
"Assalamualaikum Ay," ujar Alga begitu Mayu mengangkat video callnya.
"Waalaikumsalam Kak. Wih wajahnya cerah sekali pagi ini." ujar Mayu begitu melihat wajah tampan kekasihnya.
"Iya dong Ay, kan baru selesai sholat. Kamu sudah selesai sholat?"
"Iya sudah Kak, ini mau siap-siap buat sarapan. Kak Alga mau dimasakin sarapan apa pagi ini?"
"Kayaknya pagi ini kamu enggak perlu masakin aku sarapan deh Ay dan aku juga sepertinya enggak mampir dulu pagi ini." ujar Alga.
"Kenapa Kak? Apa Kak Alga takut diikuti wartawan?" tanya gadis berparas cantik itu.
"Bukan takut Ay, tapi aku mau sarapan di rumah calon mertua saja. Coba tebak aku lagi dimana?" ujar Alga sambil mengarahkan kameranya ke sekeliling kamarnya.
"Itu bukan kamar Kak Alga, Kak Alga pindah kamar?" tanya Mayu lagi. Mayu sangat tahu seperti apa kamar Alga karena dia pernah seharian bersembunyi di kamar Alga.
"Eh tunggu, itu seperti kamar yang ada di rumah Naura deh Kak, Kak Alga tidur di rumah Naura?" ujar Mayu lagi. Dia tidak asing dengan kamar itu dan seingat Mayu, Naura pernah menunjukkan kamar itu padanya.
Alga kembali mengarakan kameranya ke wajahnya dan ada senyum di wajahnya karena tebakan Mayu benar sekali.
"Benar Ay, aku tidur di rumah Naura dan untuk sementara aku juga akan tinggal di sini. Aku memutuskan keluar dari rumah Ay." ujar Alga membuat Mayu mengangkat alisnya.
"Kenapa Kak Alga memutuskan keluar dari rumah?"
"Aku malas Ay berantem terus sama Mami. Selain itu aku juga takut kalau Rahel diam-diam mengambil foto atau videoku dan sengaja menguploanya di sosial media, dan yang lebih parahnya lagi kalau dia juga sengaja membuat caption yang enggak-enggak. Tentu itu akan semakin merugikanku. Selain itu aku juga enggak mau ketahuan sama wartawan kalau kami tinggal satu atap." jelas Alga dan Mayu tidak bisa menyembunyikan perassan leganya.
Mayu sangat senang dengan keputusan Alga kali ini dan dia juga enggak perlu was-was lagi kalau Rahel mencoba merayu Alga.
"Menurut kamu apa keputusanku kali ini sudah benar Ay?" tanya Alga.
"Tentu saja." jawab Mayu cepat dan mantap.
"Semangat banget kamu Ay."
"Iya dong. Aku jadi lebih tenang kalau Kak Alga tinggal di rumah Daddy dan kalau aku lagi main ke sana, kita juga jadi punya waktu bersama lebih banyak lagi." ujar Mayu apa adanya.
"Benar juga ya Ay, kamu kan masih ada latihan renang seminggu sekali. Nanti aku bisa ikutan renang doang sama kamu." ujar Alga ikut antusias.
"Itu dia Kak. Eh tapi Kak Alga ingat ya, Kak alga enggak boleh macam-macam sama Naura! Awas saja kalau kalian ada main di belakangku!" ujar Mayu mengingatkan.
"Enggak akan Ay. Naura enggak mungkin menikung kamu. Lagian sikap Naura padaku juga sudah seperti sikap seorang adik pada kakaknya dan aku cukup nyaman untuk itu." ujar Alga apa adanya.
"Baguslah kalau begitu. Berarti ini Kak Alga mau sarapan di rumah Daddy?"
"Iya dan aku juga sekalian mau berangkat ke kantor sama dia."
"Oklah, kalau begitu Mayu mau nasak sarapan dulu ya Kak."
"Siap Sayang. Kabari aku kalau kamu mau berangkat ke kampus atau kalau ada terjadi sesuatu!"
__ADS_1
"Siap Kak, bye Kak."
"Iya Sayang." ujar Alga kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Alga menarik nafas akhirnya dia merasakan pagi yang tenang juga,walau diluar sana mungkin banyak orang yang sedang berusaha mencari informasi tentang dia.
***
Pratama yang baru saja selesai olah raga pagi, tampak mengerutkan keningnya begitu melihat mobil Alga masih terparkir di rumah. Tumbenan Alga belum pergi, biasanya setelah selesai sholat subuh langsung ngacir dia.
Pratama kemudian masuk ke dalam rumahnya. Dia memutuskan mandi terlebih dulu sebelum sarapan. Setelah semuanya rapi dan wangi dia pergi ke ruang makan.
Keningnya lagi-lagi berkerut, begitu melihat hanya Rahel dan Dira di sana. Dimana putra bungsunya? Apa dia tidak ikut sarapan?
"Alga dimana Mi, apa dia tidak kerja?" tanya Pratama sambil menarik kursi untuk dia sendiri.
Dira yang hendak menyiapkan piring untuk Pratama, gerakan tangannya tiba-tiba berhenti. Haruskah dia jujur soal Alga atau bohong saja? Tapi kalau dia jujur, Pratama bisa marah padanya.
"Alga pergi dari rumah Pi," ujar Dira pelan dan memilih jujur saja. Dari pada Peratama tambah marah kalau dia bohong, bisa makin berabe urusannya nanti.
Pratama refleks menatap istrinya.
"Kenapa dia pergi dari rumah?" tanya Pratama cepat.
"Mungkin dia mau menghindar dari gosip itu. Padahal kan gosip itu sangat bagus untuk dia. Namanya jadi semakin dikenal. Udah gitu saham perusahan kita juga naik berkat dia. Mami kadang enggak mengerti dengan jalan pikiran anak itu." ujar Dira dan sengaja menyalahkan Alga supaya dia enggak kena marah.
Pratama menarik nafas pelan.
"Kami enggak ada membuat gosip murahan ya Pi, kan memang benar Rahel pernah menjalin hubungan dengan Alga. Gosipnya bisa jadi heboh karena banyak yang suka pada mereka. Itu berarti orang-orang di luar sana sudah pada pintar dan mereka tahu gadis mana yang cocok untuk Alga. Papi juga harusnya membantu membujuk Alga supaya mau balikan dengan Rahel. Coba Papi bayangkan, dengan gosip pacaran mereka saja dampaknya bisa sebesar ini, apalagi kalau mereka menikah. Pratama group itu bisa jadi prusahaan raksasa Pi." ujar Dira lagi membuat Pratama lagi-lagi menghela nafas.
"Papi enggak munafik Mi, kalau Papi juga ingin Pratama group jadi prusahaan raksasa, tapi Papi enggak setuju kalau itu harus mengorbankan perasaan Alga sendiri. Alga itu sudah dewasa Mi, dan dia tahu gadis mana yang terbaik untuk dia. Lagian kalau disuruh milih, Papi lebih setuju kalau Alga memilih Mayu. Mayu itu jelas-jelas lebih mengutamakan pendidikanya dari pada karirnya, walau karirnya juga terbilang sudah hebat untuk gadis seumuran dia. Selain dia juga jurusannya sama dengan Alga. Mereka sama-sama suka bisnis. Malah Papi lebih yakin lagi kalau Pratama group itu bisa jadi prusahaan raksasa kalau ada ditangan Alga dan Mayu. Untuk itu papi minta tolong hentikan itu gosip-gosip tidak jelas itu." jelas Pratama.
"Udah enggak bisa Pi, pokoknya Mami juga maunya kalau Alga sama Rahel saja karena hanya Rahel yang paling cocok dengan Alga. Rahel artis terkenal dan Alga pengusaha hebat, titik." ujar Dira enggak mau kalah.
"Terserah Mami saja," ujar Pratama dan kembali bangun dari duduknya.
"Papi mau kemana, ini sarapannya belum dimakan Pi!"
"Aku mau sarapan di luar saja." ujar Pratama. Malas dia berdebat dengan istrinya.
Jika menyangkut percintaan anak-anaknya, prinsip mereka itu terlalu bertolak belakang. Dira yang selalu ikut campur masalah percintaan anaknya sedangkan Pratama enggak pernah mau ikut campur. Dia juga pastinya akan mendukung saja siapa pun yang jadi pilihan anak-anaknya, karena dia sadar anaknya sudah dewasa tentu mereka tahu apa yang terbaik untuk mereka.
***
"Om, sepertinya ada banyak wartawan" ujar Alga begitu mereka sampai di kantor Pratama group dan melihat ada banyak orang yang menunggu depan kantor sambil membawa kamera.
Alga memang sengaja memilih menumpang dengan David. Dia malas bawa mobil sendiri. Padahal David sudah menawarkan mobilnya yang lain untuk dipakai Alga.
David menoleh.
__ADS_1
"Kamu benar Alga, seperti mereka mau wawancara dengan kamu."
"Alga tidak mau Om," ujar Alga cepat.
"Iya Om tahu itu. Kamu sebaiknya masuk dari pintu basement saja, biar Om yang mengurus mereka." saran David.
"Iya Om, terima kasih ya Om."
David mengangguk.
"Om duluan Alga," ujarnya lagi begitu mobilnya berhenti depan pintu masuk.
"Iya Om," ujar Alga. Alga masih memperhatikan David yang turun dari mobilnya kemudian melangkah dengan langkah tegapnya. Jika sudah di kantor aura David memang terlihat lebih berwibawa lagi. Sangat cocok memang dia jadi bos.
David melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, walau begitu dari ekor matanya dia masih bisa melihat para wartawan yang sedang sibuk dengan kamera masing-masing. Ada yang berdiri dan ada juga yang memilih duduk di tangga dekat pintu masuk. Bahkan satpam yang tadi yang tadinya asik ngobrol dengan wartawan langsung berdiri tegap begitu sadar dengan kedatangan David.
"Selamat pagi Pak," ujar satpam dan langsung membukakan pintu untuk David.
"Ya. Kamu dan semua keamanan yang bertugas, ke ruangan saya sekarang!" ujar David pelan tapi dampaknya tidak lah sepelan itu, tangan satpam itu bahkan langsung dingin begitu mendengar perintah David. David memang tidak pernah marah di depan para karyawannya tapi biasanya yang dipanggil ke ruangannya pasti kena teguran dan tidak jarang juga ada yang dipecat.
"Ba-baik Pak," ujar satpam itu gugup.
David terus melangkahkan kakinya dan diikuti oleh bodyguard yang membawakan tasnya tentunya.
David melangkah masuk lift khusus untuk para petinggi perusahaan. Begitu sampai dia kembali melangkah ke ruangannya.
"Pagi Pak," ujar sekretarisnya begitu David datang.
"Ya pagi. Begitu keamanan datang langsung suruh masuk saja!" perintah David.
"Baik Pak," jawabnya mantap dan langsung mengerti maksud David. Dia sudah tahu soal para wartawan itu, dia juga sebenarnya kurang setuju dengan kedatangan mereka, tapi dia juga bisa apa, kalau banyak para petinggi perusahaan yang mendukung mereka.
Tak lama setelah David duduk 5 orang satpam masuk ke ruangannya.
"Apa kalian tahu kenapa saya menyuruh kalian ke ruangan saya?" tanya David.
"Ini karena para wartawan Pak," jawab salah satu satpam.
"Kalau kalian tahu karena wartawan lalu kenapa kalian tidak menyuruh mereka pergi? Ini adalah kantor, tempat untuk bekerja, bukan untuk bergosip. Saya tidak suka kantor ini dijadikan tempat gosip. Saya juga tak mau para karyawan kenerjanya jadi menurun gara-gara gosip. Jadi saya minta pada kalian semua, supaya menyuruh wartawan itu pergi atau saya akan memecat kalian! Saya tidak suka pada karyawan yang kerjanya tidak becus." tegas David membuat para satpam menelan ludahnya.
Padahal sebelumnya baik itu direktur atau manager tidak ada yang mempermasalahkan keberadaan para wartawan. Malah sikap mereka seperti memberi dukungan pada para wartawan, tapi kenapa CEO mereka terlihat sangat marah? Dan mereka semua tidak mungkin menolak perintah Dari CEO karena tahta tertinggi di perusahaan ini tentu dipegang oleh CEO. Dan CEO hanya tunduk pada pemegang saham saja.
"Ba-baik Pak, kami akan menyuruh mereka pergi. Ma-maafkan kami Pak." ujar salah satu satpam mewakili temannya.
"Iya. Kalian boleh keluar!" suruh David.
"Baik Pak." ujar mereka lagi kemudian meninggalkan ruangan David.
David menyenderkan badanya di kursi kebesarannya begitu para keamanan pergi. Kerjaannya jadi tambah banyak gara-gara Dira.
__ADS_1
Sementara itu Alga sudah sampai di mejanya, Alga bisa merasakan tatapan yang berbeda-beda dari para karyawan Pratama. Hanya saja, mereka memilih diam tanpa komentar pada Alga, dan harus Alga akui kalau dia juga tidak nyaman dengan tatapan itu.