
Javanka pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat ekspresi wajah setiap anak termasuk para pengawalnya, semua anak tampak senang sementara para pengawalnya terlihat bingung.
" Kak, tidak pandang bulu itu hewan apa sih kak? tanya salah satu anak pada Javanka.
" Tidak pandang bulu itu bukan hewan, tapi itu hanya istilah dari kata-kata tidak boleh memandang seseorang dari penampilan, status atau yang lainnya. jawab javanka sambil tersenyum manis.
" Oh gitu, aku mau di bacakan dongeng lagi dong kak. ucap sang anak yang ketagihan.
" Nanti yah kakak bacakan lagi, tapi sebelum itu kakak mau bertanya sama kalian, apa sih makna yang terkandung di dalam dongeng ini? tanya Javanka pada anak-anak itu.
" Hmmmmmm....... kalau ada yang jahatin harus di balas jahat, baru dia akan berubah baik. ucap salah satu anak sambil mengangkat tangannya.
Javanka pun hanya tertawa mendengar jawaban anak itu, lalu dia pun menggelengkan kepalanya.
" Lalu apa dong kak? tanya balik si anak.
" Makna dari kisah gajah dan orangutan ini yang kita ambil adalah kita harus tetap berbuat baik pada siapapun termasuk pada orang-orang yang membohongi kita atau orang-orang yang tidak menyukai kita, karena dalam setiap kebaikan pasti bisa akan membuat seseorang berubah menjadi baik seperti si orangutan. Dan ingat kebaikan itu akan selalu diingat oleh siapapun, jadi jangan takut untuk berbuat baik. jawab Javanka menjelaskan panjang lebar sambil tersenyum manis.
Anak-anak itu pun mengangguk mengerti, lalu Javanka meminta pada salah satu pengawalnya untuk membawa kardus besar itu padanya.
" Hari ini kakak punya hadiah untuk kalian. ucap Javanka lembut sambil tersenyum manis.
" Wahhhhhhh.......... hadiah...... ucap anak-anak kesenangan.
" Hadiah apa yang kakak bawa untuk kami hari ini? tanya salah satu anak dengan antusias, karena setiap Javanka datang berkunjung ke ruangan ini Javanka selalu membelikan hadiah untuk anak-anak itu.
" Coba tebak? kata Javanka.
" Hmmmmmm....... syal rajut atau tidak.... ucap salah satu anak yang malas berpikir.
mendengar jawaban si anak javanka pun kembali tertawa-tawa, lalu Javanka mengeluarkan sebuah bola kaca yang di dalamnya ada sebuah kerajaan di bawah langit lengkap dengan keinginan bawah laut.
" Wahhhhhh....... bagus sekali kak. ucap anak-anak itu berbarengan mereka tampak semakin antusias melihat bola kaca tersebut.
" Pak tolong bagikan satu persatu yah. ucap javanka pada salah satu pengawal dengan sopan dan lembut.
" Baik nona. jawab sang pengawal lalu membagikan satu persatu bola kaca pada setiap anak.
" Nanti malam jika lampu nya mati, bola kaca ini akan bersinar jadi kalian tidak akan ketakutan lagi karena gelap. Selain itu ada beberapa nyanyian pengantar tidur di dalamnya jika lampunya menyala, agar bisa menemani kalian sampai tertidur pulas. kata Javanka menjelaskan pada anak-anak itu.
" Wahhhhhhh........ hore aku gak akan takut lagi kalau malam uhuk....uhuk....uhuk...... karena terlalu senang salah satu anak pun terbatuk-batuk yang menyenangkan darah keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Javanka melihat itu pun langsung bergegas menghampiri anak itu dan mengelap tangga si anak yang terkena darah, para pengawal pun langsung bergegas memanggil dokter dan sebagian membantu nonanya.
Anak-anak yang lain melihat itu pun seketika menatap temannya dengan sedih, javanka pun berusaha menghibur anak-anak itu kala dokter sedang mengecek kondisi tubuh si anak.
Kebanyakan anak-anak yang ada di dalam ruang itu menderita kanker, di tambah hampir semua anak-anak itu di tinggalkan oleh orang tuanya karena orang tuanya tidak sanggup membiayai pengobatan anak mereka.
Jadi semua biaya pengobatan di tanggung oleh Alex.
Setelah beberapa lamanya dan suasana pun semua kembali damai Javanka pun berpamitan pada anak-anak itu, anak-anak itu pun terlihat enggan saat di tinggalkan oleh Javanka namun mereka tidak mau terlalu merepotkan Javanka jadi mereka hanya melambaikan tangan dan tersenyum sedih.
Setelah keluar dari ruangan itu salah satu suster pun menghampiri javanka, lalu meletakkan jarum infus yang ada di tangannya di ikuti oleh Caca dan sosok gadis yang Javanka lihat di depan ruang pemeriksaan tadi.
" Kamu tuh yah, kalau pergi itu bilang dulu bikin uncle panik saja. ucap Caca sambil mencubit hidung Javanka.
" Maafkan Avan. jawab Javanka sambil meringis.
" Diona. panggil Javanka pada sosok gadis remaja yang berdiri di belakang Caca.
Diona hanya menatap Javanka lalu menganggukkan kepalanya dengan enggan.
" Kalian saling kenal? tanya Caca yang kaget.
" Kenal, Diona ini teman satu akademi dengan ku uncle. jawab Javanka jujur sambil tersenyum manis pada Diona.
Javanka pun hanya menganggukkan dan tersenyum manis, sementara Diona tanpa terkejut dengan permintaan Caca pada Javanka.
" Kalau begitu uncle kembali yah sayang, soalnya masih banyak pasien yang menunggu. kata Caca sambil mengecup kening Javanka lalu berlari pergi.
Sementara para pengawalnya tampak begitu kesal dengan kelakuan Caca pada nonanya.
" Ayo ikut aku. ucap Javanka sambil menarik tangan Diona lembut.
Diona pun terkejut dengan perlakuan Javanka dan dia hanya mengikuti Javanka, para pengawal Javanka pun mengikuti kemanapun nonanya pergi.
Javanka bersama Diona pun pergi meninggalkan rumah sakit itu, Diona tampak begitu dingin selama berada di dalam mobil sementara Javanka begitu hangat dan lembut memperlakukan Diona. Para pengawal pribadi Javanka pun mempersiapkan Diona dengan serius.
Tak butuh waktu lama mobil pun berhenti di salah satu pusat perbelanjaan kebutuhan makanan, Javanka, Diona dan para pengawal pun turun.
" Apa yang akan kita lakukan di sini? tanya Diona dingin pada Javanka.
" Berbelanja. jawab javanka sambil tersenyum manis lalu kembali menarik tangan Diona masuk ke dalam supermarket itu.
__ADS_1
Kemudian Javanka pun membeli semua kebutuhan panti asuhan dan panti jompo, Diona yang hanya mengikuti Javanka pun tampak bingung mengapa seorang Javanka harus melakukan pekerjaan yang bisa di kerjakan oleh asisten rumah tangga.
" Ini untuk beberapa bulan? tanya Diona yang melihat banyaknya barang yang di beli oleh Javanka.
" Hmmmmmmm....... paling untuk dua Minggu. jawab Javanka sambil memilah buah-buahan.
Mendengar jawaban Javanka mata Dion pun terbelalak.
Memang seberapa banyak orang yang hidup di rumahnya sih? sampai-sampai makanan dan semua kebutuhan sebanyak ini hanya bertahan dua Minggu. pikir Diona sambil ikut memilah buah-buahan.
Javanka yang melihat Diona yang ikut bergabung pun tersenyum simpul, lalu Javanka pun membawa Diona tempat keperluan bayi, sembako dan lainnya.
Sampai-sampai Diona terlihat kelelahan namun dia terlihat menikmatinya dan melupakan penyakit yang di deritanya.
" Kemana lagi kita akan pergi? tanya Diona pada Javanka saat berada di dalam mobil.
" Ketempat paling menyenangkan, kamu pasti akan merasa tenang dan happy di sana. jawab Javanka sambil tersenyum manis.
Tak berselang lama mobil pun berhenti, Javanka pun turun dari mobil diikuti oleh Diona yang ikut turun.
Saat melihat bangunan yang ada tepat di depannya beserta tulisannya Diona pun menaikan alisnya, lalu segerombolan anak-anak pun berlarian menghampiri.
" Kakak Avan. seru semua anak kala melihat Javanka.
Javanka pun membuka tangannya lalu memeluk dan mencium satu persatu anak-anak, Diona yang bingung pun hanya mengikuti Javanka.
" Kakak, siapa kakak ini? tanya salah anak panti pada Javanka sambil menunjuk Diona.
" Sisil tidak baik menunjuk seseorang orang yang lebih tua. tegur Javanka dengan lembut. " Ini namanya kakak Diona, teman kakak. sambung Javanka memperkenalkan Diona pada anak-anak.
Lalu anak-anak pun menyapa Diona bahkan mereka sampai membuat yel-yel dadakan untuk menyambut kedatangan Diona, Diona yang melihat itu pun akhirnya tersenyum penuh haru.
" Ayo kak Diona kita main bersama. ucap salah satu anak dengan semangat sambil menarik tangan Diona.
Sementara Javanka sudah lebih dulu di tarik oleh anak-anak lain, para pengawal pribadi Javanka hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi kala melihat perlakuan anak-anak itu terhadap nonanya sambil membawa masuk semua barang belanjaan yang tadi mereka beli.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐