Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Pembalasan Mayu


__ADS_3

[Bagus kalau kamu suka dan tidak penting saya siapa.]


[Tentu saja sangat penting. Ini saya mau berterima kasih. Pada siapa saya berterima kasih kalau tidak tahu orangnya.] balas Mayu lagi.


[Saya tidak butuh terima kasih kamu. Saya hanya mau tanya kenapa kamu tidak ikut makrab?]


Alis Mayu terangkat. Orang ini tahu dia tidak ikut makrab itu berarti dia satu kampus dengan Mayu. Mayu memang sudah minta izin tidak ikut makrab karena tidak tega meninggalkan neneknya sendirian.


[Nenek saya masih sakit dan saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Udah ya bye. Eh tapi sebelumnya terima kasih untuk makanannya. Semoga rejekinya dilancarkan, dan lain kali Mayu dikirim makanan lebih banyak lagi.] balas Mayu.


Pesan Mayu yang terakhir hanya dibaca dan tidak dibalas. Mayu juga tidak ambil pusing, matanya sudah mulai sayu dan dia butuh tidur.


Jam 4 pagi Mayu sudah bangun, sebelum sholat dia memilih beberes terlebih dulu. Mayu juga mengumpulkan semua pakaian kotornya dan neneknya.


Selesai beberes dia membangunkan neneknya dan mereka sholat bersama.


Setelah sholat Mayu mencuci pakaiannya dan langsung menjemurnya.


Begitu urusan baju selesai, Mayu langsung keliling menagih kereditan baju sekalian belanja kebutuhan dapur. Hari ini dia masuk kuliah jam 8. Jadi Mayu tidak terlalu terburu-buru, seperti saat OKK kemarin, yang mana jam setengah 7 dia sudah harus berangkat ke kampus.


"May hari ini sudah mulai jualan belum?" tanya tetangga Mayu saat Mayu mendatangi rumahnya.


"Iya sudah Budhe. Mayu kuliahnya hanya setengah hari."


"Kamu belanja enggak hari ini?"


"Belanja Budhe, teh Euis ada pesan kerudung pashmina 3, sama boneka panda buat keponakan. Mayu juga mau beli beberapa piyama. Kenapa, Budhe apa budhe mau pesan juga?"


"Iya May. Itu si Boy bajunya sekolahnya minta diganti terus. Budhe bisa pesan enggak May?"


"Boleh banget Budhe, tapi karena belinya hanya satu, harganya sama dengan yang di pasar ya Budhe, dan Mayu minta tambahan 5 ribu saja buat ongkos."


"Beres kalau itu May, nomor 7 ya May, jangan lupa May!"


"Ok Budhe. Terima kasih Budhe." ujar Mayu sambil mencatat pesanannya.


"Sama-sama May, ah iya May sekalian beli baju tidur buat anak cowok ya. Budhe mau nambah kreditan. Buat ukuran Boy gitu May. Piyama Boy sudah banyak yang kekecilan, itu anak cepat banget besarnya."


"Siap Budhe. Rencana Mayu juga mau beli beberapa lusin buat anak cowok. Nanti Budhe beli yang banyak ya!" ujar Mayu tersenyum.


"Satu-satu dulu dong May, nanti Budhe enggak ada buat makan lagi gara-gara kreditan baju."


"Ya enggak apa-apa Budhe, nanti Budhe bisa makan pakai lauk baju. Rasanya dijamin lebih endul Budhe." canda Mayu.


"Ngaco saja kamu, udah sana lanjut nagih lagi!"


"Ok Budhe. Bye bye Budhe. Besok Mayu datang lagi, walau Budhe tidak rindu."


Mayu kembali melanjutkan perjalanannya. Berhubung masih pagi hampir semua tetangganya masih ada di rumah.

__ADS_1


"Irpan!" panggil Mayu ceria sambil melambaikan tangannya.


Irpan yang sedang mencuci motornya hanya tersenyum tipis pada Mayu. Pegangannya pada selang air juga semakin mengerat. Dia bingung bagaimana dia harus bersikap depan Mayu. Rasa sakit di hatinya belum sembuh, dan dia belum bisa terima kenyataan kalau cewek incarannya kini sudah punya kekasih.


Irpan juga sedang galau berat, haruskah dia merelakan Mayu atau tetap memperjuangkan cintanya selama janur kuning belum melengkung?


"Irpan kenapa diam saja, Irpan sakit gigi?" tanya Mayu seperti biasanya.


"Enggak May. Kamu mau kemana May?" tanya Irpan sebisa mungkin bersikap biasa. Irpan tidak mau Mayu tahu kalau dia sedang dilanda patah hati berat.


"Biasa Pan, ini!" ujar Mayu sambil menunjukkan buku catatannya.


"Oh lagi nagih. Ya sudah nagih lagi sana, takut kamu telat kuliahnya." ujar Irpan sengaja mencari alasan biar Mayu pergi. Irpan butuh waktu untuk menenangkan hatinya.


"Kamu ngusur aku Pan? Tante, Irpan ngusir Mayu Tante!" ujar Mayu langsung mengadu.


"Irpan, temannya jangan diusir dong Nak. Kamu ini harus baik sama teman kamu. Apalagi sama Mayu. Mayu itu anak baik." ujar ibunya dari arah dapur.


Mayu seketika tersenyum lebar dan menunjukkan wajah mengejeknya pada Irpan.


Irpan hanya menujukkan wajah kesal campur gemas pada Mayu. Jika saja dia tidak sedang patih hati karena Mayu, dia pasti sudah membalas Mayu.


"Udah ah, bye Irpan. Mayu mau lanjut nagih lagi." ujar Mayu dengan senyum di wajahnya. Senang dia bisa menggoda Irpan.


Irpan hanya menatap kepergian Mayu dengan senyum sedih di wajahnya. Seberat ini ternyata cinta bertepuk sebelah tangan.


Irpan tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh menyerah begitu saja, bukankah Mayu juga terpaksa menembak Alga dan Alga juga belum cinta padanya? Itu berarti kemungkinan mereka putus itu masih sangat besar. Jika mereka putus, kesempatan Irpan akan kembali terbuka lebar untuk memenangkan hati Mayu.


***


Mayu memarkirkan motornya di tempat biasa. Mayu menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Mayu tidak bisa mengelak kalau dia ada perasaan gerogi. Mayu grogi bukan karena mau bertemu Alga tapi karena ini pertama kali dia akan masuk kelas, dan bertemu dengan dosennya.


Setelah merasa lebih baik Mayu kemudian melangkahkan kakinya. Mayu tidak langsung masuk kelas, tapi dia memilih ke ruang BEM terlebih dulu. Dia mau laporan pada Alga kalau dia sudah datang. Ini biar semua orang semakin yakin kalau dia dan Alga memang benar-benar pacaran.


Bruk! Ackh!


Mayu seketika mengaduh kesakitan saat tubuhnya jatuh di lantai.


Naura si pelaku utama penyebab Mayu jatuh tersenyum penuh kemenangan, dan saling tos dengan teman-temannya.


Mayu menoleh cepat ke belakang.


"Kasihan, emang enak?" ujar Naura dengan tatapan mengejeknya.


Mayu menatap tajam padanya dan tangannya seketika terkepal erat. Ingin rasanya Mayu membalasnya detik ini juga, tapi Mayu harus bisa menahan dirinya. Mayu tidak mau kejadian kemarin terulang kembali. Mayu tidak mau dituduh mahasiswi kasar. Terlebih dia mahasiswi beasiswa, dia harus bisa menjaga sikapnya. Mayu harus mempertanggungjawabkan beasiswanya.


"Eh si Mayu jatuh, dapat kodok berapa Mayu? Haha ...." ujar Yuli ikutan mengejek.


Tangan Mayu semakin terkepal erat. Apa lagi saat mahasiswa di sekitar mereka juga ada yang tertawa dan menatap mengejek padanya. Lagi-lagi Mayu dipermalukan.

__ADS_1


Mayu memejamkan sejenak matanya. Dia tidak bisa diam saja, dia harus membalas Naura. Perbuatan licik Naura harus dibalas dengan perbuatan licik juga biar imbang.


Mayu kemudian bangun perlahan dan dengan gerakan pelan dia mengambil botol minumnya. Mayu sengaja melonggarkan tutupnya. Botol minumannya hanya botol minuman kemasan jadi mudah saja bagi Mayu melakukannya.


Mayu kemudian berdiri tapi sebelumnya, dia meletakkan botol minumannya di lantai dan sengaja mengarahkan tutupnya pada Naura.


Mayu menepuk tangannya yang kotor.


"Sakit ya? Kasihan. Dapat kodok enggak, tapi dapat malu iya? haha ...." ujar Naura lagi-lagi mengejek Nayu.


Mayu menatap tajam Naura. Kelakuan Naura benar-benar kekanakan. Padahal mereka sudah masuk kuliah dan bukan lagi anak SMA.


"Tentu saja gue enggak dapat kodok, gue kurang kuat lompatnya. Coba saja gue lebih kuat melompat pasti kodoknya akan dapat. Seperti ini!" ujar Mayu kemudian melompat kuat di atas botol minumanya.


Prak! Byur!


Naura sangat terkejut begitu air dalam botol meyiram tubuhnya. Tubuh Naura jadi basah.


"Ya ampun air minumku tumpah!" ujar Mayu pura-pura terkejut dan pura-pura sedih, padahal dalam hatinya dia sangat puas bisa membalas Naura.


"MAYU!" seru Naura marah.


"Kabur!" seru Mayu. Mayu mengambil cepat botol minumannya tapi sebelumnya dia memberikan tatapan mengejeknya pada Naura dan teman-temannya.


"Emang enak basah-basahan?" balas Mayu kemudian berlari meninggalkan Naura yang sedang menatapnya tajam seolah mau makan Mayu hidup-hidup.


"Kurang a*jar kamu Mayu, lihat saja akan ku balas kamu!" kesal Naura. Gara-gara Mayu dia jadi basah. Dia semakin benci saja pada Mayu.


Sementara itu Mayu sudah sampai depan ruangan BEM. Sebelum masuk dia menarik nafas terlebih dulu dan membuangnya dengan perlahan.


Tok tok tok


Mayu mengetuk pelan pintunya.


"Masuk saja!" ujar suara dari dalam.


Mayu kemudian membuka perlahan pintunya.


Mayu tersenyum tipis begitu melihat beberapa kakak seniornya ada di ruangan itu dan termasuk Alga.


"Selamat pagi semua." ujar Mayu berusaha sebiasa mungkin dan melangkah perlahan ke arah Alga.


"Pagi juga Mayu," ujar beberapa senior cowok sedangkan yang cewek hanya menatap tidak suka padanya termasuk Lia dan teman-temannya.


Mayu kembali tersenyum tipis. Dia beralih menatap Alga yang diam saja di kursi kebesaranya.


"Kak," ujar Mayu sambil mengulurkan tanganya. Mayu sebenarnya bingung bagaimana dia harus bersikap depan Alga, dia belum pengalaman sama sekali sama yang namanya pacaran.


Alga balas menatapnya juga menyambut tangan Mayu.

__ADS_1


"Kak Alga, lihat apa yang sudah dilakukan oleh pacar Kak Alga! Pacar Kak Alga itu perempuan bar-bar Kak. Kak Alga seharusnya tidak pacaran dengan dia. Dia itu perempuan enggak benar Kak!" seru Naura tiba-tiba dari arah pintu.


Mayu yang hendak mau salim seketika menoleh. Begitu juga dengan Alga dan yang lainnya.


__ADS_2