Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Seharian Bersama Alga


__ADS_3

Mayu tersenyum lebar dan medekat pada Alga.


"Halo Kak Alga, apakah Mayu sudah terlihat cantik jelita, bagaikan bidadari tidak bersayap." ujar Mayu lebay seperti biasa sambil memainkan rambut lembutnya.


"Eh!" ujar Alga tersadar dari terpesonanya dan mengalihkan cepat pandangannya.


"Hanya cantik saja, bukan cantik jelita apalagi seperti bidadari. Itu masih sangat jauh Mayu. Jangan terlalu percaya diri kamu!" ujar Alga jutek seperti biasa.


Mayu tidak boleh tahu kalau dia sempat terpesona. Bisa gawat kalau sampai Mayu tahu, bisa-bisa Mayu menertawakan dan meledeknya seharian.


Alga tidak bisa memungkiri, jika rambut Mayu digerai, kecantikannya yang selama ini tersembunyi jadi terpampang nyata. Apalagi rambut panjang kemerahannya tergerai rapi dan juga halus. Sangat cocok dengan wajah mungilnya yang putih bersih.


Melihat bentukan Mayu yang sekarang, orang-orang tidak akan percaya kalau dia pedagang pinggir jalan. Mayu lebih pantas jadi anak konglomerat atau pejabat dan sejenisnya karena kecantikannya itu terlihat elegan dan alami. Padahal Mayu hanya pakai baju kaos saja, bukan gaun atau dress mahal.


"Tapi masih ada cantiknya kan? Ai yaya, akhirnya Kak Alga ngaku juga kalau Mayu cantik asik asik ...." ujar Mayu sambil mengedip-ngadipkan matanya menggoda Alga.


"Iya cantik tapi sayang lebay. Kecantikannya jadi berkurang banyak. Udah ah ayo masuk!" ujar Alga memilih menghindar berdebat dengan Mayu. Sudah pasti dia yang kalah jika mereka berdebat.


"Ya enggak bisa begitu dong Kak Alga, kalau cantik ya cantik saja, mana mungkin kecantikan bisa berkurang karena lebay. Lagian Mayu enggak lebay kok, Mayu hanya percaya diri saja." ujar Mayu kemudian ikut masuk ke dalam mobil Alga.


Alga memilih daiam dan hanya melirik Mayu sebentar kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Alga hanya menarik nafas pelan saat Mayu menatap tersenyum padanya. Berada dekat Mayu dalam keadaan seperti ini sungguh sebuah ujian bagi Alga. Dia jadi semakin gemas pada Mayu. Jika begini terus bisa-bisa apa yang dirasakannya pada Mayu semakin dalam. Padahal dia sedang berusaha melupakan semua perasaannya yang sudah mulai tumbuh karena Alga tidak mau mandapat masalah dikemudian hari.


"Jangan senyum-senyum saja Mayu, pakai sabuk pengaman kamu!" ujar Alga mengingatkan.


"Ah iya, sampai lupa saya hehe ... maaf Kak Alga."


"Iya tidak apa-apa." ujar Alga menjalankan mobilnya.


"Kak Alga, kita mau pergi kemana? bukannya bertemu mami kak Alga baru besok?"


"Iya memang besok, makanya hari ini, kita khusus untuk mempersiapkan diri kamu. Supaya besok bisa maksimal dan tidak ada yang kurang." jawab Alga.


"Ia, Mayu mengerti Kak, dan Mayu juga akan berusaha semaksimal mungkin Kak, biar tidak mengecewakan Kak Alga." ujar Mayu mantap. Ini tidak hanya demi Alga, tapi demi bisa bertemu kembali dengan ayah kandungnya.


"Bagus,"


***


Mayu menatap butik mewah di depannya. Habis mimpi apa dia diajak belanja ke butik semewah ini? Diajak sama Alga lagi. Sungguh ini adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup Mayu dan tidak akan pernah dilupakannya, meski Alga melakukannya dengan terpaksa.


"Mayu kenapa diam saja, ayo masuk!" ujar Alga.


"Ah iya Kak." ujar Mayu dan langsung menyamakan langkahnya dengan Alga. Mayu juga tersenyum pada Alga. Ini karena Mayu merasa senang, jadi Mayu lebih gampang tersenyum hari ini.


"Jangan senyum-senyum terus Mayu! Nanti kamu disangka gila!" seru Alga. Padahal Alga yang tidak tahan menatap senyum itu. Senyum itu membuat jantung Alga berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Iya Kak Alga iya. Padahal Mayu lagi senang banget loh hari ini, makanya Mayu tersenyun terus. Mayu lagi bahagia Kak Alga." ujar Mayu apa adanya.

__ADS_1


"Bahagia kenapa?"


"Ya karena diajak belanja ke butik mahal lah hehe ...." ujar Mayu lagi-lagi tersenyum bahagia.


"Matre kamu!"


"Bukan matre ya Kak Alga, tapi ini namanya naluri seorang perempuan. Itu berarti Mayu perempuan normal. Perempuan mana coba yang tidak senang disuruh perawatan di salon mahal, udah gitu di ajak belanja ke butik mahal lagi? Apa yang Mayu alami hari ini, bisa dibilang impian dari kebanyakan perempuan, Kak." ujar Mayu tidak mau kalah.


"Terserah kamu saja!" ujar Alga akhirnya memilih mengalah.


"Kak Alga selalu saja jawabnya begitu, enggak asik." ujar Mayu dan peralih pada karyawan butik yang sudah menyambut kedatangan mereka.


Mayi kembali tersenyum pada pemilik butik itu, sedangkan Alga hanya memperlihatkan wahah datarnya.


Kali kedatangan Mayu langsung disambut hangat dan tanpa ada drama lagi. Mayu yakin ini pasti karena kedatangannya bersama Alga si pemilik mobil Audi R8 yang harganya milyaran.


"Mbak pilihkan dia gaun malam yang cocok untuk gadis seusia dia. Yang terlihat mewah dan elegan!" suruh Alga.


"Baik Mas, akan saya bantu pilihkan gaunnya." ujar karyawannya langsung menurut.


Mayu menatap mbaknya dan beralih pada Alga. Jujur saja Mayu kurang suka dengan ciri-ciri gaun yang disebutkan Alga.


"Kak Alga bisa bicara sebentar tidak?" tanya Mayu. Mayu tidak mau mereka sampai salah pilih gaun, yang membuat Mayu kurang nyaman nantinya. Walau hanya pedagang, kolor, bh, dan baju tidur, sedikit banyaknya Mayu cukup mengerti masalah baju, dan biasanya mau sebagus apa pun bajunya jika pemakainya merasa kurang nyaman, maka kecantikan baju itu itu akan berkurang.


"Kenapa?" tanya Alga.


Alga menatap Mayu dan kembali memperhatikan penampilan Mayu. Benar apa kata Mayu, walau baju Mayu sangat sederhana, tapi terlihat cantik saja dipakai Mayu.


"Baiklah terserah kamu saja, dan senyamanya kamu saja." putus Alga.


"Terima kasih Kak Alga, Kak Alga baik deh hehe ...." ujar Mayu senang.


Setelah selesai memilih gaun, mereka masih lanjut membeli tas juga sepatu dan semuanya sesuai dengan selera Mayu. Terkadang mereka sempat berdebat karena bagi Alga barang pilihan Mayu harganya terlalu murah, sedangkan bagi Mayu sendiri itu sudah lebih dari cukup dan sangat cocok untuk dia.


Bagi Mayu yang penting nyaman dan enak untuk dipandang. Mayu juga tidak perduli merek, sangat berbeda dengan Alga yang sangat perduli merek. Entah itu karena keinginan Alga sendiri atau karena maminya, Mayu tidak tahu.


"Eh Kak, ini kita mau kemana lagi, bukannya semua barang yang harus Mayu kenakan, sudah kita beli?" tanya Mayu bingung saat Alga kembali mengajaknya jalan.


"Belum, kita harus beli perhiasan. Seenggaknya kamu harus pakai perhiasan walau hanya sebiji, untuk mendukung penampilan kamu." ujar Alga tanpa menoleh.


Mata mayu melotot.


"Seriusan Mayu harus pakai perhiasan Kak, tapi nanti itu perhiasan Mayu kembalikan lagi kan?" tanya Mayu. Mayu benar-benar tidak tega memakai uang Alga sebanyak itu.


"Tidak usah, saya tidak butuh perhiasan. Kamu bisa simpan saja perhiasannya. Anggap saja itu buat kenang-kenangan." ujar Alga dan itu tulus dari dalam hatinya. Alga juga sama sekali tidak keberatan membelanjakan Mayu.


"Tapi Kak, perhiasan itu harganya tidak murah loh."


"Saya tahu, tapi bagi saya gampang saja kalau hanya beli perhiasan."

__ADS_1


"Uuh sombong. Ya sudahlah, Mayu mau beli kalung yang sangat mahal, biar Kak Alga bangkrut sekalian." balas Mayu.


Alga melirik pada Mayu.


"Saya tidak semudah itu bangkrut Mayu, mau beli sama tokonya juga saya tidak akan bangkrut."


"Kalau begitu Kak Alga belikan Mayu sama tokonya sekalian." seru Mayu lagi.


"Itu sih maunya kamu, memangnya siapa kamu?"


"Kekasih bayaran Tuan Muda hehe ...." ujar Mayu dengan percaya dirinya.


"Dasar," ujar Alga dan ada senyum tipis di wajahnya.


Setelah belanja seharian bersama Mayu. Alga jadi tahu sifat Mayu yang lain dan perasaan kagum Alga semakin besar saja padanya. Mayu tidak sedikit pun mau memanfaatkannya. Padahal Alga sempat menawarkan beberapa pasang baju atau sepatu, tapi Mayu langsung menolak. Zaman sekarang ini langka perempuan seperti itu. Alga akan sangat beruntung jika memilikinya. Sayangnya jalan mereka untuk bisa tersatu terlalu berliku, dan Alga sampai saat ini masih kuat dalam pendiriannya. Alga belum ingin menjalani jalan berliku itu.


***


"Stop Mayu, kamu diam saja! Kali ini biar saya saja yang pilihkan. Saya tidak mau kamu salah pilih!" ujar Alga cepat begitu mereka sampai di toko perhiasan.


"Takut salah pilih atau takut Mayu pilih yang paling mahal?" goda Mayu.


Alga hanya diam saja dan lebih memilih fokus memilih kalaungnya.


Mayu juga ikut diam dan ikut menatap perhiasannya. Lagi-lagi ini pengalaman pertama bagi Mayu. Seumur hidup Mayu, baru kali ini dia masuk toko perhiasan, dan ternyata masuk toko perhiasan cukup menyenangkan. Jika saja Mayu sudah punya uang yang banyak, pasti Mayu akan beli salah satu perhiasan untuk neneknya. Neneknya pasti akan sanang.


"Ini Mayu, kamu coba pakai yang ini saja!" ujar Alga sambil menunjukkan kalung berleontikkan bunga salju.


Mayu menatap kalungnya juga Alga begantian. Kalungnya memang terlihat simple dan elegan. Dari bentukannya saja Mayu yakin harganya pasti mahal itu.


"Kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak suka dengan leontinnya."


"Su-suka kok Kak, bukankah itu leontinnya bunga salju?"


"Ya kamu benar sekali, ini adalah lontin bunga salju. Saya sengaja pilih ini biar sama dengan nama kamu. Nama kamu Mayuki kan, Yuki yang berarti salju?"


"Iya Kak, kok Kak Alga bisa tahu sih?" ujar Mayu yang diam-diam merasa terharu. Apa yang dilakulan Alga tanpa sadar bisa menyentuh hati Mayu. Hanya saja Mayu tidak boleh baper. Dia dan Alga sudah membuat perjanjian itu kalau mereka tidak boleh saling jatuh cinta.


"Ya tahulah, semua orang juga tahu kalau Yuki itu salju." ujar Alga cuek. Padahal dalam hatinya dia hanya ingin memberikan sesuatu yang bisa berkesan untuk Mayu. Alga juga berharap saat Mayu menatap leontin itu, Mayu jadi teringat padanya.


"Enggak semua orang tahu juga kali Kak, hanya beberapa orang saja."


"Intinya banyak orang yang tahu. Udah sebaiknya kamu pakai kalungnya!"


"Pakaikan dong!" ujar Mayu manja.


"Heh!" seru Alga melotot. Ini Mayu benar-benar dikasih hati tapi minta jantung.


"Hehe ..."

__ADS_1


__ADS_2