
"Dedek Lisa ada dua hihi ...." Lisa tertawa dengan bahagianya begitu dokternya menyerahkan bayi kembar itu pada orang tuanya.
Lisa sangat senang melihat kedua adiknya, mana keduanya cowok dan itu sesuai harapan Lisa. Dia sudah punya 2 adik cewek dan dia menginginkan adik cowok.
"Kakak Lisa senang Sayang?" tanya Alga.
"Senang cekali Ayah," ujar Lisa dan ada senyum di wajahnya. Alga dan Mayu juga ikut senang melihat wajah senang anak mereka.
"Kalau senang, bilang makasih dong sama Bunda!" suruh Alga yang enggak pernah menjauh sedikit pun dari sisi istrinya.
"Yaya Ayah. Bancu Akak Lisa, Ayah!" ujar Lisa beralih pada Alga dan mengangkat kedua tangannya minta Alga menaikkannya ke ranjang Mayu.
"Siap Kakak Cantik." ujar Alga dan membantu menaikkan anak sulungnya ke ranjang Mayu.
"Bunda," ujar Lisa menatap tersenyum pada bundanya.
"Kenapa Kakak?" tanya Mayu pelan. Dia masih sangat lemas.
Lisa tidak langsung menjawab. Dia mengecup pipi dan kening Mayu membuat Mayu tersenyum karena sikap manis anaknya.
"Bunda masih sakit?" tanya Lisa menatap bundanya yang bulam kembali seperti bundanya yang seperti biasanya.
"Iya Kakak, Bunda masih sakit dan lemas, makanya Kakak jangan nakal ya! Kakak juga harus jaga dedeknya!" ujar Mayu pelan dan diangguki Mayu.
"Yaya Bunda, Akak Lisa nono nakal, baik Akak Lisa. Bunda cepat sembuh Banda. Lajin minum obat Bunda, bial enggak sakit agi. Akak Lisa sayang Bunda." ujarnya sambil mengusap pipi Mayu membuat Alga dan Mayu tersenyum haru. Ini anak sulung mereka memang enggak ada duanya. Bisa sekali membuat orang tuanya merasa senang dengan perhatiannya.
"Iya Kakak, Bunda pasti akan rajin minum obat biar cepat sembuh. Bunda juga sayang sama Kakak Lisa." balas Mayu.
"Yaya Bunda. Bunda!" panggilnya.
"Iya Kakak,"
"Telima kasih lahil dedek Lisa. Lisa senang cekali Bunda. Dedek Lisa dua Bunda, cowok." ujar Lisa lagi teringat dengan apa yang disuruh Alga. Makin ke sini daya ingatnya memang semakin kuat dan tidak melulu soal makanan lagi.
"Sama-sama Kakak. Kakak Lisa senang dapat dedek cowok?" tanya Mayu.
"Senang Bunda. Dedek Lisa, ada cewek ada cowok." ujar Lisa malah pamer.
"Adiknya Lisa ada berapa sekarang?" tanya Mayu lagi.
"Ee ...." Lisa tampak berpikir dan mengangkat tangannya mulai berhitung.
"Lima Bunda," ujar mantap membuat Alga dan Mayu tersenyum.
"Siapa saja namanya Kakak?" tanya Alga sengaja ngetest anaknya.
"Dedek Lina, dedek Pina, Dedek Lina, de-"
"Kok dedek Lina lagi?" protes Alga memotong ucapan anaknya.
"Dedek Lina, Ayah! El el Lina!" seru Lisa berusaha memperjelas kata-katanya. Maksud Lisa, Rina anaknya Rangga dan Lora yang lahir beberapa bulan lalu dan jenis kelaminya juga perempuan.
"Iya Kakak, maksudnya dedek Rina ya?"ujar Alga.
"Yaya!" seru Lisa mantap membuat orang tuanya kembali tersenyum.
"Terus siapa lagi adiknya Cantik?" tanya Alga lagi.
"Dedek kembal," jawab Lisa.
"Iya dedek kembarnya siapa namanya Kakak?" tanya Mayu.
"Dedek ucok," jawbnya membuat Alga tertawa sedangkan Mayu tersenyum. Mayu belum kuat tertawa, perutnya masih terasa nyeri.
"Kenapa jadi ucok Lisa? Sejak kapan adik kamu itu jadi suku batak?" ujar David yang sedari tadi mendengar pembicaraan anak, menantu dan cucunya.
"Ata tulang doktel, glenpa." ujarnya mantap.
__ADS_1
Dokter spesialis anak yang menangani Lisa dan para sepupunya adalah orang batak dan dia sangat dekat dengan Lisa. Selain sering menggoda Lisa, dia juga sering bagi makanan untuk Lisa, makanya Lisa sangat senang pada dokter itu. Lisa bahkan pernah ngaku-ngaku jadi boru Siregar karena ajaran dokternya. Alga dan Mayu sampai tertawa ngakak karenanya. Ada-ada saja memang anaknya.
"Apa kata tulang dokter pada Lisa?" tanya David lagi.
"Ata tulang doktel, dedek ucok a silegal, ucok b cilegal bah." jawabnya meniru dokter itu membuat Alga semakin tertawa ngakak dan David juga tersenyum lebar. Memang ini cucunya kemana saja masuk, darahnya terlalu banyak campurannya. Ada da*ah Jawa, Sunda, Jepang, Belanda dan Betawi.
"Hihi ...." Lisa juga ikut tertawa.
"Lisa ... Lisa!" seru David dan mengacak gemas rambut cucunya.
"Kakak Lisa, salah Cantik, nama dedeknya bukan ucok." ujar Alga setelah tawanya mereda.
Lisa tampak terkejut dan menatap ayahnya.
"Telus ciapa nama dedek Ayah?"
"Dedek yang besar namanya Arhan dan dedek yang kecil namanya Arfan." jawab Alga.
"Alhan, Alpan. Yaya Ayah." ujar Lisa sambil merekam dalam benaknya nama adik-adiknya.
"Nama dedeknya bagus enggak Kakak?" tanya Mayu.
"Bagus Bunda, nama dedek bes." ujarnya mantap sambil mengacungkan jempolnya.
"Bisa saja kamu Lisa," ujar Mayu kembali tersenyum dan Alga kembali menghadiahi kecupan di pipi anaknya.
***
"Dedek!" panggil Lisa begitu dia turun dari mobilnya dan langsung berlari, dia sangat merindukan adik-adiknya. Lisa rindu mendengar suara tangis mereka yang sangat keras dan saling bersahut-sahutan, karena kalau yang satu menangis yang satunya juga ikutan menangis dan itu jadi hiburan bagi Lisa.
"Ucapkan salam dulu Kakak!" ujar Sindi sambil membantu Lina turun dari mobil. Sejak Mayu melahirkan anak kembarnya, yang bertugas mengantar jemput Lisa ke sekolah dan les digantikan oleh Sindi. Dira membantu Mayu mengurus cucu kembarnya, karena sampai saat ini mereka belum juga memperkerjakan baby sitter. Kata Dira nanti saja kalau Mayu sudah kembali kerja.
"Ah iya, lupa Akak. Acalamalaikum semua!" seru Lisa sambil membuka cepat sepatunya. Dia sudah pintar membuka sepatunya.
"Waalaikumsalam Kakak. Kakak sudah pulang? Cuci tangan dulu Kakak!" ujar Mayu menjawab salam anaknya dan tidak lupa mengingatkan anaknya.
"Sini dedek Lina!" ujarnya lagi begitu melihat Lina berlari ke arahnya.
Lina juga tidak sabar bertemu dengan adik-adiknya itu.
"Yaya Akak. Anti dedek catu-catu ya!" ujar Lina. Senang dia karena adiknya ada, dua jadi dia dan Lisa tidak perlu rebutan.
"Yaya, nanti dedek satu-satu, tapi dedek Lina jangan nangis dedek kembal ya, kacian." ujar Lisa mengingatkan karena seringnya Lina membuat nangis adiknya itu. Parahnya lagi dia akan tepuk tangan kalau adiknya menangis.
"Yaya Akak, nono angis dedek."
"Pintal," ujar Lisa memuji Lina membuat Lina tersenyum.
"Udah bersih belum cuci tangannya?" tanya Sindi.
"Dah Genma," jawab Lisa mantap.
"Dilap dulu Kakak, dedek Lina juga." ujar Sindi lagi memberikan kain lap untuk mereka.
"Oce Enma," semangat Lina dan berebut kain lap dengan Lisa.
Mereka sama-sama tertawa karena ulah mereka sendiri.
"Pintar,"
"Dah Genma," ujar Lisa memberikan lapnya.
"Ok," ujar Sindi dan kedua bocah itu langsung berlari masik rumah.
"Dedek!" seru mereka lagi.
Arhan dan Arfan yang sedang bersantai di sofa santai mereka langsung menggerakkan semangat kaki mereka. Walau umurnya baru 3 bulan tapi mereka termasuk bayi yang aktif. Apalagi kalau ada Lisa dan Lina, senang sekali mereka.
__ADS_1
"Salim dulu Kakak!" ujar Dira sambil mengulurkan tangannya.
"Ok Oma," semangat Lisa dan langsung salim pada omanya dan Mayu juga tidak ketinggalan. Lina juga mengikutinya. Setelah itu mereka memberikan tangan mereka untuk Arhan dan Arfan untuk di salim.
Kedua bayi kembar itu tersenyum lebar dan semakin semangat menggerakkan kakinya.
"Dedek Alhan, ba!" seru Lisa sambil cilukba depan Arhan.
"Aaa!"
Arhan langsung mengeluarkan ocehannya dan menggerakkan kakinya semangat. Dia sangat senang melihat wajah kakak cerewetnya.
Tidak jauh berbeda dengan kembarannya, Arfan juga tidak kalah senangnya karena Lina.
Mayu dan kedua nenek mereka sampai senyum-senyum melihatnya. Beruntung memang Mayu melahirkan anak kembar, Lisa dan Lina jadi tidak perlu lagi rebutan adik, ya walaupun kadang Lina sampai nangis karena adiknya tidak boleh dibawa pulang ke rumahnya.
"Kakak, setelah main sama dedek, bajunya diganti ya!" suruh Mayu.
"Siap Bunda. Bunda, Akak Lisa nono les ya. Akak Lisa mau jaga dedek." ujar Lisa menatap bundanya penuh harap. Dia ingin berlama-lama main sama adiknya.
"No Kakak. Kakak Lisa harus tetap les, setelah les nanti bisa main lagi sama dedek. Kakak Lisa harus pintar, biar nanti Kakak Lisa bisa ajari adik-adiknya. Kakak Lisa mau kan ajari adik-adiknya biar pintar juga seperti Kak Lisa?" ujar Mayu.
"Mau Bunda, Akak Lisa, akak baik." ujar Lisa mantap.
"Itu dia, makanya Kak Lisa harus Les ya. Kakak Lisa harus jadi contoh yang baik buat adik-adiknya!" ujar Mayu lagi.
"Yaya Bunda," ujar Lisa dan kembali pada Arhan.
"Alhan Ba!" ujarnya lagi.
Arhan lagi-lagi tersenyum dan Lisa langsung menghadiahinya kecupan di pipi. Lisa tidak takut-takut lagi mengecup pipi adik-adiknya dan itu karena pipinya semakin tembem.
"Glenma makan apa itu?" ujar Lisa tiba-tiba begitu melihat Sindi datang sambil membawa setoples makanan di tangannya.
Walau sibuk dengan adiknya tapi tatapannya sangat tajam kalau menyangkut makanan.
"Kue bawang, mau Lisa?"
"Mau!" Tidak hanya Lisa yang berkata mau tapi Lina juga. Lina juga enggak jauh berbeda sama Lisa. Tukang makan.
"Sini!" ujar Sindi yang sudah duduk lesehan di samping kursi santai Mayu.
"Siap!" semangat Lisa langsung menghampiri Sindi.
"Oe oe oe ...."
Baru juga Lisa mau duduk langsung terdengar suara tangis Arhan dan setelah itu Arfan juga ikutan.
Mereka seakan tidak terima kalau kakak-kakaknya meninggalkannya.
Lisa yang hendak menghampiri grandmanya tidak jadi. Dia kembali menghampiri adik kembrnya.
"Dedek jangan nangis, ini Akak Lisa, Dedek. Ba dedek," ujar Lisa berusaha menenangkan Arhan.
Tangis Arhan langsung terhenti begitu melihat wajah Lisa dan dua juga kembali tersenyum seperti biasa.
Sama halnya dengan Arfan dia juga kembali senyum-senyum pada Lina.
Mayu hanya senyum-senyum saja melihat Lisa dan Lina. Mereka memang sudah cocok jadi kakak.
"Glandma Lisa mau kue bawang, tapi dedek enggak mau tinggal." ujar Lisa mengadu dengan wajah memelasnya.
"Ya sudah Grandma saja yang ke sana. Tapi ingat ya, setelah makan kue bawang dilarang sentuh pipi dedeknya atau cium pipi dedeknya!" ujar Sindi mengingatkan.
"Siap Glenma!" semangat Lisa.
"Dasar tukang makan."
__ADS_1