
Javanka dan Diona pun bermain-main bersama dengan anak-anak panti, dari mulai bermain petak umpet, kejar-kejaran, berdongeng sampai bernyanyi bersama-sama. Sampai-sampai Diona melupakan rasa sakit yang ia rasakan, karena saking menikmatinya kebersamaan bersama Javanka dan juga anak-anak panti.
Para pengawal Javanka hanya bisa melihat dari jauh sambil melaporkan apa saja yang di lakukan oleh nonanya pada sekertaris Aldo.
" Anak-anak waktunya makan siang. ucap ibu pengurus yayasan memanggil anak-anak.
Mendengar kata-kata ibu panti mereka pun langsung berhamburan menuju ruang makan namun sebelum itu mereka dengan tertib mencuci tangan terlebih dulu.
" Ayo nak Avan, nak Diona kita makan siang sama-sama. ajak wanita paruh baya itu sambil tersenyum manis pada kedua gadis remaja yang ada di hadapannya.
" Iya Bu. jawab Javanka lembut sambil tersenyum.
" Ayo Dii. ajak Javanka pada Diona yang kala itu hanya berdiri mematung saja.
Javanka pun mengajak Diona mencuci tangan terlebih dulu lalu ikut bergabung bersama dengan anak-anak, sementara Diona hanya mengikuti Javanka.
" Kamu bisa makan makanan ini kan Dii? tanya Javanka khawatir jika Diona tidak suka dengan makanan sederhana yang disajikan oleh pihak yayasan.
" Bisa kok bisa. jawab Diona cepat.
" Maaf yah nak Diona sebelumnya jika makannya terlalu sederhana. kata ibu panti yang duduk satu meja dengan Javanka dan juga Diona.
" Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup kok. jawab Diona dengan sopan dan tersenyum dengan tulus.
" Syukurlah kalau gitu, ibu tadinya mau masak menu yang sedikit mewah untuk nak Avan. Namun nak Avan selalu mengatakan ingin makan makanan yang sama dengan anak, jadi ibu tidak bisa melarangnya. ucap ibu panti menjelaskan pada Diona.
" Iya Bu tidak apa-apa, lagi pula benar kata Avan. Masa makanan yang kita makan lebih mewah dari pada tuan rumah. jawab Diona sambil perlahan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Mendengar ucapan Diona Javanka hanya tersenyum simpul, lalu kembali memakan makanannya.
Cukup lama Javanka dan Diona berada di panti asuhan mereka bermain-main dengan anak-anak, sampai tiba lah Javanka berpindah tempat menuju panti jompo.
Di panti jompo Javanka banyak mengobrol dengan nenek-nenek, Diona yang ragu-ragu hanya bisa mengikuti apa yang Javanka lakukan.
" Nak Avan. panggil seseorang dari belakang.
Javanka pun menoleh ke arah suara itu berasal.
" Bu tita, Bu Susi. sapa Javanka dengan sopan.
Kedua ibu-ibu itu pun memeluk Javanka bergantian, Javanka hanya membalas pelukan dari kedua ibu-ibu itu. Kedua ibu-ibu itu adalah donatur yang selalu menyumbang ke panti jompo itu, sama seperti Javanka jadi mereka sering bertemu dan semakin lama semakin akrab karena sering bertatap muka saat sedang berkunjung ke panti jompo tersebut.
" Ibu pikir kamu gak datang kesini? ucap Bu Tita sambil mengelus lembut kepala Javanka.
" Heheheheh....... aku terlalu lama menghabiskan waktu di panti asuhan jadi sedikit terlambat datang ke sini. jawab Javanka jujur sambil tersenyum malu.
" Ibu dari tadi nunggu kamu, apa lagi Bu Tita yang sebentar-sebentar mengecek kamu udah datang apa belum. Gak sabar banget dia nunggu kamu. kata Bu Susi bercerita kalau dua nya menunggu kedatangan Javanka.
__ADS_1
" Maaf yah Bu Tita, Bu Susi. Avan jadi tidak enak, membuat Bu Tita dan Bu Susi menunggu lama. jawab Javanka sambil menundukkan tubuh meminta maaf.
" Eeeeeeehhhhhhh...... tidak apa-apa nak, lagi pula kami yang salah menunggu tanpa membuat janji. ucap Bu Tita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melarang Javanka untuk membungkukkan tubuhnya.
Lalu Javanka mengobrol dengan ibu-ibu itu.
" Oh ya, kenalin ini temanku Diona Bu, Diona ini Bu Tita kalau yang ini Bu Susi. ucap Javanka saling memperkenalkan.
Ibu-ibu itu pun berkenalan dengan Diona begitu juga sebaliknya, Diona sangat sopan dan lembut saat berbicara dengan ibu-ibu itu karena dia memperlihatkan bagian Javanka berbicara dengan memperlakukan keduanya.
" Mah, mau di taruh dimana ini kardusnya? aku udah gak sanggup lagi nih. ucap seseorang dari belakang sambil membawa kardus.
" Akhhhhh....... kamu rewel banget sih, masa gitu aja berat. ucap Bu Tita pada anaknya.
" Sam. panggil Diona kala melihat sosok pria yang sedang membawa kardus itu.
" Diona, sedang apa kau di sini? tanya Sam dingin sambil mengerutkan keningnya menatap Diona.
" Kalian sudah saling kenal? tanya Bu Tita bingung kala melihat putranya mengenal Diona.
" Kami satu akademi mah. jawab Sam singkat.
" Oh ya, berarti kamu juga satu akademi dengan Avan dong. ucap Bu Tita yang dengan antusias.
" Siapa Avan. ucap Sam sambil berpikir memang ada nama itu di akademinya.
" Tidak yah ternyata. ucap Bu Tita seperti mengetahui maksud dari raut wajah putranya.
Diona pun langsung bergegas setelah menyadari jika Javanka berdiri di belakangnya, sontak Sam pun kembali mengerutkan keningnya.
" Javanka. gumam Sam sambil menatap lurus ke arah Javanka berada.
" Javanka siapa? tanya Bu Tita yang mendengar gumaman putranya.
Belum sempat Sam menjawab seseorang langsung berlari menghampiri Bu Susi lalu memeluk wanita paruh baya itu.
" Bun, aku cari-cari lho dari tadi. Aku pikir bunda pulang ternyata di sini, aku sampai panik nyari bunda kemana-mana. ucap lembut sosok pria remaja itu sambil memeluk sang bunda.
" Kak Edward. panggil Javanka kala melihat sosok pria tersebut.
Mendengar suara yang familiar sekaligus suara seseorang yang ia cintai, Edward pun langsung membuang pandangannya.
" Dek, kamu ngapain di sini? tanya Edward terkejut sekaligus senang melihat Javanka dia pun langsung bergegas menghampiri Javanka.
" Aku sedang berkunjung saja kak. jawab lembut seperti biasanya sambil tersenyum manis.
Lalu Edward pun mengajak ngobrol Javanka dengan antusias, sementara Bu Susi, Bu Tita, Diona dan juga Sam hanya melihat mereka.
__ADS_1
" Kalian saling kenal? Bu Susi menghampiri keduanya.
" Kenal Bun, si adek ini adalah ketua OSIS yang sering aku cerita pada bunda lho. jawab Edward dengan antusias.
" Jadi kalian satu akademi? tanya Bu Susi lagi memastikan.
Edward hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
" Iya Bu Susi, Avan satu akademi dengan kak Edward. Dengan kak Sam dan juga Diona kami berempat satu akademi. namun kak Edward dan kak Sam itu senior Avan dan juga Diona. jawab Javanka menjelaskan pada kedua ibu-ibu itu.
" Ya ampun, kok bisa kebetulan seperti ini? ucap Bu Tita dan Bu Susi berbarengan, keduanya tampak begitu terkejut.
" Kok kamu gak cerita sih sama bunda, kalau kamu satu akademi sama Avan. tanya Bu Susi pada Edward sang putra.
" Bun, Edward sudah sering lho cerita tentang Javanka sama Bun. Bundanya aja yang gak pernah ingat, waktu tentang gitar juga aku ceritakan kalau Javanka yang memilih gitar itu untukku. jawab Edward dengan lembut pada sang bunda, ia berusaha membuat sang bunda mengingat kembali ceritanya kala itu.
" Iya bunda ingat, Tapi waktu itu kamu ceritain tentang Javanka bukan Avan. ucap Bu Susi yang merasa sebal pada putranya.
" Hehehehehhhhh......... mendengar ucapan Bu Susi Javanka dan Edward pun tertawa kecil berbarengan.
Sementara Bu Susi tampak bingung, apa lagi Bu Tita. Namun berbeda dengan Sam dan juga Diona yang mengerti.
" Kok kamu malah ketawa sih. kata Bu Susi sambil mengerutkan keningnya.
" Bun, Javanka atau pun Avan itu adalah nama untuk satu orang yang sama kok. Orangnya tetap dia-dia juga. jelas Edward pada sang bunda.
" Beneran Sam? tanya Bu Tita pada Sam.
Sam hanya menganggukkan kepalanya.
" Tunggu-tunggu bukannya kamu waktu itu mengatakan kalau Javanka yang ada di akademi kamu adalah seorang pianis terkenal itu? tanya Bu Susi masih tidak percaya.
" Memang dia orang bunda. jawab Edward sambil tertawa dan memeluk sang bunda.
" Apaaaaaaa...... ucap Bu Susi dan Bu Tita berbarengan.
" Jangan bilang kamu putri semata wayangnya dari tuan muda Alexander Graham Mahendra pemilik grup xx? tanya Bu Tita pada Javanka.
" Benar Bu, itu Avan. jawab Javanka sambil tersenyum manis.
.
.
.
💐💐💐💐
__ADS_1