
Dari awal Vivi datang ke rumah javanka tingkah lakunya memang sedikit kurang ajar, namun javanka yang baik dan sabar hanya bisa tersenyum manis dan memanfaatkan kekurangan ngajaran Vivi. Namun tidak dengan pak Rudi, beliau terlihat begitu tidak menyukai Vivi.
" Pak. panggil javanka dengan lembut sambil memegang tangan pria paruh baya itu.
" Maaf Vi, aku tidak bisa menemani karena papah ku. Kurang menyukai jika aku berkunjung ke rumah belakang. kata javanka dengan lembut menjelaskan pada Vivi.
" Kenapa memangnya? tanya Vivi masih belum sadar.
" Hmmmmmmm....... papah ku pernah mengatakan ini, setiap orang yang bekerja di sini berhak memiliki prinsipnya masing-masing dan kita sebagai tuan dan para pekerja tidak berhak untuk mengecek Jona pribadi para pekerja termasuk tempat tinggal mereka yaitu rumah belakang. kata javanka menjelaskan pada Vivi dengan lembut.
" Berarti..... belum sempat Vivi melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Bianca langsung menarik tangan Vivi.
" Van, kamu les saja sudah lewat dari waktu nya lho pasti guru privat mu juga sudah menunggu. kata Lala pada javanka menyuruh javanka agar segera memulai lesnya.
" Hng, baiklah kalau begitu aku les dulu yah. jawab javanka sambil tersenyum manis lalu pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.
Pak Rudi pun mengikuti nonanya, namun sebelum pergi beliau terlihat memandang tajam ke arah Vivi.
" Vi, maksudmu apa sih melakukan hal itu? tanya Lala marah pada Vivi tentunya setelah javanka pergi.
" Aku tidak ada maksud apa-apa kok, aku hanya penasaran saja dengan rumah javanka. jawab Vivi merasa dirinya tidak bersalah.
" Kalau kamu berkunjung ke tempat orang lain, kamu tidak bisa melakukan hal seenaknya seperti itu. kata Lala memarahi Vivi dengan tegas.
" Memang apa yang aku lakukan? aku hanya penasaran saja dengan rumah yang letaknya di belakang itu. jawab Vivi balik marah pada Lala.
" Vi, yang kamu lakukan itu salah. Kamu tidak bisa seenaknya menjelajahi seluruh rumah orang lain, mereka punya aturan masing-masing dan kita sebagai tamu harus mengikuti aturan sang tuan rumah. kata Bianca dengan sigap menjelaskan pada Vivi.
Belum sempat Vivi menjawab, tiba-tiba seorang wanita dewasa datang menghampiri mereka bertiga.
" Selamat sore nona Lala, nona Bianca dan nona...... sapa mba Nani sopan sambil menatap wajah Vivi yang baru ia temui.
" Vivi mba. jawab Bianca sambil tersenyum manis.
" Ahhhhhhhhh...... mba Vivi yah, sepertinya nona baru pertama kali berkunjung ke Mansion nona Javanka yah? tanya mba Nani sambil tersenyum manis pada Vivi.
__ADS_1
" Iya mba, dia baru pertama kali datang ke sini. jawab Bianca lagi.
" Baiklah nona-nona apakah benar nona-nona ini ingin berkunjung ke rumah belakang? tanya Mba Nani ramah sambil tersenyum manis.
" Sebenarnya si Vivi yang mau ke sana, bukan kami. Kami juga tidak akan ke sana jadi memang aturan di sini tidak mengijinkannya. kata Lala menjelaskan pada Mba Nani.
Mba Nani hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan tetap tersenyum.
" Baiklah mari saya temani, kita akan berkunjung ke rumah belakang dimana para pelayan di rumah ini tinggal. ucap mba Nani membimbing ke tiga sahabat nonanya menuju rumah belakang.
Vivi dengan antusias berjalan di samping mba Nani, sementara Lala dan juga Bianca hanya berada di belakang mengikuti sambil memperhatikan tingkah laku Vivi.
" Mba kira-kira berapa banyak pekerjaan yang bekerja di sini? tanya Vivi sambil berjalan.
" Kurang lebih ada lima puluh orang terdiri dari koki, pelayan, tukang kebun, pengawal, dan penjaga. jawab mba Nani menjelaskan pada Vivi.
Mendengar jawaban mba Nani Lala, Bianca dan juga Vivi pun terkejut bukan main. Di bandingkan di rumah mereka masing-masing paling-paling ada dua orang yang mengurus rumah dan satu supir.
" Sebanyak itu Mba? tanya Vivi lagi ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Mba Nani.
" Iya nona, karena kebanyakan yang bekerja di sini adalah seorang pelayan yang bertugas menjaga, merawat dan juga membersihkan Mansion ini. ucap Mba Nani menjelaskan mengapa bisa sebanyak itu para pekerjanya.
" Itu adalah taman dan juga lapangan yang di siapkan khusus untuk para pekerja di sini, tuan muda sangat mengutamakan kenyamanan, kerapihan dan kebersihan lingkungan untuk para pekerjanya. Beliau ingin jika pada pekerjaan nyaman tinggal di rumah belakang ini, dan pak Rudi selalu mengecek kebersihan dan kerapihan rumah belakang termasuk kebutuhan semua para pekerja di sini. jawab Mba Nani lagi sambil menunjukkan salah satu kamar yang di pakai oleh pelayan.
" Wahhhhh....... bagus dan besar banget kamarnya sampai-sampai ada alat penghangat ruangan dan juga AC. ucap Vivi yang takjub melihat kamar pelayan itu.
Ini sih sudah seperti kamar tidurku yang ada di rumah, bisa-bisanya kamar seorang pelayan sebagus ini. Hmmmmm....... kalau sebagus ini kira-kira buka lowongan baru gak yah, aku juga gak nolak tinggal di sini, apa lagi ada taman, kolam ikan yang begitu bagus untuk memanjakan mata di tambah ada lapangan untuk berolahraga. Benar-benar deh ini mah bukan di level yang sama dengan ku. batin Lala dan juga Bianca yang takjub melihat kamar pelayan itu.
Lalu mba Nani mengajak mereka menuju gajebo yang ada di tengah-tengah kolam ikan.
" Mba kira-kira kenapa javanka tidak di izinkan datang ke sini yah? tanya Vivi tiba-tiba sambil memberikan makan pada ikan-ikan.
" Maaf nona, saya tidak tahu. jawab Mba cepat.
" Lalu kenapa warna mata javanka berbeda dengan sewaktu dia masih kecil? tanya Vivi lagi yang tidak menyerah mencari tahu.
__ADS_1
" Maaf nona, itu sesuatu hal yang menurut kami tabu untuk dibicarakan. tolak mba Nani, kini raut wajah mba Nani terlihat berubah menjadi kesal menatap Vivi.
" Kalau begitu apa penyebab mamahnya javanka meninggal? tanya Vivi sudah kelewatan.
Mendengar ucapan Vivi sontak seluruh orang yang berada di situ menatap wajah Vivi, mereka terkejut sekaligus marah dengan pertanyaan yang Vivi tanyakan. Apa lagi para penjaga dan pelayan yang ada di situ, mereka dengan terang-terangan memperlihatkan raut wajah tidak suka mereka pada Vivi.
Bianca langsung menarik tangan Vivi pergi meninggalkan rumah belakang lebih dulu, sementara Lala tampak begitu murka namun dia berusaha untuk tetap tenang dan berjalan menghampiri mba Nani.
" Maafkan atas kelancaran teman ku, aku benar-benar tidak menyangka jika dia akan menanyakan hal seperti itu. ucap Lala dengan sopan dia begitu malu pada para pekerja dan juga Mba Nani atas tindakan yang dilakukan oleh Vivi.
" Entah berutang atau hanya kebetulan saja jika nona tidak ada disini, kalau sampai nona ada di sini saya sudah tidak tahu harus melakukan hal apa. ucap Mba Nani yang terlihat begitu sedih.
" Nona lain kali tolong ingatkan temannya untuk tidak menyangka sesuatu hal yang bersifat pribadi, karena kami tidak ingin terjadi sesuatu pada nona kami yang berharga. ucap salah satu pelayan pada Lala.
" Iya, kami tidak perduli dari keluarga mana teman nona berasal. Jika sudah menyinggung perasaan atau membuka luka lama untuk nona kami, kami akan maju lebih dulu untuk menghajarnya. sambung salah satu penjaga yang begitu marah.
Lala hanya bisa mengucapkan kata maaf berulang kali sambil membungkukkan tubuhnya, Setelah itu mba Nani pun mengajak Lala untuk kembali ke taman samping.
Di perjalanan menuju taman tiba-tiba David berjalan menghampiri Lala dan juga Mba Nani, mba Nani langsung membungkukkan tubuhnya memberi salam pada David.
" Habis dari mana? tanya David pada Lala, yang sudah berdiri di hadapan Lala dengan celana renang tanpa mengenakan atasan yang membuat tubuh kekarnya terlihat dengan jelas.
Lala pun mengalihkan pandangannya ke arah suara itu berasal, matanya membulat sempurna kala melihat sosok yang ada di depannya.
David pun memberikan isyarat pada Mba Nani untuk meninggalkan nya dan juga Lala, Mba Nani yang mengerti pun pergi meninggalkan keduanya.
" Hey, apa yang kau lihat? tanya David lagi sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah Lala.
Sontak Lala pun terkejut, dia langsung memalingkan wajahnya. Gadis remaja itu tampak begitu malu sampai-sampai wajahnya memerah padam seperti tomat kematangan.
Melihat reaksi lucu gadis remaja yang ada di hadapannya itu, David hanya terkekeh.
.
.
__ADS_1
.
💐💐💐💐