
"Kak!" panggil Mayu.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe. Setelah pertemuan Alga dengan mantannya dia rasa dia perlu menjelaskan sesuati pada Mayu supaya tidak terjadi salah paham nantinya.
"Iya Ay. Kamu pasti sudah tidak sabar ingin bertanya soal Rahel ya?" ujar Alga seakan tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya.
"Iya Kak, apa benar dia mantan juga cinta pertama Kak Alga?" tanya Mayu dan langsung to the poin.
Alga menarik nafas pelan. Dia kemudian menarik pelan tangan Mayu kemudian menggenggamnya.
"Iya Ay, dia adalah mantanku juga cinta pertamaku." ujar Alga pelan.
"Lalu kalian bisa putus karena apa Kak?" tanya Mayu lagi.
Alga lagi-lagi menarik nafas pelan. Sebenarnya dia malas sekali membahas mantannya, karena mantan itu hanya masa lalu bagi Alga, dan Alga pribadi juga tidak nyaman membahasnya, tapi karena lagi-lagi dia tidak ingin Mayu jadi salah paham, maka dia akan berusaha mengesampingkan rasa tidak nyamannya. Terlebih lagi masalah ini memang perlu diluruskan, mengingat ada maminya juga diantara mereka. Takutnya Dira duluan yang cerita pada Mayu, dan sudah Dira akan cerita dengan versinya sendiri, yang tentunya membuat keadaan jadi panas.
"Sebenarnya kami bisa putus karena alasan tidak jelas Ay. Hari itu enggak ada angin dan enggak ada hujan, Rahel tiba-tiba kirim pesan padaku dan isi pesannya singkat saja. Aku sudah lelah, kisah kita cukup sampai di sini saja. Kita putus. Hanya itu saja isi pesannya. Aku sempat marah karena keputusan sebelah pihaknya. Aku langsung menghubunginya tapi nomernya sudah tidak aktif. Aku tidak berhenti sampai di situ saja, aku juga mendatangi kosnya, dan ternyata dia sudah pindah ke rumah orang tuanya. Aku juga datang ke rumah orang tuanya dan kata orang tuanya dia sudah pindah ke Yogyakarta dan mau lanjut kuliah di sana. Aku benar-benar marah juga kecewa Ay, dan aku putuskan aku tidak akan mencarinya lagi dan aku terima keputusannya walau rasanya sangat berat. Itu juga alasannya kenapa aku enggak mau lagi menjalin hubungan karena aku masih susah move on dari rasa kecewaku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan kamu. Kamu yang akhirnya berhasil menarik perhatianku." jelas Alga dan itu tidak bisa membuat Mayu sepenuhnya tenang, karena alasan putus mereka bukan karena keputusan kedua belah pihak atau karena kesalahan yang fatal.
"Ay kenapa kamu diam saja? Aku harap kamu enggak berpikir macam-macam setelah mendengar penjelasanku. Percaya padaku Ay, aku benar-benar sudah move on dari Rahel, dan hanya kamu satu-satunya gadis penghuni hati dan pikiranku." ujar Alga lagi.
"Aku percaya pada Kak Alga, tapi aku enggak bisa percaya pada Rahel, Kak. Bagaimana kalau dia datang pada Kak Alga dan menjelaskan semuanya kalau dia terpaksa mengirim pesan seperti itu pada Kak Alga? Dia juga minta maaf pada Kak Alga dan minta kalian balikan lagi?" ujar Mayu mengungkapkan kekhawatirannya.
"Ya aku akan menolak cepat Ay. Aku enggak akan mau balikan lagi sama dia karena aku jelas-jelas sudah punya kamu, gadis yang sangat aku cintai dan yang ingin aku nikahi. Bagiku cukup kamu saja sudah cukup." ujar Alga mantap.
"Kak Alga yakin? Kak Alga enggak akan tergoda lagi padanya? Apalagi dia lebih cantik dari Mayu?" tanya Mayu lagi.
"Ya aku sangat yakin lah Ay. Lagian kamu itu enggak perlu merasa minder padanya, mungkin di mata kebanyakan orang dia lebih cantik dari kamu, tapi di mataku, kamu itu jauh lebih cantik Ay. Aku sangat tahu seperti apa kepribadian kamu dan aku benar-benar jatuh cinta pada pribadi kamu. Ditambah lagi kamu adalah anaknya David Antonis, kamu juga seorang owner, jadi aku rasa kelebihan kamu jauh lebih banyak bila dibandingkan Rahel." jelas Alga lagi.
"Begitu ya Kak?"
"Ya." jawab Alga cepat.
"Tapi sepertinya aku kalah agresif dari dia, aku juga lebih cendrung ke pasif. Biasanya kan cowok itu lebih suka sama cewek agresif dan aktif."
"Ya kalau begitu kamu jadi cewek agresif saja Ay! Gampang bukan?" saran Alga.
"Ya enggak bisa Kak Alga, Mayu adanya begini, dan Mayu enggak akan nyaman kalau jadi cewek agresif." ujar Mayu cepat membuat Alga tersenyum.
"Sebenarnya Rahel itu setahuku bukan cewek agresif Ay, tapi enggak tahu juga sekarang, kami sudah 2 tahun lebih enggak bertemu. Dan aku pribadi juga lebih suka sama cewek yang pasif karena aku tipekal laki-laki yang lebih suka mengejar dari pada dikejar. Kamu pastinya sangat tahu itu. Aku juga lebih suka memberi perhatian dari pada diberi perhatian, walau ada kalanya aku juga lebih suka diperhatikan. Seperti saat aku sakit atau sedang ada masalah misalnya dan saat-saat tertentu lainnya. Dan kamu juga sudah sangat tahu itu, kamu tahu kapan kamu harusnya memberi perhatian padaku, dan porsinya itu sudah pas. Dan menurutku kamu lah yang terbaik untukku, kamu itu adalah tipeku dan sangat cocok denganku." jelas Alga.
__ADS_1
"Beneran aku adalah tipe Kak Alga?" tanya Mayu lagi.
"Iya benar dong Ay, kalau kamu bukan tipeku, aku enggak mungkin jatuh cinta pada kamu. Lagian kita pacaran juga sudah lebih 6 bulan loh, dan kita juga sudah melewati banyak hal bersama. Dari susah dan senang bersama. Apa kamu masih meragukan cintaku juga?"
"Tentu saja aku enggak ragu Kak Alga, tapi kan Kak Alga juga hanya manusia biasa, biasa saja hatinya berubah setelah bertemu mantan. Apa lagi itu mantannya, mantan terindah."
"Ay, aku ingatkan kamu ya, kamu itu jangan suka cari penyakit dan memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Lagian apa itu mantan terindah? Dalam kamusku enggak ada itu mantan terindah. Satu lagi, aku akui aku memang hanya laki-laki biasa, tapi aku bukan laki-laki bodoh Ay. Laki-laki yang sudah dicampakkan tapi masih mau menerima kembali. No Ay, aku tidak sebodoh itu." ujar Alga membuat Mayu merasa sedikit lega.
"Baguslah kalau begitu, aku percaya Kak Alga bukan laki-laki bodoh, dan aku juga percaya kalau Kak Alga tidak akan mengecewakanku."
"Nah itu saja yang harusnya kamu pikirkan." ujar Alga mantap.
"Iya Kak Alga. Aku akan berusaha sepaya tetap berpikir positif."
"Good, ini baru calon istrinya Alga Putra Pratama." ujar Alga mengacungkan jempolnya membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.
"Apaan sih Kak Alga, masih lama itu."
"Mau lama atau enggak tetap saja bagiku kamu itu adalah calon istriku. Apalagi aku juga sudah mengantongi resti dari om David dan nenek."
"Iya Kak Alga iya." ujar Mayu memilih mengalah dan gantian Alga yang tersenyum.
"Nah gitu dong. Berarti sekarang sudah jelas kan semuanya?"
"Siap ayangku, apa sih yang enggak buat ayangku ini?" gombal Alga sambil mencolek dagu Mayu..
"Mulai lagi deh gombalnya keluar. Apa Kak Alga enggak takut di bilang lebay? Kak Alga itu calon CEO loh Kak. Kak Alga harusnya bersikap berwibawa, bila perlu bersikap dingin juga, supaya orang lain semakin segan pada Kak Alga."
"Oh jadi kamu maunya aku bersikap dingin pada kamu gitu Ay?" tanya Alga.
"Ya kalau buat Mayu jangan dingin dong Kak. Mayu lebih suka Kak Alga yang seperti ini, yang hangat dan yang selalu membuat Mayu nyaman."
"Ok, kalau begitu mulai hari ini aku akan bersikap dingin pada orang lain, terutama pada cewek-cewek, supaya mereka semakin penasaran padaku." ujar Alga lagi memggoda kekasihnya.
"Ya kalau itu jangan dong Kak. Mayu enggak suka para cewek-cewek itu penasaran pada kak Alga."
"Ya terus kamu maunya aku gimana?"
"Ya seperti ini saja deh, enggak apa-apa." ujar Mayu akhirnya membuat Alga lagi-lagi tersenyum.
__ADS_1
"Plin plan sekali kamu Ay!"
"Hehe ..."
Alga juga ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Perhatian mereka sama-sama teralih begitu pelayan meletakkan makanan dan minuman pesanan mereka.
"Terima kasih Mbak," kompak Alga dan Mayu.
"Iya, sama-sama. Selamat menikmati!"
Alga dan Mayu mengangguk.
Mayu langsung mengambil jus jeruknya, haus dia. Sedangkan Alga dia yang tadinya ingin mengambil jus jeruknya, mengurungkan niatnya karena mendengar ponselnya berbunyi.
"Sebentar ya Ay," ujar Alga kemudian mengambil ponselnya.
Mayu mengangguk sambil meminum jus jeruknya.
Alga menghela nafas begitu melihat nama si peneleponnya.
"Siapa Kak?" tanya Mayu.
"Mami," ujar Alga pelan sambil menjukkan layar ponselnya.
Alga malas menjawab telepon dari maminya, tapi Alga lebih malas lagi mendengar omelan maminya hanya karena dia tidak menjawab teleponnya.
Alga yang enggak punya pilihan lain, akhirnya menjawab telepon maminya.
"Hallo Mi,"Jawab Alga.
"Hallo Alga, dimana kamu? Kenapa belum pulang juga?" tanya Dira cepat.
"Alga lagi makan di kafe Mi dan maafkan Alga, Alga sepertinya akan pulang telat hari ini." ujar Alga lagi.
"Kenapa kamu pulang telat? Jangan bilang kamu pulang telat gara-gara pacaran? Ingat Alga kamu itu masih mahasiswa dan kamu harusnya fokus pada kuliah kamu dan bukan pada pacar kamu itu!" ujar Dira mengomel.
"Kalau Mami tahu begitu, kenapa mami membawa mantan Alga tinggal di rumah? Jangan Mami pikir Alga enggak tahu ya, apa maksud Mami membawa Rahel tinggal di rumah. Dan jangan salahkan Alga, kalau setelah ini Alga akan semakin jarang berada di rumah! Udah Alga mau kencan dulu." ujar Alga cepat kemudian mematikan sambungan teleponnya. Tidak hanya sambungan teleponnya yang dimatikan, ponselnya juga dinonaktifkan.
__ADS_1
"Hallo Alga! Alga!" seru Dira.
"Aih anak ini, semakin hari semakin menjadi saja kelakuannya." ujar Dira kesal.