Papahku Yang Hebat

Papahku Yang Hebat
Chapter 11 season two


__ADS_3

" Ohhhhhh iya Van, kami bertiga akan berkunjung ke rumah mu nanti hari Jumat setelah pulang sekolah, boleh kan? ucap Bianca tiba-tiba dia baru ingat jika dirinya, Lala dan juga Vivi akan ke rumah javanka untuk bermain.


" Iya tidak apa-apa kok, lagi pula aku juga cuma ada kegiatan latihan piano saja. jawab javanka lembut sambil tersenyum manis.


" Wahhhhhhh enak yah pada mau main ke rumah javanka, aku juga ingin ikut dong. kata Don tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.


Mendengar ucapan Don seketika ketiga sahabat javanka pun menoleh ke arah nya.


" Tidak boleh. jawab ketiganya dengan tegas.


" Memangnya kenapa? tanya Don dengan wajah kesal.


" Pokoknya tidak boleh. ucap ketiganya berbarengan sambil menatap wajah Don serius.


" Tidak boleh juga pasti ada alasannya dong. ucap Don yang masih ngeyel ingin ikut.


Melihat Don yang kekeh dengan pendiriannya, Joe pun dengan cepat menyeret sahabat karibnya itu menjauh dari mereka.


" Joe kenapa sih tarik-tarik? tanya Don setelah baju nya di lepaskan oleh Joe.


" Apa kau gila Don, kau yakin ingin pergi ke rumah javanka? tanya balik Joe sambil memegang kening Don seakan-akan untuk mengecek suhu tubuh Don.


" Iya akan ingin pergi jauh, kau kenapa sih? jawab Don sambil melemparkan pertanyaan pada Joe kembali.


" Don, kalau kau ingin jadi gembel silahkan. Aku hanya ingin mengingatkanmu jangan pernah mengganggu sesuatu yang seharusnya tidak kau ganggu. ucap Joe sambil memegang pundak Don dengan wajah serius.


Mendengar ucapan Joe, Don pun baru tersadar dia benar-benar lupa apa yang telah di katakan oleh orang tuanya, karena terlalu memikirkan perasaan senangnya kala melihat dan berada dekat dengan javanka.


Setelah tersadar dengan kenyataan pahit yang suka atau tidak suka dia rasakan, Don pun terduduk dengan lesu sambil mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.


Melihat Don yang galau dan kecewa Joe hanya bisa duduk di samping Don sambil menepuk-nepuk punggung Don, seakan-akan memberi semangat.


Di sisi lain setelah kepergian Don yang di seret oleh Joe, suasana di tempat javanka berada tampak begitu dingin karena tiba-tiba segerombolan klub chiliders menghampiri mereka.


" Wah wah wah, ada siapa ini? ucap sala satu dari klub chiliders tersebut sambil berdiri di hadapan javanka dan sahabat-sahabatnya.


" Bukankah ada tamu yang tidak percaya sekalipun menginjakan kaki ke lapangan, tiba-tiba saja muncul di lapangan. sambung yang ternyata adalah Vike, gadis itu dengan terang-terangan memperlihatkan perasaan ketidak sukaan nya terhadap javanka.

__ADS_1


Mendengar ucapan yang seolah-olah di tunjukkan untuk javanka, ketiga sahabatnya pun pun tersulit emosi namun tidak dengan javanka gadis remaja itu tetap tenang.


" Maksudmu apa mengatakan itu? tanya Lala langsung menghampiri Vike.


" Bukankah benar apa yang aku katakan tadi. jawab Vike merasa dirinya benar.


" hey kresek minyak jelantah, sejak kapan lapangan ini hanya miliki kalian klub chiliders dan klub basket saja. Semua siswa punya untuk datang ke sini termasuk kami. kata Bianca dengan penuh penuh penekanan di setiap katanya.


Mendengar ucapan Bianca Vike pun seperti ingin menjambak rambut Bianca namun tiba-tiba Diona menahan tangan Vike.


" Mungkin apa yang dikatakan temanku salah, tapi kami hanya merasa aneh saja mengapa ada seseorang yang tak biasanya bermain ke lapangan tiba-tiba saja muncul di lapangan. kata Diona sambil memperhatikan senyuman mengejek.


" Hehhhhh....... mau kami ke lapangan, ruang komputer, ruang kimia atau kemana pun itu hak kami, memang dari mana terlihat anehnya jika kami bermain di lapangan. jawab Bianca sambil tertawa kecil seakan-akan menertawai kebodohan Diona dan teman-temannya.


Melihat suasana yang sudah tidak kondusif javanka pun buru-buru menarik tangan ketiga sahabatnya, dia tidak ingin ada keributan antara klub.


Namun Bianca dan Lala menahannya, mereka tetap berdiri di tempat mereka lalu menatap wajah javanka dengan lembut.


" Sudah hentikan, lebih baik kita kembali ke kelas saja. ucap javanka mengajak sahabat-sahabatnya.


" Iya Van, orang-orang seperti mereka-mereka yang sok kecantikan ini memang harus di berikan pendidikan ekstra. kata Vivi tiba-tiba dengan wajah yang begitu kesal melihat ke arah teman-temannya Diona.


" Tapi aku tidak mau kalian melakukan hal seperti itu. kata javanka dengan wajah yang memerah seperti akan marah.


" Hahahhahahaha...... padahal dia saja biasa-biasa saja kenapa kalian malah sewot. ucap Diona sambil tertawa-tawa.


" Heyyyyy....... kecoa betina, kau pikir dengan tertawa seperti itu kau akan terlihat sangat cantik dan keren begitu. Ucap Bianca yang sudah sangat murka.


" Hmmmmm..... mulut mu pedas juga yah aku suka, tapi sayang selera pertemanan mu sangat rendahan dan kampungan. kata Diona pada Bianca sambil memegang dagu Bianca dengan kuat yang membuat Bianca kesakitan.


" Lepaskan, kau sudah keterlaluan. kata javanka sambil memegang tangan Diona lalu menghempaskan nya.


" Bii, kamu gapapa? tanya javanka dengan panik sambil mengecek dagu Bianca yang sudah memerah.


" Kamu itu hanya anak cacat yang beruntung terlahir dari keluarga konglomerat. kata Diona pada javanka.


Mendengar ucapan Diona seketika ketiga sahabatnya pun sangat murka, mereka sudah seperti akan mencabik-cabik habis Diona.

__ADS_1


Namun javanka tetap berusaha menahan ketiga sahabatnya, dengan tatapan memohon kepada ketiganya. Melihat tatapan mata javanka ketiga pun akhirnya diam, lalu javanka pun berjalan menghampiri Diona.


" Walaupun aku cacat setidaknya aku tidak ingin menyusahkan orang lain termasuk orang tuaku. jawab javanka sambil menatap tersenyum.


" Kau harusnya merasa bersalah karena telah membunuh ibu mu sendiri, ibu mu mati hanya karena melahirkan mu. kata Diona dengan suara lantang sambil menatap wajah javanka penuh kebencian.


Mendengar ucapan Diona javanka pun terdiam, gadis remaja itu tampak tersentak dengan kata-kata Diona. Namun tiba-tiba suara ball pun menyadarkannya.


" Ayo kita kembali ke kelas, sudah waktunya masuk. kata javanka pada sahabat-sahabatnya.


Lalu javanka pun pergi berjalan pergi di ikuti oleh ketiga sahabatnya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti lalu membalikkan tubuhnya.


" Mungkin sebagian dari kata-kata mu benar adanya, tapi aku hanya ingin sedikit mengoreksi saja. Mamah ku tidak pernah merasa menyesal telah mempertaruhkan nyawa beliau untuk ku, justru beliau sangat ingin memiliki anak walaupun harus meregang nyawa sebagai gantinya. ucap javanka lembut sambil tersenyum pedih lalu berjalan pergi meninggalkan Diona dan teman-temannya.


Sementara ketiga sahabatnya javanka hanya mengikuti javanka sambil tersenyum mengejek pada kelopak Diona, mereka sejujurnya belum puas membalaskan dendam atas perbuatan Diona namun mengingat javanka yang pasti tidak menyukainya jadi mereka memilih untuk menahannya.


" Dasar anak tidak memiliki seorang ibu. teriak Diona dari kejauhan lengkap dengan penuh makian yang di tunjukkan untuk javanka.


Sementara Sam yang sedari tadi berada tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan saja, dia sama sekali tidak melerai atau berusaha memisahkan mereka dia hanya jadi penonton sampai kepergian javanka dan sahabat-sahabatnya.


" Apa sih yang kau lakukan? sungguh kekanak-kanakan? ucap Sam pada Diona yang baru menatap ke arahnya.


Lalu Sam pun pergi setelah Don dan Joe muncul, Don pun menanyakan keberadaan javanka, lalu Sam hanya mengatakan kalau javanka dan sahabat-sahabatnya bertengkar dengan Diona dan juga teman-temannya.


Don dan Joe pun melihat ke arah kelompok Diona, Don terlihat kesal pada Diona dan teman-temannya sambil berjalan mengikuti Sam dan Joe yang sudah pergi lebih dulu.


Sementara itu Diona semakin marah kala mendapat perlakuan dan kata-kata seperti itu dari Sam.


Wajahnya tampak di penuhi dengan kemarahan dan kebencian terhadap javanka yang menyurutkan telah merusak hubungannya dengan Sam.


.


.


.


💐💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2