
Mayu menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Ada perasaan gugup di hati Mayu karena ini pertama kalinya dia akan bertemu secara langsung dengan rektornya. Mayu benar-benar tidak menyangka, dia akan mengalami ini selama masa kuliahnya.
Padahal masalah rumah itu adalah kehidupan pribadi Mayu dan tidak ada hubungannya dengan kampusnya, tapi entah kenapa masalahnya jadi panjang begini.
Walau posisi Mayu tidaklah salah, tapi Mayu merasa malu pada rektornya. Kesannya Mayu adalah perempuan tidak benar.
"Mayu semangat Mayu!" ujar Lora memberi dukungan pada Mayu.
Lora dan yang lainnya juga sudah berusaha membela Mayu tapi tetap saja berita negatif tentang Mayu semakin menjadi, dan itu karena banyak juga yang sirik pada Mayu.
Mayu yang mereka kenal hanya pedagang kolor dan bh pinggir jalan, lalu tiba-tiba pacaran dengan pangeran kampus dan sekarang sudah punya rumah yang harganya milyaran. Bukankah itu salah satu pencapaian yang tidak masuk akal?
"Iya semangat." ujar Mayu dan tetap berusaha tersenyum pada teman-temannya.
"Ay, kamu pasti bisa Ay!" ujar Alga juga memberikan dukungannya.
"Iya Kak. Mayu masuk dulu." ujar Mayu dan tersenyum pada kekasihnya.
Alga mengangguk dan menunjukkan kepalan tangannya.
Mayu juga menujukkan kepalan tangannya kemudian mengetuk perlahan pintu ruangan rektor.
"Masuk!" ujar suara dari dalam ruangan itu.
Mayu kembali menelan ludahnya gugup kemudian memuka perlahan pintunya.
"Selamat siang Pak. Saya Mayu." ujar Mayu sesopan mungkin.
"Siang. Silahkan duduk Mayu!" ujarnya mempersilahkam Mayu.
"Iya Pak," ujar Mayu dan lagi-lagi menelan ludah gugup begitu melihat jelas wajah rektornya.
__ADS_1
Perasaan gugup yang sama juga dirasakan oleh Alga dan teman-teman Mayu. Padahal baru beberapa hari lalu mereka bersenang-senang atas rumah baru Mayu, tapi endingnya malah seperti ini.
Sementara itu perasaan berbeda dirasakan oleh Naura dan teman-temannya. Mereka tampak bersorak girang karena mereka sudah berhasil memberi pelajaran pada Mayu.
"Rasakan lo Mayu, itulah akibatnya kalau lo berani macam-macam pada gue dan tante Dira. Sekarang status kemahasiswaan lo jadi terancam bukan? Dan sebentar lagi lo juga bisa di keluarkan dari kampus ini.' monolog Naura.
Naura benar-benar puas melihat Mayu yang tidak bisa memberi perlawanan sama sekali.
Kembali ke Mayu.
Mayu sudah duduk dengan tenang di depan rektornya. Mayu menatap gugup rektornya dan dibalas dengan tatapan tegas dari rektornya.
"Mayu kamu sudah tahu bukan kenapa saya memanggil kamu? Saya tahu masalah rumah kamu adalah privasi kamu, tapi karena banyaknya berita negatif tentang kamu dan rumah kamu, maka pihak kampus juga tidak bisa diam saja. Kami tentu tidak ingin, kampus kita jadi dicap jelek, hanya karena perbuatan tidak baik salah satu mahasiwanya. Untuk itu saya mau, kamu menjelaskan soal rumah itu! Dari mana asal usulnya rumah itu dan apa benar rumah itu atas nama kamu?" ujar pak rektor.
Mayu menarik nafas pelan sebelum dia menjawab pertanyaan rektornya.
"Begini Pak, rumah itu memang beneran atas nama saya, dan rumah itu diberikan oleh kak Alga pada saya. Bapak tahulah siapa kak Alga, kalau hanya rumah seharga 1 atau 2 milyar, saya rasa kecil saja baginya. Bahkan mobil yang dia pakai sehari-hari buat ngampus saja, harganya 8 milyar. Sebenarnya saya juga tidak pernah meminta rumah itu pada Kak Alga, tapi karena dia tidak tega melihat saya masih ngontrak, jadilah dia belikan rumah itu sebagai tanda cintanya pada saya. Kak Alga juga ingin kami menggunakan rumah itu sebagai tempat untuk usaha bersama, dan itu tidak hanya melibatkan saya dan kak Alga saja, tapi teman-teman yang lainnya juga. Kami bahkan sudah menyusun banyak rencana Pak, dan ada beberapa usaha juga yang akan kami buat di rumah itu. Kak Alga mau kami bisa sukses bersama, dan bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi. Hanya saja karena gosip tidak jelas ini, semua rencana kami terpaksa kami tunda. Bisa dibilang kami cukup kecewa Pak, tapi kami tidak akan marah, karena kami anggap ini adalah ujian untuk kami bisa lebih sukses lagi kedepannya." jelas Mayu dan sengaja berbohong soal orang yang memberikan rumahnya dan itu atas permintaan Alga sendiri.
"Apa penjelasan kamu bisa saya percaya?" tanya pak rektor lagi.
"Iya Mayu, Bapak percaya pada kamu dan kamu tidak perlu memanggil Alga. Benar kata kamu, untuk bisa mencapai kesuksesan itu, bukanlah suatu hal yang mudah, pasti akan ada banyak cobaan di dalamnya, dan banyak juga yang ingin menjatuhkan kamu. Hanya saja kalau kamu ada di jalan benar, kamu tidak boleh takut dan tetap lah maju. Enggak usah perdulikan apa kata mereka yang ingin menjatuhkan kamu dan jangan balas mereka juga, tetap lah fokus pada tujuan kamu saja. Bapak yakin suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkan kesuksesan itu. Semangat untuk kamu Mayu." ujar Pak rektor membuat Mayu tidak bisa menyembunyikan senyum kelegaannya.
Pak Rektor tentu tidak tahu kalau Alga sedang dihukum, yang dia tahu Alga adalah salah satu anak pengusaha kaya raya yang hartanya sudah mencapai triliunan dan Alga adalah salah satu pewaris utamanya. Jadi tidak ada salahnya kalau dia membelikan kekasihnya sebuah rumah. Itu haknya dia dan pak Rektor juga tidak boleh ikut campur. Itu jelas bukan wilayahnya lagi.
"Terima kasih sudah percaya pada Mayu dan maafkan Mayu, gara-gara rumah itu, malah membuat kekacauan di kampus." ujar Mayu.
"Iya tidak masalah, yang penting sekarang semuanya sudah jelas. Kamu juga sebaiknya tidak perlu ambil pusing soal gosip tidak benar itu. Lebih baik kamu fokus pada kuliah kamu saja. Soal gosip itu lama-lama juga akan hilang dengan sendirinya." pesan pak rektor.
"Iya Pak. Apa saya sudah bisa keluar Pak?"
"Silahkan!"
__ADS_1
"Permisi Pak,"
"Iya."
Mayu kemudian keluar dari ruang rektor dengan senyum kelegaannya. Akhirnya masalahnya selesai juga dan seenggaknya sampai saat ini, dia masih bisa menyimpan rapat-rapat soal papa kandungnya.
"Gimana Ay?" tanya Alga tidak sabaran begitu Mayu menutup pintu ruang rektor kembali.
Mayu kembali tersenyum.
"Aku melakukannya persis seperti apa yang kak Alga suruh dan aku berhasil Kak. Pak rektor percaya padaku." ujar Mayu semangat.
"Alhamdulillah. Aku ikut senang mendengarnya Ay." ujar Alga kemudian memberi pelukan pada kekasihnya.
Tidak hanya Alga dan yang lainnya merasa lega, tapi Shinta dan yang lainnya juga tidak kalah leganya. Lagian ada-ada saja itu orang yang fitnah Mayu. Segitu siriknya kah dia pada Mayu sampai-sampai menghalalkan cara untuk menjatuhkan Mayu.
***
"Alga tunggu!" seru Dira begitu Alga menginjakkan kaki di rumah mewahnya.
Alga langsung menghentikan langkahnya. Dia sudah menebak ini akan terjadi.
Alga menoleh pada maminya.
"Kenapa Mi?" tanya Alga bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ini soal Mayu." ujar Dira cepat.
"Kenapa lagi dengan Mayu?"
"Mami sudah kumpulkan semua bukti-buktinya Alga, kalau rumah Mayu itu dia dapatkan jelas-jelas dari kamu. Tetangga Mayu, pihak kampus kamu, semuanya mengatakan rumah itu dari kamu. Sekarang lebih baik kamu mengaku saja! Kamu ambil dari mana uang itu? Dan orang yang kamu bilang yang sangat sayang pada Mayu itu hanya akal-akalan kamu saja kan. Sebenarnya orang itu adalah kamu kan? Ngaku kamu Alga!" seru Dira dan langsung to the poin.
__ADS_1
"Memangnya kalau Alga yang memberikan rumah itu pada Mayu, Mami mau apa?" tantang Alga.
"Tentu saja mengambil balik rumah itu. Mayu sama sekali tidak berhak sedikit pun atas rumah itu." jawab Dira cepat.