
Alga menarik nafas pelan dan membuangnya dengan perlahan. Alga menatap Mayu dan medekatkan wajahnya pada Mayu.
"Mayu, saya persilahkan kamu bersikap tidak elegan dan terserah kamu mau melakukan apa saja. Saya tidak akan marah." ujar Alga pelan.
Alga benar-benar tidak bisa melihat Mayu diperlakukan seperti itu oleh maminya. Alga ingin pergi saja rasanya membawa Mayu, tapi kalau dia pergi, itu sama saja dia kalah.
Alga tidak boleh kalah begitu saja, seenggaknya dia harus memberi perlawanan dan Alga yakin Mayu pasti bisa melakukannya.
"Beneran Kak, Mayu bisa bersikap apa adanya dan tidak elegan?" tanya Mayu. Mayu juga sudah tidak tahan. Dia tidak terima dengan apa yang dilakukan Dira, dia memang orang miskin, tapi bukan berarti perutnya tidak bisa makan makanan yang dihidangkan di meja itu. Justru perutnya sangat menginginkan semua itu.
"Iya," ujar Alga mantap.
"Ok Kak." ujar Mayu tidak kalah mantapnya.
Mayu kembali menatap tempe gosong di depannya.
"Kenapa kamu masih diam saja Mayu, makan itu makanan kesukaan kamu, enggak usah malu-malu pada kami! Kami juga sangat maklum." ujar Dira lagi menahan tawanya.
Jika di rumah yang berkuasa itu maminya Alga, makanya Pratama lebih memilih diam, karena kalau dia ikut bicara ujung-ujungnya mereka pasti berantem. Pratama malas berantem dengan istrinya kerena ujung-ujung pasti dia yang harus mengalah.
"Iya Tante terima kasih Tante, Tante tahu saja kalau makanan kesukaan saya memang tempe. Tempe setengah gosong lagi, dan saya hampir setiap hari loh Tante makan tempe. Berhubung saya setiap hari makan tempe, saya jadi mulai bosan Tante, makanya ini para penghuni perut saya ingin makan makanan yang berbeda sesekali Tante. Ah iya saya dari tadi ingin makan lobster. Lobsternya sepertinya enak. Saya coba ya Tante. Tante baik deh." ujar Mayu berani, dan tidak lagi bersikap elegan.
Mayu kemudian bangun dari duduknya dan jalan ke arah Dira. Mayu mengambil 2 lobster sekaligus dengan kedua tanganya.
"Tangan saya bersih kok Tante, tenang saja." ujar Mayu sambil tersenyum lebar.
Dira seketika melotot. Begitu juga dengan Naura dan Sindi. Ini Mayu kelakuannya benar-benar norak dan kampungan serta tidak ada elegannya sama sekali. Sangat berbeda dengan mereka semua.
Mayu meletakkan ke dua lobsternya dalam piringnya. Setelah itu Mayu juga mengambil daging iga, udang, dan ayam. Piring Mayu sampai penuh.
Mata Dira, Sindi dan Naura lagi-lagi melotot dan seakan mau keluar melihat kelakuan Mayu. Terlebih lagi saat Mayu mengangkat 1 kakinya ke atas, seperti halnya makan di warteg.
"Selamat makan semua," ujar Mayu dengan santai dan tanpa dosa. Mayu sadar dia dipelototi oleh ketiga orang itu tapi dia cuek saja. Alga sudah memberi izin ini. Mayu juga sangat sadar kalau sikapnya berlebihan, tapi Mayu sengaja melakukannya. Ini balasan Mayu pada orang yang sudah menghinanya.
Alga yang sedari tadi diam menahan senyum melihat maminya melotot dan wajahnya terlihat menahan amarah. Sesekali kelakuan maminya memang perlu dibalas. Dia selalu seenaknya menghina orang, jadi sekalian saja ditunjukkan perbuatan hina itu biar dia puas.
"Sayang kakinya turunkan saja, Sayang!" ujar Alga yang kurang nyaman melihat kaki Mayu dinaikkan.
"Ah iya maaf ya Sayang kelepasan hehe ...." ujar Mayu pura-pura tersenyum malu.
"Tidak apa-apa Sayang, apa makanannya enak?" tanya Alga.
"Sangat enak, Sayang. Apa lagi lobsternya, rasanya benar-benar mantap. Apa Kak Alga mau mencobanya?"
"Boleh Sayang, tapi suap ya!" ujar Alga sengaja.
__ADS_1
"Ok Sayang," ujar Mayu kemudian menyuapi Alga.
"Kamu benar Sayang, rasanya benar-bener enak. Mau lagi Sayang!" pinta Alga lagi.
"Siap Sayang," ujar Mayu dan lagi-lagi menyuapi Alga.
Mereka akhirnya makan saling suap-suapan, dan pura-pura tidak perduli pada sekitarnya. Ini cara mereka membalas Dira.
Dira mengepalkan kuat tangannya melihatnya. Bisa-bisanya apa yang sudah disiapkannya gagal total. Lagian apa itu pacarnya Alga tidak punya rasa malu sama sekali. Kelakuannya benar-benar norak dan kampungan.
'Tunggu saja pembalasan saya Mayu, kali ini kamu boleh bersikap seenaknya, tapi tunggu sebentar lagi, kamu pasti akan sangat menyesal karena sudah berani pacaran dengan Alga. Kamu itu benar-benar tidak layak jadi menantu saya Mayu.' batin Dira menahan rasa amarahnya. Sekali pun Dira yang berkuasa di rumah ini, dia tidak mungkin memberontak dan mengusir Mayu. Itu jelas terlalu berlebihan dan Pratama bisa marah padanya.
Sedangkan Sindi dan Naura juga tidak kalah kesalnya. Padahal mereka ingin melihat Mayu dipermalukan, tapi karena Alga, semua rencana mereka dengan Dira jadi gagal total.
Beda halnya dengan David Antonius, tanpa sadar dia tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Mayu, dan kelakuan Mayu lagi-lagi mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.
***
Mayu menatap kiri dan kanan, rumah Alga sepi dan tinggal Alga saja yang duduk sendirian di sofa.
"Kak Alga yang lain pada kemana?" tanya Mayu kemudian duduk di samping Alga.
"Papi dan om David membahas pekerjaan, sedangkan mami, Naura dan tante Sindi ada dilantai 2 dan sedang membicarakan sesuatu." jawab Alga.
Mayu mengangguk mengerti, sedangkan Alga menyenderkan badannya dan menatap pada Mayu.
"Iya Kak,"
"Saya minta maaf atas apa yang dilakukan oleh mami Saya. Sekarang kamu sudah lihat sendiri kan bagaimana dia?"
"Iya Kak tidak apa-apa. Wajar juga dia melakukan itu, mungkin itu sebagai bentuk protesnya karena tidak setuju saya pacaran dengan Kak Alga. Padahal kan dia tidak tahu saja kalau saya hanya pacar bayaran. Makanya saya juga tidak baper Kak, santai saja." jelas Mayu.
Walau sebelumnya Mayu sempat merasa terhina, justru dia sangat bahagia hari ini. Dia bisa bertemu dengan papa kandungnya dan melihat lebih lama wajah papa kandungnya. Ini adalah sesuatu yang sangat diingankan Mayu selama ini dan akhirnya kesampaian juga berkat Alga dan maminya.
Justru kalau dipikir-pikir Mayu harusnya berterima kasih pada maminya Alga. Kalau bukan karena maminya Alga dia tidak akan semudah ini bertemu dengan papa kandungnya.
"Beneran kamu tidak baper?" tanya Alga memastikan.
"Beneran Kak Alga, suer." jawab Mayu mantap.
"Baguslah kalau kamu tidak baper." ujar Alga merasa lega. Hal yang ditakutkannya ternyata tidak terjadi malam ini. Mayu tetap bersikap seperti biasanya dan sedih karena kelakuan mamanya.
"Iya Kak, kan hanya pacar bayaran, enggak usah lah pakai baper-baperan. Kak Alga juga pernah bilang itu pada Mayu kan? Mayu masih ingat banget pesan kak Alga yang satu itu Kak." ujar Mayu lagi.
"Baguslah kalau kamu mengingatnya," ujar Alga pelan.
__ADS_1
"Iya Kak. Ah iya Kak, itu Naura dan orang tuanya sering makan malam di sini?" tanya Mayu memulai aksinya.
"Cukup sering, paling tidak seminggu sekali itu sudah pasti. Selain karena rumah Naura dekat, tante Sindi itu juga orang yang paling dekat dengan mami. Dari mereka masih sekolah mereka sudah teman dekat. Mereka tidak hanya sekedar sahabat, tapi mereka sudah seperti saudara." jelas Alga.
"Oh berarti mereka bisa dekat itu karena mereka yang sudah kenal lama, dan bukan karena suami mereka?"
"Iya. Justru daddynya Naura bisa jadi tangan kanan papi, selain karena dia memang layak tapi berkat bantuan mami juga, karena jadi tangan kanan papi itu bukanlah suatu yang mudah, harus yang benar-benar bisa dia percaya." jelas Alga lagi.
"Benar juga ya Kak, apa lagi itu uangnya tidak hanya milyaran tapi sudah triliunan. Orang-orang akan lebih gampang tergoda berbuat curang."
"Itu dia."
"Berarti daddynya Naura itu memang beneran baik dan bisa dipercaya ya Kak?" tanya Mayu lagi yang begitu bersemangat mengorek informasi tentang papa kandungnya.
"Iya, dia benar-benar bisa dipercaya dan karena itu juga saya jadi kasihan padanya."
Mayu refleks menatap Alga.
"Kasihan kenapa Kak?" tanya Mayu cepat.
"Kamu tidak perlu tahu, ini rahasia, dan cukup keluarga kami saja yang tahu."
"Yah Kak Alga jangan main rahasia-rahasiaan dong. Beritahu Mayu dong Kak Alga! Mayu bisa jaga rahasia kok."
Alga kembali menatap Mayu.
"Kenapa kamu bersikap seolah ingin tahu banget soal daddy Naura?"
Mayu refleks menegapkan tubuhnya.
"Ah Eh eng-gak kok Kak Alga, biasa saja. Itu hanya perassaan Kak Alga saja." ujar Mayu sedikit gugup.
"Sebentar kalau diperhatikan lebih dekat, kalian juga seperti ada kemiripan, terutama bagian dagu begitu juga dengan warna kulit." ujar Alga lagi memperhatikan wajah Mayu.
"Ya enggak mungkin miriplah Kak Alga. Kak Alga ada-ada saja." ujar Mayu sebisa mungkin bersikap biasa. Bisa gawat kalau Alga mulai curiga.
"Saya enggak mengada-ngada Mayu, dari pandangan saya memang begitu. Apa lagi lobang hidung kalian, itu benar-benar mirip." ujar Alga tidak menyerah.
"Iya sama-sama dua kan lobang hidungnya! Kak Alga ada-ada saja."
"Haha ...." Mayu dan Alga sama-sama tertawa.
Naura yang melihatnya dari lantai 2 mengepalkan kuat tangannya.
'Tidak apa-apa Mayu, malam ini kamu boleh menikmati waktu kamu dengan kak Alga, tapi setelah malam ini jangan harap.' batin Naura.
__ADS_1
Naura, Dira dan Sindi sudah ada banyak rencana memisahkan Mayu dan Alga.