
Caca hanya cengengesan mendengar ucapan Alex, dia sama sekali tidak mau menanggapi ucapan Alex. Caca hanya berpikir dan fokus pada hidangan yang ada di meja.
Dengan perlahan Javanka, Alex mau pun sekertaris Aldo memakan makanan yang mereka pesan secara perlahan. Berbeda dengan Caca yang comot sana sini, yang membuat Alex geram dengan tingkah rakusnya.
" Aku tidak habis pikir kemana larinya semua makanan yang masuk ke dalam mulut rakus mu itu. ucap Alex yang sudah selesai makan.
Pria itu dengan elegan mengelap mulutnya lalu minum, sementara Caca hanya memasang wajah boda amat gitu.
Lalu sekertaris Aldo pun sudah menyelesaikan memakan makanannya, karena melihat putrinya kesulitan Alex pun membantu menyuapi putrinya yang telaten.
" Papah bantu yah sayang? kata Alex lalu mengambil sendok putrinya lalu dia mengungkapkan nasi yang tersisa menjadi satu.
" thank you papah. jawab Javanka yang menerima bantuan dari papahnya.
Alex pun menyuapi putrinya makan secara perlahan, dengan penuh kelembutan Alex mengelap ujung bibir putrinya yang terkena bumbu makanan.
" Sudah habis nak, apakah kamu mau tambah? tanya Alex pada putrinya yang masih mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
" No papah, Avan already feels very full. jawab Javanka sambil menunjukkan perutnya yang sedikit menggembung.
" Haaa.... haaa..... haaa..... syukurlah kalau putri papah yang imut itu sudah kenyang. kata Alex sambil tertawa gemas pada putrinya.
__ADS_1
Sementara Caca masih sibuk dengan menghabiskan makanan yang masih ada di atas meja.
" Aku tidak habis pikir, apakah perut mu tidak akan meledak jika kau makan sebanyak itu? ucap Alex yang dimuati sindiran pedas untuk Caca.
" Avan beneran udah kenyang? tanya Caca pada Avan, dan mengabaikan ucap Alex.
" Yeh uncle. jawab Javanka sambil tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.
" Hemmmm..... kalau begitu uncle makan yah makanan pesanan Avan yang masih tersisa. ucap Caca dengan tidak tahu malunya.
" Yes uncle. jawab Javanka.
Dengan semangat Caca mengambil piring yang berisi setengah lauk yang masih utuh, Alex yang melihat itu hanya bisa bergumam memaki Caca. Sementara sekertaris Aldo yang diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Uncle so who donated his eyes to Avan? tanya Avan tiba-tiba, di sela-sela pembicaraan santai antara Alex, Aldo dan juga Caca.
" Hemmmmmmm ..... bingung harus menjawab apa.
" Kenapa kamu ingin tahu soal itu nak? tanya Alex sambil mengelus lembut kepala putrinya.
" Avan just wants to thank him papah. jawab Javanka dengan tulus.
__ADS_1
" Kalau soal itu mereka sudah mendapatkannya sayang. kata Alex pada putrinya.
" Papah, what's the reason for giving his eyes to Avan, even though if he gave them to Avan he certainly wouldn't be able to see. tanya Javanka dengan polosnya dan wajahnya yang murung.
" Sayang sebetulnya orang itu sudah meninggal. ucap Alex jujur pada putrinya.
Mendengar ucapan papahnya tanpa sadar Javanka menitihkan air matanya, gadis kecil itu tiba-tiba menangis begitu saja.
Alex pun langsung memeluk putrinya, dan berusaha memenangkan putrinya yang menangis.
" Papah, so sorry for that person. Avan wants to meet his family to thank him for what he gave Avan. ucap Javanka pada papahnya sambil menangis sesenggukan.
Alex hanya mengiyakan permintaan putrinya, sambil terus menenangkan Javanka yang masih menangis.
Sementara Caca dan sekertaris Aldo yang mendengar ucapan gadis kecil yang ada di hadapan mereka hanya bisa tersenyum penuh haru dan bangga.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐