarang-jarang dia menemukan gadis seperti Mayu, walau masih muda semangat kerjanya sangat luar biasa. Mayu benar-benar berbeda dengan gadis yang sering dia temui yang kebanyakan hanya suka bersenang-senang dan menghabiskan harta orang tuanya saja.
"Tentu saja, makanya kak Alga juga sangat cinta padanya dan Mayu juga bisa secepat ini suksesnya berkat bantuan kak Alga dan teman-temannya." ujar Naura sengaja dan itu juga benar adanya.
"Jadi nama pacar Mayu itu, Alga?" tanya Alex.
"Ya, dan dia adalah anak dari om Pratama. Pastinya Mas Alex tahu siapa itu Pratama." ujar Naura lagi biar Alex sadar kalau pacar Mayu itu tentu lebih kaya dari Alex.
"Ya saya tahu Pratama, tapi saya tidak tahu Alga Pratama dan saya juga tidak mau tahu tentang dia, yang saya mau tahu hanya tentang Mayu. Selama janur kuning belum melengkung, saya rasa, saya masih ada kesempatan untuk mendekatinya." ujar Alex membuat Naura melotot.
"Hei Mas Alex, kamu ini jangan jadi pebinor ya! Mayu itu hanya milik kak Alga dan begitu juga sebaliknya." seru Naura tidak terima.
"Pebinor apa maksudnya? Bukankah Mayu itu hanya pacar dan bukan istri? Itu berarti saya masih punya kesempatan dong. Lagian bisa saja si Alga itu niatnya hanya mau memacari Mayu, kalau saya jelas niat saya mau menikahi Mayu. Jika Mayu mau, saya sangat bersedia menikahinya dalam waktu dekat ini karena menurut saya Mayu itu cocok dijadikan istri, bukan jadi pacar." ujar Alex lagi membuat Naura semakin melotot.
Semakin tambah saja rasa tidak suka Naura pada cowok di depannya ini. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Dia mikir enggak sih sebelum mengatakan itu semua?
"Hei Mas Alex terhormat, dengarkan saya baik-baik ya. Kak Alga itu juga tidak pernah ada niatan mempermainkan Mayu, dia sangat serius pada Mayu. Dia bahkan rela melakukan apa saja demi Mayu. Dia belum menikahi Mayu juga bukan karena dia tidak mau, tapi dia sadar Mayu masih kuliah dan dia juga sama. Lagian tujuan hidup ini bukan untuk menikah saja. Kita juga perlu mengejar cita-cita. Satu lagi, menikah itu juga bukan suatu yang mudah. Ok, masalah finansial memang dia sudah sangat cukup, tapi bagaimana dengan mental? Tentu mentalnya juga harus siap. Jangan sampai karena mental belum siap, baru beberapa bulan nikah malah cerai. Perasaan wajah Mas Alex sudah dewasa, tapi pemikirannya benar-benar tidak dewasa, menyebalkan sekali. Udah deh sebaiknya Mas Alex pergi saja, malas saya bicara dengan orang seperti Mas Alex." kesal Naura.
__ADS_1
Dia melirik sinis pada Alex dan tanpa menunggu jawaban dari Alex, dia pergi meninggalkan laki-laki berparas tampan itu. Menyesal dia sudah menuruti keinginan Mayu. Mood langsung tidak baik gara-gara Alex.
Alex hanya menatap kepergian Naura dengan pandangan yang sulit diartikan.