
Hari demi hari berlalu dan bulan demi bulan juga sudah berganti. Hubungan Alga dan Mayu berjalan dengan lancar walau mereka dipisahkan jarak yang sangat jauh. Meski tidak jarang juga terjadi pertengkaran kecil diantara mereka tapi itu tak mengurangi sedikit pun perasaan cinta di hati mereka. Justru perasaan cinta itu semakin besar dan lebih besar dari perasaan rindu yang semakin hari semakin menjadi. Seperti yang terjadi saat ini, Alga yang sedang dilanda perasaan rindu yang berat pada kekasihnya sampai kesal karena Mayu tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Ay kamu kemana saja sih Ay, angkat dong teleponku!" seru Alga tidak sabaran, ini sudah telepon ke 5 tapi Mayu tak kunjung mengangkatnya.
Alga kembali menghubungi Mayu begitu panggilannya berakhir dan lagi-lagi hanya bunyi tut tut yang terdengar.
Alga menghembuskan nafasnya kasar, satu sisi dia kesal tapi di sisi lain dia juga khawatir.
Beberapa waktu lalu Mayu juga pernah tidak mengangkat teleponnya, Alga juga sempat kesal waktu itu, hanya saja perasaan kesalnya berubah jadi perasaan khawatir begitu tahu kalau Mayu sedang sakit dan itu karena kelelahan juga karena terlalu sering begadang. Alga sangat sadar itu memang salahnya karena hampir tiap malam mereka video callan dan kadang sampai lupa waktu. Alga enak karena saat mereka teleponan di tempat tinggalnya masih sore, beda halnya dengan Mayu yang sudah larut malam. Sejak saat itu Alga mengusahakan menghubungi kekasihnya maksimal satu jam saja, supaya Mayu bisa cukup waktu istirahatnya.
"Angkat dong Ay!" seru Alga lagi.
"Apa Mayu ketiduran atau jangan-jangan dia lagi sakit?" monolog Alga.
Alga yang kembali merasa khawatir juga penasaran memilih menghubungi Naura.
Tut tut.
"Hallo Kak Alga," ujar Naura begitu sambungan telepon mereka terhubung.
"Hallo juga Nau, kamu dimana, apa Mayu ada bersama kamu?" tanya Alga langsung to the poin.
"Aku lagi di jalan mau pulang Kak, ini sebentar lagi mau sampai rumah dan Mayu ada di rumah saat aku tinggalkan. Ada apa ya Kak?" ujar Naura balas bertanya.
"Ini teleponku tidak diangkat, aku khawatir saja kalau dia sakit. Saat kamu tinggalkan dia baik-baik saja kan?"
"Baik Kak, sangat baik malah. Mayu lagi ngapain ya kira-kira? Ah iya coba telepon nenek Iroh saja Kak!" saran Naura.
"Aku takut mengganggu waktu istirahatnya Nau, saat ini di indonesia sudah jam 10 malam dan nenek Iroh biasanya sudah tidur." ujar Alga.
"Benar juga sih Kak, nenek biasanya jam 9 malam sudah masuk kamar. Turus gimana dong, saat Naura pulang, Naura hanya meninggalkan mereka berdua saja di rumah."
"Kalau kamu balik lagi ke rumah Mayu, apa kamu keberatan Nau? Aku benar-benar khawatir padanya." pinta Alga.
"Tentu saja tidak Kak, aku akan minta Mas Alex pu- eh kak sebentar ini ada telepon dari Bibi Ningsih(tetangga depan rumah mayu) aku angkat sebentar ya Kak! Kak Alga tidak usah matikan sambungan teleponnya." ujar Naura.
"Iya Nau," ujar Alga dan kembali menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh perasaannya semakin tidak menentu begitu mendengar apa yang baru saja Naura katakan. Kalau sampai tetangga Mayu menghubungi Naura, Alga yakin sekali pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Hallo Kak Alga!" ujar Naura buru-buru.
"Iya Nau, gimana Nau? Apa katanya?" tanya Alga dengan debar jantung yang semakin cepat.
"Kata bibi Ningsih, nenek Iroh sakit dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit, Mayu membawanya bersama mamang. Sepertinya ponsel Mayu ketinggalan karena terburu-buru. Udah dulu ya Kak, Ini Naura juga mau menyusulnya, Mayu pasti sedang membutuhkanku saat ini." ujar Nuara membuat rasa khawatir Alga semakin menjadi.
"Iya Naura kamu segera susul Mayu, biar aku saja yang menghubungi Rangga dan yang lainnya. Segera hubungi aku kalau kamu sudah sampai di rumah sakit dan tolong tenangkan Mayu." pinta Alga.
__ADS_1
"Iya Kak, Kak Alga juga yang tenang ya di sana, Naura yakin nenek Iroh pasti baik-baik saja."
"Iya Naura." ujar Alga kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Sementara itu Mayu sudah sampai di depan pintu masuk rumah sakit. Beruntung Mayu, suami calon kakak iparnya seorang dokter dan punya rumah sakit, jadi Mayu tidak perlu bersusah payah mengurus ini dan itu, begitu mereka sampai sudah ada perawat yang mengunggu kedatangan mereka dan itu berkat bantuan Vivi tentunya.
Nenek Iroh langsung dilarikan ke ruang UGD dan di sana juga sudah ada dokter yang menunggu.
"Mbak tunggu di luar saja, pasien akan segera ditangani!" ujar salah satu perawat menahan Mayu.
"Iya Suster, tolong selamatkan nenek saya Suster!" lirih Mayu sambil menahan air matanya.
"Iya Mbak, itu sudah pasti, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien." ujar suster itu mantap.
"Terima kasih Suster." ujar Mayu.
Mayu memilih berdiri di depan pintu dan menghapus air matanya yang sudah jatuh tanpa biasa dia cegah. Sungguh Mayu benar-benar takut melihat neneknya yang sangat lemas dan nafasnya juga terdengar berat. Makanya tanpa pikir panjang lagi dia lari ke rumah depannya untuk minta tolong dan mereka juga langsung membawa nenek Iroh ke rumah sakit. Mayu juga sampai melupakan ponsel dan tasnya karena yang dibenaknya hanya nenek Iroh dan nenek Iroh.
'Ya Allah, tolong beri kesembuhan pada nenek hamba, hamba belum siap kehilangannya ya Allah.' doa Mayu sambil menangis.
Mayu kembali menghapus air matanya. Sembari menunggi neneknya selesai diperiksa Mayu memilih menghampiri mamang Agus.
"Mang terima kasih banyak ya. Kalau Mamang mau pulang, pulang saja! Mayu yakin Naura sebentar lagi akan sampai." ujar Mayu. Dia memang sempat minta pada istrinya mang Agus untuk menghubungi Naura.
"Nanti saja Neng Mayu, Mamang akan pulang kalau Neng Naura dan yang lainnya sudah datang. Kasihan kamu kalau menunggu sendirian di sini." ujarnya. Selama ini Mayu sudah jadi tetangga yang baik padanya tentu dia juga pasti ingin membalasnya.
"Sama-sama Neng, kamu yang sabar ya Neng, Mamang yakin Ibu Iroh pasti akan baik-baik saja." ujarnya.
"Iya Mang," ujar Mayu.
Mayu kembali jalan ke arah pintu dan mencoba mengintip apa yang terjadi di dalam sana.
'Nek bertahan lah Nek, jangan tinggalkan Mayu!' batin Mayu gelisah.
"Mayu!" panggil Naura.
Mayu menoleh dan matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat Naura.
"Naura mempercepat larinya dan langsung membawa Mayu ke dalam pelukannya.
Tangis Mayu yang sedari tadi dia tahan-tahan seketika pecah.
"Gue takut Nau ...." lirih Mayu sambil menangis.
"Enggak Mayu, lo enggak boleh takut. Gue yakin nenek pasti baik-baik saja, dia tidak akan meninggalkan kita. Ingat dia sudah janji pada kita kalau dia akan melihat kita menikah dan memiliki anak." ujar Naura berusaha menenangkan Mayu. Dia sangat mengerti perasaan Mayu karena bagi Mayu nenek Iroh adalah salah satu orang yang paling berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Benar kata Naura, Mayu. Dari pada kamu pikirannya semakin tidak terkendali, lebih baik dibawa dalam doa saja. Nenek Iroh juga pastinya saat ini lebih butuh doa dari kita, bukan rasa takut dan khawatir kita." ujar Alex.
"Iya Mas," lirih Mayu.
Mereka bertiga kemudian berdoa bersama di depan pintu ruang UGD itu dan tidak lama setelah itu pintu ruangan UGD terbuka.
"Bagaimana keadaan nenek saya Dokter?" tanya Mayu tidak sabaran.
Dokternya menatap mayu dan raut wajahnya tampak tenang membuat Mayu juga sedikit tenang walau rasa takutnya lebih besar.
"Pasien sudah selesai ditangani, tidak ada penyakit yang serius, hanya penyakit orang tua saja. Jika keadaannya terus membaik besok atau lusa juga susah boleh pulang. Pasien hanya perlu istirahat saja." jelas dokternya membuat Mayu merasa lega.
"Iya Dokter terima kasih dokter. Apa kamu sudah bisa menemuinya dokter?" tanya Mayu.
"Tentu saja boleh, tapi kalau bisa jangan dulu diajak bicara!"
"Iya Dokter, sekali lagi terima kasih Dokter."
"Sama-sama."
Mayu kemudian melangkah perlahan menghampiri neneknya. Mayu hanya menatap neneknya dan menyentuh tangan neneknya dengan perlahan.
"Terima kasih sudah bertahan Nenek," monolog Mayu.
***
Nenek Iroh, sudah di pindah ke ruang perawatan VIP. Tidurnya terlihat tenang dan nafasnya juga sudah kembali normal, hanya saja wajahnya masih terlihat pucat. Walau begitu Mayu sudah sangat bersyukur untuk itu. Mayu bahkan tidak mau jauh-jauh dari neneknya dan selalu siap siaga untuk neneknya.
"Nenek mau apa, mau minum?" tanya Mayu begitu melihat nenek Iroh membuka matanya.
"Iya Nak," ujar nenek Iroh dengan suara pelan.
Mayu langsung bangun dari duduknya dan mengambil minuman hangat untuk neneknya. Mayu juga membatu neneknya minum menggunakan sendok.
"Udah," ujar nenek Iroh lagi dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Nenek mau apa lagi, mau makan?" tanya Mayu.
"Tidak Nak, mau tidur saja."
"Ya sudah tidak apa-apa, Mayu bantu ya Nek." ujar Mayu kemudian mengusap pelan pelipis neneknya dan tidak lupa mengecup pelan kening neneknya.
"Mayu sangat sayang Nenek, cepat sembuh Nenek." ujar Mayu pelan.
Mayu terus mengusap pelipis neneknya hingga nenek Iroh tidur kembali.
__ADS_1
"May, nenek sudah tidur, sebaiknya lo hubungi kak Alga dulu deh, kasihan dia. Dia sangat khawatir pada Lo. Biar gue yang menggantikan lo." bisik Naura.
Mayu menganggukkan kepalanya, benar kata Naura, dia sebaiknya mengabari Alga. Kasihan kekasihnya dan Mayu juga sudah sepantas berterima kasih padanya. Walau Alga tidak bersamanya, tapi Alga cukup banyak membantunya terutama soal rumah sakit.