
" Lho kok Avan tidak tidur Lex? tanya David begitu melihat javanka ikut turun bersama Alex.
" Semalam langsung tidur, tapi tidak saat aku sedang bersiap dia terbangun. jawab Alex santai.
Alex pun berbicara dengan sekertaris Aldo tentang pekerjaannya, sementara javanka hanya berjalan di samping sang papah. Sedangkan David mengikuti dibelakang mereka bersama pak Rudi dan beberapa pelayan, sambil sesekali dia menguap menahan rasa kantuknya.
" Papah tidak makan atau minum sesuai yang hangat sembuh berangkat? tanya javanka pada papahnya.
" Sudah kok sayang, tadi di atas pas kamu masih tidur. jawab Alex kini perhatiannya tertuju pada putrinya.
" Syukurlah. kata javanka yang bernafas lega.
" Kamu benar sudah baik-baik saja kan sayang? tanya Alex sambil menyentuh kening putrinya untuk mengecek kondisi suhu tubuh javanka.
" iya pah, aku udah baik-baik saja kok. jawab javanka sambil memegang tangan sang papah lembut dan tersenyum manis pada sang papah.
" Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa kamu kabarin papah yah sayang. ucap Alex penuh perhatian.
Javanka hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia pun memeluk dan mencium papahnya. Alex pun membalas pelukan putrinya dengan erat di ikuti dengan kecupan di seluruh wajah putrinya.
" Kalau begitu papah berangkat yah sayang, ingat makan teratur, tidur harus tepat waktu dan jangan pernah memaksakan diri oke. ucap Alex perhatian sambil berpamitan pada putri semata wayangnya.
" Iya papah juga, jangan terlalu banyak bekerja, makan dan tidur juga harus cukup. Ingin papah gak boleh bohongin Avan karena Avan akan memastikan dan bertanya pada sekertaris Aldo. ucap javanka sambil menunjuk matanya dan mata sang papah bergantian.
Alex yang melihat itu hanya terkekeh dia pun mengelus lembut kepala putrinya dan mengecup kening putrinya sebelum dia naik ke dalam mobil.
" Hati-hati Lex. ucap David pada Alex yang sudah berada di dalam mobil.
" Iya, aku titip putriku yah, tolong jaga dia selama aku tidak ada. jawab Alex sambil menitipkan javanka pada David.
" Pasti akan ku jaga dengan baik kok. kata David sambil memberikan kedua jempolnya dan tersenyum.
" Hati-hati di jalan tuan muda dan sekertaris Aldo, semoga perjalanan bisnisnya berjalan dengan lancar dan kembali dengan selamat. ucap pak Rudi dan para pelayan yang mengantarkan kepergian tuan muda dan sekertaris nya.
" Iya pak. jawab Alex singkat dan tersenyum tipis.
" Hati-hati Do. ucap David pada Aldo begitu mobil perlahan meninggalkan Mansion, Aldo hanya membunyikan klakson mobilnya sebagai ganti jawabnya.
Lalu David pun membawa javanka masuk ke dalam, kemudian javanka pun duduk di sofa besar yang ada di ruang tamu.
" Bobo lagi sana. ucap David menyuruh javanka untuk kembali ke kamarnya.
" Aku mau di sini dulu. jawab javanka sambil duduk bersandar di sofa, David pun akhirnya ikut duduk di samping keponakannya itu dan menyuruh kepala pelayan untuk meninggalkan mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat lamanya javanka maupun David akhirnya tertidur pulas di sofa itu dengan kepala javanka yang bersandar pada pundak David.
Pak Rudi hanya tersenyum simpul melihatnya, lalu beliau pun menyelimuti tubuh nonanya dan juga David.
Saat pagi menjelang di kamar atas javanka sedang mendengarkan omelan dari David yang melarangnya untuk pergi ke sekolah, namun javanka berusaha menyakinkan uncle nya kalau dia sudah baik-baik saja.
" Begini uncle, bagaimana kalau uncle tanya sama uncle Caca apakah aku sudah sembuh atau belum? ucap javanka memberi saran pada David.
Lalu David pun terdiam sebentar, dia terlihat sedang berpikir keras.
" Baiklah, kamu boleh masuk tapi uncle yang akan mengantar mu ke akademi. ucap David akhirnya setuju.
Javanka pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang.
" Ingat yah, masa hukum kamu belum selesai. Papah mu sudah mengatakannya pada uncle. kata David memperingati javanka agar pulang lebih awal.
Javanka hanya mengerenyitkan alias nya lalu dia pun mengangguk.
Kemudian javanka pun di antar sekolah oleh David, tentunya setelah dia selesai sarapan dan minum obat.
" uncle, kemana uncle Caca pergi? tanya javanka yang merasa heran mengapa Caca tidak sarapan bersama mereka.
" Dia sudah pulang semalem. jawab David singkat sambil terus fokus menyetir mobilnya.
" Ayo. ucap David sambil memegang tangan javanka dengan lembut.
Javanka hanya mengikuti David dengan wajah polosnya.
Sepanjang jalan menuju kelas, para siswa melihat dan memperhatikan ke arah javanka dan David sambil berbisik-bisik satu sama lain.
Dari kejauhan Diona dan teman-temannya tanpa sengaja melihat javanka bersama pria dewasa, namun dia tidak melihat wajah sosok pria yang bersama javanka.
" Dasar perempuan gatal, dia tidak akan pernah merasa puas dengan satu atau dua pria saja. kata Diona penuh dengan hinaan yang di tunjukkan pada javanka.
Teman-temannya pun ikut menghina dan mencaci maki javanka tanpa mengetahui kebenarannya.
Sesampainya di depan kelas, David terus mengikuti javanka masuk ke dalam kelasnya. Semua teman sekelas javanka pun menatap sosok pria asing yang bersama javanka termasuk ke tiga sahabatnya javanka.
" Uncle, Avan sudah sampai dengan selamat. Jadi uncle boleh kok, kembali atau bekerja. ucap javanka pada David.
" Iya, tapi uncle hari ini sedang ambil cuti. Jadi uncle akan menunggumu di luar kelas. jawab David yang belaga bego.
" Tapikan uncle tadi bilang akan mengatakan ku saja. kata javanka yang terkejut dengan ucapan David.
__ADS_1
" Uncle memang mengatakan hal itu, tapi uncle tidak merasa mengatakan jika uncle tidak akan menunggumu di luar kelas kan? jawab David sambil tersenyum licik.
" Baiklah, lakukan apapun yang uncle inginkan. kata javanka yang sudah pasrah dengan sifat over protektif nya sang uncle.
Sementara ketiga sahabatnya hanya duduk di bangku masing-masing sambil terus memperhatikan javanka dan sosok pria asing itu.
Tak berselang lama David pun keluar dari kelas javanka, pria itu memilih duduk di kursi yang ada di luar kelas javanka. Setelah David keluar ke tiga sahabatnya pun langsung mengerubungi javanka.
" Van, siapa pria tampan itu? tanya Bianca, Lala dan juga Vivi berbarengan.
" Beliau adalah uncle ku. jawab javanka jujur sambil mengeluarkan buku-buku yang ada di dalam tasnya.
Ohhhhhh....... ternyata uncle nya, aku pikir dia adalah kekasih javanka. Syukurlah kalau begitu. batin Leon yang sedari tadi duduk di samping javanka, dia hanya diam mendengarkan percakapan javanka dan sahabat-sahabatnya termasuk pembicaraan javanka dan uncle nya tadi sambil berpura-pura sibuk membaca buku, agar tidak ketahuan kalau dia menguping pembicaraan para wanita itu.
" Kok aku baru lihat sih Van? tanya Lala yang merasa heran mengapa selama dia tidak pernah melihat sosok David, selama ia bersahabat dengan javanka.
" Hmmmmmmmm....... uncle adalah orang yang super sibuk, beliau tidak bisa berkunjung mendadak jika bukan urusan mendesak. jawab javanka dengan santai dan masih sibuk dengan buku-bukunya.
" Jadi apa yang terjadi, sampai uncle mu yang super sibuk itu ada di sini? tanya Vivi yang tiba-tiba nyambung kala sedang bergosip.
" Papah ku sedang ada perjalanan bisnis yang cukup lama, beliau meminta uncle untuk menjaga ku. kata javanka dengan jujur.
" Ohhhhh....... gitu, sayang sekali yah aku tidak bisa bertemu dengan sekertaris Aldo yang tampan itu untuk sementara waktu. sahut Vivi yang begitu kagum dengan ketampanan sekertaris Aldo.
Javanka hanya tersenyum manis mendengar ucapan Vivi, sementara Lala hanya memukul pelan Vivi sambil tertawa-tawa begitu pula dengan Bianca yang ikut tertawa.
" Tapi yang ini juga tak kalah tampan kok menurut ku. ucap Lala sambil melihat ke arah David yang sedang duduk.
" Mau nomor telepon nya? tanya javanka tiba-tiba pada Lala.
" Memangnya boleh? tanya balik Lala dengan wajah yang sumringah.
" Pasti di kasih kok, coba saja kamu meminta nya sendiri. kata javanka dengan wajah polosnya.
Mendengar ucapan javanka, Lala pun hanya tepok jidat. Dia pikirkan javanka akan memberikan nomor telepon uncle nya, ternyata Avan malah menyuruh nya untuk memintanya sendiri.
Bianca dan Vivi pun terkekeh melihat wajah kecewa Lala, sementara javanka tampak terlihat bingung.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐