Papahku Yang Hebat

Papahku Yang Hebat
Chapter 97


__ADS_3

Setelah beberapa saat lamanya Javanka berdiri diam sambil memegang piano itu, akhirnya Javanka pun mulai mencari kursi lalu dia pun duduk.


Dengan susah payah gadis kecil itu membuka penutup piano itu, dan dia pun mulai sembarangan menekan.


Semua para pelayan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik nonanya pun bersedih, karena jika nonanya tidak bisa melihat otomatis nonanya tidak akan bisa bermain piano seperti dulu lagi.


" Nona pasti sangat sedih. celetuk pelayan yang melihat nonanya.


" Iya, aku tidak menyangka hal seperti ini akan menimpa nona kita yang berharga. sahut yang satunya.


" Hemmmmm....... moga-moga nona bisa cepat sembuh yah. timpa yang lain, mendoakan agar nonanya cepat sembuh.


Sedangkan Javanka pun mulai mengerakkan jari jemarinya, gadis kecil itu pun mulai bermain piano dengan mengikuti suara hati serta ingatan yang masih hapal dengan letak not nya.


Semua orang yang mendengar itu pun membulatkan matanya sempurna, mereka tidak percaya jika nonanya mampu.


" Ya ampun nona..... ucap salah satu dari mereka yang terkejut bukan main.


" Apakah nona benar-benar tidak bisa melihat? ucap salah satu pelayan.


" Plak..... bodoh apa kau melihat jika nona bermain-main. pukulan pelayan yang satu pada temannya.


" Habis aku bingung sih, mengapa bisa nona bermain piano dalam kondisi tidak bisa melihat. ucapnya lagi sambil mengelus-elus tangannya yang sakit akibat di pukul tadi.

__ADS_1


" Itu namanya nonanya adalah orang cerdas atau...... ucapnya sambil berpikir


" Jenius. sambung teman yang sedari tadi diam saja.


" Nah, iya itu maksudku. ucapnya membetulkan kata-kata temannya.


" Bagaimana tidak jenius orang tuan muda adalah Presdir di perusahaan ternama yang menaungi beberapa cabang perusahaan kok. ucap pelayan yang suka sekali bergosip.


" Tapi nona itu tidak seperti tuan muda lho, nona itu persis dengan mendiang istri tuan muda. ucap pelayan yang suka ngomong asal.


" Itu hanya sifat dan karakternya saja tapi kalau untuk casingnya sih sangat mirip dengan tuan muda. jawab yang pelayan yang lain.


" Cusang casing memang kau pikir nona itu ponsel genggam apa. kata pelayan yang tidak terima dengan ucapan temannya.


" ehemmmm..... ehemmmm...... suara deheman pak Rudi yang membuat para pelayan berloncatan karena terkejut.


" Ha ha ha..... bapak. ucap pelayan paling tua.


" Sedang apa kalian disini? tanya pak Rudi


" Ti tidak pak, kami hanya mengecek apakah masih ada debu di sekitar ruangan ini. ucap sang pelayan memberi alasan.


" Tapi kenapa harus sebanyak ini? bertanya kembali, sambil menatap satu persatu para pelayan itu.

__ADS_1


" Karena lebih baik orang lebih cepat pak. sahut yang satunya dari belakang.


" Baiklah, jika sudah selesai kembalilah. kata pak Rudi akhirnya membuat nafas para pelayan jadi lega.


Lalu mereka berbondong-bondong berpamitan dan kabur dengan secepat mungkin, pak Rudi yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lalu panggang pak Rudi pun tertuju pada sosok gadis kecil yang masih asyik bermain piano, entah karena rindu atau apa Javanka memainkan lagu yang begitu pilu.


Pak Rudi yang melihat punggung nonanya hanya bisa perihatin, sedangkan Javanka tanpa sadar dia menitipkan air matanya.


Alex yang baru selesai mengantar sekertaris nya pulang pun bergegas menuju tempat dimana putrinya berada, hatinya sedikit terisi mendengar suara piano yang di mainkan oleh putrinya.


Seberapa dalamkah luka di dalam hatimu itu nak, sampai-sampai tiap not yang kamu tekan begitu memilukan hati setiap orang yang mendengarnya.


Apakah separah itu luka hati dan mental mu sayang, maaf, maafkan papah yang tidak becus dalam melindungi mu nak, maafkan papah sayang.


.


.


.


💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2