
Sesampainya di Mansion Alex langsung membawa putrinya ke kamarnya, lalu dia meletakkan tubuh mungil javanka perlahan kemudian menyelimutinya tak lupa Alex juga mengecup kening putrinya sebelum dia keluar kamarnya.
Sementara sekertaris Aldo, David dan juga Caca sedang mengobrol di ruang biliar yang ada di basemen, Alex pun menyusul nya setelah melepaskan jas kantor beserta dasinya.
" Ayo mulai. ucap Alex sambil menggulung lengan kemejanya.
Kemudian ke empatnya pun bermain biliar sambil mengobrol santai, berbeda dengan di kamar.
Javanka yang terbangun dari tidurnya setelah sang papah keluar dari kamar, gadis remaja itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi namun sebelum itu dia sudah memanggil dua pelayan.
" Mba aku mandi. ucap javanka dengan suara serak pada kedua pelayan itu.
" Baik nona saya akan siapkan air nya. jawab si pelayan dengan sopan.
Lalu javanka pun mengikuti kedua pelayan itu masuk ke dalam kamar mandi, dengan sigap pelayan itu membantu memijat dan membersihkan tubuh nonanya.
Biasanya javanka suka mandi sendiri namun jika sedang tidak enak badan seperti ini dia akan meminta bantuan pada pelayan.
" Apakah seperti ini sudah cukup nona? tanya salah satu pelayan yang sedang memijat javanka.
" Iya mba cukup kok. jawab javanka sambil tersenyum manis.
" Suhu tubuh nona terasa begitu panas, apakah nona sedang demam? tanya pelayan itu sambil terus memijat.
" Hmmmmmm........ sepertinya begitu, tapi jangan bilang papah. soalnya aku tidak mau buat papah khawatir, lagi pula paling dengan istirahat yang cukup akan membaik. ucap javanka pada kedua pelayan itu agar tidak melaporkan pada papahnya.
" Tapi nona..... belum sempat si pelayan meneruskan ucapan tiba-tiba javanka menatapnya dengan tatapan memohon.
" Baiklah nona. ucap ke dua pelayan itu akhirnya luluh.
" Terimakasih..... kata javanka sambil tersenyum sumringah lalu dia pun masuk ke dalam bathtub yang sudah di isi air hangat dan sedikit aroma wewangian kemudian javanka meminta kedua pelayannya untuk keluar tentunya setelah dia mengucapkan terima kasih.
Setelah kepergian kedua pelayan itu, kini javanka sedang berendam perlahan-lahan matanya pun terpejam menikmati ketenangan dan kenyamanan.
Beberapa dengan ruang basemen, suasana di ruangan itu tampak begitu riuh dengan di ikuti suara tongkat yang mengadu dengan bola.
" Lex, besok kau berangkat jam berapa? tanya David yang sedang berusaha memasukkan bola.
" Pukul 4:45 pagi, untuk jam penerbangannya pada pukul 5:30. bukannya Alex yang menjawab malah sekertaris Aldo yang menjawab nya, karena Aldo yang paling tahu semua jadwal tuan mudanya.
" Avan sudah tahu? tanya Caca santai sambil bersiap menunggu gilirannya.
" Ahhhhhhhhh sial......... aku lupa belum memberi tahunya. kata Alex yang baru ingat jika dia belum meminta izin pada putrinya.
" Dasar gila kau. ucap Caca yang kesal dengan keteledoran Alex.
" Nanti pas makan malam kau coba berbicara lah pada javanka. sahut David santai.
__ADS_1
" Memangnya kalian pergi berapa lama sih? tanya Caca penasaran.
" Kurang lebih dua Minggu, itu pun kalau tidak ada jadwal yang tertunda. jawab sekertaris Aldo langsung memukul bola dan akhirnya masuk.
" Itu lama lho Lex, kasian Avan. kata Caca lagi.
" Mangkanya itu aku stres sekali memikirkannya dalam beberapa hari terakhir ini, ini adalah perjalanan bisnis paling panjang setelah aku memiliki Avan. jawab Alex yang pusing harus meninggalkan putrinya sendiri.
" Kau ikut Do? tanya Caca pada Aldo.
" Tadinya aku ingin meninggalkan dia agar bisa menjaga Avan, tapi sepertinya itu sangat sulit. Mangkanya aku meminta David untuk tinggal di sini agar bisa menjaga javanka selama aku tidak ada. kata Alex menjelaskan pada Caca.
" Ya sudah kalau begitu aku juga akan tinggal di sini, untuk menjaga calon istri masa depan ku sampai papah mertua kembali. kata Caca sambil tertawa-tawa kegirangan.
Mendengar ucapan Caca Alex pun langsung memukul kaki panjang Caca dengan tongkat biliar nya.
" Aduhhhhhh...... sakit itu, pas banget terkena tulang keringnya itu. ucap David mengejek Caca yang sedang terduduk di lantai sambil memeluk kakinya.
" Mau coba main-main kau dengan ku hah. kata Alex dengan senyuman mengejek.
" Awas saja kalau Avan benar-benar memilihku untuk menjadi calon suaminya, aku tidak akan pernah membiarkan mu bertemu dengannya. kata Caca yang malah mengancam Alex.
" Sebelum khayalan mu itu terjadi akan ku pasti kan Aldo untuk menghabisi mu terlebih dahulu. ucap Alex yang tersenyum jahat.
" Tidak Aldo tidak mungkin melakukan hal itu pada ku, aku ini sahabat karib mu kan Do? kata Caca yang tidak percaya jika Aldo sahabatnya akan melakukan hal yang di katakan oleh Alex.
" Lagi pula aku juga tidak akan setuju jika keponakan tercinta ku ingin menikah dengan mu. sambung David lagi sambil ikut tersenyum jahat.
" akhhhhhh....... kalian jahat berani main keroyokan, aku tidak terima dengan pembulian ini. kata Caca dengan kesal pada ke tiga sahabatnya.
Ketiganya hanya tertawa terbahak-bahak, lalu mereka pun melanjutkan permainannya dan mengobrol tentang pekerjaan masing-masing.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19:00, Alex pun bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya karena dia takut jika putrinya sudah menunggunya untuk makan malam bersama.
Setelah masuk ke dalam kamar pandangan Alex tertuju ke arah tempat tidur, ternyata javanka masih terbaring di tempat tidur namun gadis remaja itu tampak sudah bersih dan wangi tentunya dengan baju yang sudah berganti.
Alex hanya tersenyum simpul melihat putrinya, lalu dia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Alex sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian santainya, dia pun berjalan menghampiri putrinya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
" Sayang, bangun yuk...... Sudah waktunya makan malam lho. ucap Alex lembut sambil duduk di samping javanka.
" Hmmmmmmmm....... javanka hanya sedikit menggeliat lalu kembali tertidur.
" Sayang, makan malam dulu yah. Habis itu kamu boleh lanjut bobo lagi. ucap Alex masih dengan nada lembut sambil menghujani wajah putrinya dengan kecupan.
Ketika bibirnya menyentuh dahinya javanka sontak Alex pun langsung memegang dahi putrinya.
__ADS_1
" Ooooohhhh ****, sejak kapan dia demam. ucap Alex memaki pada dirinya sendiri.
Alex langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Caca, tak lupa Alex juga meminta Caca untuk memanggilkan kepala pelayan.
Setelah mendapatkan telpon dari Alex Caca pun masuk ke dalam kamar di ikuti oleh kepala pelayan.
" Kok bisa sih Lex, Avan tiba-tiba demam. ucap Caca yang baru masuk, dia merasa heran mengapa bisa javanka yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba demam.
" Aku mana tahu, kau kan dokternya. jawab Alex kesal.
Lalu Caca pun bergegas mengecek kondisi javanka, Alex pun dengan gugup memperhatikannya.
Dia takut jika putrinya kambuh lagi, mana esok hari dia harus berangkat dan mau tidak mau meninggalkan putrinya yang sedang sakit.
" Pak, tolong ambilkan air itu pak. ucap Caca meminta tolong pada kepala pelayan sambil menunjuk air yang ada di atas meja nakas.
" Ini tuan. kata pak Rudi sambil memberikan air yang diinginkan oleh Caca.
Lalu Caca pun menerimanya dan dia pun membasahi handuk kecil yang di pakai oleh Alex tadi kemudian mengelapkan pada wajah javanka.
Sontak Alex pun mengerutkan keningnya melihat apa yang di lakukan oleh Caca.
" Harus kau pakai handuk yang bersih jika itu untuk wajah putriku. gerutu Alex pada Caca.
" Ini urgen Lex. jawab Caca.
Lalu perlahan-lahan javanka pun membuka matanya, dan melihat ke arah sekelilingnya.
Caca pun perlahan-lahan membantunya untuk duduk.
" Uncle. ucap javanka kala melihat Caca yang sedang memegang tangannya.
Lalu Alex pun mendorong Caca menjauh dari putrinya, dan langsung duduk di samping putrinya.
" Kamu gapapa sayang? tanya Alex dengan panik.
Javanka hanya menggelengkan kepalanya pelan, sementara Caca hanya bisa memajukan bibirnya kesal dengan kelakuan Alex.
" Lex, jangan biarkan dia tertidur sebelum demamnya turun. ucap Caca memberi tahu pada Alex.
.
.
.
💐💐💐💐
__ADS_1