
"Kita kemana lagi ini Kak?" tanya Mayu begitu Alga menjalankan mobilnya ke arah lain, bukan arah jalan pulang.
"Makan," jawab Alga singkat.
"Kak Alga lapar?"
"Enggak."
"Kalau enggak lapar kenapa makan? Saya juga belum lapar Kak. Lagian saya juga tidak mungkin makan sendiri, sementara nenek saya di rumah juga belum makan." ujar Mayu apa adanya.
Alga sampai melirik padanya Mayu. Lagi-lagi Alga dibuat kagum sama sosok Mayu yang tidak pernah melupakan neneknya.
"Kita hanya belajar makan sebentar." ujar Alga akhirnya.
Gantian Mayu yang menatap Alga.
"Kak Alga masih sehat kan?" tanya Mayu heran. Ada-ada saja Alga, udah besar kok belajar makan.
"Tentu saja sehat Mayu. Kita akan belajar makan di restoran dan ini untuk kamu bukan untuk saya. Saya hanya tidak mau, kamu melakukan hal yang salah saat makan bersama keluarga saya nanti." jelas Alga lagi.
"Oh itu, iya Kak saya paham. Ngomong dong, kan Mayu enggak salah sangka!" ujar Mayu tersenyum malu.
"Itu saya sudah bilang."
"Iya Kak Alga. Terus ini kita mau makan di mana Kak?"
"Tentu saja restoran." jawab Alga mantap.
"Serius Kak?" tanya Mayu antusias.
"Tentu saja serius, kalau makan di rumah makan Padang, saya rasa kamu tidak perlu diajari."
"Kak Alga tahu saja. Eh Kak, ini kan kita makan di restoran mahal, boleh tidak Kak, saya minta dibungkus satu porsi saja buat nenek saya?" tanya Mayu penuh harap. Saat Mayu makan enak, Mayu mau neneknya juga bisa merasakannya.
Alga kembali melirik pada Mayu dan menarik nafas pelan.
"Iya boleh." ujar Alga pelan dan itu tulus dari dalam hatinya. Alga tidak masalah sama sekali kalau harus berbagi pada nenek Mayu.
"Beneran Kak?" tanya Mayu semangat.
Alga menganggukan kepalanya.
"Aaa senangnya. Kak Alga memang yang terbaik pokoknya. Terima kasih banyak Kak Alga, Kak Alga memang yang terbaik. Mimpi apa ya Mayu semalam, hari ini Mayu ketiban rejeki begitu banyak?" ujar Mayu senang.
Alga hanya tersenyum tipis, Alga ikut senang melihat wajah senang Mayu.
"Kak Alga tahu enggak, ini bukan tugas berat namanya, tapi ini adalah tugas surga dunia." ujar Mayu lagi.
"Enggak ada itu tugas surga dunia Mayu. Ini karena kamu belum melakukan tugas sesungguhnya saja." ujar laki-laki berparas tampan itu.
"Benar juga ya, tapi tetap saja bagi Mayu ini adalah tugas surga dunia Kak." ujar Mayu mantap. Ditambah lagi sebentar lagi dia juga bisa melihat rumah ayah kandungnya. Bukankah itu suatu keberuntungan yang bertubi-tubi?
Mayu tidak perduli maminya Alga akan menghinanya seperti apa, yang jelas Mayu benar-benar merasa beruntung saat ini, dan Mayu berharap keberuntungan itu akan selalu ada padanya.
__ADS_1
***
"Kak Alga tidak ada niatan menarik kursi untuk Mayu?" goda Mayu begitu mereka sampai di meja yang sudah dipesan Alga.
Alga melirik pada Mayu.
"Enggak." jawab Alga singkat padat dan jelas.
Mayu mengerucutkan bibirnya.
"Kak Alga kekasih yang tidak romatis deh." goda Mayu lagi sambil menarik kursi untuknya sendiri.
Alga cuek saja kemudian ikut duduk di samping Mayu.
"Kak Alga kenapa duduk di sini? Kenapa tidak duduk depan Mayu saja? Biar bisa tatap-tatapan romantis gitu loh Kak." ujar Mayu lagi-lagi menggoda Alga.
"Mayu! Kedatangan saya ke sini mau mengajari kamu makan, bakan pacaran dengan kamu." protes Alga.
"Ya sekalian juga enggak apa-apa Kak. Sesekali menyenangkan kekasih bayarannya ini, anggak apa-apa loh Kak. Mayu ikhlas." ujar Mayu lagi.
"Iya kamu ikhlas, tapi saya yang tidak ihklas." ujar Alga yang bertentangan dengan kata hatinya. Alga tidak bisa memungkiri kalau dia suka pergi bersama Mayu dan menghabiskan waktunya dengan Mayu. Hanya saja Alga berusaha menyembunyikannya karena tidak mau Mayu jadi tahu.
"Kalau tidak ikhlas kita tidak usah jadi makan saja deh." ujar gadis berparas cantik itu.
"Kenapa tidak?" tanya Alga santai.
"Ya saya takut sakit perut Kak Alga. Nanti kalau saya sakit perut bisa berabe urusannya."
"Saya ikhlas kok Mayu, sangat ikhlas." ujar Alga akhirnya.
Alga mengangguk dia kemudian mengangkat tangannya memanggil pelayan.
"Kamu mau makan apa Mayu?"
"Steak Kak dan buat nenek saya juga steak ya Kak." ujar Mayu semangat.
Alga mengangguk.
"Selain itu?"
"Terserah Kak Alga saja, seikhlasnya Kak Alga saja." ujar Mayu lagi.
Alga kembali mengangguk mengerti. Alga kemudian menyebutkan pesanannya dan itu jumlahnya hampir 10 jenis. Mayu sampai melongo mendengarnya tapi Mayu yakin walaupun jumblahnya ada sepuluh jenis tidak akan sekenyang makan nasi Padang.
Tidak perlu lama menunggu hidangan utama sudah disajikan.
Mayu tersenyum melihat hidangannya. Porsinya sedikit sekali, sekali makan saja sudah langsung habis itu, hanya saja Mayu sangat suka penyajiannya, bentuknya sangat cantik.
"Kak Mayu boleh foto dulu tidak Kak? Tapi Kak Alga tenang saja saat di rumah kak Alga nanti saya tidak akan minta foto." ujar Mayu apa adanya dan tanpa jaga image sama sekali.
"Iya silahkan saja!" ujar Alga yang tidak kuasa menolak keinginan Mayu walau terbilang norak.
"Terima kasih Kak Alga." ujar Mayu senang kemudian mengambil poselnya.
__ADS_1
Ckrek ckrek
Mayu lagi-lagi tersenyum melihat hasil fotonya. Alga diam-diam tersenyum, dia suka melihat wajah bahagia Mayu.
"Sudah? Apa kita bisa makan Mayu?"
"Iya sudah Kak." jawab Mayu mantap dan menyimpan poselnya kembali.
"Bagus. Sekarang kamu perhatikan saya, perhatikan cara saya memotong makan serta bagaimana cara saya mengunyah. Semuanya dilakukan dengan santai dan elegan serta tidak perlu diburu-buru. Dan Ingat cara memotong makan atau menyendok makanan juga harus rapi dan dari pinggir terlebih dulu, tidak boleh bar-bar!" jelas Alga.
"Ok Kak," ujar Mayu patuh dan memperhatikan Alga dengan serius.
Tanpa sada senyum Mayu mengembang melihat cara makan Alga yang terlihat elegan.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Alga.
"Kalau cara makan Kak Alga seperti itu, Kak Alga terlihat seperti tuan muda sungguhan. Kegantengannya jadi nambah 100 persen Kak." jujur Mayu.
"Ehem!" Alga hanya berdehem menyembunyikan perasaan senangnya. Ini Mayu benar-benar tidak ada gengsinya bilang Alga ganteng. Sebagai manusia biasa yang memiliki perasaan tentu saja Alga senang dipuji ganteng. Terlebih yang memujinya adalah gadis yang sudah berhasil mencuri perhatiannya.
Alga tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Inilah yang ditakutkannya, jika dia bersama Mayu, dia akan semakin baper, dan perasaannya padanya Mayu akan bertambah dan bukan berkurang.
"Kak Alga kenapa geleng-geleng kepala?" tanya Mayu bingung.
"Tidak apa-apa Mayu, sekarang Kamu bisa ikuti cara makan Saya!" ujar Alga kembali fokus pada tujuan awalnya.
"Ok Kak," nurut Mayu kemudian melakukan seperti apa yang dilakukan Alga.
Mayu makan dengan anggun dan Elegan. Mayu benar-benar menahan dirinya, dia sebenarnya ingin menyendok banyak makanannya, tapi karena ingat ini bagian dari tugasnya dan tidak ingin membuat Alga marah, jadi Mayu harus menahan diri.
Jika sebelumnya Mayu yang tersenyum, kali ini gantian Alga yang tersenyum. Makan dengan cara anggun dan elegan seperti itu jelas bukan Mayu banget tapi Alga harus mengakui kalau Mayu cukup pintar, dan dia juga melakukannya dengan benar persis seperti apa yang Alga ajarkan.
"Bagus Mayu!" puji Alga.
Mayu menoleh.
"Mayu sudah lulus untuk pembuka Kak?" tanya Mayu.
"Iya." jawab Alga mantap.
"Asik asik!" ujar Mayu senang kemudian menyendok sisa makanannya dan memasukkan semuanya ke dalam mulut. Mayu sudah tidak tahan untuk tidak menghabiskannya.
"Eh Mayu, jangan dimakan semuanya juga dong!" tegur Alga.
Baru juga dibilang bagus, langsung bar-bar saja ini Mayu.
Mayu menoleh dan tersenyum lebar pada Alga.
"Makanannya enak Kak, sayang kalau tidak dihabiskan, tapi Kak Alga tenang saja, saat di rumah Kak Alga nanti, saya pasti bisa menahan diri kok. Ini karena kita berdua saja makanya saya makan semuanya." ujar Mayu meyakinkan.
"Iya, awas saja kalau kamu makannya bar-bar, apalagi sampai belpotan seperti ini." ujar Alga sambil mengusap sudut bibir Mayu yang terkena noda makanan.
"Eh!" kaget Mayu dan refleks menatap Alga. Alga juga melakukan hal yang sama. Untuk beberapa detik mereka saling menatap dalam.
__ADS_1
Deg deg deg
Jantung Alga berdebar dengan cepatnya dan Mayu menelan ludah gugup. Untuk sesaat waktu seakan berhenti bagi dua anak manusia itu.