
"Mayu, ini makan dulu!" ujar Alga sambil meniup sup dagingnya biar lebih cepat dingin.
Tanpa disuruh dua kali Mayu langsung bangun dari tidurnya. Walau tubuhnya masih sangat lemas tapi Mayu berusaha menahannya. Ini bukan karena wangi sup yang sangat menggoda, tapi Mayu benar-benar ingin secepatnya sembuh.
Selama ini Mayu paling takut jatuh sakit. Mayu sangat sadar tanggung jawabnya itu sangat besar, apalagi dikondisinya sekarang yang mana neneknya juga masih sakit. Siapa yang akan merawat neneknya kalau Mayu ikutan sakit?
Mayu adalah cewek mandiri, dia juga paling tidak suka merepotkan orang lain jika sedang sakit, dan baru kali ini Mayu merepotkan banyak orang. Itu juga bukan karena kemauan Mayu, tapi kemauan mereka yang perduli pada Mayu.
Mayu menatap lemas pada Alga.
"Mau disuap atau makan sendiri?" tanya Alga.
Shinta dan yang lainnya seketika saling menatap mendengarnya. Perhatian Alga benar-benar membuat meleleh dan iri kaum jomblo saja.
"Makan sendiri saja Kak," ujar Mayu yang benar-benar tidak mau merepotkan Alga lebih banyak lagi.
"Sayang banget," gumam Shinta dan Lora pelan. Jika mereka diposisi Mayu pasti mereka tidak akan melewatkan kesempatan itu, kapan lagi disuapi tuan muda kampus, iya kan?
"Ya sudah kalau kamu mau makan sendiri, kamu bisa ambil sendoknya, mangkuknya biar saya saja yang pegang." ujar Alga yang masih saja perhatian. Dia takut mangkuknya jatuh dan mengenai Mayu.
"Baik Kak," nurut Mayu. Mayu menyendok perlahan kentangnya terlebih dulu, baru juga kentangnya masuk mulut, Mayu refleks memejamkan matanya.
"Kenapa, apa rasanya tidak enak?" tanya Alga.
"Bukan Kak, saya kesulitan menelannya. Makanannya langsung tertolak dari dalam." ujar Mayu setelah menelan kentangnya dengan susah payah. Padahal Mayu ingin sekali makan banyak biar cepat sehat, tapi kondisi tubuhnya benar-benar tidak mendukung. Seumur-umur, baru kali ini Mayu merasakan hal seperti ini, dan rasanya benar-benar tidak enak.
"Ini karena kamu masuk angin. Kalau begitu makan daging dan kuahnya saja dan pelan-pelan saja, yang penting kamu tidak muntah lagi juga sudah lumayan. Perut kamu harus diisi lagi biar anginnya pada keluar." jelas Alga.
"Iya Kak," ujar Mayu dan kembali makan perlahan, sesekali dia juga berhenti lagi. Bagi yang belum pernah merasakan masuk sakit seperti Mayu, pasti akan geregetan melihat cara makan Mayu, tapi jika sudah pernah mengalamimya pasti sangat maklum, karena jika perut sedang tidak enak dan mual, makanan itu sulit sekali untuk ditelan.
"Minum kuahnya lagi saja kalau memang sudah tidak kuat!" saran Alga.
"Masih kuat kok Kak. Mayu pasti bisa." ujar Mayu berusaha menyemangati dirinya sendiri. Mayu kembali memakan dagingnya dengan susah payah.
"Ayo Mayu, lo pasti bisa Mayu, ini supnya sangat enak loh, sayang kalau dilewatkan. Ajak itu, para penghuni perut lo bekerja sama!" ujar Shinta menyemangati sambil makan sup juga seperti Mayu.
"Benar juga," ujar Mayu kemudian mengusap perutnya.
"Wahai para cacing di dalam sana, kita saling kerja sama yuk. Jarang-jarang loh kita bisa makan makanan enak dan bergizi." ujar Mayu.
"Heh Mayu jangan sebut merek(cacing) juga dong, lagi makan juga." protes Lora cepat.
__ADS_1
"Enggak apa-apa Lora, harap maklumlah, teman kamu kan lagi sakit. Emang benar kan itu, cacing di perut Mayu harus diajak kerja sama biar bisa makan banyak." ujar Rangga membela Mayu.
"Ini juga Kak Rangga sama saja, menyebalkan!" ujar Lora kesal tapi lanjut makan lagi.
Rangga dan yang lainnya hanya tersenyum.
"Kak Alga tidak makan?" tanya Mayu baru sadar kalau hanya Alga yang tidak makan.
"Tidak Mayu, saya tidak lapar. Kamu mau nambah?" tanya Alga. Walau Mayu makannya sangat pelan tapi dagingnya sudah mau habis, dan kuahnya juga sudah berkurang hampir setengahnya.
"Tidak Kak, ini saja sudah cukup."
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi kalau mau nambah bilang saja! Tidak usah malu-malu!"
Mayu seketika melirik Alga sejak kapan Mayu malu-malu makan depan Alga? Biasanya juga kalau mau nambah ya nambah saja. Bahkan sejak kemarin, Mayu selalu ambil jatah lauk Alga karena para panitia memang dapat jatah lauknya lebih banyak. Terutama Alga yang memang pesan lauk tambahan.
"Ngomong-ngomong enggak ada nih yang menawarkan saya nambah?" tanya Lora sambil melirik sekitarnya. Melihat Mayu yang sudah mulai baikan dia sudah mulai berani bercanda seperti biasanya.
"Enggak ada Lora, pipi sudah lebar begitu enggak usahlah nambah lagi. Mayu kan kerempeng wajar kalau dia ditawarkan nambah." ujar Rangga pahit.
Lora seketika menatap Rangga.
Shinta dan yang lainnya seketika tertawa mendengarnya.
"Emang begitu aslinya Ra, jadi lo harap maklum saja." ujar Mayu. Mayu bahkan sudah mulai terbiasa dengan panggilan kerempeng ala Rangga.
"Benarkah?" ujar Lora dan langsung melirik Rangga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa?" tanya Rangga sok galak.
"Enggak apa-apa Kak, Kak Rangga ganteng kok, tapi kalau kalau dilihat dari sedotan." ujar Lora dengan santainya.
"Haha ...." Mayu dan lainnya kembali tetawa, bahakan Alga yang jarang sekali tertawa sampai tertawa kecil. Sedangkan Rangga hanya menunjukkan kepalan tangannya pada Lora.
Alga mulai paham kenapa Mayu bisa berteman dekat dengan Lora, ternyata karakter mereka hampir sama. Pemberani dan tidak gampang ditindas.
"Ah iya May, gue masih penasaran kenapa lo bisa tenggelam di kolam. Apa ada yang dorong lo atau lo jatuh sendiri?" tanya Riana yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia.
Mayu menghentikan suapannya dan teringat dengan apa yang menimpanya.
"Ada sosok berjubah hitam yang mendorong gue, dan gue enggak sempat lihat orangnya karena langsung tenggelam. By the way terima kasih Riana, lo sudah mau nolong gue, dan rela nyebur demi gue." ujar Mayu yang masih ingat jelas siapa yang menolongnya. Dia juga masih ingat kalau sebelumnya ada Ira, tapi sekarang entah dimana orangnya?
__ADS_1
"Iya sama-sama Mayu." ujar Riana
"Berarti benarkan dugaan kita kalau Mayu itu bisa tenggelam karena ada yang dorong. Hanya saja, siapa ya kira-kira pelakunya, kalau hantu kayaknya enggak mungkin." ujar Noni.
"Jelas saja enggak mungkin hantu pelakunya Noni, kamu ini ada-ada saja. Kalau menurut saya, kemungkinan besar pelakunya ya orang yang tidak suka Mayu. Kira-kira kamu tahu enggak Mayu, siapa saja yang enggak suka sama kamu dan yang kamu curigai?" ujar Yudha.
"Yang enggak suka Mayu itu sangat Banyak. Lalu apa kita harus mencurigai mereka semua? Gue paling malas ya kalau disuruh mengadili mereka satu persatu. Itu benar-benar makan waktu. Gue capek. Ini saja gue enggak bisa tidur karena Mayu." ujar Lia cepat.
Bagi Lia siapa pun itu pelakunya enggak penting, dan dia paling malas kalau pekerjaannya tambah banyak dan itu karena Mayu. Mayu itu benar-benar tidak penting bagi dia.
"Kata siapa lo enggak bisa tidur karena Mayu, Lia? Omongan lo jangan terlalu berlebihan lah!Kalau lo mau tidur ya tidur saja! Lo mau ada di sini atau enggak juga enggak ada pengaruhnya bagi Mayu. Dari tadi lo juga hanya duduk dan makan saja." ujar Rangga kesal. Omongan Lia benar-benar bukan solusi dari masalah yang dihadapi Mayu, dan bukan mencerminkan sikap senior yang sesungguhnya. Hanya saja Rangga tidak mengatakannya secara langsung.
"Ya-ya gue enggak mungkin tidur duluanlah. Selaku panita, gue juga punya tanggung jawab atas apa yang menimpa Mayu." ujar Lia gugup. Omongan Rangga terlalu tepat sasaran.
"Kalau lo merasa punya tanggung jawab, kenapa lo bicara seperti itu? Tadinya kalau lo bilang masalah ini jangan dibesar-besarkan, ok gue masih bisa mengerti, karena selaku panita gue juga gue tidak mau merusak acara makrab ini, dan gue juga tidak mau pihak kampus sampai tahu kejadian ini." ujarnya kemudian beralih pada Mayu.
"Maaf ya Mayu, bukan saya tidak perduli pada kamu, tapi saya hanya enggak mau masalah ini jadi panjang dan kemana-mana nantinya, apalagi kalau pihak kamus sampai tahu. Takutnya kita disuruh pulang, dan masalah akan semakin panjang. Kamu tahulah beda kepala pasti beda pemikirannya, dan yang paling saya takutkan ada adu domba nantinya. Tapi kamu tenang saja, saya pribadi pasti akan mencari tahu siapa pelakunya. Saya tidak bisa diam saja karena ini sudah menyangkut nyawa." jelas Rangga.
"Iya Kak saya mengerti, lagian saya juga sudah tidak apa-apa kok Kak. Saya juga tidak mau masalah ini jadi panjang, dan orang-rang yang membenci saya, akan lebih banyak lagi." ujar Mayu apa adanya.
"Iya Mayu terima kasih atas perngertiannya. Hanya saja saya berharap lain kali kamu bisa lebih hati-hati lagi. Ingat zaman sekarang ini, tidak hanya zamannya yang edan(gila) tapi orang-orangnya lebih edan lagi. Banyak orang yang lebih mengandalkan emosi dari pada otak. Untuk semua yang di sini juga saya harap kalian bisa hati-hati. Jika ada hal yang mencurigakan, langsung lapor panitia saja dan jangan bertindak sendiri." pesan Rangga.
"Iya Kak," kompak Mayu dan yang lainnya.
"Bagus. Berhubung ini sudah pagi, kalian bisa habiskan makanan masing-masing dan bisa kembali ke kamar kalian masing-masing. Ah iya sebelum lupa, saya juga mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian pada Mayu. Kalian memang teman sejati, dan saya harap sampai selamanya kalian punya sifat yang mau saling membantu seperti ini. Selamat beristirahat semuanya." ujar Rangga.
"Iya Kak, dan terima kasih juga atas teraktirannya ya Kak. Sering-sering ya Kak Rangga. Kak Rangga ganteng deh." ujar Shinta.
"Saya tahu Shinta, dan enggak usah diperjelas juga kalau saya ini ganteng. Saya kan jadi malu." ujar Rangga sok imut.
"Prett!" ujar Lora dengan sadisnya.
"Enggak sopan sekali kamu Lora. Udah sana tidur kalian semua!" usir Rangga sok galak.
"Iya Kak Rangga. Ayo teman-teman, saatnya kita bobok cantik!" ujar Lora.
"Ok." kompak Sinta dan yang lainnya.
"Kamu tidur di sini saja Mayu!" ujar Alga begitu Lora dan yang lainnya pergi.
Mayu yang hendak bangun seketika menatap Alga.
__ADS_1