Papahku Yang Hebat

Papahku Yang Hebat
Chapter 202


__ADS_3

Keesokan harinya Alex mengantarkan putrinya ke sekolah terlebih dulu, baru dia berangkat ke kantor.


Sesampainya di depan lobby sekolah putrinya, Alex langsung turun untuk mengantar putrinya masuk.


" Hati-hati yah sayang, kalau bisa kamu jangan keluar dari kelas. Atau kalau memang harus keluar jangan terlalu lama berada di luar, nanti kamu bisa flu. ucap Alex terus mengulangi kata-kata yang sama sedari Javanka bangun tidur.


" Iya papah. jawab Javanka, Javanka hanya menganggukkan dengan patuh.


" Kalau bisa jaket dan sarung tangan nya tidak usah di lepas yah sayang. ucap Alex lagi dengan wajah khawatir.


Javanka hanya menganggukkan lagi, sementara sekertaris Aldo yang ada di belakang nya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Entah sudah berapa kali tuan muda mengatakan hal yang sama, aku tahu jika ini pertama kalinya nona berada di luar saat musim dingin begini.


Sangat lah wajar jika tuan muda khawatir dengan kondisi nona, tapi kalau seperti ini terus kesal juga kan denger nya, aku yang mendengar saja kesal apa lagi nona yang sedari tadi mendengar kata-kata yang sama berulang.


Tuan muda memang terlalu over protektif pada nona, beruntung nona sangat sabar menghadapi kelakuan papah nya.


" Iya papah Avan tahu, sekawang Avan macuk yah. Babay papah, I love you papah, Babay uncle. ucap Javanka lalu masuk ke dalam sambil melambaikan tangannya.


Dengan perasaan berat Alex hanya bisa melepaskan kepergian putrinya, lalu dia pun bekerja kembali masuk ke dalam mobilnya. Mobil pun berjalan pergi meninggalkan sekolahan Avan menuju kantor.


" Good morning everyone. sapa Javanka dengan ceria begitu masuk ke dalam kelas.


" Morning too Javanka. ucap para Miss yang sudah hadir.

__ADS_1


Sambil tersenyum manis Javanka pun berjalan menuju kursinya, Miss Mona pun membantu Javanka meletakkan barang bawaan Avan.


" Thank you miss. ucap Javanka.


" You're welcome, Javanka. jawab Miss Mona ramah lalu mengelus lembut kepala Avan.


Lalu tak berselang lama kelas pun di mulai, semua anak murid terlihat serius mengerjakan tugas dari guru termasuk Javanka.


Namun saat bermain tanya jawab tiba-tiba saja ada anak yang salah dalam menjawab pertanyaan yang tergolong mudah, dan yang lain pun menertawakannya.


" Sudah-sudah tidak baik menertawakan teman kalian yang sedang kesulitan. ucap Miss Andra.


" Tapi Miss kenapa dia sangat bodoh, masa pertanyaan seperti itu saja dia tidak bisa menjawab nya. ucap salah satu murid yang bernama sisi.


" Memang apa yang di katakan oleh sisi salah? sisi kan mengatakan hal yang benar. jawab sisi tidak merasa bersalah.


Javanka hanya diam memperhatikan dan mendengarkan apa yang terjadi, sementara anak yang di ejek oleh sisi sedang menangis dan Miss Mona sedang berusaha menenangkannya.


" Tentu salah sisi, sesama teman harus saling membantu bukan menjelekkan. ucap Miss isyka sedikit tegas.


" Sisi gak mau punya teman bodoh sepertinya. ucap sisi dengan pedas dan wajah masam nya.


" Mamih sisi bilang berteman lah dengan teman yang jenius seperti sisi. ucap sisi lagi dengan percaya diri. " Dan kalau kalian ingin berteman dengan sisi, setidaknya kepintaran kalian minimal satu tinggal di bawah sisi, baru sisi mau berteman dengan kalian. Sambung sisi lain dengan wajah sombong, angkuh dan sifat yang arogan.


" But my papah always said, intelligence is not everything and intelligence is also not to be used as a weapon to insult or humiliate others. ucap Javanka lalu berjalan menuju anak perempuan yang menangis itu.

__ADS_1


" Come on don't be sad, we all come to school to learn something we don't know. So let's study together. ucap Javanka menghibur anak itu sambil tersenyum manis.


Miss Mona dan yang lain pun terkejut tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Javanka.


Mereka berempat berpikir bagaimana bisa kata-kata seperti itu keluar dari mulut anak kecil yang bahkan usianya belum genap empat tahun.


Mendengar ucapan Javanka sisi pun tampak marah pada gadis imut itu, lalu dia pun berjalan menghampiri Javanka.


" Jika kamu benar-benar jenius mari kita bertanding bahasa Mandarin. tanya sisi pada Javanka dengan sorot mata tajam.


" Avan never said anything else, he felt that Avan was a genius, so why compete? ucap Javanka tidak mau melayani sisi.


" Bilang saja kalau papah mu tidak mampu membayar guru les untuk mu. ucap sisi sambil menyeringai jahat.


Mendengar ucapan sisi Javanka hanya tersenyum simpul, lalu membawa anak yang menangis itu agar duduk di dekatnya.


" Sisi tidak boleh seperti itu, itu tidak baik. ucap Miss isyka dengan marah pada sisi.


.


.


.


💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2