
"Selamat sore menjelang malam semua." ujar Rangga selaku wakil ketua bem.
"Sore menjelang malam juga Kak." kompak para mahasiswa dan mahasiswi baru.
"Terima kasih semua. Baik, sebelum kita mengakhiri OKK, alangkah lebih baiknya kita selesaikan semua, apa yang belum kita selesaikan. Di samping saya ini adalah dua mahasiswi cantik dan berprestasi tapi sayang mereka tidak tepat waktu atau disiplin. Untuk itu saya ingin memberikan hukuman pada mereka, supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama dan tahu kalau waktu itu sangatlah berharga. Kalian setuju kan kalau saya memberi hukuman pada mereka?" jelas Rangga.
"Sangat setuju Kak!" seru mahasiswa dan mahasiswi kompak.
Mayu dan Lora mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya antara senior dan junior itu sifatnya sama saja. Senior senangnya menghukum dan junior senangnya melihat temannya dihukum.
"Baguslah kalau kalian setuju." ujarnya kemudian beralih pada Mayu dan Lora.
"Teman-teman kalian setuju kalau kalian dihukum dan kalian memang pantas dihukum. Berhubung kalian hanya dua orang, hukumannya gampang saja. Kalian bisa ambil masing-masing kertas yang sudah saya siapkan, dan kalian bisa baca keras-keras hukuman untuk kalian. Sampai di sini kalian paham apa maksud saya?"
"Paham Kak." jawab Mayu dan Lora kompak.
"Bagus, untuk yang pertama, Lora terlebih dulu!"
"Baik Kak," ujar Lora membuka kertasnya.
Lora menarik nafas pelan dan menatap malas isi kertasnya.
"Bacakan Lora!" perintah Rangga.
"Nyanyikan lagu potong bebek angsa dengan mengganti setiap huruf a jadi o dan sambil bergoyang!" baca Lora keras.
Lora menatap kesal isi kertasnya. Hukumannya enggak asik banget, tapi kalau asik itu jelas bukan hukuman namanya.
"Silahkan Lora, jangan lama-lama ini sudah mau malam!" ujar Lia galak.
"Iya Kak," ujar Lora malas.
Lora kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas dan mulai bergoyang.
"Potong bebek ongso, mosok di kuoli nono minto donso, donso empot koli ...." Lora terus bernyayi sambil bergoyang.
Mayu dan para mahasiswa yang lain menahan tawa melihat. Mayu sampai menutup wajahnya karena marasa malu sendiri melihat temannya. Sedangkan Lora jangan ditanya lagi, ingin rasa dia menghilang sejauh mungkin.
__ADS_1
"Wah suara kamu bagus sekali Lora, tepuk tangan dulu buat Loro ongso teman-teman!" ujar Rangga dan masih ada sisa tawa di wajahnya. Senang dia melihat adik tingkatnya dikerjai.
"Lora saja Kak, bukan Loro ongso!" ujar Lora tidak terima.
"Oh salah ya? Maaf ya Lora, saya harap kamu akan selalu ingat hari ini supaya ke depannya kamu semakin menghargai waktu."
"Iya Kak," nurut Lora.
"Sekarang kamu bisa duduk!"
"Iya Kak, terima kasih Kak." ujar Lora dan kembali ke tempat duduknya semula sambil menundukkan kepala. Rasa malu Lora belum sepenuhnya hilang. Apalagi saat melihat Shinta dan Irpan tertawa tanpa suara di depannya. Lora sampai menunjukkan kepalan tangannya pada kedua temannya itu. Malu banget dia.
"Selanjutnya giliran Mayu, kamu bisa baca keras-keras isi kertasnya Mayu!" suruh Rangga lagi.
"Baik Kak," ujar Mayu. Mayu menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Tanpa membaca pun Mayu sudah tahu isinya.
"Cepat Mayu!" suruh Lia tidak sabaran.
"Iya Kak," ujar Mayu malas.
"Wow tembak senior lagi. Kira-kira siapa ya yang bakalan ditembak oleh Mayu. Ah iya Mayu, ini saya ada pulpen untuk kamu. Siapa tahu dengan bantuan pulpen ini cinta kamu bisa diterima. Pulpen saya ini, pulpen ajaib loh." ujar Rangga sambil memberikan pulpennya.
Mayu menerima malas pulpennya.
"Silahkan Mayu, kamu mau menembak siapa diantara kami para cowok-cowok tampan ini!" suruh Rangga lagi seolah tidak tahu apa-apa.
Padahal dia sudah tahu pasti siapa yang akan ditembak oleh Mayu karena ini bagian dari rencananya. Dan dia mau semua berjalan se alami mungkin agar tidak ada yang curiga dengan kerja sama kekasih bayaran itu.
"Iya Kak," ujar Mayu lagi-lagi menarik nagas pelan.
Mayu menatap para senior cowoknya satu persatu. Mayu tidak cemas juga takut, justru yang cemas juga takut itu adalah Irpan. Irpan sampai menggenggam kuat tangannya sendiri. Irpan benar-benar takut kalau senior mereka itu menerima Mayu. Irpan benar-benar tidak rela jika gadis incarannya dari SMP jadian dengan cowok lain.
Mayu mulai melangkahkan pelan kakinya. Dia berhenti depan Rangga terlebih dulu. Rangga mengedipkan sebelah matanya. Ingin rasanya menonjok mata seniornya itu, kelakuannya sangat menyebalkan.
Mayu kembali melangkahkan kakinya ke arah senior mereka yang lain.
Lora dan yang lainnya tampak menunggu dengan penasaran kira-kira senior mana yang akan Mayu tembak.
__ADS_1
Lora dan yang lainnya sampai melotot saat Mayu berhenti di depan Alga. Lora dan Sinta sampai mengulurkan tangannya. Ingin rasanya mereka menahan Mayu. Mereka memang ini memenangkan hati Alga tapi tidak sekarang juga. Setidaknya melakukan pendekatan perlahan dulu pada Alga. Lora dan Shinta benar-benar tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterima teman mereka itu.
Sementara itu Naura, Lia dan beberapa penggemar Alga yang lainnya ingin teriak pada Mayu. Mayu itu tidak punya otak atau gimana? Oklah Alga memang termasuk salah satu mahasiswa yang paling ganteng dan penggemarnya juga banyak, tapi bukan berarti Mayu harus menembaknya, karena menembak Alga itu sama saja bunuh diri namanya. Mayu sudah pasti akan ditolak dan biasanya Alga kalau memberikan hukuman itu suka sadis.
Tahun lalu juga ada mahasiswa baru yang nembak Alga. Anak baru itu langsung ditolak dan dia dihukum mencuci semua kamar mandi di kampus, sampai benar-benar bersih dan wangi. Apa Mayu juga ingin menerima hukuman yang sama?
"Eh Nau itu si Mayu gila atau sinting? Lo aja yang sangat cantik dan mendekati sempurna langsung ditolak sama kak Alga. Apa lagi itu Mayu yang cantiknya tidak seberapa dan dengar-dengar dia juga berasal dari keluarga kurang mampu, bisa kuliah di sini juga karena dapat beasiswa." ujar Ira teman dekat Naura.
"Mungkin dia gila, dan gilanya stadium akhir lagi. Nekat sih boleh, tapi sadar diri juga lah! Mana mungkin kak Alga mau menerima cintanya, iya enggak?" ujar Naura menatap remeh Mayu.
"Benar sekali Nau." ujar Yuli teman Naura yang lain.
Tatapan remeh juga terlihat di wajah Lia dan teman-temannya. Menurut mereka Mayu sudah tidak waras. Alga memang beberapa kali melirik padanya bahkan sempat memberi dia minum tapi itu bukan berarti Alga suka padanya. Percaya diri boleh tapi terlalu percaya diri itu jangan.
Sedangkan Irpan, perasaannya semakin campur aduk melihat Mayu yang sudah berlutut depan Alga. Haruskah dia bersyukur Mayu memilih menembak Alga karena Alga sudah pasti akan menolaknya? Namun di sisi yang lain dia juga tidak tega kalau Mayi sampai dihukum. Kasihan Mayu bebannya sudah terlalu berat, dan Irpan benar-benar tidak ingin bebannya bertambah lagi.
Irpan sampai memejamkan matanya saat Mayu mengangkat pulpennya dan menatap Alga.
"Kak Alga, maukah Kak Alga jadi pacar saya?" ujar Mayu dan menatap memelas pada Alga. Ini biar skenario mereka terlihat nyata dan tanpa ada rekayasa.
"Sebutkan alasan, kenapa saya harus menerima kamu jadi pacar saya?" ujar Alga dingin.
Mayu lagi-lagi menarik nafas pelan.
"Saya belum pernah pacaran Kak, dan jika saya jadi pacar Kak Alga, saya akan jadi suporter terbaik untuk Kak Alga. Saya juga akan jadi cewek setia dan hanya ada Kak Alga seorang dalam hati saya." ujar Mayu mantap.
Naura dan para pecinta Alga yang lain menatap remeh pada Mayu. Benar-benar itu Mayu terlalu nekad dengan enggak punya modal sama sekali.
Alga juga ikut menarik nafas pelan.
"Baiklah berhubung kamu mau jadi suporter terbaik untuk saya dan kamu juga cewek yang setia, saya mau menerima kamu jadi pacar saya. Saya juga akan belajar mencintai kamu dan saya harap kamu bisa sabar." ujar Alga lantang.
Mayu tersenyum tipis mendengarnya, walau dia sudah tahu jawaban Alga, tapi entah kenapa ada sisi dalam dirinya merasa senang. Sedangkan Naura, Lia dan penggemar Alga yang lainnya termasuk Shinta dan Lora, lagi-lagi melotot. Mereka benar-benar terkejut. Mereka tidak salah dengar kan? Itu tadi yang bicara beneran Alga kan?
Tangan Naura sampai terkepal erat. Bagaimana bisa Alga menerima Mayu sedangkan dia langsung ditolak. Harga dirinya benar-benar jatuh karena seorang Mayu. Dia tidak bisa terima ini, dia buat perhitungan dengan Mayu, Naura yakin Mayu pasti sudah melakukan sesuatu pada Alga.
Sementara itu Irpan menundukkan kepalanya dalam. Hatinya benar-benar sakit mendengar jawaban Alga. Apa itu berarti dia harus melepas Mayu sebelum berjuang?
__ADS_1