
"Gue menang yes ... yes ...." seru Mayu dengan bahagianya begitu dia sampai duluan. Dia bahkan langsung turun dari sepedanya dan berjoget dengan wajah gembiranya.
"Kita enggak ada lomba ya Mayu, menang apaan lo?" protes Naura.
"Pokoknya gue menang, gue sampai duluan." ujar Mayu tidak mau kalah.
"Ya terserah lo lah, capek gue sama lo." ujar Naura memilih mengalah.
"Nah gitu dong. Eh daddy dimana?" ujar Mayu begitu sadar David belum kelihatan batang hidungnya.
"Masih di belakang. Sibuk dia melayani ibu-ibu yang minta foto sama dia. Mereka pikir daddy artis hehe ...." cerita Naura dan ada senyum di wajahnya teringat dengan apa yang dialami daddy.
"Serius lo?"
"Iya, makanya gue tinggal saja daddy." ujar Naura lagi.
"Tega lo Nau, kan kasihan daddy. Pasti dia kewalahan menghadapi ibu-ibu itu."
"Biarkan saja. Ah itu daddy sudah datang." ujar Naura begitu melihat David mengayuh sepedanya ke arah mereka.
"Naura! Tega ya kamu sama Daddy!" ujar David dan datang-datang langsung protes.
"Hihi ...." hanya tertawa.
"Ya enggak apa-apa dong Dad. Mereka kan hanya minta foto." ujar Mayu.
"Ya kalau yang minta fotonya hanya satu atau dua orang enggak masalah Mayu, tapi ini jadi banyak dan itu karena Naura." ujar David mengadu.
"Memangnya apa yang dilakukan Naura, Dad?" tanya Mayu penasaran.
"Ya waktu ibu-ibu bertanya apakah daddy artis? Naura jawab, Daddy memang artis dan sangat terkenal di luar negeri sana. Makanya semuanya berlomba mau foto sama Daddy." cerita David membuat Mayu tersenyum dan Naura malah tertawa ngakak.
"Enggak apa-apa Dad, hitung-hitung amal. Lagian wajah daddy memang cocok kok jadi artis. Daddy sangat ganteng, perpaduan antara om Jackie chan dan om Leonardo DiCaprio. Keren tahu Dad." ujar Mayu malah mendukung Naura.
"Om? Sejak kapan mereka menikah dengan tante kamu, Mayu?" ujar David membuat Naura semakin tertawa ngakak.
"Aih Daddy enggak asik ah, udah dipuji ganteng dan keren juga." protes Mayu.
David tersenyum.
"Bercanda Sayang." ujar David dan Mayu juga tersenyum akhirnya.
"Terus kita mau lanjut kemana lagi? Ini baru jam 4 masih banyak waktu." ujar David.
"Ke pulau kelapa saja Dad, katanya di sana itu pemandangan sorenya bagus. Kita bisa kulineran juga di sana sambil menunggu sunset." usul Naura.
"Daddy setuju, gimana dengan Mayu?"
"Mayu juga pasti sangat setuju dong Dad." semangat Mayu.
"Ok, ayo kita let's go!" semangat David.
Mereka kemudian mengembalikan sepeda yang mereka pinjam dan melanjutkan perjalanan kembali.
***
"Lo enggak bilang wow wow lagi Mayu?" begitu mereka sampai di pulau kelapa. Sejak mereka saling meminta maaf, obrolan mereka jadi lebih santai walau sesekali masih suka saling berdebat.
__ADS_1
Mayu tersenyum.
"Enggak lagi, pemandangan indahnya udah mulai terbiasa untuk gue, dan gue benar-benar betah liburan ke sini." ujar Mayu dan beralih pada David kemudian menggandeng lengan David.
"Dad kapan-kapan kita liburan ke sini lagi ya, masih banyak pulau Dad yang belum kita datangi." ujar Mayu.
"Iya boleh, kalau masih seputaran Jakarta, gampang saja kalau Daddy." ujar David apa adanya.
"Nanti kita sekalian mancing boleh juga itu Dad." usul Naura dan ikut menggandeng lengan David yang satunya.
"Iya, ide bagus itu." balas David.
"Memangnya lo suka mancing Nau?" tanya Mayu.
"Suka dong, gue kan anak daddy. Gue sering pergi mancing sama daddy. Iya kan Dad?" ujar Naura pamer.
David mengangguk.
"Pantas lo enggak maju-maju." ujar Mayu membuat Naura seketika melotot.
"Dad, lihatlah Mayu! Dia mengejek Naura lagi." ujar Naura mengadu.
"Mayu bukan mengejek Naura. Apa yang Mayu katakan ada benarnya loh. Kalau kamu maju saat mancing ya pasti nyebur, malah bisa tenggelam kalau mancingnya di laut." ujar David.
"Nah benar itu Dad." ujar Mayu semangat.
"Ya ... ya benar juga sih," ujar Naura sambil menggaruk kepalanya membuat David dan Mayu tertawa.
"Udahlah, kita stop bahas mancing. Sekarang sebaiknya kita makan, Daddy sudah lapar." ujar David.
"Kami juga sudah lapar Dad." kompak Mayu dan Naura.
"Ayo!" kompak Naura dan Mayu lagi. Mereka bertiga juga tertawa bersama. Benar-benar anak dan ayah yang kompak.
Sayangnya kekompakan mereka dipandang berbeda-beda oleh orang-orang sekitar mereka. Bagi yang berpikir positif, kekompakan mereka masih dianggap wajar, tapi bagi yang berpikir negatif, tidak jarang memperlihatkan wajah tak sukanya. Mereka pikir David seorang sugar daddy yang tengah jalan dengan sugar babbynya. Tidak tanggung-tanggung lagi, dia mengajak sugar baby 2 orang sekaligus. Entah sekuat apa dia itu, mana sugar babynya juga cakep-cakep banget lagi, membuat para laki-laki jomblo makin sirik saja padanya.
Parahnya lagi David suka memancing keadaan.
"Mayu, Naura, kiss Daddy dong!" pinta David.
"Ok Dad," kompak Mayu dan Naura kemudian mengecup pipi David. Senyum David seketika mengemang. Dia sangat senang dengan perlakuan manis kedua putrinya, meski itu membuat tatapan orang-orang sekitar semakin ngeri pada mereka.
"Dad sadar enggak kalau kita sering jadi pusat perhatian orang-orang sekitar?" tanya Mayu.
"Sadar dong Mayu, tapi biarkan saja, selama kita ada di jalan yang benar, enggak usah pikirkan apa kata orang-orang sekitar. Capek sediri kamu kalau memikirkan orang-orang sekitar." ujar David.
"Mayu enggak memikirkan mereka, hanya saja Mayu takut Daddy jadi enggak nyaman, dan ujung-ujungnya Daddy kapok jalan sama kami. Mayu tentu enggak mau Daddy jadi kapok, karena Mayu belum puas jalan-jalan sama Daddy, dan Mayu mau mengumpulkan kenangan sebanyak-banyaknya bersama Daddy." jujur Mayu.
"Daddy enggak akan kapok Mayu, dan Daddy juga sama dengan kamu. Daddy mau menebus kesalahan Daddy yang sebelumnya tidak pernah memiliki momen manis bersama kamu. Selain itu Daddy juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan kalian sebelum kalian menikah, karena kalau kalian sudah menikah, kalian pasti tidak akan punya waktu lagi untuk Daddy." ujar David apa adanya.
"Pasti punya Kok Dad, kami enggak akan melupakan Daddy kalau pun kami sudah menikah, iya kan Nau?" ujar Mayu minta dukungan pada Naura.
"Tentu saja Daddy." ujar Naura mantap.
"Enggak yakin Daddy. Apa lagi kalau kalian sudah punya anak, kalian pasti akan sibuk mengurus anak dan suami kalian saja dan tidak perduli pada Daddy." ujar David lagi.
"Ya kalau lebih sibuk sama suami dan anak, itu sudah pasti sih Dad, tapi Mayu pribadi tidak akan melupakan Daddy, dan sebisa mungkin Mayu akan meluangkan waktu untuk Daddy." ujar Mayu lagi.
__ADS_1
"Naura juga sama kok, Dad. Dad jangan sedih gitu dong! Kan masih lama juga kami nikahnya." ujar Naura.
"Daddy enggak sedih Naura. Daddy hanya mengingatkan saja, supaya kelak kalau kalian sudah menikah, kalian tidak melupakan Daddy."
"Itu tidak akan pernah terjadi Dad. Kamu tidak akan pernah melupakan Daddy karena kami sangat sayang pada Daddy, iya Kan May?" ujar Naura.
"Tentu saja," jawab Mayu mantap.
"Terima kasih Naura, Mayu sudah sayang pada Daddy. Daddy juga sangat sayang pada kalian. Kalau kalian berdua saling sayang juga tidak?" ujar David sengaja memancing anaknya.
Mayu dan Naura refleks saling menatap, dan mereka saling terdiam.
"Kenapa kalian hanya diam saja? Kalian enggak saling sayang ya?" tanya David lagi.
"E- sayang kok Dad, Mayu sayang pada Naura, walau Naura mungkin enggak sayang pada Mayu." ujar Mayu akhirnya.
"Bohong banget lo sayang sama gue. Lo itu sering mengatai gue ya. Lo juga bilang gue si aura gelap." ujar Nura tidak terima.
"Heh Naura, gue sampai ngatain lo begitu karena gue sebenarnya perduli tahu. Gue hanya ingin lo berubah jadi lebih baik lagi, itu saja."
"Yakin lo?"
"Yakin lah Naura. Lagian kita juga sudah saling maaf-maafan ya dan sudah mengakui kesalahan juga." ujar Mayu tidak mau kalah.
"Bagus lah kalau begitu. Gue juga sayang kok sama lo tapi hanya sedikit saja. Itu juga sudah lumayan itu Mayu, dari pada tidak sama sekali." ujar Naura apa adanya. Naura juga harus mengakui setelah jalan satu harian ini bersama Mayu, dia merasa nyaman walau tingkah Mayu terkadang terlalu norak.
"Iya Naura, terima kasih lo sudah ada rasa sayang sama gue, walaupun hanya sedikit, dan gue harap rasa sayang lo bisa semakin besar untuk gue dan begitu juga sebaliknya."
"Iya setuju gue. Asal lo bisa jadi kakak yang baik untuk gue, dan mau ngalah pada gue, gue pasti akan tambah sayang pada lo." ujar Naura mantap.
"Gue pasti mau ngalah sama lo Naura, itu janji gue, asal jangan lo suruh ngalah soal kak Alga saja ya, kalau soal itu sampai mati pun gue enggak akan mau ngalah sama." ujar Mayu tidak kalah mantapnya.
"Iya Mayu, takut banget sih lo kak Alga gue ambil."
"Ya jelas takut lah, gue kan cinta sama kak Alga. Eh tapi Naura, gue juga berharap sih, lo dapat cowok sebaik kak Alga dan mencintai lo sebesar kak Alga mencintai juga." ujar Mayu jujur.
"Jangan lupa yang sama kayanya juga dong Mayu." ujar Naura lagi membuat David hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Kalau itu tidak perlu sebenarnya Naura. Lo itu kan sudah kaya, dan harta kekayaan lo itu enggak akan habis sampai 3 turunan. Jadi saran gue nih ya, yang penting lo cari cowok yang baik, rajin juga ibadahnya, karena biasanya cowok yang baik dan rajin ibadahnya pasti mayoritas pekerja keras, sayang keluarga dan enggak akan aneh-aneh hidupnya." jelas Mayu.
"Benar juga ya Mayu, tapi gue mau yang ganteng Mayu, kalau soal yang satu ini enggak ada penawaran lagi." ujar Naura lagi membuat David tersenyum. Naura sekekeh itu pada pendiriannya. Benar-benar realistis sekali pemikirannya.
"Kalau itu enggak apa-apa, gue tetap dukung, karena lo juga cantik jadi sudah sewajarnya lo cari yang ganteng dan yang sepadan dengan lo. Gue juga enggak mau kali lo jadi bahan omongan orang-orang hanya karena dapat cowok yang enggak cocok dengan lo. Takutnya dibilang demi hartalah atau lo kena pelet lah dan lain sebagainya. Padahal kan ganteng itu sangat relatif sebenarnya. Ganteng menurut lo belum tentu ganteng menurut gue, tapi kalau daddy no komen ya. Menurut gue dia adalah laki-laki paling ganteng di muka bumi ini." ujar Mayu membuat senyum David mengembang. Ada-ada saja ini omongan anak gadisnya.
"Ya kalau itu gue juga setuju Mayu." ujar Naura cepat membuat senyum David makin mengembang lagi.
"Terima kasih Naura, Mayu untuk pujiannya, tapi stop dulu obrolan kalian! Nanti dilanjut lagi. Bagi Daddy yang terpenting kalian sama-sama sayang. Daddy juga berharap hubungan kalian setelah ini akan semakin membaik lagi. Semakin saling terbuka juga pokoknya." ujar David.
"Iya Dad Mayu juga berharap hal yang sama. Sini pelukan pelukan dulu kita!" ujar Mayu sambil merentangkan tangannya.
"Ok." kompak Naura dan David. Mereka bertiga kemudian saling berpelukan tanpa perduli sekitar.
"Ah iya Dad, dulu Daddy sering loh angkat Naura saat meluk Naura. Sekarang angkat Naura dan Mayu dong Dad!" pinta Naura.
"Ok," ujar David kemudian mengangkat kedua anak gadisnya.
"Akhh!"
__ADS_1
Bukan Mayu dan Naura yang terangkat tapi pinggangnya yang mau patah.
"Haha ...." Naura dan Mayu hanya tertawa ngakak melihat ekspresi David.