
Setelah semua mata pelajaran habis javanka pun bersiap untuk pulang, namun sebelum dia pulang dia akan pergi ke ruang OSIS terlebih dulu.
Dengan langkah yang cukup pelan gadis remaja itu menyusuri setiap lorong demi lorong sampai tiba dia berada tepat di depan pintu ruang OSIS.
Javanka pun mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah ada jawaban dari dalam dia pun masuk.
" Javanka. ucap Edward yang ternyata sudah berada di dalam ruang OSIS.
" Hay...... semua. sapa javanka dengan ramah sambil tersenyum manis pada semua orang yang sudah ada di ruang OSIS.
Mereka pun menjawab serentak dan mempersilahkan javanka untuk duduk.
" Kamu kemarin kemana dek? tanya Edo pada javanka.
" Kemarin setelah selesai kelas aku langsung pulang kak. jawab javanka jujur.
" Oh gitu, tapi kamu lagi gak sakit kan? sahut Edward sambil memandang wajah javanka dengan serius.
" Hmmmmm....... tidak kak, aku baik-baik saja. jawab javanka sambil tersenyum menyakinkan.
" Syukurlah kalau gitu. kata Edward dengan bernafas lega.
" Oh iya, ini laporan hasil rapat kemarin. kata Edward lagi sambil menyarankan map pada javanka.
" Terimakasih kak. jawab javanka sambil menerima map tersebut.
" Untuk rapat kali ini, aku ingin membahas tentang beberapa laporan dan keluhan tentang beberapa siswa......... belum sempat Edward melanjutkan ucapannya tiba-tiba.
" Kak, maaf memotong pembicaraan. Tapi bolehkah aku minta waktu nya sebentar, ada yang ingin aku sampaikan kepada teman-teman anggota OSIS lainnya. ucap javanka pada Edward selaku wakil ketua OSIS.
Lalu Edward pun langsung mempersilahkan javanka untuk berbicara.
" Begini sebenarnya aku ingin mengucapkan banyak-banyak terima pada anggota OSIS lain yang berkerja keras sesuai posisi masing-masing, tapi sepertinya aku tidak bisa lagi bergabung dan menjadi ketua OSIS lagi. ucap javanka mengatakan pada anggota OSIS lainnya bahwa dia ingin mundur dari jabatannya sebagai ketua OSIS.
" Lho kenapa dek? memang kamu sedang ada masalah apa, sampai-sampai kamu mau mundur. tanya Edward yang terkejut dengan apa yang di katakan oleh javanka.
" Iya kenapa dek, kenapa tiba-tiba? tanya Edo yang merasa heran.
" Kamu lagi ada masalah yah? tanya kenz yang ikut penasaran.
" Apakah kesehatan mu sedang terganggu dek? tanya qiqi yang ikut khawatir dengan javanka.
" Tidak tidak tidak, aku baik-baik saja. cuma ada beberapa problem yang tidak bisa membuat aku mengikuti kegiatan OSIS seperti biasanya. ucap javanka menjelaskan pada anggota OSIS lain yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
" Tidak apa-apa jika kamu tidak mengikuti rapat Edward pasti akan memberikan hasil laporan pada mu, jadi kamu tidak perlu mundur. ucap anggota OSIS lain setelah mendengar kata-kata javanka.
" Aku tidak mau membuat orang lain kerepotan karena ku, jadi lebih baik mencari ketua OSIS yang baru. jawab javanka yang tidak mau membuat anggota lain kesulitan karena dirinya.
" Tidak dek, seperti kata-kata yang diucapkan oleh anggota lain. Aku pasti akan melaporkan semua tentang kegiatan OSIS pada mu, jadi kamu tidak usah mundur. bantah Edward yang menolak keras keputusan javanka.
" Iya dek, lagi pula jika kamu tidak bisa hadir langsung kan bisa via video call. tambah Edo memberi jalan keluar dari masalah ini.
" Iya bener kata Edo, jadi dimana pun kamu bisa ikut rapat OSIS kalau gitu. tambah kenz sambil yakinkan javanka.
" Lagi pula tidak ada yang cocok menduduki posisi Ketua OSIS selain kamu dek, sudah lah selesaikan tugas mu sampai tuntas. kata qiqi yang sudah berada di samping javanka untuk meyakinkan javanka agar tetap mau menjadi ketua OSIS.
Melihat tatapan semua anggota, serta bujukan yang tiada henti javanka pun akhirnya menyerahkan, dia memilih untuk tetap mempertahankan posisi karena kepercayaan anggota OSIS lain pada dirinya.
Setelah beberapa saat kemudian javanka pun berpamitan untuk pulang pada anggota OSIS lainnya, gadis remaja itu berjalan dengan terburu-buru menuju gerbang.
" Tidak usah berlari nona. ucap seseorang dari kejauhan.
Mendengar kata-kata itu javanka pun menoleh ke arah suara itu berasal lalu dia pun tersenyum manis pada sekertaris Aldo yang sudah menunggunya.
" Papah ada di dalam? tanya javanka pada sekertaris Aldo setelah berada tepat di hadapan sekertaris Aldo.
" Tuan muda sedang rapat di kantor cabang nona, mungkin sekitar satu atau dua jam lagi selesai. jawab sekertaris Aldo dengan sopan sambil membukakan pintu depan mobil untuk nonanya.
Setelah menutup pintu mobil sekertaris Aldo pun langsung masuk dan mengendarai mobilnya meninggalkan akademi nonanya.
Sesampainya di ruangan papah nya, seperti biasa sekertaris Aldo meminta staf nya untuk menyiapkan jus, buah potong dan camilan untuk nonanya.
Namun kali ini sedikit berbeda javanka hanya mengucapkan terima kasih dan tersenyum manis tapi dia hanya memakan buah potong itu hanya sedikit.
Gadis remaja itu hanya terdiam melamun sambil memegang gadgetnya, sekertaris Aldo yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku nonanya pun tampak sedikit cemas.
" Nona apakah rasa buahnya berbeda? tanya sekertaris Aldo pada javanka.
Kenapa sedang melamun javanka pun tidak mendengar ucapan sekertaris Aldo.
" Nona nona nonaaaaaaa...... panggil sekertaris Aldo berulang kali dan akhirnya javanka pun tersadar dari lamunannya namun karena suara sekertaris Aldo yang tiba-tiba mengeras javanka pun terkejut dan menjatuhkan gadgetnya.
" Ohhhhhhhhh maafkan saya nona. ucap sekertaris Aldo sambil buru-buru mengambil gadget milik javanka.
" Tidak apa-apa sekertaris Aldo, lagi pula gadget itu tidak akan rusak jika terjatuh ke sofa. kata javanka sambil menerima gadgetnya.
" Saya minta maaf atas tindakan saya yang ceroboh ini nona. kata sekertaris Aldo meminta maaf dengan sopan pada javanka.
__ADS_1
" Udah dong, kan gadgetnya juga tidak rusak. ucap javanka yang merasa tidak nyaman jika sekertaris Aldo berperilaku seperti itu.
" Tapi nona..... belum sempat sekertaris Aldo melanjutkan ucapannya.
Javanka sudah menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri, pertanda jika dia tidak mau mendengar perkataan maaf lagi dari sekertaris Aldo.
Melihat itu sekertaris Aldo pun mau tidak mau hanya bisa mengikuti keinginan nonanya itu.
Lalu tanpa sadar javanka pun kembali melamun, sekertaris Aldo yang melihat itu pun langsung buru-buru bertindak.
" Nona, apakah nona melakukan investasi? tanya sekertaris Aldo yang berusaha mengalihkan perhatian nonanya.
" Hmmmmmm....... bagaimana sekertaris Aldo tahu? tanya balik javanka yang terkejut sambil melihat ke arah sekertaris Aldo.
" Mohon maaf sebelumnya nona, kemarin saya tidak sengaja melihatnya di gadget nona. Saat saya akan memindahkan nonanya yang sedang tertidur ke kamar yang ada di sebelah. jawab sekertaris Aldo dengan jujur dan sopan.
" Ohhhhh gitu, iya aku hanya sedikit mencobanya sih. Soalnya masalah investasi muncul pada salah satu mata pelajaran ku, jadi aku hanya iseng ingin mencobanya langsung. jawab javanka lembut dan santai.
" Sudah berapa lama nona melakukannya? tanya sekertaris Aldo dengan wajah antusias.
" Hmmmmmmm...... mungkin sekitar enam bulan. jawab javanka sambil berpikir kapan dia pertama kali mulai berinvestasi.
" Bolehkah saya melihatnya lagi nona? tanya sekertaris Aldo sopan
" Tentu saja. jawab javanka cepat sambil memberikan gadgetnya pada sekertaris Aldo.
Sekertaris Aldo pun menerimanya lalu dia pun melihat dengan seksama ke layar gadget itu, dia tampak terkejut dengan pendapat yang di hasilkan oleh nonanya.
" Apakah tuan muda mengetahuinya? tanya sekertaris Aldo pada nonanya.
" Papah tahu kok, malah papah yang mengajarkan aku bagaimana cara berinvestasi dengan benar dan kepada perusahaan mana aku harus berinvestasi. jawab javanka sambil menatap wajah sekertaris Aldo.
" Apa nona juga tahu jika grup ini adalah saingan perusahaan tuan muda? tanya sekertaris Aldo kembali, pria itu sudah seperti sedang mengintrogasi nonanya yang ketahuan berbohong.
Javanka hanya menganggukkan kepalanya dengan santai sambil memperlihatkan wajah bingung.
.
.
.
💐💐💐💐
__ADS_1