Papahku Yang Hebat

Papahku Yang Hebat
Chapter 25 season two


__ADS_3

Di sisi lain di salah satu rumah mewah yang terletak di kawasan elit, di dalam kamar seorang gadis remaja yang cantik sedang terduduk sambil melamun.


" Apakah dia baik-baik saja? ucap Diona pada dirinya sendiri, Diona kembali ke rumahnya dengan diantar oleh salah pengawal pribadi Javanka.


Sebenarnya Diona ada gadis remaja yang baik, namun karena kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya yang selalu sibuk bekerja membuat membuatnya melakukan hal-hal nakal agar mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.


Tapi semua usaha yang dia lakukan tidak pernah berhasil, sampai-sampai dia sudah sangat lelah mengemis perhatian dari kedua orang tuanya.


Dan karakternya yang tadinya baik hati, ceria dan lembut berubah menjadi pemarah, keras kepala dan selalu dingin pada siapapun.


" Aku tahu dia memang lemah tapi apakah sampai separuh itu? ucap Diona bertanya-tanya pada dirinya sambil terus memandangi langit-langit kamarnya.


Aku tidak menyangka jika dia adalah anak yang sebaik dan selembut itu, walaupun banyak orang yang mengatakan hal serupa tapi aku tidak pernah mempercayainya. Karena terkadang rumor yang beredar selalu di lebih-lebihkan tapi setelah aku mengenalnya ternyata itu bukan sekedar rumor semata. Dia memang baik pada siapapun dan selalu tersenyum manis walaupun keadaannya sendiri tidak sedang baik-baik. batin Diona setelah mengetahui kebenarannya sifat Javanka.


flash back


Saat di panti asuhan Diona duduk sendiri di sebuah ayunan sambil melihat anak-anak yang sedang bermain, lalu Javanka pun ikut duduk di ayunan tepat di samping Diona.


" Kenapa kamu baik padaku? tanya Diona tiba-tiba sambil menatap ke arah Javanka.


Javanka pun menatap Diona sambil tersenyum manis lalu melihat ke arah anak-anak yang sedang berlarian ke sana kemari dengan begitu gembira.


" Padahal aku sudah berbuat jahat pada mu, mengapa kamu memperlakukan ku begitu baik? bahkan kamu tidak menanyakan apapun tentang masalah ku, kamu hanya diam, menemaniku dan membawaku ketempat dimana aku bisa melupakan masalah yang sedang ku hadapi. sambung Diona lagi dengan suara yang begitu sedih bahkan wajahnya tampak memerah padam menahan agar air matanya tidak mengalir.


" Tidak semua perbuatannya jahat harus di balas dengan hal yang sama, bagiku jika ada seseorang yang tidak menyukai ku itu hak mereka, karena aku tidak punya hak melarang mereka untuk tidak membenciku. Dan semua orang pasti memiliki masalahnya masing-masing, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya kecuali orang itu sudah meninggal. ucap Javanka dengan lembut sambil terus menatap anak-anak yang sedang bermain.


Diona hanya diam mendengarkan kata-kata Javanka sambil menatap Javanka dengan serius.


" Aku tidak pernah ingin atau mencari tahu tentang masalah yang orang lain hadapi, tapi yang akan aku lakukan hanya diam di sampingnya dan berusaha menghiburnya agar dia memiliki banyak kekuatan untuk menghadapi masalahnya. Jika tiba-tiba seseorang itu bercerita padaku tentang masalah hidup yang sedang di hadapannya, aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik dan kalau pun aku bisa membantunya walaupun sedikit aku pasti akan membantunya. sambung Javanka lagi mengalihkan pandangannya ke arah Diona yang sedang menatapnya, Javanka pun tersenyum manis lalu menggenggam tangan Diona.


" Kamu pasti lelah, menangislah Diona sekencang dan sekeras yang kamu inginkan. Lalu setelah itu bangkit dan hadapilah masalahmu dengan percaya diri. kata Javanka lagi yang seakan mengetahui perasaan yang sedang di rasakan oleh Diona.


Mendengar ucapan Javanka, seketika Diona pun menangis begitu sedih dan memilukan bagi siapapun yang mendengarnya. Lalu seorang anak laki-laki berlari menghampiri Javanka kemudian memberikan topi dan juga saputangan lalu dia pun kembali pergi.

__ADS_1


Javanka pun memainkan topi itu pada Diona, agar siapapun tidak bisa melihat Diona yang sedang bersedih. Javanka hanya diam di samping Diona selama Diona menangis, anak-anak pun tidak ada satu pun yang menghampiri Javanka maupun Diona.


Mereka hanya melihat dari jauh, lalu kembali bermain.


Setelah selesai menangis, Diona pun menceritakan kondisi keluarganya yang selalu sibuk bekerja sampai-sampai mengabaikan dirinya, Javanka hanya diam mendengarkan sambil memberikan saputangan pada Diona.


Diona juga mengatakan jika dia memiliki tumor di ***********, akibat stres yang berlebihan dan juga pola hidup tidak sehat.


Diona pun mengatakan tidak ada seorangpun dari keluarganya yang mengetahui penyakitnya, gadis remaja itu hanya menanggung semua beban itu seorang diri.


Selama Diona bercerita Javanka hanya menepuk-nepuk pelan punggung Diona, seperti sedang memberi semangat pada Diona.


" Mungkin aku tidak bisa melakukan atau memberi saran tentang masalah keluargamu, tapi ketahuilah Diona aku akan ada menemanimu dan mendukungmu saat jadwal operasi mu sudah di tentukan. jawab Javanka lembut dan tersenyum hangat pada Diona.


mendengar jawaban Javanka seketika hati Diona merasa tenang, dia pun akhirnya tersenyum manis pada Javanka.


Flash back off


Kembali lagi di rumah sakit, David yang mendapatkan kabar dari pengawal pribadi Javanka tentang kondisi Javanka saat itu. Pria pun tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu meninggal ruang meeting saat meeting berlangsung tanpa mengatakan sepatah katapun, dan dengan gila dia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Melihat keponakannya yang sedang menangis dalam pelukan Caca, David pun bergegas masuk ke dalam ruang ICU.


" Kenapa sayang? kenapa kamu menangis? tanya David lembut sambil berjalan menghampiri Javanka.


" Kau sudah datang rupanya. ucap Caca yang melihat kedatangan David.


" Avan mau pulang uncle. jawab Javanka dengan suara lemah.


" Kamu di sini dulu yah, dengerin apa kata Caca. Ini semua demi kebaikan kamu juga sayang. kata David dengan lembut sambil duduk di samping javanka dan mengusir Caca.


Caca yang di usir pun hanya bisa memajukan bibirnya sambil menggerutu pada David.


" Tapi Avan gak mau papah pulang karena tahu Avan di rawat di rumah sakit. ucap Javanka yang mengatakan alasannya tidak mau di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


Mendengar ucapan Javanka David pun mengerti maksud dari keponakannya itu, lalu dia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.


Di sisi yang berbeda sekertaris Aldo yang berada di luar ruang meeting sedang memutar otaknya untuk berbicara tentang kondisi nonanya pada tuan mudanya, dia tahu betul sifat tuan mudanya jika sudah menyangkut nonanya.


Sekertaris Aldo sangat bingung, cemas dan khawatir di saat bersamanya. Di sisi lain di sangat mengkhawatirkan kondisi nonanya, namun di sisi yang berbeda semua jadwal padat tuan mudanya sudah tersusun.


" Jika tuan mudanya mengetahui telah terjadi sesuatu pada nona, tuan muda pasti akan langsung bergegas pulang. ucap sekertaris Aldo sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


Sementara Alex yang sedang berada di dalam ruang meeting hanya diam mendengarkan presentasi dari salah satu karyawan yang sedang menjelaskan keunggulan, keuntungan dan kekurangan produk baru yang akan di luncurkan oleh perusahaan.


Semua karyawan lain pun diam mendengarkan, namun tiba-tiba suara nada dering panggilan dari ponsel Alex mengalihkan perhatian mereka semua. Alex pun dengan wajah datar mengangkat panggilan itu.


📞 Ada apa? tanya Alex begitu mengangkat panggilan dari David.


📞 Kau sedang di hotel kan? tanya David menanyakan keberadaan Alex.


📞 Kalau kau menelpon ku hanya untuk mengatakan hal tidak berguna, akan ku tutup. ucap Alex yang terdengar kesal pada David.


📞 Aku serius, kau sedang dimana? tanya David lagi, dia tidak perduli dengan gerutuan Alex.


📞 Aku sedang meeting, kenapa? jawab Alex sekaligus bertanya dengan marah.


📞 Bisa kau keluar atau menjauh sedikit dari orang-orang, aku ingin berbicara tentang kondisi Javanka. kata David meminta Alex sedikit menjauh dari para pekerjanya.


📞 Apa yang terjadi pada Avan? tanya Alex dengan suara khawatir sambil menggebrak meja meeting.


Seketika semua orang yang ada di dalam meeting pun menjadi tegang, mereka semua memang sudah takut pada Alex namun saat Alex menggebrak meja dengan keras mereka hanya bisa menundukkan kepala bahkan tangan mereka sudah gemetar ketakutan di bawah meja.


.


.


.

__ADS_1


💐💐💐💐


__ADS_2