
"Dad, Mayu pulang ya." ujar Mayu sambil salim.
"Iya kamu hati-hati ya!" balas David kemudian membawa Mayu ke pelukannya.
David memeluk erat Mayu dan tersenyum pada anak sulungnya. Mayu juga balas tersenyum, senang dia dipeluk daddynya.
Mayu beralih pada Sindi.
"Tante, Mayu pulang ya. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih sudah mengizinkan Mayu dan teman-teman barbeque di rumah Tante. Mayu sangat senang Tante." ujar Mayu apa adanya. Walau tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka sebelumnya tapi Mayu bisa merasakan kalau sikap Sindi semakin bersahabat padanya.
"Iya sama-sama," ujar Sindi singkat.
"Tante boleh salim?" ujar Mayu lagi.
Sindi tidak menjawab tapi dia memberikan tangannya, dan itu berhasil membuat Mayu, David dan Alga tersenyum tipis. Alga tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya melihat Mayu perlahan tapi pasti sudah mulai diterima di keluarga papanya. Ini benar-benar bagus untuk Mayu, dan Mayu sangat layak mendapatkan itu.
Melihat Sindi yang mulai luluh pada Mayu, Alga berharap maminya juga bisa seperti Sindi. Alga pasti akan sangat bahagia kalau sampai itu terjadi.
"Terima Kasih Tante," ujar Mayu lagi begitu dia salim.
"Ya," ujar Sindi lagi.
"Kami pulang Om, Tante." ujar Alga ikut pamit dan ikut salim juga.
"Iya Alga, hati-hati bawa mobilnya." ujar David.
"Siap Om." jawan Alga mantap.
"Ayo Ay!" ujar Alga.
Mayu mengangguk.
"Mayu, Kak Alga, tunggu!" seru Naura dari dalam rumah.
Mayu dan Alga menoleh.
"Kenapa Nau?" tanya Mayu.
"Ini, gue sudah siapkan steak, sate dan ikan bakar untuk nenek. Kasihan dia kalau sampai enggak kebagian makanan terenak di dunia." ujar Naura sambil memberikan rantang pada Mayu.
Mayu tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasa senang melihat perhatian Naura pada Neneknya. Ditambah lagi Sindi juga tidak protes, tentu saja itu menambah kebahagiaan di hati Mayu.
"Gue terima ya Nau, terima kasih ya. Nenek pasti suka ini." ujar Mayu dan menerima rantang makanan pemberian Naura.
"Sama-sama Mayu. Bilang juga pada Nenek, lain kali dia harus ikut." ujar Naura lagi.
"Siap Naura. Ya sudah gue pulang dulu ya!"
"Ok. Hati-hati!" ujarnya dan beralih pada Alga.
"Kak Alga hati-hati bawa mobilnya, dan pastikan kakakku sampai di rumah dalam keadaan selamat dan tidak kurang satu apa pun!" seru Naura.
"Beres kalau soal itu Naura." ujar Alga mengacungkan jempolnya.
"Dah semua," ujar Mayu lagi melambaikan tangannya.
"Dah juga Mayu, Kak Alga." ujar Naura balas melambaikan tangannya.
"Dad, Mom, Naura duluan." ujar Naura lagi begitu Alga dan Mayu sudah meninggalkan halaman rumah mereka.
"Iya," ujar David.
David beralih menatap Sindi.
"Terima kasih juga Sindi sudah mau menerima kedatangan anakku. Aku suka kamu yang seperti ini, yang mau memikirkan perasaan kami dan bukan memikirkan perasaan kamu saja." ujar David tulus kemudian melangkahkan kakinya masuk rumah.
Bagi Sindi atau yang lainnya, apa yang terjadi hari ini mungkin hanya hal biasa, tapi tidak bagi David. Bagi David apa yang terjadi hari ini adalah hal yang sangat luar biasa. Bisa menghabiskan waktu bersama kedua anaknya dan teman-temannya serta melihat mereka tertawa bercanda bersama, itu adalah satu momen yang David tunggu selama ini dan akhirnya kesampaian juga.
Sindi diam-diam tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasa senang, akhirnya David kembali bersikap lembut padanya dan sikapnya juga tidak lagi sedingin sebelumnya pada Sindi.
"Iya David, aku janji aku akan belajar mengurangi sikap egoisku. Aku juga janji akan lebih berusaha lagi agar bisa menerima kehadiran Mayu." monolog Sindi.
***
"Ay, aku langsung pulang ya, ini udah malam banget, kamu juga pasti ingin istirahat." ujar Alga begitu mereka sampai di rumah Mayu.
"Iya Kak, Kak Alga hati-hati!" ujar Mayu sambil salim.
Alga mengangguk dan beralih mengecup dalam kening Mayu.
__ADS_1
"Dah Kak,"
"Alga kembali mengangguk kemudian masuk mobilnya.
"Seperti biasa ya Kak!" seru Mayu lagi.
"Siap Ay." ujar Alga kemudian menjalankan mobilnya.
Mayu masih menunggu depan rumahnya sampai mobil Alga hilang dari pandangannya.
Mayu kemudian membuka pintu rumahnya dan menguncinya kembali.
Mayu melangkah perlahan ke arah kamar dan mau memeriksa keadaan neneknya.
"Kamu sudah pulang Nak," ujar Nenek Iroh begitu Mayu membuka pintu kamar.
"Iya sudah Nek, Assalamualaikum Nek." ujar Mayu.
"Waalaikumsalam."
"Nenek belum tidur?" tanya Mayu menghampiri neneknya kemudian salim pada nenek Iroh.
"Belum Nak, Nenek susah tidur." jawab nenek Iroh apa adanya.
"Tumben Nek, apa Nenek sedang ada pikiran?" tanya Mayu lagi dan menatap neneknya.
"Tidak Nak, tapi biasalah penyakit orang tua. Terkadang ini mata ingin tidur tapi pikiran enggak mau tidur." jawab Nenek Iroh.
"Iya Nek, Mayu mengerti. Ah iya berhubung Nenek masih bangun mau makan steak atau ikan bakar enggak Nek? Mayu ada bawa makanan untuk Nenek." ujar Mayu sambil mengangkat rantangnya.
"Kamu bawa makanan untuk Nenek, Nak? Harusnya kamu enggak perlu melakukannya. Nenek jadi merasa tidak enak."
"Nenek enggak perlu merasa enggak enak Nek, santai saja. Lagian ini makanan Naura sendiri yang menyiapkannya. Mayu enggak mungkin menolaknya Nek. Naura bisa sedih nanti." jelas Mayu.
"Kamu benar juga, ya sudah Nenek mau makan dulu kalau begitu. Nenek rindu makan steak." putus Nenek Iroh.
"Nah gitu dong Nek. Ya sudah Mayu siapkan dulu ya makanannya." ujar Mayu.
Nenek Iroh mengangguk dan dia juga ikut bangun dan menyusul Mayu.
"Nenek belum makan malam?" tanya Mayu begitu melihat Nenek Iroh makan dengan lahap steaknya.
"Ya memang enak sih Nek, tante Sindi beli dagingnya yang kwalitas terbaik, selain itu mereka juga pintar buat saosnya. Mayu jadi ingin lagi. Bagi Mayu ya Nek!"
"Makan saja Nak, nenek juga enggak akan habis ini. Mkanannya banyak sekali."
"Enggak apa-apa lah Nek, sekali-kali. Satenya kalau enggak habis enggak apa-apa Nek. Besok kita campur sama nasi goreng." ujar Mayu sambil makan.
"Iya Nak, ide bagus itu." ujar nenek Iroh sambil mengangkat sendoknya ke arah mulut Mayu.
Mayu yang tahu maksud neneknya langsung membuka mulutnya dan menerima suapan Nenek Iroh. Mereka sama-sama tersenyum.
"Nek ingat enggak waktu pertama kali kita makan steak bersama?" tanya Mayu.
"Sangat ingat dong Nak, dan enggak nyangka sekali ya Nak kalau kita sekarang bisa makan steak sepuasnya."
"Benar sekali Nek, kadang Mayu masih suka mikir, ini semua mimpi atau bukan, dan kalau mimpi Mayu benar-benar tidak ingin bangun lagi Nek." cerita Mayu dan kembali menerima suapan dari neneknya.
"Nenek juga sama Nak, dan kalau pun waktu Nenek sudah habis di bumi, Nenek merasa senang, karena Nenek bisa pergi dengan tenang."
"Nek bicaranya ih, enggak suka Mayu. Nenek jangan bahas soal begitun dong! Lagian cita-cita Nenek yang mau jalan-jalan ke Bali dan naik pesawat belum kesampaian. Memangnya Nenek enggak penasaran naik pesawat. Mayu saja sangat penasaran, dan Mayu mau kalau naik pesawat untuk pertama kalinya bersama Nenek nanti. Kita akan beli tiket yang bisnis kelas. Bila perlu Mayu mau sewa jet pribadi sekalian." ujar Mayu lagi ngehalu.
"Memangnya sewa jet pribadi itu enggak mahal ya Ya Nak?"
"Ya kalau hanya ke Bali sih, cukup ratusan juta saja Nek, enggak sampai milyaran." jawab Mayu lagi.
"Ratusan juta? Enggak ada itu sewa jet pribadi. Lebih baik uangnya buat beli yang lain saja. Enggak suka Nenek naik jet pribadi." ujar nenek Iroh cepat.
Mayu tertawa mendengarnya.
"Mayu juga enggak suka Nek. Membayangkan harus bayar ratusan jutasan saja sudah mau pingsan Mayu, Nek."
"Nenek apa lagi, bulu kuduk Nenek langsung berdiri." balas Nenek Iroh membuat Mayu tertawa.
"Hei Nek, itu jet pribadi ya bukan hantu."
"Tapi bagi Nenek, membayangkan harganya saja sudah lebih menakutkan dari hantu." ujar nenek Iroh lagi membuat Mayu lagi-lagi tertawa.
"Nenek bisa saja. Eh tapi soal yang Mayu bilang mau naik pesawat bersama nenek itu serius loh Nek. Nenek setuju enggak kalau kita jalan-jalan ke Bali?" ujar Mayu lagi setelah tawanya mereda.
__ADS_1
"Hanya kita berdua Nak?" tanya Nenek Iroh ragu. Dia senang bisa pergi jalan-jalan dengan Mayu, tapi dia juga khawatir mengingat mereka belum pernah naik pesawat dan jalan-jalan ke Bali. Takutnya mereka nyasar.
"Enggak Nek, ada daddy dan Naura juga, dan kalau tante Sindi bersedia mungkin dia juga akan ikut. Misalkan tante Sindi Ikut, Nenek enggak keberatan kan?"
"Tentu saja enggak Nak, lagian Nenek enggak ada masalah apa-apa dengannya. Dia hanya punya masalah dengan mendiang Marisa. Hanya saja, nenek sangat berharap, suatu saat nanti dia mendatangi makam Marisa dan menyampaikan permintaan maafnya, tapi kalau pun dia enggak mau melakukannya ya Nenek juga enggak akan mempermsalahkannya. Bagi Nenek yang terpenting itu dia mau menerima kehadiran kamu dan tidak berbuat jahat pada kamu, itu sudah lebih dari cukup. Nenek mau fokus pada masa sekarang saja Nak dan Nenek enggak ingin merusak kebahagian kita saat ini hanya kerena amarah Nenek di masa lalu." jelas nenek Iroh.
"Iya Nek, itu juga yang daddy bilang pada Mayu, dan semoga saja tante Sindi terpanggil hatinya ya Nek, sehingga dia mau minta maaf pada mendiang mama, walau mama tidak mungkin mendengarnya lagi."
"Iya Nak."
"Berarti sudah deal ya Nek soal kita jalan-jalan ke Bali?" tanya Mayu memastikan.
"Iya Nak, asal itu bersama kamu, kemana pun itu Nenek pasti iku." ujar nenek Iroh membuat Mayu tersenyum lebar.
"Manisnya nenekku ini," ujar Mayu dan beralih memeluk neneknya dengan satu tangannya.
Nenek Iroh juga tersenyum. Dia senang melihat cucunya senang.
***
"Ay aku sudah pulang kerja, kamu mau dibawain apa?" tanya Alga sambil melangkahkan kakinya ke arah parkiran kantor.
"Enggak perlu perlu bawa apa-apa Kak, cukup dengan Kak Alga datang dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apa pun, itu saja." jawab Mayu mantap.
Alga tersenyum mendengarnya.
"Bisa saja kamu Ay. Ya sudah ini aku sudah sampai di mobilku, aku matikan sambungan tekeponnya ya Ay! Nanti lagi kita lanjut." ujar Alga.
"Iya Kak, hati-hati ya Kak!"
"Siap Ayang. Love you."
"Love you too Kak."
Alga mematikan sambungan ponselnya dan kembali menyimpan ponselnya sambil mengambil kunci mobilnya.
"Alga!"
Alga yang hendak membuka pintu mobilnya menoleh.
"Mami!" seru Alga.
"Iya ini Mami, antar Mami ke suatu tempat." ujar Dira membuat Alga mengerutkan keningnya.
"Kenapa Mami minta antar Alga, Kan ada pak supir Mi." ujar Alga.
"Mami inginnya kamu Alga. Apa Mami enggak bisa minta tolong pada anak Mami sendiri?" ujar Dira manatap galak anak.
"Ya tentu saja bisa. Mami silahkan masuk!" ujar Alga memilih mengalah saja.
"Gitu dong," ujar Dira.
Alga hanya menghembuskan nafasnya pelan dan kembali masuk mobilnya. Alga sangat berharap maminya enggak akan membuat masalah lagi kali ini.
"Ini kira mau kemana Mi?" tanya Elga begitu mereka sudah sampai di jalan raya.
"Ke taman Cibubur," jawab Dira membuat Alga meneh padanya.
"Mami ngapin ke taman Cibubur? Taman di kompleks kita juga tidak kalah bagusnya Mi." ujar Alga lagi.
"Mami enggak butuh protesan kamu Alga, jalan saja!"
Alga lagi-lagi menghembuskan nafas pelan.
"Baiklah Mi," ujar Alga kembali mengalah.
Beberapa menit kemudian sampai juga mereka di taman Cibubur.
"Ayo turun!" suruh Dira.
"Iya Mi," jawab Alga malas. Entah mau ngapain maminya ke taman Cibubur.
Dira langsung menggandeng tangan anaknya, dan Alga membiarkannya saja. Dia juga masih bisa berpikir positif, tapi pikiran positifnya seketika ambyar begitu melihat beberapa wartawan dan ada juga orang banyak sekitar wartawan itu
Langkah Alga seketika berhenti begitu sadar kalau ada yang sedang melakukan shooting.
'Jangan-jangan ini lokasi shooting Rahel?' batin Alga dan benar saja Dira langsung memanggil Rahel begitu melihat Rahel bersama para kru.
"Rahel!" panggil Dira semangat.
__ADS_1
Tidak hanya Rahel yang menoleh tapi kru dan wartawan juga.