Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Undangan Makan Malam


__ADS_3

"Kak!" panggil Mayu. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Kenapa Ay, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Alga.


Mayu menggelengkan kepalanya.


"Enggak Kak, aku hanya mau bertanya saja pada Kak Alga?" ujar Mayu membuat Alga seketika menatap padanya.


"Tanya saja Ay! Biasanya juga langsung bertanya."


"Hehe ... Begini Kak, Mayu kan sudah ketahuan hamil, terus gimana caranya kita menyampaikannya pada keluarga kita, terutama nenek Iroh tentunya?" tanya Mayu.


Alga tampak berpikir.


"Bagaimana kalau kita buat kejutan? Tapi nanti kejutannya setelah kita periksa ke dokter saja, biar semuanya sudah jelas Ay." ide Alga.


"Boleh juga Kak, aku setuju sama Kak Alga. Aku penasaran seperti apa reaksi nenek dan yang lainnya." ujar Mayu yang sudah membayangkan kejutan yang akan dia berikan pada nenek dan keluarga besarnya.


"Pastinya nenek dan keluarga kita yang lain akan sangat bahagia Ay. Sama seperti kita." ujar Alga kemudian meraih tangan Mayu dan membawanya ke bibirnya. Alga mengecup dalam tangan istrinya.


"Kak mesra-mesraannya nanti saja. Kak Alga harus fokus pada setirannya, aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kita Kak." ujar Mayu mengingatkan dan tidak ingin terlena dengan perlakuan manis suaminya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat.


"Benar juga. Maaf Ay," ujar Alga dan kembali fokus pada setirannya.


"Tidak apa-apa Kak,"


"Ay!" panggil Alga.


"Kenapa?"


"Apa kamu menginginkan sesuatu, mumpung kita masih di jalan." ujar Alga.


Mayu tampak berpikir kemudian menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingin apa-apa Kak," ujar Mayu.


"Ya sudah tidak apa-apa, tapi nanti kalau kamu menginginkan sesuatu, bilang saja ya Ay!" pinta Alga. Alga mau jadi suami siaga untuk istri tercintanya.


"Siap Kak," ujar Mayu dan mereka kemudian saling tersenyum.


***


"Eh Kak bentar deh!" ujar Mayu tiba-tiba menahan Alga begitu Alga mematikan mesin mobilnya.


"Kenapa Ay?"


"Aku sempat melihat penjual martabak deh Kak, aku jadi ingin. Kayaknya enak banget itu martabak." ujar Mayu membuat Alga seketika menatap aneh pada istrinya. Kalau ingin kenapa tidak bilang saja dari tadi? Bukankah, sebelumnya Alga sudah mengingatkannya.


"Kak kenapa diam saja, Kak Alga enggak mau ya membeli martabak itu untukku? Ini calon anak kita yang ingin loh Kak." ujar Mayu lagi dengan wajah memelasnya.


"Tentu saja aku mau Ay. Ya sudah kita beli martabaknya." ujar Alga dan kembali menyalakan mobilnya.


"Kak Alga kok kepaksa gitu sih wajahnya. Kalau Kak Alga enggak ikhlas, enggak usah dipaksakan deh Kak!" ujar Mayu lagi membuat Alga kembali menatap aneh isterinya.


"Aku enggak terpaksa Ay, beneran deh. Aku hanya menyayangkan kenapa kamu enggak minta dari tadi saja. Jadikan kita juga tidak perlu bolak balik, gitu loh Ay." ujar Alga sesabar mungkin.


"Ya awalnya aku enggak begitu ingin Kak, tapi begitu sampai rumah aku malah tiba-tiba membayangkannya." ujar Mayu apa adanya.

__ADS_1


"Ya sudah tidak apa-apa. Kita beli martabaknya ya istriku, cantikku." ujar Alga berusaha menggoda istrinya biar enggak protes lagi dan itu berhasil membuat Mayu tersenyum.


"Ok suamiku," balas Mayu dan mereka kembali pergi meninggalkan rumah mewah Alga.


Supir Dira yang tadinya membukakan gerbang untuk mereka sampai heran. Itu tuan muda dan nyonya mudanya kenapa pergi lagi? Apa ada barang yang ketinggalan?


Sementara itu Alga kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kamu lagi ngelihatin apa Ay?" tanya Alga saat mendapati Mayu menatap fokus ke luar.


"Itu Kak, ada penjual bakso, kayaknya enak tuh Kak baksonya."


"Kamu mau?" tanya Alga.


"Mau deh Kak,"


"Ya sudah kita beli." ujar Alga tanpa pikir panjang. Kalau hanya makanan, mudah saja bagi Alga mengabulkan keinginan istrinya.


"Terima kasih Kak,"


"Sama-sama." ujar Alga kemudian membawa mobilnya ke pinggir.


"Kamu tunggu di mobil saja Ay, biar aku saja yang beli. Kamu mau bakso apa?"


"Bakso yang paling besar Kak, yang isi cabai kalau ada ada." ujar Mayu semangat.


"Enggak ada itu isi cabai ya Ay. Ingat kamu ini lagi hamil muda. Aku enggak mau terjadi pada kamu dan anak kita." tegas Alga sambil mengusap perut isterinya.


"Baiklah, isi telor saja kalau begitu." ujar Mayu akhirnya.


"Bagus. Ya sudah aku beli dulu ya!"


Tidak lama setelah itu Alga kembali sambil membawa 5 bungkus bakso di tangannya. Takutnya ada orang rumahnya yang mau. Setelah membeli bakso mereka lanjut beli martabak dan ujung-ujungnya tidak hanya martabak manis yang dibeli tapi martabak telor juga. Mereka bahkan masih membeli donat dan gorengan. Entah bagaimana caranya Mayu akan menghabiskan makanannya itu.


***


"Assalamualaikum," kompak Alga dan Mayu begitu mereka masuk rumah.


"Waalaikumsalam. Alga, Mayu, kalian kemana lagi?" tanya Dira yang sebelumnya sempat mendengar suara mobil Alga masuk halaman rumahnya.


"Ini Mi, kami beli makanan. Ada bakso, martabak, gorengan dan donat, Mami mau?" ujar Alga menawarkan makanan yamg dibawanya.


Dira bukannya menjawab tapi menatap heran makanan yang dibeli anaknya. Tumben-tumbenan sekali mereka bawa makanan. Makanan pinggir jalan lagi. Biasanya mana pernah mereka melakukannya karena dirumah juga banyak sekali makanan. Jika mau makan sesuatu juga tinggal bilang saja.


"Mi tatapannya biasa saja dong Mi. Ini makanan enak loh Mi, martabaknya juga sangat menggugah selera, iya kan Ay?" ujar Alga.


"Iya Mami tahu Alga. Mami hanya heran saja. Tumben-tumbenan sekali kalian beli makanan. Makanannya banyak lagi. Jangan bilang Mayu lagi ngidam." tebak Dira membuat Alga dan Mayu salah tingkah.


"Ah e-enggak kok Mi, kami hanya lagi ingin saja. Kami mau mengenang masa-masa sulit dulu. Iya kan Ay?" ujar Alga tampak gugup. Alga tidak ingin maminya tahu sebelum mereka membuat kejutan. Nanti enggak surprise lagi.


"Iya Mi. Ditambah lagi baksonya juga terlihat sangat enak, makanya kami beli saja. Mami mau?" ujar Mayu berusaha membantu suaminya.


"Ya maulah kalau enak. Kita makan di gajebo belakang saja, ibu Iroh juga lagi bersantai di sana." ujar Dira percaya saja pada anak dan menantunya.


"Ok Mi," semangat Alga dan Mayu. Mereka merasa lega karena Dira tidak curiga.


***

__ADS_1


Alga dan Mayu senyum-senyum saja setelah mereka selesai periksa. Hasilnya benar-benar sesuai dengan yang mereka harapkan. Mayu beneran hamil dan usia kehamilannya sudah 4 minggu. Calon mereka juga tumbuh dengan baik, tentu itu menambah kebahagiaan Alga dan Mayu.


Seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Mereka akan membuat kejutan untuk keluarga mereka. Untuk itu Alga mengundang mertua, adik ipar dan mbaknya untuk makan malam di rumahnya. Saat ini, cukup keluarga terdekat mereka saja yang tahu soal kehamilan Mayu.


"Kak kita singgah di toko Amanda cake, sebentar ya! Aku mau beli bolu pisang sama roti buat nanti malam." pinta Mayu.


"Siap isteri, apa sih yang enggak buat kamu." ujar Alga.


"Kak Alga bisa saja," ujar Mayu tersenyum. Mayu senang sejak dia hamil perhatian Alga semakin lebih saja padanya, walau ada kalanya sifat menyebalkan ibu hamil Mayu keluar juga. Seperti tadi malam misalnya, dia minta Alga tidur dengan baju tidur warna pink. Alga sempat menolak dengan alasan dia tidak punya baju tidur warna pink. Sayangnya penolakan Alga enggak berlaku karena Mayu menemukan baju tidur warna pink di lemarinya. Entah dari mana baju tidur itu datangnya Alga tidak tahu, karena Alga juga tidak hapal isi lemari bajunya.


Alga sempat cemberut karena merasa aneh dengan tampilannya. Hanya saja setelah melihat senyum bahagia Mayu. Dia jadi ikutan tersenyum. Rasanya pengorbanannya tidak sia-sia dan apapun akan dia lakukan demi anak dan istrinya.


"Kamu mau beli apa lagi Ay?" tanya Alga begitu mereka selesai belanja roti dan sejenisnya.


"Kita beli kotak deh Kak, untuk tempat surprisnya!" pinta Mayu lagi.


"Siap Ay. Perlu ditambah bunga tidak?" tanya Alga lagi.


"Boleh juga itu Kak, nanti di atas kotaknya kita tambahkan buket bunga biar tambah buat penasaran."


"Ok," ujar Alga. Alga tidak lupa mengusap sebentar perut istrinya dan kembali menjalankan mobilnya.


Sampai di rumah Dira lagi-lagi dibuat heran sama anak dan menantunya. Walau begitu dia memilih tidak banyak tanya. Selama Alga dan Mayu senang dia juga ikutan senang.


***


Suasana rumah Alga tampak sudah dipenuhi oleh canda dan tawa. Keluarga yang Alga dan Mayu undang semuanya pada datang tanpa terkecuali.


"Ngomong-ngomong ada apa nih Al, tumben-tumbenan lo ngundang kita makan malam?" tanya Alex.


"Bukan apa-apa Lex, gue dan Mayu hanya kangen saja pada kalian. Udah lama juga kan kita enggak kumpul. Kami takut saja kalian melupakan kami." ujar Alga mencoba bercanda agar Alex dan yang lainnya tidak curiga.


"Ya kami enggak mungkin lah melupakan kalian, aneh-aneh saja lo." ujar Alex cepat.


"Ya siapa tahu kan. Sekarang saja kalian berdua jarang mengunjungi mommy dan daddy." ujar Alga lagi dan mendapat anggukan setuju dari Sindi. Sindi sampai merindukan anaknya karena setelah nikah, Naura tinggal di rumah mertuanya.


"Ya kami juga ingin sering-sering mengunjungi mommy dan daddy Al, tapi mau gimana lagi. Gue benar-benar sibuk setelah ambil cuti panjang kemarin. Ditambah lagi sebentar lagi Frans akan lamaran, banyak hal yang harus gue kerjakan. Lo mah enak, kerjaannya enggak terlalu banyak. Harusnya lo juga sudah bisa menggantikan posisi daddy itu Al. Kasihan loh Daddy." ujar Alex dan kali ini gantian David yang menganggukkan kepalanya.


David juga ingin beristirahat dan menikmati masa tuanya. Toh dia tidak ada lagi tanggung jawab selain istrinya. Kedua anaknya sudah menikah dan suami mereka lebih sukses dari dia. Jadi enggak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.


"No, gue belum siap menggantikan daddy. Nanti saja 5 tahun lagi." ujar Alga santai dan langsung mendapat pelototan dari David. Sedangkan Pratama santai saja karena bagi dia mau Alga atau David yang memegang perusahaannya sama saja.


"5 tahun lagi Al? Enggak salah kamu? Kemarin kamu bilang 1 tahun lagi ya Al, sekarang malah nambah lagi. Kamu enggak kasihan sama Daddy Al! Daddy sudah tua loh Al " protes David dan Alga malah tersenyum.


"Kata siapa Daddy sudah tua, Daddy masih gagah begitu. Bahkan Alga yakin untuk 10 tahun ke depan, Daddy masih sanggup menjabat sebagai CEO." ujar Alga mantap.


"Sanggup sih sanggup Al, tapi untuk apalagi gitu loh. Kedua anak Daddy sudah menikah, nikahnya sama laki-laki di atas Daddy lagi. Daddy yakin, mereka tidak lagi membutuhkan uang Daddy." ujar David.


"Ya Alga tahu Dad, tapi Alga juga belum siap kalau harus menghabiskan hari-hari Alga, kerja dari pagi sampai tengah malam. Alga tidak tega meninggalkan Mayu terlalu lama Dad, belum lagi kalau Alga harus keluar kota atau keluar negeri." ujar Alga apa adanya. Apalagi setelah tahu Mayu tengah hamil anaknya, tentu Alga tidak ingin melewatkan momen itu dengan Mayu. Alga ingin dia selalu ada di samping Mayu saat Mayu membutuhkannya karena dari yang Alga tahu jadi wanita hamil itu bukanlah hal mudah. Belum lagi kalau nanti Mayu sudah melahirkan, Alga ada keinginan mau gantian begadang dengan istrinya. Jika dia jadi CEO otomatis dia tidak mungkin melakukan itu, Alga tidak akan sanggup kerja 24 jam. Dia juga harus sadar diri.


"Ya Daddy mengerti posisi kamu Alga, tapi kamu juga harusnya mengerti posisi Daddy dong. Daddy juga ingin menghabiskan hari-hari daddy dengam istri Daddy." balas David dan itu berhasil membuat Sindi tersenyum. Dia suka dengan kata-kata David.


"Alga mengerti Dad, tapi kalau Daddy dan mommy kan gampang saja. Mommy bisa kapan saja menghampiri Daddy, nah Mayu kan enggak mungkin Dad. Pekerjaan Mayu juga tidak kalah banyaknya dari Alga. Pliss lah Dad mengerti posisi kami untuk 5 tahun ini saja!" ujar Alga dengan wajah memelasnya.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat secepatnya beri Daddy cucu!" seru David.


"Deal Dad!" uhar Alga semangat 45 dan mengulurkan tangannya. David sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alga. Walau begitu dia tetap menjabat erat tangan Alga.

__ADS_1


"Daddy tunggu kabar baiknya secepatnya Alga!"


"Siap Dad!" ujar Alga tersenyum penuh arti. Kabar baiknya sudah ada di depan mata ini.


__ADS_2