Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Warisan Lisa


__ADS_3

"Lisa kamu di sini dulu sama grandma dan nenek ya. Oma harus ke rumah sakit. Dedek Lisa yang lain mau lahir." ujar Dira terburu-buru dan ada rasa khawatir juga di wajahnya.


Baru saja dia dapat telepon dari menantunya kalau Vivi sudah dibawa ke rumah sakit dan akan segera melahirkan anak ketiganya. Dira khawatir pada anaknya.


"Yaya Moma, dedek lahil." ujar Lisa som tahu dan mau saja ditinggal omanya.


"Terima kasih Lisa. Baik-baik ya Lisa!"


"Yaya Moma," ujar Lisa lagi.


Setelah pemitan pada Sindi dan nenek Iroh, Fira langsung pergi dengan terburu-buru.


Dia mau ke pelaminan terlebih dulu, saat ini adalah pernikahaan Yudha dan Shinta. Dira mau mengucapkan selamat terlebih dulu sebelum dia pergi. Dia tidak enak pergi begitu saja, walau bagaimana pun ibunya Yudha sampai saat ini masih kerja dengannya dan Yudha juga sudah seperti keluarga bagi Alga anaknya.


"Lisa kamu ngapain mondar mandir begitu Lisa?" ujar Sindi melihat tingkah aneh cucunya setelah ditinggal Dira.


"Moma pelgi! Dedek lahil ... dedek lahil." ujar Lisa sambil mondar mandir.


"Ya kalau dedeknya lahir, kenapa Lisa yang mondar mandir? Lisa takut saingannya tambah banyak?" ujar Sindi lagi. Sindi yakin kali ini anak Vivi perempuan yang berarti akan menjadi saingan Lisa di keluarga pratama. Sindi bisa seyakin itu karena Vivi sebelumnya sudah memberitahu keluarga hasil USGnya.


"Caingan? Papa tu caingan Enma?" ujar Lisa menatap bingung pada omanya.


"Saingan itu, oma Dira akan lebih sayang sama dedeknya dari pada Lisa. Oma Dira juga akan ajak dedeknya jalan-jalan. Lisa enggak diajak." ujar Sindi lagi sengaja. Makin ke sini Lisa makin pintar diajak debat dan main mengerti banyak hal dia. Padahal usianya baru mau 3 tahun.


Lisa yang sebelumnya masih mondar mandir menatap Sindi tidak terima.


"Ola ico Enma. Moma Dila cayang Lica manyak-manyak. Lica nambel wan." ujar Lisa dengan percaya dirinya membuat Sindi dan nenek Iroh tersenyum.


"Iya nomor satu itu dulu sebelum dedek lahir. Sekarang dedeknya yang jadi nomor 1 dan Lisa nomor 2." balas Sindi lagi.


"Ola ico Enma, Enma kakal!" kesalnya dan matanya ikut menatap marah pada Sindi.


Sindi menahan tawa melihatnya. Lisa lucu sekali saat marah dan itu sangat menggemaskan. Nenek Iroh juga senyum-senyum saja melihatnya.


"Hei Lisa kenapa itu Cantik?" ujar Alga menghampiri anaknya.


Lisa menoleh pada Alga dan bibirnya masih maju ke depan.


"Enma ni Yayah, kakal!" ujar Lisa mengadu dan tatapannya masih sinis pada Sindi.


"Granma nakal kenapa Cantik? Grandma enggak mau bagi Lisa makanan?" tanya Alga menyamakan tingginya dengan anaknya.

__ADS_1


"Nono Yayah, ata Enma, Moma cayang-cayang Lica nambel tu, dedek lahil nambel wan." ujar Lisa lagi-lagi mengadu.


Alga tersenyum saja mendengarnya dan mengusap sayang rambut anaknya. Ini mental Lisa benar-benar terlatih gara-gara ulah para nenek-neneknya yang suka sekali mengujinya.


"Bilang pada grandma, enggak apa-apa nomor 2 yang penting Lisa dapat warisannya lebih banyak." ujar Alga lagi mengajari yang enggak benar pada anaknya walau memang begitu faktanya.


"Ya Enma, ceng penting walican Lica manyak!" seru Lisa lagi menatap Sindi kemudian beralih pada Alga.


"Papa tu walican Yayah?" tanyanya polos membuat 3 orang dewasa itu tertawa ngakak.


Prinsip Lisa ya begitu, asal bunyi saja.


"Warisan itu makanan enak. Lisa tahu makanan enak?" ujar Alga.


"Yaya!" semangat Lica.


"Mantap."


"Yayah, Lica apat manyak mamam enyak?" tanya Lisa antusias.


"Iya," ujar Alga lagi.


Lisa terlihat sangat senang dan kembali menatap Sindi.


"Ada apa ini? Kenapa kalian tertawa?" tanya David yang baru datang kemudian duduk di samping istrinya.


"Biasa Dad, cucu Daddy yang satu nyerocos terus kerjanya." ujar Alga dan David mengangguk mengerti.


Lisa ibaratnya perpaduan Sindi dan Dira jadi satu, ya begini hasilnya.


***


"Dedek!" seru Lisa senang begitu Alga menggendong bayi Vivi yang baru lahir itu.


Setelah selesai pesta pernikahan Yudha dan Shinta mereka memutuskan menjenguk Vivi dan bayinya ke rumah sakit.


"Lisa suka sama dedeknya?" tanya Alga.


"Cuka Yayah, dedek bobok-bobok." ujar Lisa senang. Walau Sindi sempat provokasi Lisa tetap sayang pada dedeknya. Dia suka pada anak kecil.


"Iya dedeknya bobok, Kakak Lisa jangan ganggu ya!" ujar Alga lagi.

__ADS_1


"Nono anggu Yayah. Lica cayang-cayang dedek." ujar Lisa lagi membuat Mayu dan yang lainnya tersenyum.


"Beneran Lisa sayang sama dedeknya?" tanya Vivi.


"Benelan Anti, Lica cayang dedek, manyak-manyak."


"Bagus-bagus." ujar Vivi senang.


"Lisa mau kiss dedek?" tanya Alga lagi.


"Yaya Yayah." ujar Lisa antusias.


"Tapi pelan-pelan ya dan di pipi saja." ujar Alga mengingatkan.


"Yaya!" ujar Lisa kemudian mendekatkam bibirnya pada bayi baru lahir itu.


"Hihi ...." Lisa tertawa begitu dia berhasil memberi satu kecupan.


"Dedek angan akal ya! Anti Dedek apat walican ikit, Akak Lica apat walican manyak. Api Moma, cayang dedek nambel wan, akak Lica nambel tu." ujar Lisa malah curhat membuat Mayu dan yang lainnya menatap heran padanya. Sedangkan Alga hanya senyum-senyum saja. Anaknya masih ingat saja masalah warisan, benar-benar keturunan Dira sekali ini


"Lisa siapa yang bilang Lisa dapat warisan Banyak?" tanya Pratama penasaran. Ada-ada saja omongan cucunya.


"Yayah Popa. Ata Yayah, Moma unya walican manyak. Cama Lica manyak cama dedek cedikit." ujar Lisa lagi.


"Mana punya warisan oma, yang punya warisan banyak itu opa. Makanya Lisa harus baik-baik sama Opa." ujar pratama salah tanggap apa maksud cucunya. Sedangkan Alga senyum-senyum saja karena dialah pelaku utamanya.


"Nono Popa. Popa nono walican. Popa minta walican Lica." ujar Lisa tidak terima. Lisa masih ingat sekali opanya mana pernah bagi makanan enak sama dia. Justru Pratama lah yang paling sering minta makanannya. Opanya paling beli mainan untuk Lisa.


Pratama menatap tidak percaya pada cucunya. Gimana ceritanya dia minta warisan pada Lisa kalau warisannya berasal dari dia.


"Memangnya Lisa punya warisan Cantik?" tanya Mayu.


"Manyak Bubun, acih Moma, acih enek, acih ude, acih bibi, acih cep." ujarnya lagi membuat Pratama dan yang lainnya semakin bingung kecuali Alga tentunya.


"Warisan apa yang mereka berikan Lisa?" tanya Rian suaminya Vivi.


"Agacali, uding, loti, pencekek, manyak." ujar Lisa dengan percaya dirinya membuat Mayu dan yang lainnya terawa.


"Heh Lisa, ternyata warisan kamu itu makanan ya? Dasar tukang makan, isi otaknya enggak bisa jauh-jauh dari makan." ujar Pratama begitu sadar dengan warisan yang dimaksud cucunya.


"Yaya Popa, walican Lica mamam enyak cenan." ujar Lisa lagi.

__ADS_1


"Yaya terserah lisa saja." ujar Pratama memilih mengalah saja. Walau Lisa masih kecil, terkadang dia suka kalah debat sama Lisa. Lisa adalah titisan istrinya.


__ADS_2